Sabtu, 22 Juni 2024 0 comments

apa yang orang salah kira tentangku.

Kembali lagi di pinggir kolam koi depan musholla setelah makan siang. Hari ini masih sendirian, kantor sepi, dan semoga tetap begini. Atau setidaknya aku masih tetap berada disini sampai ada panggilan pekerjaan lain yang lebih menjanjikan.


Sejak mampir ke rumah, banyak hal yang mengganjal di pikiran. Entah apapun itu aku merasa banyak kesesakan. Mulut ini sudah ingin meluapkan semuanya ke kalian tapi aku selalu merasa ini bukan waktu yang tepat. Cerita kalian lebih rumit dan aku tak mau ceritaku malah menjadi beban untuk kalian.

Kalau kalian coba pakai kaca pembesar mungkin kalian akan lebih tahu tentangku. Aku tak secuek yang kalian pikir. Justru aku hapal setiap gerak-gerik, fashion, atau bisa saja aliran musik yang kalian sering dengar tanpa kalian sadari. Aku tak sebodo amat yang kalian kira. 

Setiap malam, apa yang kalian katakan pagi harinya seperti kaset yang ter-rewind di kepalaku malah kadang titik koma sampai helaan napasmu aku bisa ingat. Pita kaset itu sampai kacau karena terlalu sering kuputar di kepala. Aku tak setenang itu, suara decit sepatu kadang membuat amarahku meluap. Aku hanya meredamnya saja ketika masih ada kalian. Aku tak mau kalian melihat marahku.

Aku menunggu janji kalian terwujud padaku. Apa-apa yang kalian katakan aku mengingatnya, cerita masa lalu, janji akan mengajak pergi, atau hanya bualan yang kadang aku tangkap dengan serius. Kadang aku terlalu percaya diri sampai aku lupa dimana posisiku seharusnya. Aku tak pantas  saja bisa berada disana. Di antara kalian sekumpulan orang hebat yang seharusnya berjarak denganku.

Tubuhku masih ingat, bagaimana cara kalian memegang tanganku ketika aku mau membayar makan, bagaimana kalian menarik tubuhku agar kita tak ketahuan bertemu seseorang, atau bagaimana ketika kalian menerima uang kembalian dariku. 

Aku hapal bagaimana gerak-gerik kalian ketika sudah lelah mengobrol tanpa ada cerita dariku. Cara mata kalian melihatku. Tapi apa kalian juga melakukan yang sebaliknya? Sering aku menanyakan hal itu di kepalaku. Tapi memang aku pantas? 

Banyak hal yang kalian salah kira tentangku. Kalau kalian kira aku begitu, tak apa. Mungkin bagian itu saja yang ingin aku tunjukan ke kalian. Tak apa kalau kalian salah paham, aku juga tak punya energi dan hak untuk merusak ekspektasi kalian. 

Sabtu, 01 Juni 2024 0 comments

rest area km 72

Datang ke sini lagi setelah hampir setahun rutinitas untuk kesini menghilang. Dulu aku masih bodoh. Senang senang saja bila diajak kesini, nongkrong sampai larut, kopi gratis, makan gratis kalau lagi beruntung. Paling tidak aku tak perlu mencari kegiatan di mess.

Setelah orang-orang itu pergi, aku baru sadar kalau selama ini aku hanya diperdayakan. Ya, aku diajak hanya untuk memenuhi kuota. Atau untuk kamuflase mereka saja. Jujur aku juga masih bingung dengan motif mereka. Tapi entah darimana aku yakin kalau mereka tak benar-benar tulus.

Hampir setiap malam, kami bersama. Dari dongeng nabi-nabi sampai cerita orang-orang kantor yang lebih ajaib dari oki dan nirmala. Tapi setelah kisah itu usai, tak ada balasan dari semua pertanyaan yang terlontar. Semua menguap bersama kepergiannya. Semua cerita yang kutangkap sama sekali tak berguna.

Apa aku dijadikan tameng? Apa aku jadi kambing congek? Apa aku dijadikan obat nyamuk? Apa aku jadi alasan agar bisa bersama?

Menurutku tak perlu mengadakan aku diantara kalian. Toh tanpa ada aku kalian lebih bebas melalukan hal yang aku tak perlu tahu. Tanpa adanya aku semua tetap berjalan seperti yang kalian inginkan.

Atau memang kamu sudah malas bersamanya namun masih ingin memanfaatkannya dan mengajakku agar tak terlalu kentara saat menggerogotinya?

Aku sudah tak mau memikirkannya. Paling tidak semua sudah berakhir sesuai pilihanmu sendiri. Kalau tidak sesuai pilihanmu sendiri juga bukan urusanku. Semua kan bergantung padamu. Tak masalah kalau semua yang sudah dilalui kamu lupakan. Aku sudah bisa tak dianggap. Kamu juga tahu sendiri kalau aku paling ahli menghilang.

Bukan semesta yang tak mengijinkan pertemuan tapi memang ia yang enggan mengusahakan. Kalau memang perpisahan yang kemarin adalah akhir, mengapa ada janji manis yang terucap?
Jumat, 24 Mei 2024 0 comments

alasanku membenci wewangian.

Aku benci orang yang memakai parfum. Mereka begitu egois memaksakan indra orang lain mengikuti seleranya. Mereka sama sekali tak peduli perasaan orang lain seakan mereka melarang orang disekitarnya untuk bernapas dengan lega. Beberapa bisa dicerna dengan baik ketika bercampur dengan wangi tubuh mereka namun ada beberapa yang malah saling tumpang tindih tambah tak karuan ketika tercampur.

Selain itu, entah mengapa memori penciumanku jauh lebih baik daripada ingatan kepalaku. Aku mendadak panik ketika sekelebat aroma mirip milikmu lewat. Semua tentangmu langsung menyerang ingatan. Semua berjubel tak mau kalah memaksaku untuk mengenangmu. Lalu, tidak salah kan kalau aku membenci wewangian? Karena semua yang dihadirkan bersamanya tak selalu yang indah.
 
;