Postingan

tangis yang kusimpan sendiri.

Sampai sekarang aku masih belajar bagaimana cara meluapkan sedihku. Aku tak pernah menangis di depan seseorang. Aku tak tahu mengapa air mataku malu pada matahari sampai ia harus lelah menanti gulita. Aku tak mengerti mengapa ia begitu kuat tertahan padahal sesak di dada sudah tak sanggup di rasa. Hatiku koyak tercabik keadaan tapi mulutku selalu bilang tak apa. Entah mengapa sulit berkata yang sejujurnya tentang perasaan. Aku tak terbiasa bicara apa adanya tentang apa yang aku rasa. Suara berisik yang hanya ada di kepala tak bisa aku redam. Semua seakan berputar di situ saja. Siangku lelah dengan kesibukan tapi malamku diteror dengan rasa kesepian. Rutinitas, menu makanan, dan topik pembicaraan yang mulai membosankan menjadi bahan bakar overthinking ku. Sulit untuk melepas topengku satu-persatu. Ikatan mereka terlalu kuat di bibirku. Aku langsung merasa bersalah ketika lupa mengenakannya sebelum bangun dari tempat tidur. Aku tak berani melepaskannya barang sebentar sebelum semua orang...

semoga yang tak kunjung sampai.

Aku mencoba sekuat tenaga menghentikan segala imajinasi liar. Detak jantung semakin kencang tiap kali notifikasi berbunyi belum lagi getaran ponsel yang semakin membuatku gemetar. Tanda-tanda ini muncul kembali. Semua yang sudah pernah kukubur kembali bangkit dari liangnya. Ambang warasku samar. Jam tidurku semakin kacau. Hari yang biasanya kulalui biasa saja menjadi mencekam. Suasana damai di kantor namun tidak dengan isi kepala yang meracau. Aku takut halusinasi ini berubah menjadi ekspektasi yang tak direstui semesta dan membuatku semakin menggila. Di sela gelisah, aku tetap mengalihkannya untuk bekerja. Dalam kebisuan, aku berusaha menata hati yang tak tahu apa maunya. Mungkin sebentar lagi ini semua akan selesai. Mungkin besok aku sudah kembali atau mulai terbiasa. Tiap hembusan nafas selalu terasa salah. Tiap gerak selalu ada mata yang mengintai. Aku ingin segera lepas dari perasaan ini. Rasa yang tidak bisa aku bilang sedih atau marah. Rasa yang  kadang bisa mendorong emosik...

dingin, diam, menghilang, dan asing

Aku masih diam hingga aku menuliskan ini semua. Aku tahu, semua dipicu oleh masalah sepele yang kekanakan. Aku tak ingin memakai alasan, pembenaran dan tapi yang bisa menyudutkan kamu. Jadi aku memilih untuk diam 1. Sepanjang Purwakarta — Jakarta Sore ini aku kembali ke Ibukota. Ibu yang katanya lebih jahat dari ibu tiri. Buatku yang sekarang, Ibukota adalah pilihan cepat untuk sebentar melepas penat diantara tumpukan tagihan yang tak ada berhenti mengejarku sampai proyek ini selesai. Aku asal naik gerbong hari ini. Tak banyak memilih tempat duduk karena aku sengaja datang mepet dengan jam keberangkatan kereta. Aku sedang tak tahu dengan perasaanku sendiri. Akhir-akhir ini aku lebih sensitif dengan segalanya. Dia yang memang selalu ternganggu mood -nya ikut mengusik pikiranku. Padahal biasanya aku biasa saja dengannya. Entah, aku rasanya ingin terus membalas segala ucapan yang menurut dirinya benar. Mungkin aku sedikit bosan selalu memilih mengalah dengannya. Aku merasa dia marah denga...

Caribbean van Java

Gambar
Entah kenapa, setelah lebaran kemarin, aku iseng banget buka aplikasi trip. Jari ini berhenti di satu destinasi yang sebenarnya nggak jauh dari Semarang: Karimun Jawa. Random banget. Kupikir, kenapa nggak? Akhirnya tiket open trip kucekout, padahal ini kali pertama aku ikut open trip sendirian. Biasanya aku minimal berdua. Kali ini benar-benar sendiri. Kepalaku masih riuh. Malam sebelum berangkat aku sama sekali nggak bisa tidur. Pikiran ke mana-mana: nanti kalau canggung gimana, kalau sendirian di kamar gimana, kalau sepi gimana. Tapi toh dini hari aku tetap meluncur ke Jepara naik travel, lalu menyeberang pakai kapal. Hari Pertama – Debur Ombak dan Pertemuan Tak Terduga Sampai di penginapan, aku baru tahu kalau aku nggak sendiri di kamar. Ada dua orang perempuan seusiaku, yang ternyata juga peserta open trip ini. Awalnya awkward, cuma senyum basa-basi. Tapi nggak butuh lama, obrolan kami ngalir—entah kenapa langsung nyambung. Seolah-olah semesta sengaja taruh kami di kamar yang sama....

ada hari yang patut disyukuri.

Aku tahu kalau namaku dijual agar dia tak berlama-lama dan tidak berakhir yang bukan-bukan disana. Tapi aku bersyukur, ternyata tanpa aku minta dan sadari, semua yang aku panjatkan dipenuhi dan ditambah oleh pencipta. Orang-orang sepeduli itu denganku. Masih ada namaku di hati mereka. Selama ini aku sadar diri kalau aku bukan siapa-siapa. Aku juga tahu kalau aku orang baru dan antah berantah yang datang di sepertiga akhir proyek. Aku minoritas dan aku tidak berekspektasi kalau mereka akan menerima aku sebegininya. Aku terlanjur membuat batas yang jauh. Aku sering menghilang dan bersikap bodo amat kepada mereka. Aku terlalu takut untuk dekat karena aku cukup tahu aku siapa.  Sampai aku perlu seseorang diantara mereka. Entah darimana keberanian itu timbul. Mulutku yang jarang memohon pertolongan, lancar saja meminta. Aku perlu kehadirannya agar aku merasa nyaman duduk di sana seharian. Entah dia hanya tidur atau bermain handphone karena aku hanya butuh keberadaannya. Lepas itu semua,...

bolehkah aku bercerita?

Aku tahu sedihku tak sesedih milikmu, keluargaku tak sesibuk keluargamu, kisah cintaku tak serumit dirimu, atau traumaku tak sedalam traumamu. Tapi apa kau pernah mendengarkan ceritaku? Lalu, darimana kamu menilainya? Bagaimana kamu membandingkannya?  I don't know what happen to me. But I feel this is the right time to explode. This is the time i must tell you my opinion. So please listen to me carefully because aku hanya akan mengatakannya sekali saja.  Kamu yang mengaku sangat tahu aku dan aku percaya itu. Sekian lama aku hanya diam dan mengikuti alur ceritamu, sekarang aku sudah merasa tak sejalan dan semoga semua akan tetap baik-baik saja setelah aku mengatakan apa yang ada di kepalaku. Aku tahu, kamu juga lelah. Kamu juga berat menjalani ini semua. Tapi yang harus kamu tahu, aku juga merasakannya. Bukan hanya kamu. Aku seperti kembali ke cerita yang lalu. Berada di pusaran badai yang sama. Keduanya saling diam dan aku yang di dalamnya dipaksa memilih untuk ikut yang mana....

read this when you sad.

Enjoy your feeling! Nikmati itu selagi kamu bisa bersedih. Menangislah selagi air matamu ada, kalau hal itu bisa melegakan hatimu. Apalagi beberapa hari lalu, sesak di dadamu sulit mereda karena kamu tak bisa menangis. Jadi nikmati dan syukuri apa yang kamu rasakan hari ini. Tapi yang perlu kamu ingat, masih banyak hal yang patut membuatmu bangga atas segala hal yang sudah kamu lalui. Masih banyak orang yang sayang dan peduli padamu walau cara mereka untuk mengungkapkannya berbeda-beda. Masih banyak tempat yang belum kamu kunjungi. Masih banyak barang yang pengen kamu beli. Sudahi sedihmu malam ini, ya. Ga usah kebanyakan mikir omongan orang lain, mereka kalau ngomong juga nggak pake mikir kok dan memang ga semua orang perlu kamu baikin. Kamu ga bisa bikin semua orang bahagia, kamu ga akan mampu.  Sudah, besok kamu harus kembali berperang. Kembali menjadi kamu yang bodo amat dan sok misterius. Jadi kamu yang mulai berani membenci orang dan gak peduli sama asumsi orang lain yang ngg...