Di separuh tahun ini, aku banyak belajar tentang diam. Entah bagaimana aku menyikapi diamnya seseorang atau bagaimana aku belajar untuk diam. Aku menjalani roller coaster perasaanku dalam diam. Belum lagi suara bising dari kepala yang semakin menjadi ketika aku diamkan. Semua memojokan diamku, seolah ia tersangkanya.
Apa diamku ini salah?
Kupikir dengan diamku semua akan bergerak ke bagian yang semestinya. Semua diamku akan mendukungku untuk menjadi yang seharusnya terjadi. Tapi nyatanya? Semua malah menyerang balik diamku dan aku semakin tersudut.
Mereka mengira diamku tanda kalah, padahal diamku adalah cara bertahan. Mereka membaca diamku sebagai tunduk, padahal aku hanya sedang menahan diri agar tidak meledak. Di balik diamku ada amarah, ada luka, ada kata-kata yang terlalu tajam jika aku lepaskan.
Aku tahu, tak semua bisa memahami bahasa diam. Sebagian butuh penjelasan, sebagian butuh klarifikasi, sebagian butuh pembelaan. Tapi aku sedang tak punya tenaga untuk menjelaskan semua itu. Diam menjadi satu-satunya pilihan, meski harus aku tanggung segala salah tafsir yang mengikutinya.
Mungkin diam ini bukan tentang benar atau salah. Mungkin ia hanyalah jeda, ruang kosong yang kutinggalkan agar aku bisa bernapas sejenak. Dan kalaupun dunia menuding diamku, biarlah. Aku masih belajar berdamai dengan sunyi yang kuciptakan sendiri.

0 comments:
Posting Komentar