Jumat, 02 Agustus 2024 0 comments

gambar seorang anak perempuan.

Seorang anak perempuan sedang menggambar sebuah rumah. Tak muluk-muluk yang ia ganbar dengan pensil hitamnya. Tangan mungilnya mulai menarik garis yang tentu saja tak serapi bila ia menggunakan penggaris. Ia memulai membuat garis horisontal yang membagi kertas itu menjadi dua bagian. Lalu ia membuat dua garis vertikal diatasnya. Garis itu sejajar, tak terlalu panjang sampai membagi bagian atas garis horisontalnya. Jaraknya pun cukup dekat. Diatas kedua garis vertikal tersebut, ia membuat segitiga yang tak terlalu tinggi. Kemudian ia menghias isi persegi tersebut dengan persegi lain dengan satu berukuran lumayan besar dan empat lagi yang berhimpit dengan ukuran yang lebih kecil. Tak lupa ia menggambar beberapa tanaman rumput perdu dan pepohonan di samping kanan kiri gambarnya.

Anak perempuan itu tak terlalu suka mewarnai. Ia membiarkan gambarnya berwarna hitam putih. Ia hanya memulas pensil warna hijau di samping kanan kiri dan bawah gambarnya. Di bagian atas gambarnya, ia memulaskan warna biru muda. Beberapa bunga juga ia warnai merah tua dan muda. Semua tampak cantik dan berwarna di sekitar "rumah" yang ia gambar. Bukan ia tak punya waktu untuk itu, ia memang hanya menginginkan banyak warna.

Tuhan, sesederhana itu saja inginku. Apa aku tak pantas untuk mendapatkannya? Apa pintaku terlalu muluk-muluk? Apa aku tak bisa seperti yang lainnya?

Aku tak perlu yang "terlalu", aku hanya ingin yang sesederhana mungkin saja. Tak apa kalau biasa saja karena aku hanya butuh yang seperti itu.

Selasa, 30 Juli 2024 0 comments

episode mengagumimu sudah selesai.

Aku berada di tengah percakapan makan siang bersama beberapa teman yang kamu kenal. Kemudian wallpaper handphoneku berubah menjadi foto profilmu. Beberapa teman sempat ikut melirik dan membaca nama lengkapmu yang tertera di layar. 

"Posisi?" tanyamu begitu aku mengangkat panggilanmu.

Kamu masih dengan pertanyaan yang sama sejak awal kita berteman. Aku hanya menjawab singkat, "Bekasi."

"Ngapain?"

"Dolanlah. Nyapo?"

"Reti rak?" Password dari semua intro cerita pun sudah kamu ucap. Aku yang tadinya biasa saja jadi antusias. Namun mengingat banyak mata dan telinga yang mengintai aku belagak tak terlalu senang.

"Dan terjadi lagi."

"Apane, pak?"

"Ga jadi, nanti sore wae. Dah." singkat, padat, dan mengundang pertanyaan. Itulah kamu dari awal kukenal. Aku kembali melanjutkan kegiatanku hari itu. Tak penasaran, tapi aku cukup tahu diri. Apalagi posisiku sekarang tak berada di dekatmu lagi.

Beberapa hari kemudian kamu menelepon kembali. Sesuai asumsiku, "Kemaren yang aku mau cerita, aku mimpi dia lagi. Padahal aku udah ga pernah mikirin dia."

Aku sudah tak terlalu antusias untuk itu. Penasaranku sudah mereda jauh dari dahulu. Kalau kamu tanya bagaimana aku sekarang, api itu sudah padam. Apapun yang kudengar tentangmu meskipun itu dari mulutmu, aku sudah bodo amat dan yang kali ini betul-betul bodo amat.

Aku sadar kalau aku bukan wanita yang kamu impikan. Katamu, aku terlalu ribet dan sulit diatur. Aku mengakuinya dan berarti memang bukan kamu pawang binatang kesepian ini. Bukan kamu orang yang aku cari.

Aku sadar mengapa kamu sama sekali tak ingin mencobanya. Aku tahu mengapa kamu tak ada sedikit usaha. Aku juga tahu kalau kamu tahu aku sempat menyimpan perasaan untukmu. Tapi aku memilih untuk membiarkan semua ini dan melewatkanmu. 

Kita berdua sama-sama api yang sedang membara dan menunggu orang lain, entah untuk memadamkannya atau membakarnya dan membiarkan semuanya terbakar. Saking imbangnya persamaan dan perbedaan, kita tak mungkin bisa menjadi kita dan kita sadar akan itu.

Seandainya pikiranku berada di perempuanmu yang lalu, aku tahu kamu pasti sudah melewati semua berdua dengannya. Tak ada lagi rasa sepi yang kamu tutupi dengan tawamu yang kamu paksakan. Semua beban yang selama ini kamu pikul sendirian, mungkin bisa mereda. Hanya saja tanganmu yang terlalu ringan itu yang akan sedikit lebih berat karena sudah waktunya kamu memikirkan dirimu. Bahkan undangan dan ajakan yang sulit kamu hindari akan menemukan alasan mengapa kamu tak bisa hadir.

Sekarang cerita tentangmu memang masih sering kuputar. Bukan karena aku masih ingin bersamamu namun pergiku masih belum cukup lama dan aku masih belum punya banyak cerita baru dengan yang lain. Nanti ada waktunya kalau namamu tak lagi aku jual atau aku ceritakan kesiapapun.

Antusiasku dulu memang salah waktu dan tempat. Tak seharusnya aku salah sangka seperti ini. Sering kamu mengajarkan kalau salah satu alasan pria mendekati namun tak berani serius karena hanya untuk mengisi waktu luangnya saja, mencari teman disaat longgarnya. Makanya aku mau membayarnya dengan mengabaikanmu mencoba melakukan semua yang sudah kamu ajarkan. Lagipula semua rasa excitedku dan penasaranku sudah sirna, tak akan lagi ku termakan bualanmu. Aku sudah cukup pintar sekarang dan kamu yang mengajarkannya. Dan sekarang, episode mengagumimu sudah selesai. 

Minggu, 21 Juli 2024 0 comments

selasar Jakarta yang bersimbah air mata.

Aku pernah menangis sembari menyusuri keramaian selasar ini. Barisan beton yang senyap menjadi saksi. Tanpa suara namun pipiku basah kuyub. Lalu lalang Jakarta yang sibuk tak menghiraukan air mataku.

Aku senang sisi Jakarta yang sibuk mencari harta sampai lupa menaruh empati. Robot yang menunduk mencari hiburan masing-masing. Hingga mereka tak sadar akan adanya keberadaanku yang kacau. Aku yang sedang kalut dengan perasaanku sendiri.

Aku merasa tak memiliki siapapun untuk pulang. Tak ada seorangpun yang mengerti aku seperti aku yang selalu dipaksa untuk mengerti orang lain. Aku masih menunggu suatu saat nanti ada seseorang yang tanpa aku cari dan tanpa aku minta, datang menghampiriku dan berkata, "Aku tahu kamu bisa semua sendiri tapi ke depannya kamu nggak sendiri lagi karena ada aku."

Sampai saat itu datang, aku sibuk dengan diriku sendiri. Sibuk berbenah agar kelak ketika seseorang itu hadir, aku sudah berani menangis di depannya, berbicara sambil menatap matanya, dan melepas semua topengku ketika bersamanya.

Aku tak ingin ia ikut menyeka luka lamaku. Aku tak ingin menyibukan dirinya untuk merawat luka yang orang lain perbuat. Maka beri aku waktu untuk sembuh dahulu—atau minimal aku usai dengan perasaan lamaku sebelum ia datang dan aku bukakan pintu.

Berhari-hari aku tidur cepat. Raga yang lelah tak mau terisi dayanya. Aku tetap saja mengantuk ketika baru saja membuka mata. Banyaknya waktu untuk lelap tak membuat dayaku terisi. Setelah dayaku habis, malam malah kulalui tanpa lelap. Lelahku semakin menjadi dan ragaku ikut koyak.

Kadang aku bertanya apakah ruang di dadaku ini akan pernah cukup lega untuk menampung harapan lagi. Kadang aku membayangkan sebuah pintu yang tak perlu kupaksa untuk terbuka—yang datang sendiri, pelan, memberi izin untuk rapuh tanpa tuntutan. Lalu aku ingat: sebelum ada yang mengetuk, aku harus membangun rumah kecil di dalam diri. Rumah yang tahan angin. Rumah yang punya ruang untuk jatuh dan bangun lagi.

Malam-malam ini aku menaruh secangkir teh di samping tempat tidur, menulis tiga kalimat yang jujur tiap pagi—bukan janji besar, hanya bukti bahwa aku masih bergerak. Kadang cukup: satu tarikan napas yang panjang, satu lagu yang kubiarkan mengalun sampai habis, satu pesan singkat ke diriku sendiri: "Kamu baik-baik saja untuk sekarang."

Aku tidak tahu kapan lelah ini akan reda. Mungkin besok, mungkin sebulan, mungkin lebih lama. Untuk sekarang aku akan terus merawat hal-hal kecil: membuka jendela saat matahari belum terik, berjalan lima menit tanpa tujuan, menulis kata yang tak harus sempurna. Semua itu terasa sepele, tapi mereka adalah pondasi kecil agar suatu hari aku tak lagi takut membuka pintu.

Dan bila kamu membaca ini nanti, ingatlah: boleh saja menunggu. Boleh saja menjaga jarak dari orang yang belum pantas mengobati luka. Tapi jangan lupa, di sela menunggu itu, rawatlah dirimu sendiri—supaya ketika pintu yang tepat datang, kamu sudah punya alasan untuk membukanya.
 
;