Caribbean van Java

Entah kenapa, setelah lebaran kemarin, aku iseng banget buka aplikasi trip. Jari ini berhenti di satu destinasi yang sebenarnya nggak jauh dari Semarang: Karimun Jawa. Random banget. Kupikir, kenapa nggak? Akhirnya tiket open trip kucekout, padahal ini kali pertama aku ikut open trip sendirian. Biasanya aku minimal berdua. Kali ini benar-benar sendiri.

Kepalaku masih riuh. Malam sebelum berangkat aku sama sekali nggak bisa tidur. Pikiran ke mana-mana: nanti kalau canggung gimana, kalau sendirian di kamar gimana, kalau sepi gimana. Tapi toh dini hari aku tetap meluncur ke Jepara naik travel, lalu menyeberang pakai kapal.

Hari Pertama – Debur Ombak dan Pertemuan Tak Terduga

Sampai di penginapan, aku baru tahu kalau aku nggak sendiri di kamar. Ada dua orang perempuan seusiaku, yang ternyata juga peserta open trip ini. Awalnya awkward, cuma senyum basa-basi. Tapi nggak butuh lama, obrolan kami ngalir—entah kenapa langsung nyambung. Seolah-olah semesta sengaja taruh kami di kamar yang sama.

Trip sore itu dimulai. Snorkeling di spot Nemo, lalu pasir putih Tanjung Gelam. Aku menikmati laut, tapi lebih dari itu aku menikmati kenyataan kalau ternyata aku nggak benar-benar sendiri. Sunset di dermaga sore itu jadi manis, bukan karena langit jingga, tapi karena ada dua orang asing yang mulai terasa akrab.

Malamnya, setelah makan di pojok alun-alun, kami sepakat melipir keluar. Cari minuman, duduk di caffee. Di atas meja, beberapa botol bir jadi saksi obrolan kami. Malam itu kami nggak sedang mabuk, tapi jujur. Mereka cerita soal luka masing-masing, soal hubungan yang gagal, soal hati yang capek. Aku juga akhirnya buka mulut: aku datang ke sini karena lagi butuh menyembuhkan hati yang sudah terlalu lama kupaksa baik-baik saja. Kami bertiga menertawakan getir itu. Dan rasanya hangat sekali.

Hari Kedua – Biru yang Menyembuhkan

Pagi dimulai dengan snorkeling di Menjangan Kecil. Air sebening kaca, terumbu karang penuh warna, dan kami bertiga yang saling lempar senyum di bawah matahari. Dilanjutkan makan siang di Pulau Cemara Besar, lalu snorkeling lagi di Secret Garden. Lautnya seindah itu.


Sore hari, sunset kami sambut di Menjangan Kecil. Duduk di pasir, menonton matahari pelan-pelan turun. Kami bertiga diam, tapi diam yang tidak sepi. Ada rasa pulih yang samar, yang nggak bisa dijelaskan tapi terasa.

Malam kedua kembali jadi milik kami bertiga. Obrolan makin dalam, tawa makin lepas, seolah dunia luar nggak ada. Kami datang dengan luka berbeda, tapi di Karimun Jawa, luka-luka itu seolah nggak lagi terasa sendirian.

Hari Ketiga – Melipir Subuh, Pulang dengan Gantung

Itin bilang jam enam harus sarapan lalu checkout. Tapi subuh itu, kami bertiga sepakat kabur. Naik motor sewaan, meluncur ke Pantai Bobby. Langit masih biru muda, ombak kecil berkejaran, pasir dingin di kaki. Kami hanya duduk, menonton fajar.


Belum puas, kami naik lagi ke Bukit Cinta. Landmark Karimun Jawa menjulang, lautan membentang jauh di depan. Aku berdiri di antara batu berbentuk hati, mengangkat tangan membentuk simbol cinta ke langit. Entah untuk siapa. Kami tertawa, berfoto, seakan ingin menunda pulang.

Tapi jam terus berjalan. Kami kembali ke penginapan, lalu ke pelabuhan. Kapal menyeberang, laut kali ini terasa lebih tenang, tapi dadaku justru berat. Aku tahu, pertemuan singkat ini mungkin hanya akan jadi potongan kecil dalam hidup kami masing-masing.

Aku menatap laut terakhir kali dari geladak. Ada rasa yang menggantung, sama seperti cerita ini—yang entah kenapa belum bisa kututup.


Copyright © catatan sudarnowati. Designed by OddThemes