Masih awal tahun tapi udah overthinking sama semua masalah yang menimpa. Suara-suara bising sudah terdengar. Bisikan sudah menjelma menjadi teriakan. Sering terlintas untuk mati saja. Toh, ada tertulis kalau mati di usia muda itu keuntungan buat kita. Iyalah, nggak perlu capek cari jawaban dari pertanyaan klise yang nggak ada ujungnya. Kapan nikah? Udah punya apa aja? Kok kerja swasta? Kok nggak kayak kakaknya? Kok ini? Kok anu? Kok itu?
Kepala jadi sesak dengan keinginan orang lain. Padahal dalam benak sudah banyak planning.
Kadang bingung mesthi ikut yang mana. Takut ambil keputusan, takut sama pendapat orang nantinya. Mentari menyingsing, bukan semangat yang menyongsong. Tapi malah insecure yang menyambut.
Iya, semakin sering buka sosial media semakin ciut nyali untuk mengambil langkah. Kebahagiaan sobat online justru membuat hambatan yang cuma kita sendiri yang bisa hancurkan. Rasa iri menggerus keinginan untuk maju kalau mental kita sudah lelah.
Jarak antara mimpi dan kenyataan semakin jauh tapi kakiku sudah lelah untuk melangkah.
Hari-hari ini terasa sangat berat menjalani apa yang sejauh ini menjadi cita-cita selepas kuliah, bekerja sebagai kuli proyek yang sepertinya akan sangat bahagia. Bayangan bertemu banyak orang menyenangkan, sevisi dan misi ternyata jauh. Aku telah dihancurkan oleh ekspektasiku sendiri.
Iya, aku menyakiti diriku sendiri lewat ekspetasiku sendiri.
Tak seorangpun yang berani melakukannya selain aku sendiri. Aku telah dihancurkan oleh ekspektasiku selama ini. Aku kira bahagiaku bisa aku gantungkan ke orang lain. Nyatanya salah besar. Bahagiaku, tanggung jawabku sendiri. Dewasa benar - benar tak seindah yang aku bayangkan.
Dewasaku hanya diisi dengan tunggang langgang menghindari tagihan, bersembunyi dari pertanyaan retoris kapan nikah, atau berlari mencari validasi kebahagiaan diri. Entah sampai kapan semua ini akan aku rasakan. Sering aku muak dengan perasaan ini namun tak tahu kapan aku bisa mengalahkannya.
Bukan cuma covid-19 yang bahaya, ekspektasi juga nggak kalah mematikan.
Di pandemi seperti ini, banyak hikmah yang aku dapat. Hampir setahun, aku hidup berdampingan dengan virus ini. Mungkin sebentar lagi aku juga akan berdamai dengannya. Kepala mau pecah karena pekerjaan tak sesuai keinginan.
Pengen RESIGN!
Di otakku saat ini cuma ada satu kalimat itu. Sedih, seneng, bingung, tapi pengen. Sebulan cari alasan kenapa aku harus tetep bertahan, jangan resign dulu sebelum nemu yang baru. Be realistic. Masa pandemi gini, sulit kemungkinan buat cari tempat kerja baru.
Tapi kondisi di kantor semakin menyudutkan buat segera bilang mau resign. Hati kecil nggak pengen semakin sama dengan mereka para tikus berompi. Nggak pengen seperti bawang putih berhati bawang merah. Terlalu lama aku berenang di kilang saliva.
Mereka sudah terlalu lama ber-cosplay menjadi dajjal sehingga lupa caranya menjadi manusia. Aku tak ingin seperti itu. Kalau memang resign jalan yang terbaik, kenapa harus kembali mencoba bertahan?
Mengalah kan bukan berarti kalah.

