Senin, 01 Maret 2021 0 comments

Peron Dua, Stasiun Tanah Abang

Halo kamu, apa kabar? Tiba - tiba pagi ini, aku rindu Jakarta. Semua rutinitas yang dulu membuatku jenuh. Bangun pagi, berdesakan di kereta, bekerja, berdesakan lagi, tidur beberapa jam, kemudian mengulang kegiatan itu (lagi). Begitu terus selama tujuh hari dalam seminggu sampai akhirnya aku tak sengaja bertemu kamu.

Sore itu aku terburu-buru menaiki kereta terakhir dari Stasiun Jurang Mangu. Awal pandemi, jadwal kereta ikut kacau. Kereta terakhir yang biasanya tiba jam 23.45 wib berubah menjadi 16.45 wib. Padahal jam kerjaku masih sama saja.

Aku berdiri memandang keluar jendela berusaha tetap waras di tengah semua angan - angan yang sampai saat itu belum tercapai. Ralat, hingga saat ini mungkin. Berbagai pertanyaan muncul begitu saja di kepala. Apa mereka tidak bosan dengan rutinitas yang mereka jalani? Beberapa wajah mereka sudah tak asing buatku. Bisa dibilang aku bertemu mereka setiap pagi dan kalau aku tak lembur, aku juga bisa pulang bersama mereka. Ekspresi mereka tertutup oleh masker yang mulai minggu lalu harus selalu menemani. Kita masih sama-sama manusia. Hidup rumit namun sederhana, panjang namun sementara, dan mereka menuju ke tujuan yang sama. Keabadian, yang entah kapan bisa kita nikmati.

Hidup rumit namun sederhana, panjang namun sementara, dan mereka menuju ke tujuan yang sama. Keabadian.

Peron dua, Stasiun Tanah Abang. Aku kembali menunggu kereta usai berdesakan berpindah jalur. Kamu, orang yang saat itu asing buatku. Mungkin saat itu tampilanmu di mataku biasa saja: kaos oblong hitam dengan sablon yang mulai memudar—tulisan besar “Seringai” dan segala simbolnya—celana jeans gelap, rambut sedikit berantakan, tas selempang yang terlipat di depan. Kamu tidak menonjol, tapi ada sesuatu di cara kamu berdiri yang menarik perhatianku; mungkin posturmu, mungkin senyummu yang nyaris tak terlihat di balik masker.

Kereta datang seperti biasa: bunyi decitan pintu, napas orang banyak, dan hawa hangat yang menguap dari tubuh manusia. Kita terdorong bersama arus, tubuh-tubuh mengunci tanpa izin. Di antara desakan itu, aku menangkap bau kopi—kopi yang entah dari mana—dan sedikit wangi aftershave yang nyaris tidak sopan untuk dirindukan. Kamu menoleh, lalu pandangan kita bertemu. Tidak ada kata, hanya sekejap yang terasa panjang. Matamu menyiratkan sesuatu yang aku tak berani tafsirkan.

Sampai akhirnya, kamu duduk di pojok gerbong, menempel pada jendela, menatap ke luar seperti mencari sesuatu yang tak ada. Aku duduk beberapa tempat darimu, pura-pura membaca notifikasi kosong di ponsel. Jantungku bergerak canggung. Kepala penuh kata yang tak bisa kubilang. Rasanya ingin menanyakan: siapa kamu sebenarnya? Mengapa, di antara ribuan orang ini, aku tiba-tiba merasa familiar?

Kamu menoleh sekali lagi ketika aku tersengal karena tasku tersangkut. Kau membantu—bukan dengan kata, hanya gerakan tangan yang cepat dan jelas. Sebuah tindakan kecil, tapi cukup untuk membuat aku merasa diterima untuk sesaat. Aku ingin mengucapkan terima kasih, tapi suaraku tersangkut oleh kereta yang menderu. Jadi aku hanya mengangguk. Kamu membalas dengan setengah senyum, lalu menunduk lagi.

Di stasiun berikutnya—entah nama apa—kamu turun. Langkahmu hilang di antara orang dan lampu neon. Aku menatap pintu kereta yang menutup di belakangmu sampai suara deru menenggelamkan sisa-sisa perhatian itu. Dalam hitungan detik, kamu jadi kenangan lain yang mungkin hanya ada karena aku mau mengingatnya.

Malam itu, aku pulang dengan kantong penuh sisa rasa yang tak jelas: rindu yang bukan rindu pada orang lama, penasaran yang bukan ingin memiliki, dan kehangatan kecil yang datang dari kebaikan asing. Jakarta, kota yang seringkali kejam, tiba-tiba terasa memberi celah kecil—sebuah momen singkat yang membuat napas agak lebih ringan.

Dan aku masih bertanya pada diri sendiri sampai sekarang: apakah kamu juga mengingat? Atau semuanya hanya satu adegan kecil di ingatanku yang manja, dibuat agar aku tidak merasa sepenuhnya sendirian?

0 comments

mengalah bukan berarti kalah.

Masih awal tahun tapi udah overthinking sama semua masalah yang menimpa. Suara-suara bising sudah terdengar. Bisikan sudah menjelma menjadi teriakan. Sering terlintas untuk mati saja. Toh, ada tertulis kalau mati di usia muda itu keuntungan buat kita. Iyalah, nggak perlu capek cari jawaban dari pertanyaan klise yang nggak ada ujungnya. Kapan nikah? Udah punya apa aja? Kok kerja swasta? Kok nggak kayak kakaknya? Kok ini? Kok anu? Kok itu?

Kepala jadi sesak dengan keinginan orang lain. Padahal dalam benak sudah banyak planning.

Kadang bingung mesthi ikut yang mana. Takut ambil keputusan, takut sama pendapat orang nantinya. Mentari menyingsing, bukan semangat yang menyongsong. Tapi malah insecure yang menyambut.

Iya, semakin sering buka sosial media semakin ciut nyali untuk mengambil langkah. Kebahagiaan sobat online justru membuat hambatan yang cuma kita sendiri yang bisa hancurkan. Rasa iri menggerus keinginan untuk maju kalau mental kita sudah lelah.

Jarak antara mimpi dan kenyataan semakin jauh tapi kakiku sudah lelah untuk melangkah. 

Hari-hari ini terasa sangat berat menjalani apa yang sejauh ini menjadi cita-cita selepas kuliah, bekerja sebagai kuli proyek yang sepertinya akan sangat bahagia. Bayangan bertemu banyak orang menyenangkan, sevisi dan misi ternyata jauh. Aku telah dihancurkan oleh ekspektasiku sendiri.

Iya, aku menyakiti diriku sendiri lewat ekspetasiku sendiri.

Tak seorangpun yang berani melakukannya selain aku sendiri. Aku telah dihancurkan oleh ekspektasiku selama ini. Aku kira bahagiaku bisa aku gantungkan ke orang lain. Nyatanya salah besar. Bahagiaku, tanggung jawabku sendiri. Dewasa benar - benar tak seindah yang aku bayangkan.

Dewasaku hanya diisi dengan tunggang langgang menghindari tagihan, bersembunyi dari pertanyaan retoris kapan nikah, atau berlari mencari validasi kebahagiaan diri. Entah sampai kapan semua ini akan aku rasakan. Sering aku muak dengan perasaan ini namun tak tahu kapan aku bisa mengalahkannya.

Bukan cuma covid-19 yang bahaya, ekspektasi juga nggak kalah mematikan.

Di pandemi seperti ini, banyak hikmah yang aku dapat. Hampir setahun, aku hidup berdampingan dengan virus ini. Mungkin sebentar lagi aku juga akan berdamai dengannya. Kepala mau pecah karena pekerjaan tak sesuai keinginan.

 Pengen RESIGN!

Di otakku saat ini cuma ada satu kalimat itu. Sedih, seneng, bingung, tapi pengen. Sebulan cari alasan kenapa aku harus tetep bertahan, jangan resign dulu sebelum nemu yang baru. Be realistic. Masa pandemi gini, sulit kemungkinan buat cari tempat kerja baru.

Tapi kondisi di kantor semakin menyudutkan buat segera bilang mau resign. Hati kecil nggak pengen semakin sama dengan mereka para tikus berompi. Nggak pengen seperti bawang putih berhati bawang merah. Terlalu lama aku berenang di kilang saliva.

Mereka sudah terlalu lama ber-cosplay menjadi dajjal sehingga lupa caranya menjadi manusia. Aku tak ingin seperti itu. Kalau memang resign jalan yang terbaik, kenapa harus kembali mencoba bertahan?

Mengalah kan bukan berarti kalah.

Sabtu, 27 Februari 2021 0 comments

aku, kau, dan laut

Laut kembali gaduh. Riak-riak ombak menari abstrak menerjang karang. Ia memporak-porandakan perkampungan yang tak jauh darinya. Hatinya panas melihat Angkasa. Ia sedang cemburu kepada Angkasa karena ia selalu diramaikan oleh Bintang.

"Kenapa lagi? Kamu masih marah padaku?" tanya Angkasa.

Laut hanya diam. Buih-buih putih membuncah. Ia menarik air ke tengah dan menyemburkannya kembali ke daratan dengan cepat. Ia tak memberi ampun. Bintang yang mengetahui kemarahan Laut hanya mengedip kepada kedua kawannya, Bulan dan Matahari.

"Laut," panggil Bintang pelan.

Laut tak menggubris. Ia masih dipenuhi emosi. Ia kembali mengirim air ke daratan, kali ini dengan kuantitas yang lebih besar dan dengan ombak setinggi lebih dari pohon kelapa. Ia marah, semarah-marahnya. Ia melampiaskan segala emosinya.

Awan yang melihat, menangis. Matahari meredupkan cahayanya. Bulan bersembunyi di balik kelam.

Laut merasa sendirian. Ia pikir semua lebih memilih Angkasa—Bintang yang setia menghiasinya, Awan yang menari di tubuhnya, juga Bulan dan Matahari yang seolah tak pernah benar-benar berpihak padanya. Kesepian itu menggerus.

Yang tak ia tahu, Angkasa pun menyimpan rahasia besar di bawah lengkung indah Pelangi: rahasia tentang sepi yang sama, sepi di tengah keramaian. Karena meski Bulan dan Matahari memang tak bergantung pada Laut, mereka ada untuknya. Sama seperti Laut selalu ada untuk Angkasa, tanpa pernah benar-benar mereka sadari.

Mungkin, semua hanya soal siapa yang lebih dulu berani mengaku kesepian.

 
;