Masa Depan Seorang Sarjana

Lama tak bersua. Di malam yang ceria dan menyenangkan ini, ijinkan aku untuk sejenak bercerita tentang kisah saya beberapa hari ini yang campur aduk kayak ready mix.

Setelah hampir setahun berkutat dengan diktat, akhirnya secara unofficially (red- karena belom wisuda) sudah menjadi sarjana. Akhirnya kesampaian juga jadi sarjana anakmu ini, mak.

Persiapan sidang yang gupuh, sidang yang ternyata nggak sampe satu jam, antara dosennya males lihat wajah aku atau dosennya udah pengen makan siang. Dan seabrek keanehan yang aku lakukan menjelang sidang telah berakhir.

Thanks to God, emak, bapak, embak, adek, serta teman-teman real life, dunia sosmed, netijen, cocot tetangga, dan semua yang sudah banyak misuh, sambat, dan nyocot tentang daku. Pokoknya, tanpa cangkem dan jempol kalian, aku hanyalah seiris terong goreng didasar sambel penyetan yang lembek, benyek, tapi pedes.

Anw, perjalanan masih sangat-sangat panjang. Banyak pilihan yang harus dipilih. Banyak jalan yang harus dilalui. Bingung. Harus. Takut. Pasti.

Ribuan buku biografi orang sukses, pasti punya cerita bagian sulit yang harus dilalui sebelum mencapai kata 'sukses' itu sendiri.

Akupun pasti akan melaluinya.

Pilih bekerja di kontraktor atau konsultan atau bank atau sebagai penulis?

Semua juga belum tahu masa depannya bagaimana. Bekerja ikut perusahaan bisa saja suatu hari di pecat. Jadi penulis juga belum tentu laku. Terus gimana?

Jalani saja apa yang ada didepan mata. Semua sudah di atur Tuhan. Mau jalannya berbatu, berkelok, dan terjal kalau itu memang jalannya ya harus dijalani dengan hati bersuka dan ikhlas.

Siapa yang menabur dengan air mata akan menuai dengan suka cita.

Itu janji Tuhan, loh. Tinggal diimani dan dijalani saja. Toh, Tuhan juga nggak bakal ninggalin kita sendirian. So, lets God work on our life!
Copyright © catatan sudarnowati. Designed by OddThemes