Selasa, 17 Oktober 2023 0 comments

Caribbean van Java

Entah kenapa, setelah lebaran kemarin, aku iseng banget buka aplikasi trip. Jari ini berhenti di satu destinasi yang sebenarnya nggak jauh dari Semarang: Karimun Jawa. Random banget. Kupikir, kenapa nggak? Akhirnya tiket open trip kucekout, padahal ini kali pertama aku ikut open trip sendirian. Biasanya aku minimal berdua. Kali ini benar-benar sendiri.

Kepalaku masih riuh. Malam sebelum berangkat aku sama sekali nggak bisa tidur. Pikiran ke mana-mana: nanti kalau canggung gimana, kalau sendirian di kamar gimana, kalau sepi gimana. Tapi toh dini hari aku tetap meluncur ke Jepara naik travel, lalu menyeberang pakai kapal.

Hari Pertama – Debur Ombak dan Pertemuan Tak Terduga

Sampai di penginapan, aku baru tahu kalau aku nggak sendiri di kamar. Ada dua orang perempuan seusiaku, yang ternyata juga peserta open trip ini. Awalnya awkward, cuma senyum basa-basi. Tapi nggak butuh lama, obrolan kami ngalir—entah kenapa langsung nyambung. Seolah-olah semesta sengaja taruh kami di kamar yang sama.

Trip sore itu dimulai. Snorkeling di spot Nemo, lalu pasir putih Tanjung Gelam. Aku menikmati laut, tapi lebih dari itu aku menikmati kenyataan kalau ternyata aku nggak benar-benar sendiri. Sunset di dermaga sore itu jadi manis, bukan karena langit jingga, tapi karena ada dua orang asing yang mulai terasa akrab.

Malamnya, setelah makan di pojok alun-alun, kami sepakat melipir keluar. Cari minuman, duduk di caffee. Di atas meja, beberapa botol bir jadi saksi obrolan kami. Malam itu kami nggak sedang mabuk, tapi jujur. Mereka cerita soal luka masing-masing, soal hubungan yang gagal, soal hati yang capek. Aku juga akhirnya buka mulut: aku datang ke sini karena lagi butuh menyembuhkan hati yang sudah terlalu lama kupaksa baik-baik saja. Kami bertiga menertawakan getir itu. Dan rasanya hangat sekali.

Hari Kedua – Biru yang Menyembuhkan

Pagi dimulai dengan snorkeling di Menjangan Kecil. Air sebening kaca, terumbu karang penuh warna, dan kami bertiga yang saling lempar senyum di bawah matahari. Dilanjutkan makan siang di Pulau Cemara Besar, lalu snorkeling lagi di Secret Garden. Lautnya seindah itu.


Sore hari, sunset kami sambut di Menjangan Kecil. Duduk di pasir, menonton matahari pelan-pelan turun. Kami bertiga diam, tapi diam yang tidak sepi. Ada rasa pulih yang samar, yang nggak bisa dijelaskan tapi terasa.

Malam kedua kembali jadi milik kami bertiga. Obrolan makin dalam, tawa makin lepas, seolah dunia luar nggak ada. Kami datang dengan luka berbeda, tapi di Karimun Jawa, luka-luka itu seolah nggak lagi terasa sendirian.

Hari Ketiga – Melipir Subuh, Pulang dengan Gantung

Itin bilang jam enam harus sarapan lalu checkout. Tapi subuh itu, kami bertiga sepakat kabur. Naik motor sewaan, meluncur ke Pantai Bobby. Langit masih biru muda, ombak kecil berkejaran, pasir dingin di kaki. Kami hanya duduk, menonton fajar.


Belum puas, kami naik lagi ke Bukit Cinta. Landmark Karimun Jawa menjulang, lautan membentang jauh di depan. Aku berdiri di antara batu berbentuk hati, mengangkat tangan membentuk simbol cinta ke langit. Entah untuk siapa. Kami tertawa, berfoto, seakan ingin menunda pulang.

Tapi jam terus berjalan. Kami kembali ke penginapan, lalu ke pelabuhan. Kapal menyeberang, laut kali ini terasa lebih tenang, tapi dadaku justru berat. Aku tahu, pertemuan singkat ini mungkin hanya akan jadi potongan kecil dalam hidup kami masing-masing.

Aku menatap laut terakhir kali dari geladak. Ada rasa yang menggantung, sama seperti cerita ini—yang entah kenapa belum bisa kututup.


0 comments

ada hari yang patut disyukuri.

Aku tahu kalau namaku dijual agar dia tak berlama-lama dan tidak berakhir yang bukan-bukan disana. Tapi aku bersyukur, ternyata tanpa aku minta dan sadari, semua yang aku panjatkan dipenuhi dan ditambah oleh pencipta. Orang-orang sepeduli itu denganku.

Masih ada namaku di hati mereka.

Selama ini aku sadar diri kalau aku bukan siapa-siapa. Aku juga tahu kalau aku orang baru dan antah berantah yang datang di sepertiga akhir proyek. Aku minoritas dan aku tidak berekspektasi kalau mereka akan menerima aku sebegininya. Aku terlanjur membuat batas yang jauh. Aku sering menghilang dan bersikap bodo amat kepada mereka. Aku terlalu takut untuk dekat karena aku cukup tahu aku siapa. 

Sampai aku perlu seseorang diantara mereka. Entah darimana keberanian itu timbul. Mulutku yang jarang memohon pertolongan, lancar saja meminta. Aku perlu kehadirannya agar aku merasa nyaman duduk di sana seharian. Entah dia hanya tidur atau bermain handphone karena aku hanya butuh keberadaannya.

Lepas itu semua, kembali seperti semula. Aku dan bentengku, mereka dan dunianya. Namun, semesta seperti merobohkan pertahananku. Semua yang aku kira tak mungkin terjadi malah berbalik. Uluran tangan mereka menggapaiku yang tenggelam cukup dalam dan dekap tangan mereka terlalu erat memelukku. 

Aku menjadi seperti ekor mereka. Setiap ada mereka, selalu ada aku. Mereka memberi porsi semampuku, tidak memaksaku menjadi orang lain, dan tidak menyuruhku untuk menjadi seperti mereka. Banyak hal yang terjadi pada hidup mereka, namun mereka tidak menggurui. Pahit, manis yang dijalani diceritakan agar kelak aku si anak tengah sudah punya contoh harus bersikap seperti apa.

Aku belum tahu akhir cerita ini tapi perasaanku saat ini, sangat bersyukur.

Aku yang jauh dari keluarga menjadi punya keluarga baru. Aku yang kadang bingung harus mencari pertolongan kemana, sudah tahu siapa yang bisa dan mau menolongku. Aku punya alarm pengingat kalau aku berbuat terlalu jauh.

Ada hari dimana aku merasa sendirian, seperti hari ini aku menuliskan cerita ini di cafe baru di kota yang selama ini belum pernah aku bayangkan bisa singgah di sini, bertemu mereka, orang-orang asing yang siap memelukku ketika aku membutuhkannya. Aku yang tak terlalu percaya diri dengan diriku kadang merasa tak pantas menerima perlakuan baik mereka. Namun, bisa jadi ini kumpulan doa-doa kedua orang tuaku yang tak pernah putus untukku.

Untuk kalian, orang asing yang mau menerimaku apa adanya, terimakasih sudah menemani diriku yang sering menghilang. Terima kasih sudah mau datang kepadaku yang jauh dari sempurna ini. Terima kasih telah singgah di hidupku yang biasa saja. Maaf kalau sudatu hari nanti aku kembali menghilang dan mungkin tidak kembali lagi.

Jumat, 13 Oktober 2023 0 comments

bolehkah aku bercerita?

Aku tahu sedihku tak sesedih milikmu, keluargaku tak sesibuk keluargamu, kisah cintaku tak serumit dirimu, atau traumaku tak sedalam traumamu. Tapi apa kau pernah mendengarkan ceritaku? Lalu, darimana kamu menilainya? Bagaimana kamu membandingkannya? 

I don't know what happen to me. But I feel this is the right time to explode. This is the time i must tell you my opinion. So please listen to me carefully because aku hanya akan mengatakannya sekali saja. 

Kamu yang mengaku sangat tahu aku dan aku percaya itu. Sekian lama aku hanya diam dan mengikuti alur ceritamu, sekarang aku sudah merasa tak sejalan dan semoga semua akan tetap baik-baik saja setelah aku mengatakan apa yang ada di kepalaku. Aku tahu, kamu juga lelah. Kamu juga berat menjalani ini semua. Tapi yang harus kamu tahu, aku juga merasakannya. Bukan hanya kamu.

Aku seperti kembali ke cerita yang lalu. Berada di pusaran badai yang sama. Keduanya saling diam dan aku yang di dalamnya dipaksa memilih untuk ikut yang mana. Tapi yang kali ini aku tak merasa ada yang benar dan tetap menjadi hakku kan untuk berada dimana? 

Untuk yang hari ini aku tak bisa memilih. Aku berusaha menutup luka di sisi kanan dan kiri. Namun sisanya, hanya kamu dan dirinya yang bisa perbaiki. Katamu butuh waktu. Ya, aku akan tunggu semampuku  untuk itu. Sampai waktu yang aku tentukan dan tidak ada apapun yang terjadi, jangan salahkan aku bila ku menghilang.

Aku lelah berada di antara, di tengah dua orang yang sama-sama ingin dimengerti tanpa mau memahami satu sama lain. Lalu, hanya ada aku yang terpaksa mengerti dan memahami kalian tanpa ada imbal baik yang ku dapatkan. Jangan paksa aku membenci kalian! Cukup beri aku batasan agar aku tak menggangu hidup kalian yang hanya ingin dimengerti. 

 
;