Rabu, 15 Mei 2024 0 comments

seharusnya kamu bahagia kalau aku tidak mengganggumu (lagi)

Dering telepon berbunyi. Jam segini rasanya jarang urusan pribadi menghampiriku. Paling orang-orang yang berkaitan dengan pekerjaan yang mencari. Aku mengjangkau ponselku yang tak terlalu jauh kugeletakan. Tercantum namamu di layar ponsel. Semua masih sama. Aku tak merubah apapun sejak tak lagi ada apa-apa diantara kita. Kuhembusan napas panjang, mencoba menurunkan heart rate yang mendadak naik. 

"Kukira semua sudah berlalu, ada apalagi kamu menghubungiku? Tak usah di angkat," ujar kepalaku. Tapi ternyata rasa ingin tahuku lebih menggebu. 

"Apa?" Tanyaku tanpa basa-basi walau nada bicaraku tak menghentak seperti biasanya.

"Aman, kan?" ucapnya dengan nada datar dan tenang seperti dia biasanya.

Kepalaku mendadak kosong, lidahku kelu. "Aman," jawabku sekenanya.

Dari hembusan napasnya yang berat, sepertinya jawabanku tak sesuai ekspektasinya. Aku yang biasanya tak seperti itu. Aku sering mengulur jawabanku agar bisa berlama-lama mengobrol dengannya namun kali ini aku sudah membulatkan tekad untuk tidak kembali dengannya lagi.

"Kalau ada apa-apa kabari, ya!" ujarnya. 

Tanda basa-basi aku memencet tombol merah. Aku sudah tak tahu lagi harus berkata apa. Lagipula ini juga jam kerja, tak enak kalau sampai terdengar yang lain. Walau memang terkadang sebagian dari mereka mencuri-curi bicara seperti itu.

Jujur aku sudah muak dengan kalimat itu. Rasanya seperti de javu. Kesannya seperti kamu mau aku masih tergantung padamu tapi kamu tak mau kalau aku ada disekitarmu. Bukan seharusnya kamu bahagia kalau aku tidak mengganggumu lagi.

Padahal kamu tahu kalau aku bodoh dan tak peka tapi kenapa masih pakai kode-kode. Banyak sinyal-sinyal yang kamu tebar tak sampai kepadaku. Banyak hal yang aku lewatkan karena cara berkomunikasimu yang kusebut unik itu. Sudahlah, memang banyak hal yang buat kita tak bisa bersama. Mungkin ini cara Tuhan buatku untuk melawatkanmu.




Jumat, 10 Mei 2024 0 comments

untuk diamku yang selalu salah.

Di separuh tahun ini, aku banyak belajar tentang diam. Entah bagaimana aku menyikapi diamnya seseorang atau bagaimana aku belajar untuk diam. Aku menjalani roller coaster perasaanku dalam diam. Belum lagi suara bising dari kepala yang semakin menjadi ketika aku diamkan. Semua memojokan diamku, seolah ia tersangkanya.

Apa diamku ini salah?

Kupikir dengan diamku semua akan bergerak ke bagian yang semestinya. Semua diamku akan mendukungku untuk menjadi yang seharusnya terjadi. Tapi nyatanya? Semua malah menyerang balik diamku dan aku semakin tersudut.

Mereka mengira diamku tanda kalah, padahal diamku adalah cara bertahan. Mereka membaca diamku sebagai tunduk, padahal aku hanya sedang menahan diri agar tidak meledak. Di balik diamku ada amarah, ada luka, ada kata-kata yang terlalu tajam jika aku lepaskan.

Aku tahu, tak semua bisa memahami bahasa diam. Sebagian butuh penjelasan, sebagian butuh klarifikasi, sebagian butuh pembelaan. Tapi aku sedang tak punya tenaga untuk menjelaskan semua itu. Diam menjadi satu-satunya pilihan, meski harus aku tanggung segala salah tafsir yang mengikutinya.

Mungkin diam ini bukan tentang benar atau salah. Mungkin ia hanyalah jeda, ruang kosong yang kutinggalkan agar aku bisa bernapas sejenak. Dan kalaupun dunia menuding diamku, biarlah. Aku masih belajar berdamai dengan sunyi yang kuciptakan sendiri.

Selasa, 30 April 2024 0 comments

i am maybe small but i have universe inside my head.

Usai menikmati secangkir es kopi, kepalaku seperti ada cahaya lampu di dalamnya. Warna-warninya sampai menyilaukan mata. Semua yang tadinya buntu jadi punya banyak jalan untuk keluar. Seperti tulisan ini yang entah darimana dan bagaimana, aku mudah saja mengetiknya. Sepertinya aku sedang ingin banyak bercerita.

ada pesta di kepalaku setiap larut malam.

Tak ada malam yang bisa aku lewatkan tanpa ritual ini. Banyak pertanyaan yang tiba-tiba berjubal minta jawaban. Aku yang tak pernah siap hanya bisa menghela napas. Mata ini sibuk memandangi layar komputer yang beberapa menit lalu sudah ingin dimatikan sebenarnya.

Malam ini dimulai dari perihal cincin. Malam-malam tanpa ada seseorang yang bisa aku hubungi sama sekali rasanya begitu hampa. Bolak-balik cek notifikasi, tak ada satupun. Di benak juga sudah tak ada tujuan lagi kepada siapa aku bisa bercerita. Padahal story lamaran sudah mulai banyak lagi, undangan sudah mulai berdatangan lagi. Tapi kapan giliranku?

Banyak ketakutan yang menghalangi setiap langkah yang mau aku ambil. Agama, orang tua, kasta, belum lagi weton. Kalau boleh, alu ingin tak menjadi milik siapa-siapa tapi apa aku siap dan bisa hidup sendiri seumur hidup? Paling tidak aku butuh teman bercerita yang sepadan dan mau berperang bersamaku.

Sejauh ini tak ada seseorang yang bisa di-prospek. Sekalinya ada yang cocok, dia sudah ada pasangan. Ada yang kira-kira mendekati sempurna, dia mundur karena beda keyakinan. Ada lagi yang sepertinya kusuka karena dia banyak pengalaman, dia masih belum selesai dengan dirinya sendiri. Lalu?

Saat teman sebangku SMP ku sudah punya tiga anak, aku masih sibuk nge-war tiket konser, sibuk daftar kerja kesana-kemari, dan sibuk menyuapi inner child-ku sendiri. Apa hidup tidak seadil itu? Apa bahagia di nilai dengan seberapa bahagia keluarga kecil yang dia punya sedang aku yang belum menikah dan menyibukan diri dengan diri sendiri dianggap tidak bahagia dan tidak punya pencapaian?

Tahun ini ganti kepala tapi yang ada cuma feel worry lost, unsure about the future. I dont know my wants, needs, goals, and values again. Boro-boro bicara soal pencapaian. Semua seperti tak pernah pantas untuk didapatkan.

Circle yang mulai sempit. Lingkungan kerja yang toxic. Rutinitas yang menghabiskan waktu. Rasanya aku sendiri tak punya waktu untuk "aku".

Aku mulai bingung dengan diriku sendiri. Aku seperti tak tahu "aku" yang sebenarnya. Lapisan topeng ini tak ada habisnya. Apa aku mulai kehilangan aku?

Aku tak bisa mengartikan isi kepalaku sendiri. Aku yang kadang hanya ingin diam, aku yang kadang ingin ada kontribusi, aku yang kadang perlu keramaian, aku yang kadang ingin menghilang, dan aku yang kadang aku sendiri tak habis pikir kenapa bisa menginginkan hal-hal yang tak biasa orang inginkan. Apa aku normal? Apa dewasa memang semembingungkan ini?
 
;