Rabu, 01 November 2023 0 comments

merayu Tuhan

Apa salahnya menaruh harapan ke Tuhan. Toh, Dia sendiri yang bilang Matius 7:7 (TB) "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu."

Tuhan, aku tak tahu lagi harus bagaimana aku merayu-Mu. Entah caraku yang salah, entah aku yang tidak bisa mendengar-Mu, atau memang Engkau belum menjawab doaku yang satu ini. Aku tahu kalau Engkau sudah tahu apa yang aku mau sebelum aku merayu-Mu lewat tulisan yang bisa saja dianggap banyak basa-basi menurut orang lain. Tapi tak tahu apa, ada sesuatu yang menggerakan hatiku untuk menyelesaikan tulisan ini.

Tuhan, jalan yang aku lewati memang belum jauh, masih banyak hal yang belum aku lalui, coba, atau bahkan aku ketahui. Tapi jujur aku sudah lelah berpura kuat, menahan air mata, dan berjalan sendirian. Aku sudah capek menghadapi dunia ini sendirian.

Aku lelah hanya menjadi pendengar cerita-cerita romansa orang lain. Aku lelah hanya menjadi penonton kisah cinta mereka. Jauh di dalamku juga menginginkannya. Aku ingin ada seseorang yang dengan tulus mau mendengarkan omong kosongku, tidak menghina semua ide konyol yang muncul dari kepalaku, dan mau menemani kemanapun aku pergi.

Aku ingin dia yang sepadan denganku Tuhan. Tidak perlu terlalu ganteng seperti In Sun, tidak perlu terlalu kaya seperti Raffi Ahmad, atau tidak perlu terlalu pintar seperti Pak Mahfud MD. Aku tahu Engkau lebih tahu batasku sampai mana Tuhan. Aku tahu Engkau akan memberiku sesuai kebutuhan dan kecukupanku. Engkau lebih tahu aku bahkan lebih dari aku sendiri.

Tuhan, aku sadar aku masih jauh dari kata siap. Tapi paling tidak, pertemukan aku dengan dia agar aku bisa mempersiapkan diri bersamanya. Agar aku tidak selalu merasa sendirian diantara orang-orang dekat yang kadang aku masih asing. Agar aku punya waktu untuk bisa dekat dengan dia. 

Tuhan, aku ingin seseorang yang bisa membuatku nyaman dekat dengannya, bisa aku anggap sebagai tempat pulang, bisa mensupportku secara mental, bisa men-treat-ku sebagaimana aku memanusiakan manusia lain, bisa memberiku sudut pandang lain tanpa aku merasa dijatuhkan, dia yang datang tanpa aku minta, dia yang ada tanpa aku cari dan bisa memperjuangkanku tanpa aku merasa berjuang sendirian lagi.

Apa aku banyak menuntut Tuhan? Aku aku tidak pantas mendapatkannya? 

Tuhan, semoga ini menjadi rayuanku yang terakhir, ya. Semoga detail yang aku sampaikan bisa sesuai dengan apa yang akan Engkau beri. Dan semoga tidak terlalu lama aku menanti rayuan ini Engkau kabulkan. Amin. 
Selasa, 24 Oktober 2023 0 comments

tangis yang kusimpan sendiri.

Sampai sekarang aku masih belajar bagaimana cara meluapkan sedihku. Aku tak pernah menangis di depan seseorang. Aku tak tahu mengapa air mataku malu pada matahari sampai ia harus lelah menanti gulita. Aku tak mengerti mengapa ia begitu kuat tertahan padahal sesak di dada sudah tak sanggup di rasa.

Hatiku koyak tercabik keadaan tapi mulutku selalu bilang tak apa. Entah mengapa sulit berkata yang sejujurnya tentang perasaan. Aku tak terbiasa bicara apa adanya tentang apa yang aku rasa. Suara berisik yang hanya ada di kepala tak bisa aku redam. Semua seakan berputar di situ saja.

Siangku lelah dengan kesibukan tapi malamku diteror dengan rasa kesepian. Rutinitas, menu makanan, dan topik pembicaraan yang mulai membosankan menjadi bahan bakar overthinkingku.

Sulit untuk melepas topengku satu-persatu. Ikatan mereka terlalu kuat di bibirku. Aku langsung merasa bersalah ketika lupa mengenakannya sebelum bangun dari tempat tidur. Aku tak berani melepaskannya barang sebentar sebelum semua orang terlelap. Aku ingin semua orang menikmati jenakaku tanpa tahu dukaku.

Kala mentari bersinar, aku merasa aku yang paling menang tapi saat banyak bintang menemani aku merasa selalu kalah di semua pertarungan yang kadang datang berulang. Aku selalu berharap semua berjalan mengikutiku tapi nyatanya aku sendirian tergerus arus. Semua yang kuingin tak pernah datang. Mereka hanya membuaiku lalu hilang tak tahu kemana.

Hari ini aku berada di kasur seharian. Aku berhasil melepas topeng itu ketika aku sendirian. Tapi mengapa hanya air mata yang menemaniku? Mengapa tak ada telinga yang mau mendengar ceritaku seperti telingaku yang selalu setia di tengah cerita orang lain?

Mulutku tak berani untuk meminta pertolongan. Aku selalu merasa bukan siapa-siapa. Seharian mengurung diri membuat kepalaku semakin berat. Aku paling ahli melakukan semua ini. Hilang tanpa ada kabar dan muncul semauku seperti tidak terjadi apa-apa.

Bertahun aku berusaha mengekspresikan perasaanku tapi gayung tak pernah bersambut. Hingga sekarang aku mati rasa. Sedihku hanya aku anggap angin lalu. Aku menjadi sama sekali tak mengenalnya.

Ceritaku tak lebih menyedihkan dari yang lain hingga mereka merasa aku tak pantas untuk menyeritakannya. Apa yang terjadi padaku hari ini, sudah pernah mereka rasakan di masa lalu. Apa yang terjadi besok kalau aku belum siap memakai topengku kembali? Apa mereka tetap mau menerima aku setelah mereka melihat tangisku?

Bila kalian pikir aku selalu baik-baik saja, kalian salah. Aku sama seperti kalian, manusia biasa. Bedanya, aku pandai menyimpan tangisku sendiri.



0 comments

semoga yang tak kunjung sampai.

Aku mencoba sekuat tenaga menghentikan segala imajinasi liar. Detak jantung semakin kencang tiap kali notifikasi berbunyi belum lagi getaran ponsel yang semakin membuatku gemetar. Tanda-tanda ini muncul kembali. Semua yang sudah pernah kukubur kembali bangkit dari liangnya. Ambang warasku samar. Jam tidurku semakin kacau. Hari yang biasanya kulalui biasa saja menjadi mencekam. Suasana damai di kantor namun tidak dengan isi kepala yang meracau. Aku takut halusinasi ini berubah menjadi ekspektasi yang tak direstui semesta dan membuatku semakin menggila.

Di sela gelisah, aku tetap mengalihkannya untuk bekerja. Dalam kebisuan, aku berusaha menata hati yang tak tahu apa maunya. Mungkin sebentar lagi ini semua akan selesai. Mungkin besok aku sudah kembali atau mulai terbiasa. Tiap hembusan nafas selalu terasa salah. Tiap gerak selalu ada mata yang mengintai.

Aku ingin segera lepas dari perasaan ini. Rasa yang tidak bisa aku bilang sedih atau marah. Rasa yang  kadang bisa mendorong emosiku untuk meledak namun kadang menumpahkan air mata yang terlalu banyak. Di sisi lain aku tak tahu apa yang sedang aku hadapi. Diriku sendiri atau sesuatu yang tak terlihat mata.

Kadang jika aku sedang waras, aku sibuk menjejalkan pikiran positif kalau semua ini akan berakhir, semua yang baik akan berakhir baik pula, semua yang sudah kamu lakukan akan segera menemukan ujung cerita. Nyatanya, lukaku sudah sempurna. Perasaanku lebih sering rapuh. Semua yang aku anggap biasa saja tak kuat menahan lawannya.

Tidur yang aku anggap obat kini menjadi barang langka. Mataku yang berat tak membuat aku hilang. Kepalaku terus berputar mencari jalan yang gelap. Esok kembali dan aku masih dengan pikiranku yang semakin kacau.
 
;