Selasa, 08 Oktober 2024 0 comments

aku tolol, ya.

Ga tau lagi kenapa kepalaku penuh dengan kamu. Padahal setelah pertemuan sebelumnya aku sudah berjanji untuk tidak memikirkanmu dan menghilang. Tapi kamu menghancurkan seenaknya. Semua hal yang kulakukan kemarin seolah percuma. Kamu tahu aku. Mulutku selalu sulit untuk menolak ajakanmu apalagi kalau sudah ada namamu di notifikasiku.

Beberapa hari ini aku menunggu notifikasi darimu lagi. Aku tolol, ya. Aku juga ga tau kenapa aku melakukannya. Semua terjadi begitu saja.

Aku tahu diri. Aku sadar posisi. Tapi kalau memang kamu yang aku suka, aku bisa apa?

Iya, kamu sudah ada dia. Aku tahu tembok kita juga terlalu tinggi. Semua tak mungkin terjadi. Tapi beri aku waktu untuk melepaskan semuanya perlahan.

Semua terlalu cepat, sampai aku tak sempat untuk mencernanya. Di pikiranku, aku yang memang tidak pantas untuk menerima kebaikanmu. Aku memang tidak layak untuk mencicipi bahagia dari orang lain. Sampai aku mengira kalau kamu orang yang aku tunggu untuk melepas dahagaku. Sebentar kamu menenangkan namun selepas itu badaiku kembali memporak-porandakan semuanya. Aku yang berantakan mengacaukan semuanya.

Aku yang kacau membuatmu pergi. Terimakasih sudah pernah singgah sebentar biarkan aku yang koyak ini kembali sendiri untuk merapikan semua yang kacau.
Selasa, 01 Oktober 2024 0 comments

dari balik bahu

De javu. Peristiwa semalam seperti mengulang cerita 12 tahun lalu. Aku cuma bisa menonton dari balik bahu, namun kali ini benar-benar milik orang asing. Tak ada yang berubah. Aku masih sama, perempuan bodoh yang selalu salah mencintai orang.

Lampau, kamu jadi orangnya. Lelaki yang sudah menjadi milik orang lain. Mungkin sampai sekarang kamu tak menyadarinya. Bisa jadi sama sekali tak mengingat aku siapa. Tapi terkadang aku masih ingin tahu keberadaanmu.

Untuk yang sekarang, lelaki itu bukan kamu. Dia orang lain yang senasib sepertimu, bisa aku miliki dalam mimpi. Kalau yang sekarang aku menangkap, dia juga menangkap sinyal dariku. Tapi, aku tahu diri kalau dia milik orang lain. Selain itu, juga terlalu banyak hal yang menghalangi.

Bandung sepertinya tak akan pernah menjadi persinggahan yang ramah buatku. Ia seperti persembunyian sementara, sebuah ruang transit yang hanya mengingatkanku pada kenyataan: aku tak pernah benar-benar punya rumah di hati siapapun.

Dan aku masih di sini, menunggu sesuatu yang entah apa, entah siapa. 

Minggu, 08 September 2024 0 comments

tidak semua harus menjadi sesuatu.

"Banyak-banyak terima kasih Tuhan buat berkat-Mu yang terus ada sampai sekarang. Meskipun sempat aku ragu akan keberadaanku, aku percaya perjalanan ke tempat ini akan buat pengalaman yang lebih baik daripada hari ini."

Enggak tahu kenapa bisa berdoa kayak gitu pas bermalam di Baduy Dalam. Seharian jalan kaki menikmati ciptaan Tuhan seharusnya aku capek dan langsung tidur tapi kayaknya suasana bikin aku mikir jauh lagi. Hari ini terlalu banyak ilmu baru yang masuk ke otak ini. Perjalanan yang sebenernya sudah lama aku pengen ini punya banyak hal yang harus mulai aku lakukan.

Baduy sebenarnya punya banyak potensi buat jadi tempat wisata yang punya ciri khasnya. Masyarakat bisa kok jadi sama kayak masyarat luar lainnya. Nyatanya pemerintah setempat juga sudah hadir buat mereka. Tapi mereka menolaknya dengan halus. Mereka memilih hidup sederhana seperti ajaran yang mereka yakini.

Pilihan mereka justru yang membuat mereka terlihat berbeda dengan yang lainnya. Sampai di Baduy Dalam, mencoba mandi dengan pancuran air alami sudah di sambut sama kunang-kunang yang belom pernah sama sekali aku lihat dari dekat selama tiga dekade hidup di dunia ini. Belom lagi selama perjalanan kesederhanaan mereka juga buat aku heran, masih ada ya orang-orang yang kayak gini di Indonesia. Mereka bener-bener slow living, hidup apa adanya, terlihat tidak ada sesuatu yang mereka kejar.

Mereka sama sekali tidak ingin menjadi sesuatu yang orang biasa lain harapkan. Rutinitas mereka hanya ladang. Sore hari, hiburan mereka hanya bermain kolintang bersama. Rumah mereka hampir sama. Tak ada yang berlebihan.

Jauh berbeda dengan kehidupan jaman sekarang yang semua sudah diatur oleh standar yang diadakan oleh masyarakat. Seolah semua harus punya pencapaian di usia tertentu. Dewasa yang kukira sebebas itu ternyata terikat oleh "sesuatu" yang harus dicapai. Seumuranku sudah seharusnya punya anak yang sudah mau masuk ke Sekolah Dasar, punya penghasilan dua digit perbulan, sudah berkeliling minimal Asia Tenggara, sudah punya mobil, atau sudah punya rumah di kawasan elit. Kata siapa?

Aku yang berjuang sendirian ini dituntut untuk menjadi "sesuatu" berdasarkan standar yang ada di masyarakat. Memang kalau aku bisa mencapai semua itu, aku bisa bahagia? Apa kalian bisa menjaminnya?

Kalau bukan itu arti bahagia yang ada di kepalaku apa aku salah?

Semua orang punya tafsiran bahagia menurut versinya masing-masing. Aku bahagia bisa menghabiskan sebagian waktuku untuk duduk menikmati segelas kopi gula aren sendirian sambil scroll youtube short. Aku bahagia sesekali bisa pergi ke tempat-tempat yang belum pernah aku kunjungi. Aku bahagia bisa mengitari mall sendiri tanpa beli apa-apa. Aku bahagia bisa hidup sampai sekarang.

Mungkin bahagiaku tak semewah makna bahagiamu. Tapi aku tak pernah menghakimi arti bahagia karena aku tahu aku tak punya hak akan itu. Untukku, tidak semua harus jadi sesuatu karena makna sesuatu punya versinya masing-masing.

 
;