Postingan

selalu ada cerita tentangmu dan namamu yang selalu ada di belakangku.

Seandainya Bapak tahu, ini adalah cerita tentang kita. Cerita yang kebanyakan orang tidak tahu atau bisa saja Bapak tidak pernah tahu juga. Sepanjang aku hidup tiga puluh tahun ini sepertinya tak sampai setengahnya aku bersamamu. Kita seperti sebuah obyek yang sedang bercermin. Beberapa hal kita memang mirip. Gengsi kita terlalu tinggi ya, Pak tapi kita malu untuk mengakuinya. Keras kepala kita sama, rasanya tak ada yang mengalahkannya. Cuma manusia-manusia yang dengan kadar sabarnya luar biasa yang bisa mengerti itu. Aku tahu Bapak sayang aku, begitupun aku tapi cara komunikasi kita memang berbeda. Aku dengan nadaku yang meledak-ledak dan Bapak dengan mode senyapnya.  Dulu aku sering berujar kalau aku bisa memilih, aku lebih ingin jadi keponakanmu bukan jadi anakmu seperti sekarang. Aku tarik ucapanku itu ya, Pak. Sepertinya jadi keponakanmu jauh lebih tak enak karena harus membenci anak-anakmu yang terlalu memelukmu erat. Belum lagi mereka tak bisa benar-benar memilikimu. Walau k...

double shoot

Menghilang memang jadi salah satu defend mechanism yang paling aku kuasai. Tak ada seorangpun yang bisa mendebatnya. Tampak luar aku bisa terlihat tenang, tak punya beban masalah apapun, namun semua badai muncul menemani tiap malam. Bodohnya, aku masih menambah amunisi dengan segelas coffee aren latte dengan double shoot. Benar sajakan. Seolah rasa pahitnya bisa menutupi getir di kepala, padahal cuma menambah jantung berdebar, mata terjaga, dan pikiran makin liar ke mana-mana. Ironis, aku membayar untuk menyiksa diri sendiri. Katanya orang-orang bijak, “lari tidak akan menyelesaikan masalah.” Tapi kalau aku diam, apa masalahnya akan menyelesaikan aku? Mana yang lebih dulu: aku hancur atau masalahku hilang? Sialnya, aku sudah terbiasa jadi orang yang pura-pura kuat di depan semua orang, padahal kenyataannya aku sudah lama kalah dalam peperangan di dalam kepala sendiri. Lucunya, semua orang masih percaya. Mereka lihat aku tertawa, mereka lihat aku update story, mereka lihat aku minum kop...

apa aku boleh bahagia?

Disaat orang lain terlihat bahagia dengan hidupnya, aku malah semakin sesak dengan apa yang sedang kujalani. Sejujurnya semua pertanyaan yang mereka tanyakan juga sedang aku tanyakan ke diriku sendiri. Aku juga ingin seperti mereka, punya teman bercerita, punya keluarga kecil yang selalu tertawa bersama. Tapi kalau memang hal-hal itu belum waktunya atau bahkan tak bisa aku miliki, aku bisa apa? Sulit buatku untuk percaya lagi ke seseorang. Sejak aku bisa memahami apa itu ditinggalkan, semua terasa tak ada yang benar-benar bisa melekat. Apalagi semua yang ada di muka bumi ini ada masanya masing-masing. Buatku membuka hati tidak semudah apa yang mereka katakan. Meskipun dia sudah bersamaku dan punya label milikku, tak ada jaminan kalau dia tidak akan meninggalkanku. Aku sudah mencobanya berulang kali, yang awalnya sangat percaya diri bisa membuka diri, membuka hati, membuka kisah baru, yang ada aku malah semakin tenggelam di pikiranku sendiri. Luka yang kukira sudah mulai sembuh nyatanya...

on my survival mode.

I'm on my survival mode. Bukan kewajibanmu buat mengerti aku, dan terserah asumsimu buat aku. Aku terima saja kamu sebut aku apa. Aku nggak punya nyali sama sekali buat menjelaskan tentang apapun. Aku bukan papan pengumuman yang harus menjabarkan alasan kenapa aku begini, kenapa aku begitu. Aku hanya manusia yang sedang berusaha hidup, dengan caraku sendiri, seburuk apapun kelihatannya di matamu. Aku tahu rasanya jadi kambing hitam. Aku tahu rasanya jadi sosok yang mudah dihakimi. Tapi di titik ini aku sudah nggak peduli. Kalau bagimu aku pengecut, ya sudah. Kalau bagimu aku egois, ya silakan. Aku tidak sedang berusaha menang. Aku bahkan tidak sedang ikut main. Aku hanya sedang berusaha bertahan supaya besok masih bisa bangun lagi, entah untuk apa. Dan kalau suatu saat kamu sadar, kamu akan tahu: aku tidak pernah meminta diselamatkan. Aku cuma ingin tidak diganggu saat aku tenggelam dengan caraku sendiri. Karena survival mode itu tak indah. Itu cuma insting paling dasar: tetap bern...

diam bukan berarti tanpa luka.

Tidak ada yang benar-benar biasa saja. Setiap keluarga menderita dengan porsinya masing-masing, hanya cara menutupinya yang berbeda. Ada yang menutup rapat dengan doa, ada yang menertawakannya sampai lelah, ada juga yang memilih diam dan menganggap semua baik-baik saja. Tapi luka tetap ada, meski dibungkus dengan rapi. Mungkin itulah mengapa orang kadang merasa berhak tahu. Mereka mengira ikut campur bisa memperbaiki keadaan, padahal sering kali justru menambah runyam. Ada batas tipis antara peduli dan mencampuri, antara perhatian dan mengorek-ngorek. Orang sering lupa bahwa ada hal-hal yang memang tidak perlu diketahui. Tidak semua cerita harus dibongkar, tidak semua luka harus dipertontonkan. Tapi kalau sesuatu itu melibatkan kita, tidak adil rasanya jika justru kita yang tidak diberi tahu. Dan di tengah semua itu, ada orang-orang yang memilih diam. Yang tak banyak cerita biasanya punya kepekaan lebih. Mereka terbiasa membaca tanda, menangkap sinyal yang tidak terucap. Mereka tahu ...

perjalanan (kembali) mencari rumah

Badai kembali datang. Aku yang sadar kakiku penuh lumpur berlari menerjang badai ke teras di ujung jalan yang gelap. Temaram lampu kuning yang terkadang berkedip menjadi satu-satunya hiasan di teras yang penuh debu. Aku segera membersihkan kakiku dari debu sebelum menginjakan kaki ke lantai teras berlapis kayu coklat tua. Pemandangan ini seperti tak asing buatku tapi aku yang sudah terlalu lelah tak menghiraukannya. Usai kakiku bersih, aku duduk di teras itu. Debunya belum terlalu tebal, mungkin belum terlalu lama di tinggalkan. Tapi rumput di halaman depan sudah mulai meninggi. Pot bunga yang berjajar di pinggir teras juga berantakan. Tak terasa hujan mulai rintik. Dari kejauhan cahaya putih datang menghampiri. Sepertinya pemilik rumah datang. Ia turun dari mobil bagusnya. Payung hitam menutup setengah wajahnya sehingga aku tak terlalu melihat wajahnya. Aku sudah menyiapkan senyum dan menyusun permohonan maaf untuknya. Benar, belum sempat aku berucap wajahnya nampak dari balik payung....

semoga aku hilang dalam tidurku.

Hari-hari ini cepat berlalu. Rutinitas membosankan dan hati yang kosong menjadi teman. Mungkin minggu ini aku tak bicara lebih dari lima puluh ribu kata. Aku terlalu banyak diam dan memendam pikiranku. Rumah nampaknya masih sepi. Semua seolah membeku bersama dengan topik pindah rumah yang aku lontarkan. Tak apa aku kembali menjadi tokoh antagonis tapi mengapa selalu aku? Semua yang ada di kepalaku seolah salah. Bahkan ketika aku berusaha jujur, hasilnya tetap saja dianggap salah. Rasanya seperti hidup di ruang sidang tanpa hakim, hanya penuh jaksa yang menunggu celah untuk menuding. Kadang aku berpikir, mungkin benar: diam adalah bentuk perlindungan terakhir. Kalau aku tak bersuara, tak ada yang bisa mereka salahkan. Tapi anehnya, bahkan diam pun bisa ditafsirkan macam-macam. Mereka bilang aku dingin, egois, terlalu jauh, terlalu sulit dimengerti. Padahal aku hanya berusaha tidak hancur di depan mereka. Aku bosan jadi pemeran sampingan di cerita orang lain. Bosan jadi “masalah” hanya k...