Minggu, 12 November 2023 0 comments

menyapa yang lama terabaikan.

Aku baru menyadari perubahan besar yang ada di diriku barusan. Mungkin kalau tidak ada seorang teman ini aku tidak menyadarinya sama sekali. Atau bisa jadi aku akan terus melakukannya hingga sadar ketika semua semakin jauh. Aku sudah tidak pernah lagi ada waktu untuk menanyakan kabar tentang diriku sendiri, menikmati secangkir kopi sendiri, bersepeda keliling kota sendiri, atau sekedar belanja sendirian. Siang hariku sibuk mengerti keadaan orang lain sedang malamku sudah terlalu lelah bahkan untuk membasuh lukaku sendiri.

Tawaku masih rutin terdengar, terutama ketika matahari masih menyingsing. Ketika malam mendekap, aku dan pojok lembab kamar kesepian menanti matahari datang. Dalam senyap, air mata menetes. Ia tak memberiku ruang untuk beristirahat. Isi kepalaku berputar memikirkan yang mungkin tak memikirkanku.

Aku sering merasa kesepian dan tak nyaman berlama-lama sendiri. Kadang aku merasa ketika aku butuh teman, mereka tak benar-benar hadir. Namun sebaliknya ketika mereka butuh, aku tak punya alasan untuk menolak. "Aman?" Kata klise yang dulu sering kulontarkan namun ketika aku yang mendapatkannya, si jahat berbisik, "Ia tak benar-benar peduli, ia hanya ingin tahu saja." Dan aku menuruti semua katanya, "Aman."

Lalu datang si pitam menghancurkan segalanya. Semua hal yang sudah disusun di kepala lenyap hanya dengan sejentikan jari. Makanan enak tak terasa lezat lagi, air perjamuan jadi pilihan pelarian lain. Hingga lelap datang menemani air mata yang beranak sungai.

Ketika aku berkali-kali menyaksikan orang merayakan jatuh cinta mereka, aku masih sibuk menatap cermin sembari bertanya pada diri sendiri. Apakah orang sepertiku layak untuk dicintai? Semoga habis ini waktuku datang. Apa? Aku tak melakukan apa-apa. Aku masih sendirian di pojok kamar lembabku. Aku masih belum tahu apa yang aku mau. Aku masih sibuk menunggu tapi tak tahu apa yang ditunggu. Apa yang kucari juga aku belum tahu wujudnya. Jadi bagaimana aku bisa menemukannya?

Aku masih tertawan oleh pikiranku sendiri. Ketakutan masih membuai diriku. Sebesar itu gelisahku sampai sekarang dariku tak ada yang berubah. Aku abai dalam memperhatikan diriku sendiri. Semua yang menjeratku membuatku sibuk sampai aku lupa kalau aku sendiri belum utuh. 

Diiringi dengkur teman sekamar dan sesekali desis pengharum ruangan, aku mencari cara untuk menangis. Sesak di dada semakin sulit dilegakan, isi di kepala semakin berantakan. Mungkin aku terlihat bodo amat, kurang cemas, kurang khawatir, kurang murung, atau kurang alasan untuk menangis namun itu hanya seperti cangkang rapuh yang membalut lukaku. Semua akan hancur dan air mata akan merembes ketika simpati menghampiri.

Aku, tolong segera sadar diri. Lukamu sudah terlalu lama kau biarkan. Bila bukan kamu yang peduli siapa lagi? Tak usah mengharap seseorang untuk kembali. Teriakan semua yang selama ini kau redam. Letakkan bebanmu kalau kau sudah tak mampu membawanya. Tak harus selalu terlihat kuat. Kamu juga manusia yang tak apa kalau sesekali bersedih. 

Jumat, 10 November 2023 0 comments

kata mereka kisahku tak seberapa.

Obrolan ringan di dalam mobil membuat malamku lebih panjang. Topik yang selalu baru dan sudut pandang baru membuat aku semakin ingin lebih dan lebih menggali. Semua yang sudah dilewati jauh berbeda dengan yang aku lewati. Semua emosi terdengar selalu tepat sasaran.
Luka yang timbul akibat perjalanan hidup terdengar sempurna seolah semua seperti sembuh tanpa usaha. Entah memang dilupakan, sudah sembuh, atau disangkal. Semua terdengar samar. Dunia seolah berotasi kepadanya hingga dalam keheningan muncul pertanyaan, "bagaimana dengan kisahmu? Kuat, memendamnya sendiri?"

Aku hanya terdiam. Hening, hingga ia kembali membuka obrolan, "Gimana?" Tanyanya sekali lagi.

"Bisa, masih bisa." Aku menjawab sekenanya.

Memang jika di tarik lagi kebelakang, aku yang paling antusias untuk mendengarkan cerita semua orang. Aku dengan senang hati meminjamkan telingaku untuk mereka. Entah kisah percintaan mereka, kisah hidup mereka, perjalanan karir mereka, hubungan dengan keluarga mereka, atau kisah-kisah tak penting yang mereka dengan dari orang lain. Sedang mereka, hampir tak pernah mendengar kisahku.

Terakhir kali aku meminjam telinga kata mereka kisahku tak seberapa.

Tak lama memang aku mengenal mereka. Rasanya semua hal tentang mereka sudah aku tahu. Namun tidak dengan mereka. Secuil kisah kadang aku selipkan di tengah cerita mereka tapi tidak dengan versi lengkapnya.

Aku memilih memendamnya sendiri karena terakhir kali aku meminjam telinga katanya kisahku tak seberapa. 

Dia bilang, dia sudah pernah melalui seperti apa yang sedang aku lalui dan dibandingkan dengan kisahku, kisah mereka lebih sulit. Mungkin itu salah satu hal yang membuat aku memilih seperti ini. Lebih baik aku dianggap tak punya kisah daripada kisahku dianggap tak seberapa. Toh, kita tak pernah tahu seberapa dalam luka seseorang, kan?

Dia yang bertanya kala itu memang orang yang selalu bercerita dengan detail setiap kisahnya. Bahkan yang menurutku adalah hal yang tak perlu di ceritakan malah ia ceritakan dengan detail dan gamblang. Ia menganggap ceritanya bisa menjadi pelajaran hidup buatku. Beberapa kali ia menanyakan ceritaku, tapi aku kembali terdiam dan ia berkesimpulan, "Mungkin sakitmu masih terlalu dalam jadi kamu belum bisa bercerita."

Apa iya, sakitku sedalam itu? Atau memang aku bukan orang yang mudah bercerita ke orang lain Atau aku memang orang yang tertutup. Atau aku sudah tak percaya dengan siapapun.

Aku tak tahu pastinya. Semua terasa sulit untuk dikatakan. Padahal beberapa waktu ingin rasanya menceritakan semua yang sudah aku alami. Terkadang aku membuat skenario, mengatakan kepada diri sendiri kalau malam nanti aku akan menceritakan ceritaku, menyusun semua catatan kecil yang akan aku katakan di dalam kepala. Namun malamnya, ekspektasi itu akan runtuh karena sekali lagi, telinga yang aku pinjam belum mau mendengar ceritaku. Mulut mereka masih lebih aktif. Atau karena mereka terbiasa tidak mendengar ceritaku sehingga mereka enggan meminjamkan telinga?
Rabu, 01 November 2023 0 comments

merayu Tuhan

Apa salahnya menaruh harapan ke Tuhan. Toh, Dia sendiri yang bilang Matius 7:7 (TB) "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu."

Tuhan, aku tak tahu lagi harus bagaimana aku merayu-Mu. Entah caraku yang salah, entah aku yang tidak bisa mendengar-Mu, atau memang Engkau belum menjawab doaku yang satu ini. Aku tahu kalau Engkau sudah tahu apa yang aku mau sebelum aku merayu-Mu lewat tulisan yang bisa saja dianggap banyak basa-basi menurut orang lain. Tapi tak tahu apa, ada sesuatu yang menggerakan hatiku untuk menyelesaikan tulisan ini.

Tuhan, jalan yang aku lewati memang belum jauh, masih banyak hal yang belum aku lalui, coba, atau bahkan aku ketahui. Tapi jujur aku sudah lelah berpura kuat, menahan air mata, dan berjalan sendirian. Aku sudah capek menghadapi dunia ini sendirian.

Aku lelah hanya menjadi pendengar cerita-cerita romansa orang lain. Aku lelah hanya menjadi penonton kisah cinta mereka. Jauh di dalamku juga menginginkannya. Aku ingin ada seseorang yang dengan tulus mau mendengarkan omong kosongku, tidak menghina semua ide konyol yang muncul dari kepalaku, dan mau menemani kemanapun aku pergi.

Aku ingin dia yang sepadan denganku Tuhan. Tidak perlu terlalu ganteng seperti In Sun, tidak perlu terlalu kaya seperti Raffi Ahmad, atau tidak perlu terlalu pintar seperti Pak Mahfud MD. Aku tahu Engkau lebih tahu batasku sampai mana Tuhan. Aku tahu Engkau akan memberiku sesuai kebutuhan dan kecukupanku. Engkau lebih tahu aku bahkan lebih dari aku sendiri.

Tuhan, aku sadar aku masih jauh dari kata siap. Tapi paling tidak, pertemukan aku dengan dia agar aku bisa mempersiapkan diri bersamanya. Agar aku tidak selalu merasa sendirian diantara orang-orang dekat yang kadang aku masih asing. Agar aku punya waktu untuk bisa dekat dengan dia. 

Tuhan, aku ingin seseorang yang bisa membuatku nyaman dekat dengannya, bisa aku anggap sebagai tempat pulang, bisa mensupportku secara mental, bisa men-treat-ku sebagaimana aku memanusiakan manusia lain, bisa memberiku sudut pandang lain tanpa aku merasa dijatuhkan, dia yang datang tanpa aku minta, dia yang ada tanpa aku cari dan bisa memperjuangkanku tanpa aku merasa berjuang sendirian lagi.

Apa aku banyak menuntut Tuhan? Aku aku tidak pantas mendapatkannya? 

Tuhan, semoga ini menjadi rayuanku yang terakhir, ya. Semoga detail yang aku sampaikan bisa sesuai dengan apa yang akan Engkau beri. Dan semoga tidak terlalu lama aku menanti rayuan ini Engkau kabulkan. Amin. 
 
;