Postingan

masih ada yang peduli aku?

Hari ini katanya kamu punya teman. Tapi kamu malah makan sendirian di tempat biasa kita membicarakan kehidupan. Kamu yang jarang meminta untuk ditemani makan, mengecek ombak untuk pertama kalinya. Kamu menahan napas, berharap jawaban sesuai yang ada di kepala. Ternyata masih ada yang menganggapmu sebagai teman. Label itu tidak bertepuk sebelah tangan. Kamu masih tenang sepanjang perjalanan pulang. Paling tidak nanti malam aku tidak merasa sendiri. Kamu yang sudah mengangkasa tidak ingin terjatuh. Kamu mengikat erat semua yang bisa kamu genggam. Namun semakin erat kamu menggenggamnya, semua berhamburan seperti pasir. Semua pergi satu-persatu.  Kamu tak tahu mengapa ketika aku yang punya suara semua senyap. Namun ketika kamu hanya menjadi pengikut, semua berjalan lancar begitu saja. Apa ini hanya perasaanmu saja. Kamu masuk ke dalam grup tetapi tidak satu circle. Duduk sendirian di tengah keramaian kedai kopi ini seperti mengingatkan kalau pada akhirnya, kamu akan sendirian. Tak pedu...

aku belum bisa membencimu.

Hal yang sedari dulu aku hindari malah terjadi dengan manusia yang tak pernah kuduga sepertimu. Iya, dulu aku paling benci dengan hal yang berbau cinta. Seolah semua yang bersinggungannya akan menghancurkanku perlahan suatu hari nanti. Tak ada yang kekal dengan cinta kecuali deritanya.  Banyak pertanyaan kupendam sendiri. Apa semua makhluk diciptakan berpasangan? Kalau benar mengapa rasio perbandingan lelaki dan perempuan tak seimbang? Mengapa manusia harus berpasangan bila bisa mendapatkan bahagianya sendiri? Itu yang terus aku patri dalam kepala sampai orang aneh sepertimu melepasnya paksa.  Lucu ya, aku luluh dengan orang sepertimu. Seseorang yang biasa saja namun pesona bagai pangeran yang memberiku harapan, buaian cinta, dan masa depan. Kamu terlalu mudah untuk dikagumi baik lewat tindakan sederhana yang selalu berhasil membuatku terheran, tutur katamu yang tajam namun selalu benar, atau wajahmu yang tak terlalu tampan tapi juga tak pernah membosankan. Semua yang ada dala...

semua harus usai malam ini.

Kecemasan beberapa bulan belakangan, harus usai malam ini. Semua yang berenang di kepala dan suara bising yang merambat lewat daun telinga harus mulai tahu tujuannya ketika hari ini selesai. Hal-hal yang menganggu tak boleh lagi ikut aku.  "Ini bukan kamu yang biasanya. Lagi kemana yang biasanya?" Lewat pertanyaan itu, aku mulai sadar. Iya, kemana aku yang biasanya. Aku perlahan meninggalkan tawaku dan sekarang aku benar-benar lupa bagaimana aku yang dulu. Usai peristiwa Jumat itu, jiwaku menjadi goyah. Telingaku yang sudah aku sumpal dengan earbuds masih kurang kuat hingga aku harus mendengar obrolan dia dengan teman kuliahnya yang juga temanku. Perang dingin masih berlangsung kala itu. Dia masih diam dan akupun melakukan hal yang sama. Suasana kantor sepi tapi ketenangan itu redam ketika Ia berteriak mengaku tak punya teman. Aku yang mendengarnya hanya terdiam dan langsung menaikan volume lagu yang kuputar. Segelintir orang langsung menatapku tajam. Aku berpura tak melihat ...

malam setelah secangkir kopi.

Malam ini aku sendirian di kamar, usai menghabiskan secangkir kopi dan bercengkerama dengan dua orang teman se-mess. Kepalaku terasa ringan karena sebelumnya aku hair spa dan karena kopi tentunya. Jariku ringan menari di atas keyboard. Namun kamarku masih berantakan karena aku belum beberes seminggu ini dan lemburan yang tak kunjung aku kerjakan. Aku sudah merasa sumpek usai solo open tripku ke Karimun minggu lalu. Gelapnya kulit juga belum hilang tapi rasa senangku sudah sirna begitu aku menginjakkan kaki di sini. Tempat yang pernah aku impikan namun sekarang sedikit menyesal. Hah. Kuhela napas panjang dulu sebelum kembali melanjutkan ceritaku. Aku spontan bertanya pada teman yang mengajakku untuk bekerja di sini, setahun lalu. Ya, tepat tahun lalu di tanggal ini. “Temen-temennya gimana? Toxic nggak?” tanyaku. Dia, yang waktu itu masih di sini hanya menyahut, “Kamu lihat aja deh nanti. Baik-baik semua kok. Paling nanti bosen kalau di mess terus.” Lalu aku masuk. Dan ternyata… ternyata...

perasaanku yang kacau dan bajingan yang baik hati.

Ya, ini masih merupakan tulisanku tentangnya. Teman lama yang sekarang entah apa. Degub jantungku tak bisa berbohong. Ia tak mau diam sepanjang perjalananku menuju Purwakarta. Entah darimana aku berasal, jantung ini tak bisa memelankan iramanya ketika mendekati kota ini. Perasaanku semakin kacau ketika melihat rumah bercat kuning tepat di ujung pertigaan jalan. Walau beberapa teman terus menghiburku, rasa takut ini terus menyelubungi. Mereka tetap mendengarkanku meski aku tak mau bercerita. Mereka tetap peduli meski aku tak meminta. Dan mereka tetap selalu ada meski aku selalu menghindar. Dari balik ketakutanku, aku menjadi tahu siapa yang benar-benar peduli dan tidak. Siapa saja yang mencari kebenaran bukan pembenaran. Dari diamku tersirat seribu bahasa. Ternyata beberapa orang memperhatikan dari jauh. Telinga mereka jauh lebih tajam. Setiap percik air yang menetes, mereka lebih peka. Semua yang tak aku sangka justru aku ketahui dari suara-suara tanpa tahu sumbernya. Mereka memang buk...

patah sebelum sempat tumbuh.

Ini menjadi kesalahanku yang kesekian kali dan aku yang bodoh tak punya niat untuk mengakhirnya segera. Berulang kali aku menolak rasa ini. Meneriakannya keras-keras kalau aku tidak sedang jatuh hati. Dia hanya seorang teman yang memang peduli dengan siapapun, bukan hanya aku. Kuulang terus kata “bukan hanya aku” ribuan kali di kepalaku. Dia memang orang yang ramah, mudah dekat dengan siapapun. Orang yang selalu ada bila ada yang kesusahan bahkan mau menjadi tameng bila diperlukan. Memang, kehidupan tak selamanya terang. Ada beberapa ritual yang tak seharusnya dia lakukan malah menjadi rutinitas dan yang seharusnya dia lakukan malah dia abaikan. Tapi, terlalu banyak tapi yang menganjal di hatiku. Dia orang yang selama ini aku cari. Pemikiran sederhananya dan setiap gerak-geriknya selalu menarikku untuk lebih bisa dekat dengannya. Seperti beberapa hari ini, suasana yang membuatku agak ngeri bisa dibuatnya lebih hangat hanya karena kehadirannya. Tak banyak bualan, ia lebih menunjukan sik...

aku meninggalkan perasaanku ketika berangkat ke kantor.

Tagihan menghajarku tak kenal ampun. Belum sempat aku menghindarinya, datang pekerjaan lain yang ikut menyiksaku. Hah . Semua itu belum cukup. Pundakku masih terasa ringan, hingga semesta menambahnya dengan nyanyian sumbang orang lapangan yang dipadukan apik dengan musik ala kadarnya dari vendor dan jangan lupa, semuanya dipimpin oleh pemimpin orkestra, bos divisi lain yang kerjaannya menganggu kehidupan orang.  Bagaimana aku pulang sudah aku pikirkan sejak keluar gerbang rumah. Sepanjang perjalanan ke kantor, kuputar ulang kumpulan perjalanan pulang yang setidaknya melegakan dada. Ketika aku membuka mata, bukan chat dari mas pacar yang kutemui melainkan mandor yang meminta hak mereka dipenuhi. Semuanya terus terulang tanpa tahu ujung ceritanya. Kujejalkan headset ke lubang telingaku untuk meredam gemuruh petir di kepala dan menangkal berisik dunia tipu-tipu. Namun paduan suara sumbang luput juga. Lidah beracun tetap melecut hati. Tembok memulai aksinya. Skenario yang awalnya enta...