Postingan

alasanku membenci wewangian.

Aku benci orang yang memakai parfum. Mereka begitu egois memaksakan indra orang lain mengikuti seleranya. Mereka sama sekali tak peduli perasaan orang lain seakan mereka melarang orang disekitarnya untuk bernapas dengan lega. Beberapa bisa dicerna dengan baik ketika bercampur dengan wangi tubuh mereka namun ada beberapa yang malah saling tumpang tindih tambah tak karuan ketika tercampur. Selain itu, entah mengapa memori penciumanku jauh lebih baik daripada ingatan kepalaku. Aku mendadak panik ketika sekelebat aroma mirip milikmu lewat. Semua tentangmu langsung menyerang ingatan. Semua berjubel tak mau kalah memaksaku untuk mengenangmu. Lalu, tidak salah kan kalau aku membenci wewangian? Karena semua yang dihadirkan bersamanya tak selalu yang indah.

seharusnya kamu bahagia kalau aku tidak mengganggumu (lagi)

Dering telepon berbunyi. Jam segini rasanya jarang urusan pribadi menghampiriku. Paling orang-orang yang berkaitan dengan pekerjaan yang mencari. Aku mengjangkau ponselku yang tak terlalu jauh kugeletakan. Tercantum namamu di layar ponsel. Semua masih sama. Aku tak merubah apapun sejak tak lagi ada apa-apa diantara kita. Kuhembusan napas panjang, mencoba menurunkan heart rate yang mendadak naik.  "Kukira semua sudah berlalu, ada apalagi kamu menghubungiku? Tak usah di angkat," ujar kepalaku. Tapi ternyata rasa ingin tahuku lebih menggebu.  "Apa?" Tanyaku tanpa basa-basi walau nada bicaraku tak menghentak seperti biasanya. "Aman, kan?" ucapnya dengan nada datar dan tenang seperti dia biasanya. Kepalaku mendadak kosong, lidahku kelu. "Aman," jawabku sekenanya. Dari hembusan napasnya yang berat, sepertinya jawabanku tak sesuai ekspektasinya. Aku yang biasanya tak seperti itu. Aku sering mengulur jawabanku agar bisa berlama-lama mengobrol dengannya ...

untuk diamku yang selalu salah.

Di separuh tahun ini, aku banyak belajar tentang diam. Entah bagaimana aku menyikapi diamnya seseorang atau bagaimana aku belajar untuk diam. Aku menjalani roller coaster perasaanku dalam diam. Belum lagi suara bising dari kepala yang semakin menjadi ketika aku diamkan. Semua memojokan diamku, seolah ia tersangkanya. Apa diamku ini salah? Kupikir dengan diamku semua akan bergerak ke bagian yang semestinya. Semua diamku akan mendukungku untuk menjadi yang seharusnya terjadi. Tapi nyatanya? Semua malah menyerang balik diamku dan aku semakin tersudut. Mereka mengira diamku tanda kalah, padahal diamku adalah cara bertahan. Mereka membaca diamku sebagai tunduk, padahal aku hanya sedang menahan diri agar tidak meledak. Di balik diamku ada amarah, ada luka, ada kata-kata yang terlalu tajam jika aku lepaskan. Aku tahu, tak semua bisa memahami bahasa diam. Sebagian butuh penjelasan, sebagian butuh klarifikasi, sebagian butuh pembelaan. Tapi aku sedang tak punya tenaga untuk menjelaskan semua i...

i am maybe small but i have universe inside my head.

Usai menikmati secangkir es kopi, kepalaku seperti ada cahaya lampu di dalamnya. Warna-warninya sampai menyilaukan mata. Semua yang tadinya buntu jadi punya banyak jalan untuk keluar. Seperti tulisan ini yang entah darimana dan bagaimana, aku mudah saja mengetiknya. Sepertinya aku sedang ingin banyak bercerita. ada pesta di kepalaku setiap larut malam. Tak ada malam yang bisa aku lewatkan tanpa ritual ini. Banyak pertanyaan yang tiba-tiba berjubal minta jawaban. Aku yang tak pernah siap hanya bisa menghela napas. Mata ini sibuk memandangi layar komputer yang beberapa menit lalu sudah ingin dimatikan sebenarnya. Malam ini dimulai dari perihal cincin. Malam-malam tanpa ada seseorang yang bisa aku hubungi sama sekali rasanya begitu hampa. Bolak-balik cek notifikasi, tak ada satupun. Di benak juga sudah tak ada tujuan lagi kepada siapa aku bisa bercerita. Padahal story lamaran sudah mulai banyak lagi, undangan sudah mulai berdatangan lagi. Tapi kapan giliranku? Banyak ketakutan yang mengha...

lima menit tentangmu.

aku tak tahu apa yang ada di kepalamu. aku berusaha dengan keras mengisi kepalaku sendiri. kita hanya dua orang asing yang tak sengaja bertemu dan kamu tak mungkin bisa melangkah lebih dekat ke arahku. aku bukan siapa-siapa. tapi apa? setiap aku berpikir tentangmu, notifikasimu muncul. dua kata biasa saja yang membuat perutku terisi kupu-kupu. sudah makan? sebenarnya kamu menganggapku apa? sekali dua kali kamu lakukan itu, aku masih kokoh dengan pikiranku. kita bukan siapa-siapa, tak mungkin orang sepertimu menyukaiku. cerita tentangmu memang banyak ku dengar. seringkali dari mulutmu sendiri malah. aku yang sibuk menahan semuanya hanya bisa menimpali seadanya. aku tahu batasan diriku. sekarang cerita tentangmu sudah selesai. apa aku ada kesempatan untuk bisa lebih? tapi apa bisa? aku tak pernah sebanding dengan masa lalumu tapi aku tak selamanya aku bisa menahan semuanya.

aku menyukai hal yang rumit.

Hai, kamu! Apa kabar? Apa sudah ada kabar lain yang kau tunggu? Apa sudah ada hati lain yang mengisi kekosonganmu? Apa sudah ada yang mengingatkanmu untuk hal-hal remeh yang sering kau lupa? Apa sudah ada yang mendengarkan celotehmu? Apa sudah ada yang mengkhawatirkanmu sepanjang hari? Apa sudah ada yang gantikanku? Kuharap semua itu belum terjadi. Kuharap kamu masih sama seperti yang kukenal. Kuharap kamu merasakan juga apa yang aku rasa. Kuharap kamu baik-baik saja. Harapku terlalu tinggi padamu. Semua ekspektasiku runtuh ketika yang ku harap tak terjadi sama sekali. Aku masih tak apa-apa. Toh, aku terbiasa melewati semuanya sendirian. Sembuh, sepertinya jauh dari bayanganku. Aku malah tak pernah merasa se-sehat ini. Aku hanya membiasakan hidupku tanpa kehadiranmu dan semua berjalan seperti biasa walau kadang air mata yang menemani. Mengapa semua tak kuketahui sejak awal saja? Paling tidak, aku bisa menyiapkan hati untuk patah kembali. Ya, aku tetap akan melakukan seperti yang kemar...

mengingat mimpi

Semalam aku membunuh seseorang. Aku lupa bagaimana wajahnya, seingatku dia seorang pria, dan aku mengenalnya. Sepertinya ku sangat membenci dia, terlihat dari cara bagaimana aku membunuhnya. Tak hanya sekali aku menikam dadanya, tanganku menggengam erat pisau itu dan dengan mantap menusuk dadanya berulang. Tangan dan wajahku yang berlumuran langsung aku cuci. Campuran darah dan air memenuhi kamar mandi yang berdinding serba putih. Pisau yang aku gunakan entah aku buang kemana, tahu-tahu sudah tak ada di tanganku. Ada satu fragmen lain yang datang: seseorang dari masa lalu—kenal atau tak kenal—datang membawa koper hitam, menyingkap raut wajah yang tak ingin kucari, dan membersihkan dinding-dinding kamar dengan teliti. Dalam mimpi itu ia bekerja tanpa bicara, seperti profesi yang lahir dari kebiasaan membersihkan. Saat aku terjaga, aku bertanya pada diri sendiri apakah itu pertolongan atau justru tanda bahwa ada hal yang lebih gelap yang sudah kubiarkan hidup di bawah kesadaran. Aku berd...