Minggu, 08 September 2019 0 comments

Menua itu Harus!

Beberapa malam lagi, genap usiaku seperempat abad. Sebuah pencapaian yang lumayan membuatku kalang kabut. Duh dek, semakin uzur Hayati. Nggak kerasa banget udah dikasih hidup selama itu sama Tuhan. Rasanya kayak kemaren baru lahir.

Quarter Life Crisis? Jelas! Bagaimana tidak, diusiaku yang sudah seharusnya mampu berdiri di kaki sendiri, aku masih saja begini. Berlindung di bawah ketek orang tua. Mau tak mau, suka tak suka yang namanya manusia masih bernapas selalu membandingkan hidupnya sama orang lain, ditambah kemajuan teknologi yang bikin kita semakin gampang mengintip gaya hidup orang lain.

Tarik napas panjang. Huft. Undangan nikahan silih berganti datang dan sekarang sudah diselingi sama undangan ulang tahun bocah-bocah di McD. Nggak ngerti lagi, sudah berapa banyak temen yang sudah punya anak. Sedangkan aku. Jomblo binti pengangguran.

Menganggur boleh, goblok jangan!

Sejumput kutipan dari influencer yang akhir-akhir ini sering aku stalking instagram-nya itu seperti menamparku. Bener juga, sih. Apa salahnya sementara ini menganggur. Toh, juga masih berusaha untuk mendapatkan tempat terbaik di tengah hiruk-pikuk dunia kerja yang fana.

Cinta tak perlu di cari karena cinta akan datang sendiri di waktu dan orang yang tepat.

Perkara jodoh, biar Tuhan yang jawab. Hayati siap kapan saja, kalau itu sudah kehendak yang Kuasa. Toh, Hayati juga berusaha memantaskan diri setiap harinya. Jujur sama diri sendiri, lebih mengenal dan mencintai diri sendiri pula. Pasti Dia akan memberi dia yang sepadan dengan Hayati. Ahay...

Senin, 15 Juli 2019 0 comments

Berkawan Dengan Kegagalan

Kalau kau belum tahu rasanya penolakan, itu seperti luka menganga akibat hunusan pedang. Perih apabila terkena sesuatu namun apabila sudah sembuh, jangan kau tanya lagi rasanya, aku sudah lupa.

Kegagalan adalah masa dimana kelemahan kita diuji, ditekan, dan ditempa. Tak ada pilihan lain selain menerima kenyataan, mengumpulkan sisa tenaga untuk kembali bangkit dari keterpurukan, dan menghadapinya.

Titik terendah seumur hidupku, terjadi belum lama ini. Resign dari pekerjaan, tak lekas mendapat kerja kembali. Belum bisa melanjutkan sekolah yang sudah tertunda.

Tapi dari sana, aku banyak belajar untuk bersabar. Because at the right time, He will make it happen. Tuhan punya cara sendiri dalam bekerja, jauh dari pikiran kita, dan setiap rencana-Nya tak ada yang kebetulan.

Tetap berusaha, ternyata rencana Tuhan indah pada waktu-Nya. Aku bisa melanjutkan studi di tempat yang tidak sama sekali aku duga sebelumnya. Kesempatan baru, kenalan baru, pengalaman mahal lainnya, aku dapatkan.

Expect for the best and preparing for the worst. 

Kita boleh minta pengharapan apapun tetapi jangan lupa untuk mempersiapkan mental untuk kemungkinan terburuk yang bisa terjadi kapan saja. Kalau hati kita siap, semua akan kita hadapi dengan gagah bahkan kita akan mempersilakan kegagalan itu melangkah terlebih dahulu.

Kini, aku jauh lebih kuat dari hari kemarin. Berfikiran lebih positif dalam segala keadaan. Bahkan tanpa disadari terkadang aku menantang kegagalan itu sendiri, "Silakan datang kepadaku. Aku akan makan engkau dan menjadikanmu lompatanku untuk lebih besar lagi. Wait me for the next battle!"

Sounds like adrenaline junkie, right? Gimana dengan kalian? Sudah siap untuk melawan kegagalan?
Minggu, 14 Juli 2019 0 comments

Masa Depan Seorang Sarjana

Lama tak bersua. Di malam yang ceria dan menyenangkan ini, ijinkan aku untuk sejenak bercerita tentang kisah saya beberapa hari ini yang campur aduk kayak ready mix.

Setelah hampir setahun berkutat dengan diktat, akhirnya secara unofficially (red- karena belom wisuda) sudah menjadi sarjana. Akhirnya kesampaian juga jadi sarjana anakmu ini, mak.

Persiapan sidang yang gupuh, sidang yang ternyata nggak sampe satu jam, antara dosennya males lihat wajah aku atau dosennya udah pengen makan siang. Dan seabrek keanehan yang aku lakukan menjelang sidang telah berakhir.

Thanks to God, emak, bapak, embak, adek, serta teman-teman real life, dunia sosmed, netijen, cocot tetangga, dan semua yang sudah banyak misuh, sambat, dan nyocot tentang daku. Pokoknya, tanpa cangkem dan jempol kalian, aku hanyalah seiris terong goreng didasar sambel penyetan yang lembek, benyek, tapi pedes.

Anw, perjalanan masih sangat-sangat panjang. Banyak pilihan yang harus dipilih. Banyak jalan yang harus dilalui. Bingung. Harus. Takut. Pasti.

Ribuan buku biografi orang sukses, pasti punya cerita bagian sulit yang harus dilalui sebelum mencapai kata 'sukses' itu sendiri.

Akupun pasti akan melaluinya.

Pilih bekerja di kontraktor atau konsultan atau bank atau sebagai penulis?

Semua juga belum tahu masa depannya bagaimana. Bekerja ikut perusahaan bisa saja suatu hari di pecat. Jadi penulis juga belum tentu laku. Terus gimana?

Jalani saja apa yang ada didepan mata. Semua sudah di atur Tuhan. Mau jalannya berbatu, berkelok, dan terjal kalau itu memang jalannya ya harus dijalani dengan hati bersuka dan ikhlas.

Siapa yang menabur dengan air mata akan menuai dengan suka cita.

Itu janji Tuhan, loh. Tinggal diimani dan dijalani saja. Toh, Tuhan juga nggak bakal ninggalin kita sendirian. So, lets God work on our life!
 
;