tangis yang kusimpan sendiri.
Sampai sekarang aku masih belajar bagaimana cara meluapkan sedihku. Aku tak pernah menangis di depan seseorang. Aku tak tahu mengapa air mataku malu pada matahari sampai ia harus lelah menanti gulita. Aku tak mengerti mengapa ia begitu kuat tertahan padahal sesak di dada sudah tak sanggup di rasa. Hatiku koyak tercabik keadaan tapi mulutku selalu bilang tak apa. Entah mengapa sulit berkata yang sejujurnya tentang perasaan. Aku tak terbiasa bicara apa adanya tentang apa yang aku rasa. Suara berisik yang hanya ada di kepala tak bisa aku redam. Semua seakan berputar di situ saja. Siangku lelah dengan kesibukan tapi malamku diteror dengan rasa kesepian. Rutinitas, menu makanan, dan topik pembicaraan yang mulai membosankan menjadi bahan bakar overthinking ku. Sulit untuk melepas topengku satu-persatu. Ikatan mereka terlalu kuat di bibirku. Aku langsung merasa bersalah ketika lupa mengenakannya sebelum bangun dari tempat tidur. Aku tak berani melepaskannya barang sebentar sebelum semua orang...