Obrolan ringan di dalam mobil membuat malamku lebih panjang. Topik yang selalu baru dan sudut pandang baru membuat aku semakin ingin lebih dan lebih menggali. Semua yang sudah dilewati jauh berbeda dengan yang aku lewati. Semua emosi terdengar selalu tepat sasaran.
Luka yang timbul akibat perjalanan hidup terdengar sempurna seolah semua seperti sembuh tanpa usaha. Entah memang dilupakan, sudah sembuh, atau disangkal. Semua terdengar samar. Dunia seolah berotasi kepadanya hingga dalam keheningan muncul pertanyaan, "bagaimana dengan kisahmu? Kuat, memendamnya sendiri?"
Aku hanya terdiam. Hening, hingga ia kembali membuka obrolan, "Gimana?" Tanyanya sekali lagi.
"Bisa, masih bisa." Aku menjawab sekenanya.
Memang jika di tarik lagi kebelakang, aku yang paling antusias untuk mendengarkan cerita semua orang. Aku dengan senang hati meminjamkan telingaku untuk mereka. Entah kisah percintaan mereka, kisah hidup mereka, perjalanan karir mereka, hubungan dengan keluarga mereka, atau kisah-kisah tak penting yang mereka dengan dari orang lain. Sedang mereka, hampir tak pernah mendengar kisahku.
Terakhir kali aku meminjam telinga kata mereka kisahku tak seberapa.
Tak lama memang aku mengenal mereka. Rasanya semua hal tentang mereka sudah aku tahu. Namun tidak dengan mereka. Secuil kisah kadang aku selipkan di tengah cerita mereka tapi tidak dengan versi lengkapnya.
Aku memilih memendamnya sendiri karena terakhir kali aku meminjam telinga katanya kisahku tak seberapa.
Dia bilang, dia sudah pernah melalui seperti apa yang sedang aku lalui dan dibandingkan dengan kisahku, kisah mereka lebih sulit. Mungkin itu salah satu hal yang membuat aku memilih seperti ini. Lebih baik aku dianggap tak punya kisah daripada kisahku dianggap tak seberapa. Toh, kita tak pernah tahu seberapa dalam luka seseorang, kan?
Dia yang bertanya kala itu memang orang yang selalu bercerita dengan detail setiap kisahnya. Bahkan yang menurutku adalah hal yang tak perlu di ceritakan malah ia ceritakan dengan detail dan gamblang. Ia menganggap ceritanya bisa menjadi pelajaran hidup buatku. Beberapa kali ia menanyakan ceritaku, tapi aku kembali terdiam dan ia berkesimpulan, "Mungkin sakitmu masih terlalu dalam jadi kamu belum bisa bercerita."
Apa iya, sakitku sedalam itu? Atau memang aku bukan orang yang mudah bercerita ke orang lain Atau aku memang orang yang tertutup. Atau aku sudah tak percaya dengan siapapun.
Aku tak tahu pastinya. Semua terasa sulit untuk dikatakan. Padahal beberapa waktu ingin rasanya menceritakan semua yang sudah aku alami. Terkadang aku membuat skenario, mengatakan kepada diri sendiri kalau malam nanti aku akan menceritakan ceritaku, menyusun semua catatan kecil yang akan aku katakan di dalam kepala. Namun malamnya, ekspektasi itu akan runtuh karena sekali lagi, telinga yang aku pinjam belum mau mendengar ceritaku. Mulut mereka masih lebih aktif. Atau karena mereka terbiasa tidak mendengar ceritaku sehingga mereka enggan meminjamkan telinga?

