Jumat, 10 November 2023 0 comments

kata mereka kisahku tak seberapa.

Obrolan ringan di dalam mobil membuat malamku lebih panjang. Topik yang selalu baru dan sudut pandang baru membuat aku semakin ingin lebih dan lebih menggali. Semua yang sudah dilewati jauh berbeda dengan yang aku lewati. Semua emosi terdengar selalu tepat sasaran.
Luka yang timbul akibat perjalanan hidup terdengar sempurna seolah semua seperti sembuh tanpa usaha. Entah memang dilupakan, sudah sembuh, atau disangkal. Semua terdengar samar. Dunia seolah berotasi kepadanya hingga dalam keheningan muncul pertanyaan, "bagaimana dengan kisahmu? Kuat, memendamnya sendiri?"

Aku hanya terdiam. Hening, hingga ia kembali membuka obrolan, "Gimana?" Tanyanya sekali lagi.

"Bisa, masih bisa." Aku menjawab sekenanya.

Memang jika di tarik lagi kebelakang, aku yang paling antusias untuk mendengarkan cerita semua orang. Aku dengan senang hati meminjamkan telingaku untuk mereka. Entah kisah percintaan mereka, kisah hidup mereka, perjalanan karir mereka, hubungan dengan keluarga mereka, atau kisah-kisah tak penting yang mereka dengan dari orang lain. Sedang mereka, hampir tak pernah mendengar kisahku.

Terakhir kali aku meminjam telinga kata mereka kisahku tak seberapa.

Tak lama memang aku mengenal mereka. Rasanya semua hal tentang mereka sudah aku tahu. Namun tidak dengan mereka. Secuil kisah kadang aku selipkan di tengah cerita mereka tapi tidak dengan versi lengkapnya.

Aku memilih memendamnya sendiri karena terakhir kali aku meminjam telinga katanya kisahku tak seberapa. 

Dia bilang, dia sudah pernah melalui seperti apa yang sedang aku lalui dan dibandingkan dengan kisahku, kisah mereka lebih sulit. Mungkin itu salah satu hal yang membuat aku memilih seperti ini. Lebih baik aku dianggap tak punya kisah daripada kisahku dianggap tak seberapa. Toh, kita tak pernah tahu seberapa dalam luka seseorang, kan?

Dia yang bertanya kala itu memang orang yang selalu bercerita dengan detail setiap kisahnya. Bahkan yang menurutku adalah hal yang tak perlu di ceritakan malah ia ceritakan dengan detail dan gamblang. Ia menganggap ceritanya bisa menjadi pelajaran hidup buatku. Beberapa kali ia menanyakan ceritaku, tapi aku kembali terdiam dan ia berkesimpulan, "Mungkin sakitmu masih terlalu dalam jadi kamu belum bisa bercerita."

Apa iya, sakitku sedalam itu? Atau memang aku bukan orang yang mudah bercerita ke orang lain Atau aku memang orang yang tertutup. Atau aku sudah tak percaya dengan siapapun.

Aku tak tahu pastinya. Semua terasa sulit untuk dikatakan. Padahal beberapa waktu ingin rasanya menceritakan semua yang sudah aku alami. Terkadang aku membuat skenario, mengatakan kepada diri sendiri kalau malam nanti aku akan menceritakan ceritaku, menyusun semua catatan kecil yang akan aku katakan di dalam kepala. Namun malamnya, ekspektasi itu akan runtuh karena sekali lagi, telinga yang aku pinjam belum mau mendengar ceritaku. Mulut mereka masih lebih aktif. Atau karena mereka terbiasa tidak mendengar ceritaku sehingga mereka enggan meminjamkan telinga?
Rabu, 01 November 2023 0 comments

merayu Tuhan

Apa salahnya menaruh harapan ke Tuhan. Toh, Dia sendiri yang bilang Matius 7:7 (TB) "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu."

Tuhan, aku tak tahu lagi harus bagaimana aku merayu-Mu. Entah caraku yang salah, entah aku yang tidak bisa mendengar-Mu, atau memang Engkau belum menjawab doaku yang satu ini. Aku tahu kalau Engkau sudah tahu apa yang aku mau sebelum aku merayu-Mu lewat tulisan yang bisa saja dianggap banyak basa-basi menurut orang lain. Tapi tak tahu apa, ada sesuatu yang menggerakan hatiku untuk menyelesaikan tulisan ini.

Tuhan, jalan yang aku lewati memang belum jauh, masih banyak hal yang belum aku lalui, coba, atau bahkan aku ketahui. Tapi jujur aku sudah lelah berpura kuat, menahan air mata, dan berjalan sendirian. Aku sudah capek menghadapi dunia ini sendirian.

Aku lelah hanya menjadi pendengar cerita-cerita romansa orang lain. Aku lelah hanya menjadi penonton kisah cinta mereka. Jauh di dalamku juga menginginkannya. Aku ingin ada seseorang yang dengan tulus mau mendengarkan omong kosongku, tidak menghina semua ide konyol yang muncul dari kepalaku, dan mau menemani kemanapun aku pergi.

Aku ingin dia yang sepadan denganku Tuhan. Tidak perlu terlalu ganteng seperti In Sun, tidak perlu terlalu kaya seperti Raffi Ahmad, atau tidak perlu terlalu pintar seperti Pak Mahfud MD. Aku tahu Engkau lebih tahu batasku sampai mana Tuhan. Aku tahu Engkau akan memberiku sesuai kebutuhan dan kecukupanku. Engkau lebih tahu aku bahkan lebih dari aku sendiri.

Tuhan, aku sadar aku masih jauh dari kata siap. Tapi paling tidak, pertemukan aku dengan dia agar aku bisa mempersiapkan diri bersamanya. Agar aku tidak selalu merasa sendirian diantara orang-orang dekat yang kadang aku masih asing. Agar aku punya waktu untuk bisa dekat dengan dia. 

Tuhan, aku ingin seseorang yang bisa membuatku nyaman dekat dengannya, bisa aku anggap sebagai tempat pulang, bisa mensupportku secara mental, bisa men-treat-ku sebagaimana aku memanusiakan manusia lain, bisa memberiku sudut pandang lain tanpa aku merasa dijatuhkan, dia yang datang tanpa aku minta, dia yang ada tanpa aku cari dan bisa memperjuangkanku tanpa aku merasa berjuang sendirian lagi.

Apa aku banyak menuntut Tuhan? Aku aku tidak pantas mendapatkannya? 

Tuhan, semoga ini menjadi rayuanku yang terakhir, ya. Semoga detail yang aku sampaikan bisa sesuai dengan apa yang akan Engkau beri. Dan semoga tidak terlalu lama aku menanti rayuan ini Engkau kabulkan. Amin. 
Selasa, 24 Oktober 2023 0 comments

tangis yang kusimpan sendiri.

Sampai sekarang aku masih belajar bagaimana cara meluapkan sedihku. Aku tak pernah menangis di depan seseorang. Aku tak tahu mengapa air mataku malu pada matahari sampai ia harus lelah menanti gulita. Aku tak mengerti mengapa ia begitu kuat tertahan padahal sesak di dada sudah tak sanggup di rasa.

Hatiku koyak tercabik keadaan tapi mulutku selalu bilang tak apa. Entah mengapa sulit berkata yang sejujurnya tentang perasaan. Aku tak terbiasa bicara apa adanya tentang apa yang aku rasa. Suara berisik yang hanya ada di kepala tak bisa aku redam. Semua seakan berputar di situ saja.

Siangku lelah dengan kesibukan tapi malamku diteror dengan rasa kesepian. Rutinitas, menu makanan, dan topik pembicaraan yang mulai membosankan menjadi bahan bakar overthinkingku.

Sulit untuk melepas topengku satu-persatu. Ikatan mereka terlalu kuat di bibirku. Aku langsung merasa bersalah ketika lupa mengenakannya sebelum bangun dari tempat tidur. Aku tak berani melepaskannya barang sebentar sebelum semua orang terlelap. Aku ingin semua orang menikmati jenakaku tanpa tahu dukaku.

Kala mentari bersinar, aku merasa aku yang paling menang tapi saat banyak bintang menemani aku merasa selalu kalah di semua pertarungan yang kadang datang berulang. Aku selalu berharap semua berjalan mengikutiku tapi nyatanya aku sendirian tergerus arus. Semua yang kuingin tak pernah datang. Mereka hanya membuaiku lalu hilang tak tahu kemana.

Hari ini aku berada di kasur seharian. Aku berhasil melepas topeng itu ketika aku sendirian. Tapi mengapa hanya air mata yang menemaniku? Mengapa tak ada telinga yang mau mendengar ceritaku seperti telingaku yang selalu setia di tengah cerita orang lain?

Mulutku tak berani untuk meminta pertolongan. Aku selalu merasa bukan siapa-siapa. Seharian mengurung diri membuat kepalaku semakin berat. Aku paling ahli melakukan semua ini. Hilang tanpa ada kabar dan muncul semauku seperti tidak terjadi apa-apa.

Bertahun aku berusaha mengekspresikan perasaanku tapi gayung tak pernah bersambut. Hingga sekarang aku mati rasa. Sedihku hanya aku anggap angin lalu. Aku menjadi sama sekali tak mengenalnya.

Ceritaku tak lebih menyedihkan dari yang lain hingga mereka merasa aku tak pantas untuk menyeritakannya. Apa yang terjadi padaku hari ini, sudah pernah mereka rasakan di masa lalu. Apa yang terjadi besok kalau aku belum siap memakai topengku kembali? Apa mereka tetap mau menerima aku setelah mereka melihat tangisku?

Bila kalian pikir aku selalu baik-baik saja, kalian salah. Aku sama seperti kalian, manusia biasa. Bedanya, aku pandai menyimpan tangisku sendiri.



 
;