Sabtu, 30 Maret 2024 0 comments

badai menyambut di perjalanan menuju 3371 mdpl


Sebenarnya wacana ini sudah lama tapi baru terlaksana bulan Maret 2024 ini. Rencana awal kita akan naik ke Sumbing via Garung lalu nge-camp semalam disana, sehabis itu kita akan menginap di homestay sekitar dan besok harinya lanjut tektok ke Sindoro via Kledung. Kedua gunung itu jadi pilihan mengingat aku pernah gagal summit ke Sindoro via Kledung dan karena dekat serta tanggal merah yang mendukung kenapa tidak sekalian dua gunung.

Kami langsung booking Damri untuk ke Wonosobo lewat aplikasi usai keputusan bulat kami untuk berangkat bersama dari Jakarta. Aku tak mau berangkat sendiri karena aku belom tahu bagaimana kondisi Wonosobo yang sekarang. Maklumlah, aku jarang naik bis dan terakhir kali aku ke Wonosobo sekitar 2016 lalu.

Jumat malam tanggal 8 Maret kami berangkat setelah hampir di tinggal oleh bis. Bagaimana tidak, kami terlambat hampir 10 menit karena terjebak macet di dekat perlintasan kereta api Stasiun Kemayoran. Kamipun harus berlarian masuk ke pull Damri untuk mengejar bis. Semua mata langsung tertuju pada kami, tiga orang yang baru pulang kerja tidak langsung pulang malah berangkat ke gunung.

Subuh esok harinya, kami tiba di Terminal Mendolo Wonosobo. Kami langsung bersih-bersih badan di sana. Seingatku dulu, tak ada masjid, toilet, dan ruang tunggu yang sebersih sekarang. Dulu aku harus menumpang di warung sekeliling terminal untuk mandi dan itu pun aku harus minta tolong temanku untuk menjaga pintu yang tidak bisa menutup dengan sempurna. Kini toilet gratis, bersih, dan tak perlu was-was untuk kesana sendiri.

Setelah itu ngemil beberapa gorengan dan arem-arem, kami keluar terminal untuk mencari bus yang bisa kami tumpangi ke basecamp Garung. Belum sampai luar, sudah banyak bapak-bapak yang menawari kami. Kami naik bus yang kebetulan tujuannya searah. Mereka ke Kledung, Sindoro. Aku juga baru tahu kalau basecamp Kledung dengan Garung ini lumayan dekat, paling tidak sampai 2 km dan searah.



Kami turun di depan gang menuju Basecamp. Dari sana bisa naik ojek atau jika tak terburu-buru bisa jalan kaki saja karena jaraknya tak terlalu jauh paling hanya 500 m. Lagipula bisa sekalian untuk pemanasan dan pemandangannya di kiri dan kanan ada rumah warga dan kebun tembakau milik warga lokal.

Kami langsung mengurus perijinan sampai di basecamp, kami juga memilah kembali mana barang-barang yang tidak perlu kami bawa. Sebenarnya yang membuat aku tertarik dengan Garung ini karena kami akan naik ojek di depan. Tidak seperti biasanya penumpang duduk di belakang dan menggendong keril kami masing-masing. Hari ini akhirnya aku merasakannya, aku malah seperti bocah TK yang mau di antar bapaknya ke sekolah. Katanya untuk mencegah motor terbalik karena kemiringan yang ekstrem. Benar saja, setalah jalan aspal yang halus, kami harus melewati jalanan cukup terjal karena rata-rata masih macadam (batu-batu yang disusun) dengan kebun warga lokal di kanan-kirinya.



Sampai di pintu rimba, suasana mulai hening. Paling kami berpapasan hanya dengan satu atau dua rombongan pendaki yang mau naik. Hari itu langit tak terlalu bersahabat, tanah lumayan becek karena katanya semalam hujan. Hutan Cemara menyambut kami walau tidak terlalu panjang. Kami berjalan tak terlalu cepat juga. Hari itu aku juga tak terlalu ngos-ngosan karena sebelumnya aku sudah menyiapkan fisik dengan cukup.

Vegetasi hutan tidak terlalu rapat. Jalan setapaknya juga tak terlalu sempit, masih cukup enak untuk di lalui. Meski tidak banyak bonus, kemiringan jalan tidak terlalu menguras tenaga. Dari Pos 1 ke Pos 2 ini, juga ada aliran sungai yang cukup lumayan. Apalagi kami datang di saat penghujan seperti ini. Belum sampai Pos 2 kami ternyata sudah kelaparan. Melipir diantara pohon Cemara, kami membuka nasi bungkus yang sudah kami siapkan dari basecamp.



Setelah istirahat cukup lama kami melanjutkan perjalanan. Melalui Pos 2, hujan pun turun. Kami berhenti berhenti dan memakainya jas hujan. Kami lanjut berjalan karena sesuai rencana kami akan beristirahat di Pengkolan 9 yang memang tak jauh dari Pos 2. Selain itu, disana juga ada warung. Siapa tahu kami bisa membeli semangka untuk menyegarkan tenggorokan. Lewat Pengkolan 9 warung disana ternyata tutup, kami pun tak mampir untuk beristirahat hanya foto-foto sebentar.



Kami kembali berjalan menuju Pos 3 yang juga tujuan kami untuk mendirikan tenda. Hujan semakin deras. Niatnya kami mau memasang flysheet dulu untuk berteduh kemudian baru memasang tenda tapi angin terlalu kencang. Akhirnya kami berteduh dulu sambil menunggu angin reda. Tak lama angin mulai bersahabat. Kami bergegas membangun tenda dengan sisa tenaga yang ada. Belum selesai kami membangunnya, hujan kembali deras. Aku dan kakakku segera masuk ke dalamnya. Paling tidak, tenda kami tak mungkin terbang di terjang angin.

Beberapa barang kami masih ada di luar. Kami mengambilnya walau harus dengan basah kuyub. Sekalian kami membenahi tenda kami yang belum rampung 100%, belum selesai masalah tenda kami bocor dari bawah. Rupanya kami salah memilih tempat karena rupanya itu adalah jalur air dan kami tidak sempat menggali untuk membuat parit di sekitaran tempat kami mendirikan tenda.

Kami pun meringkuk kedinginan di dalam tenda.Kepala kami memang tak kehujanan tapi air masuk dari bawah dan kami terpaksa duduk di genangan air. Gelap menyambut kami yang masih menggigil. Hujan belum juga reda, kami memilih untuk ke warung yang ada di sekitaran camp area. Sesuai tebakan kami, warung tersebut juga ramai dengan pendaki lain. Beberapa dari mereka porter, guide dari open trip.

Pemilik warung yang melihat kami menggigil dan basah kuyub langsung menyuruh kami menghangatkan badan di depan perapian. Ia juga membuatkan teh hangat untuk kami. Baju yang masih basah tetap membuat kami kedinginan, pemilik warung menyuruh kami segera ganti. Barang kami masih di dalam tenda, Mas Aji berlari untuk mengambilnya.

Ia kembali menerobos kegelapan dan hujan untuk mengambil baju ganti kami. Mau bagaimana lagi, ia ketua di trip ini. Setelah ganti baju, kami kembali duduk di depan perapian. Badan kami sudah lumayan hangat ketimbang tadi, perutku juga sudah bisa merasakan kelaparan. Guide dari open trip menyuguhi kami makan malam. Kami pikir ya kami bisa membayarnya nanti, anggap saja kami membeli makanan dari mereka. Rupanya mereka masak terlalu banyak, daripada mubazir mereka membaginya kepada kami yang memang sedang kelaparan ini. Kami pun menikmatinya dengan gembira.

Hujan masih terus turun. Angin juga beberapa kali cukup kencang sampai dinding warung yang berbahan mmt bekas ini terasa mau terbang. Pemilik warung sepertinya kasihan melihat kami jika harus kembali ke tenda. Ia memperbolehkan kami tidur di depan perapian. Walau beberapa mas-mas melirik kami dengan wajah yang tak enak. Mungkin ia iri, pikirku.

Kami pun senang bisa bermalam disana, paling tidak kami tak perlu kembali kehujanan berjalan ke tenda. Dini hari kami memeriksa cuaca sepertinya memang Sumbing belum mengijinkan kami untuk sampai ke puncaknya. Di luar masih hujan, guide dari open trip juga tak berani summit ke puncak dan memilih untuk meneruskan lelapnya. Subuh, kami keluar dari warung dan mengecek tenda kami yang semalam tidak jadi kami tiduri.

Tenda kami masih aman. Tanpa banyak acara, kami langsung membereskannya. Hujan tak sederas semalam, cuaca lumayan bagus untuk kami segera turun. Percuma kalau kami nekad ke puncak, lebih baik kami segera turun dan pulang. Lagipula puncak juga tak kemana-mana.



Sebelum peserta open trip mengantri untuk turun, kami memulai langkah kami untuk turun gunung. Kembali dengan logistik kami yang masih utuh ternyata cukup berat juga. Kami memutuskan untuk berhenti di warung sebelum Pos 2 untuk memasak agar beban tas kami ringan. Kebetulan disana juga ada pendaki lain yang sedang memasak, kami pun menawari untuk join saja. Pendaki tersebut mau dan kami memasak bersama. Logistik kami yang masih utuh kami keluarkan semua. Mereka senasib dengan kami, kelaparan.

Jumlah makanan yang kami masak lumayan banyak. Belum lagi roti-rotian yang benar-benar basah, buah-buahan, cemilan lain yang sudah kami persiapkan. Kami memutuskan membuat nasi, mi sop, dan mengeluarkan lauk instan paru goreng dan kering tempe. Entah mengapa apapun makanannya jadi terasa enak ketika menyantapnya di gunung.



Setelah menghabiskan semuanya, kami membereskan bersama. Beban tas kami juga sudah banyak berkurang. Langkah kami jadi semakin cepat. Kami bergegas turun. Tepat adzan maghrib berkumandang, kami sampai di pintu rimba. Beberapa ojek sudah menunggu kami. Untung saja kami tiba pas sebelum maghrib karena katanya setelah maghrib harganya berubah. Kalau dari Basecamp ke pintu rimba kami duduk di depan, dari Pintu Rimba ke Basecamp kami duduk di belakang seperti pada umumnya.

Sampai di basecamp kami segera membersihkan diri, mandi, dan merapikan semua peralatan kami. Sebenarnya kami belum ada rencana mau pulang malam itu juga atau besok pagi namun karena badan kami capek sepertinya enak kalau kami mampir pulang saja. Kami pun segera mencari tumpangan ke terminal Mendolo. Tak lama kami mencari bis atau apapun yang bisa mengantar kami pulang ke Semarang. Yap, malam itu juga kami naik travel swasta sampai ke Semarang.

Ternyata perjalanan kami kali ini belum sampai ke puncak. Kami masih harus kembali ke Wonosobo untuk melunasi S1 kami. Semoga perjalanan selanjutnya kami tidak bertemu badai lagi karena jujur aku takut. Rasanya badan dingin, lapar, takut, dan campur aduk.

Fyi, beberapa hari setelah kami dari gunung banyak berita di reels kalau memang cuaca Wonosobo sedang tidak bersahabat. Bahkan di hari yang sama ketika kami kedinginan di camp area Sumbing, ratusan pendaki di Sindoro terpaksa di evakuasi oleh tim SAR karena badai dan cuaca buruk hari itu. Namanya juga orang Jawa, untung kami memilih Sumbing di perjalanan yang belum tuntas ini. Semoga ada kesempatan untuk kami remidi di kemudian hari.
Rabu, 20 Maret 2024 0 comments

hidup yang begini-begini saja.

Gemericik kolam koi memenuhi telinga, sesekali suara decit burung ikut meramaikan isi kepala. Hembusan napas mulai terasa berat, pukul lima masih lumayan lama. Aku mulai bosan dengan rutinitas yang itu-itu saja. Pekerjaan yang sebenarnya diada-adakan. Seharian aku hanya memandangi jarum jam, berharap semua segera berakhir dan aku kembali ke liangku. Begitu terus sampai tak terasa sudah dua tahun aku disini.

Jemariku semakin handal mengetik cerita, lidahku mulai lihai bersilat. Ilmu menghilang dan jurus mencuci tanganku semakin handal. Banyak orang menjadi panutanku dan banyak guru yang mengajariku. Tapi bukan itu semua yang ingin kudapatkan sebenarnya.

Scroll sosial media menjadi salah satu jalan untuk menghabiskan waktu. Hingga satu hal yang mengganjal di hatiku dan terus berputar di benakku. Aku banyak tertinggal diantara yang lain. Handphoneku yang butut. Tasku yang tak semahal milik yang lain. Pakaianku yang itu-itu saja. Sepatuku yang tak pernah ganti. Saldo rekeningku yang tak pernah bertambah. Belum hingga sekarang aku masih sendirian.

Tak banyak pencapaian dalam hidupku. Teman-teman sekitar sudah ada yang punya anak tiga, ada yang menikah lagi padahal baru tahun lalu bercerai, ada yang ikut suami mengambil pasca sarjana di luar negeri, ada yang sibuk menjadi abdi negara, ada yang sibuk keliling Eropa, ada yang  sibuk menggandeng pacarnya dari cafe ke cafe, dan ada aku yang hidupnya begini-begini saja.

Kadang aku merasa sampah. Kadang aku merasa lelah. Kadang aku merasa payah. Kadang aku merasa kalah.

Hidupku hanya berputar di rutinitas yang memuakan. Sesekali keluar mendengarkan cerita orang lain yang merasa paling teraniaya tanpa pernah mencoba memberi waktu untuk yang lain bercerita. Sesekali dikasihani karena pergi keluar sendirian. Sesekali dianggap keren karena story kelayapan padahal mereka tak tahu kalau aku hanya ingin menyibukan diri agar tak berbuat terlalu jauh.

Aku ingin kehidupan seperti yang mereka pertontonkan. Semua penuh cahaya dan tawa, penuh perayaan tanpa badai yang menghalangi, jauh dari seram. Terlihat lebih menarik, lebih berwarna, lebih ada proggres dan tidak begini-begini saja.

Apa yang dulu kubayangkan akan mudah kuraih ternyata tidak. Semua sulit untuk dicapai dan semakin suram. Semua pilihan jalan terlihat salah. Apa hidupku juga akan berakhir dengan begini-begini saja?

Rabu, 06 Maret 2024 0 comments

Dialog Pada Diri Sendiri (Bukan Lagi Monolog)

Aku mendoakanmu dari jauh. Jauh sekali sampai mungkin malaikat tak mendengarkan doaku yang baik-baik ini untukmu. Mereka enggan untuk aku mengingatmu barang sedetik karena tak ada kenangan manis ketika bersamamu.

Tenang, semua yang sirna akan diganti. Aku sudah mulai mengiklaskan dirimu. Aku senang, bisa terlepas darimu. Bebas dari bayanganmu yang selama ini memaksakan pelukanmu.

Aku berbicara pada diriku sendiri—atau mungkin berbicara pada bayanganmu yang belum sepenuhnya hilang. Kadang aku masih merasa kau berdiri di pojok kamarku, tersenyum seolah tak pernah ada salah. Kadang aku ingin menertawakan diriku sendiri yang pernah menganggapmu rumah. Ternyata aku cuma numpang mimpi di reruntuhan rumah orang lain.

Aku bilang pada diriku, “Sudahlah. Semua orang memang pandai pura-pura. Kamu juga pernah kan?” Dan aku tertawa kecil, sinis pada pantulan wajahku sendiri di cermin yang mulai berdebu. Aku tidak sedang berbohong. Aku hanya sedang mengulang-ulang kalimat yang dulu sering kau pakai untuk menenangkan kesalahanmu sendiri: “Tenang, semua baik-baik saja.”

Ternyata memang tidak ada yang baik-baik saja. Bahkan doaku pun terasa basi. Bahkan rinduku sudah jadi racun. Bahkan kata-kata maaf yang dulu ku simpan sekarang seperti tiket masuk ke tempat yang sudah terbakar habis.

Aku mengangguk pada diriku sendiri, “Ya, aku sudah mulai terbiasa tanpa dia.” Tapi sebenarnya aku sedang berkata, “Aku hanya mulai terbiasa dengan rasa sakitnya.” Bedanya tipis, dan aku sudah malas menjelaskannya pada siapa pun.

Orang bilang waktu akan menyembuhkan. Orang bilang ikhlas akan datang sendiri. Tapi orang-orang yang bilang itu tidak pernah benar-benar tahu rasanya jadi aku. Mereka hanya pandai memberi kata-kata gratis yang manis di permukaan. Padahal hidup ini bukan puisi motivasi; hidup ini lebih mirip catatan kaki yang penuh coretan.

Aku tak lagi ingin mengulang kisah lama. Aku tak ingin memintamu kembali. Aku juga tak ingin terlihat tegar di depan siapa pun. Aku hanya ingin diam, duduk, menatap dinding, dan berkata pada diriku sendiri: “Kita sudah sampai sejauh ini, tapi kenapa rasanya seperti baru mulai jatuh?”

Dan mungkin memang begitu. Mungkin aku tidak pernah benar-benar bangkit. Mungkin aku cuma belajar berjalan sambil menyeret luka. Tapi tak apa, kan? Setidaknya sekarang aku tahu: doa yang kuselipkan untukmu bukan lagi doa, hanya sisa-sisa kata yang bahkan malaikat pun malas mencatatnya.

Aku diam, menatap layar kosong. Dialog ini masih belum selesai. Tapi bukankah semua orang juga begitu? Berjalan sambil pura-pura selesai. Mengakhiri sambil pura-pura ikhlas. Menutup pintu sambil pura-pura lupa.

Dan aku? Aku hanya menulis di sini, menatap kata-kataku sendiri, berharap mereka berhenti menggigitku balik.


 
;