Postingan

patah sebelum sempat tumbuh.

Ini menjadi kesalahanku yang kesekian kali dan aku yang bodoh tak punya niat untuk mengakhirnya segera. Berulang kali aku menolak rasa ini. Meneriakannya keras-keras kalau aku tidak sedang jatuh hati. Dia hanya seorang teman yang memang peduli dengan siapapun, bukan hanya aku. Kuulang terus kata “bukan hanya aku” ribuan kali di kepalaku. Dia memang orang yang ramah, mudah dekat dengan siapapun. Orang yang selalu ada bila ada yang kesusahan bahkan mau menjadi tameng bila diperlukan. Memang, kehidupan tak selamanya terang. Ada beberapa ritual yang tak seharusnya dia lakukan malah menjadi rutinitas dan yang seharusnya dia lakukan malah dia abaikan. Tapi, terlalu banyak tapi yang menganjal di hatiku. Dia orang yang selama ini aku cari. Pemikiran sederhananya dan setiap gerak-geriknya selalu menarikku untuk lebih bisa dekat dengannya. Seperti beberapa hari ini, suasana yang membuatku agak ngeri bisa dibuatnya lebih hangat hanya karena kehadirannya. Tak banyak bualan, ia lebih menunjukan sik...

aku meninggalkan perasaanku ketika berangkat ke kantor.

Tagihan menghajarku tak kenal ampun. Belum sempat aku menghindarinya, datang pekerjaan lain yang ikut menyiksaku. Hah . Semua itu belum cukup. Pundakku masih terasa ringan, hingga semesta menambahnya dengan nyanyian sumbang orang lapangan yang dipadukan apik dengan musik ala kadarnya dari vendor dan jangan lupa, semuanya dipimpin oleh pemimpin orkestra, bos divisi lain yang kerjaannya menganggu kehidupan orang.  Bagaimana aku pulang sudah aku pikirkan sejak keluar gerbang rumah. Sepanjang perjalanan ke kantor, kuputar ulang kumpulan perjalanan pulang yang setidaknya melegakan dada. Ketika aku membuka mata, bukan chat dari mas pacar yang kutemui melainkan mandor yang meminta hak mereka dipenuhi. Semuanya terus terulang tanpa tahu ujung ceritanya. Kujejalkan headset ke lubang telingaku untuk meredam gemuruh petir di kepala dan menangkal berisik dunia tipu-tipu. Namun paduan suara sumbang luput juga. Lidah beracun tetap melecut hati. Tembok memulai aksinya. Skenario yang awalnya enta...

hal sepele yang membuatku ingin bertemu esok.

Puji syukur kalau kamu masih bertemu aku hari ini. Aku sendiri tak tahu sampai seberapa jauh aku bisa bernapas. Belum tentu Tuhan yang akan mengambil nyawaku, bisa saja aku sendiri yang mencabut napasku sewaktu-waktu semisal aku lenggang namun kepalaku masih berisik atau orang asing di jalan yang iseng menancapkan pisau ke dadaku. Toh, ada tertulis kalau kematian adalah sebuah keuntungan. Lelap yang kukira ampuh untuk meredam semua teriakan ternyata hanya menyisakan lelah yang teramat. Dorongan secangkir kopi hitam tak membuat mata mau terbuka di teriknya matahari. Namun di gelapnya malam, dongeng dari tembok lembab kamar tak pernah berhasil membuaiku untuk tidur. Semalaman menelusuri kenangan masa lalu, mataku baru mau terpejam lewat sepertiga malam. Kadang rasa ingin tahu membawaku jauh menyelami pikiranku yang berliku. Hingga tak terasa aku sudah tenggelam di dalamnya. Sesaat kurasakan kelegaan usai air mata menenangkanku. Namun selesai badai itu reda, langkah yang berat membawaku k...

jangan berubah ketika kalian membaca ini!

Aku sulit menyusun kata dan menyampaikannya secara langsung. Aku merasa setiap bercerita, ceritaku tak kunjung mencapai klimaks. Lidahku pun mendadak kaku ketika ditodong pertanyaan, "kamu kenapa?" Padahal dalam hati aku senang, ketika ada orang yang ternyata menunggu kisahku. Walau aku juga tak tahu, bagaimana responmu setelah mendengar kisahku. Jujur aku ingin kalian tahu bagaimana aku dan perjalanan hidupku. Ketakutan terlanjur membalut lukaku. Aku yang sekarang, sulit terbuka dan menjadi misterius. Mungkin ini adalah kombinasi dari goresan yang selama ini aku kumpulkan. Mereka kini berubah menjadi benteng pertahanan yang kokoh. Aku tahu tak adil rasanya kalau aku menyimpan semua kisahmu tapi kamu tak punya kisah tentangku. Aku tahu kamu juga bertanya-tanya bagaimana ceritaku. Tapi, aku minta maaf karena aku tak bisa menceritakannya secara langsung. Bukannya aku tak mau tapi aku tak bisa. Aku paham kalau kalian tak bisa mengerti aku sepenuhnya kalau kalian sama sekali tak ...

semua lebih dari cukup.

Dulu aku sama seperti orang kebanyakan, menutupi semua luka dengan tawa, belum lagi berpura kuat agar semua tak melihat sisi lemahku. Aku rajin berganti topeng setiap saat, memolesnya sampai berkilau, dan menghiasnya dengan beragam pernak-pernik hingga aku tak tahu bagaimana wujud wajah asliku.  Menghapus dengan cleansing balm tak membantu semuanya hilang. Terlalu banyak aku mengenakan topeng kepalsuan ini. Terlalu tebal hingga sulit aku memudarkannya. Usahaku untuk melepaskannya sangat tak mudah. Aku harus melepaskan satu persatu, mengingat setiap detail wajah asliku, dan menerima mukaku yang sebenarnya.  Rekatan tiap topeng sangat erat, tiap aku mengelupasnya aku seperti membuka kisah lama yang ingin dilupakan. Tapi berkat topeng itu, aku bisa mengingat setiap luka yang pernah menyayat hatiku dan karenanya aku bisa sampai di pencapaian ini. Mau tak mau, aku harus mengikis topeng sampai aku bisa melihat aku yang sebenarnya. Supaya aku dapat menjadi aku.  Aku memang belum...

untuk kita yang tak tahu sedang menunggu apa.

Aku selalu menarik napas dalam ketika duduk bersama dengan kamu seperti saat ini. Dinginnya hujan di luar, tak membuat api dalam hati ini padam. Semua yang melayang di kepala, tetap seperti itu adanya. Kisah tak sengaja ini, pernah menjadi sesuatu yang aku impikan. Cerita ini sempat singgah di mimpiku beribu malam yang lalu. Sampai akhirnya, kisah ini benar terwujud dan kamu menjadi cerita yang esok akan kukenang walaupun pahit ketika diingat. Kita hanya duduk bersama sampai hari ini. Tak bercengkerama atau bercerita. Sehingga kita tak pernah saling dekat. Walau lama kita duduk bersama, aku tak tahu isi kepalamu, tak tahu maksudmu, dan tetap tak saling kenal. Tujuan kita saat ini sama namun kita tak seirama. Banyak cara untuk kita sampai namun kita memilih duduk dan diam menunggu. Konyol memang disaat yang lain bisa bergerak bersama, kita malah duduk saling menunggu tanpa tahu apa yang dinanti. “Bisakah kita memulainya sekarang?” Pertanyaan itu yang selalu muncul di kepala tapi aku sel...

sedikit keluh kesah malam ini.

Seharian moodku seperti wahana. Menjelang pagi aku sangat bersemangat menghadapi Senin di akhir bulan. Semua kalimat positif sudah aku ucapkan, semua doa sudah kurapal agar hari ini bisa kulewati tanpa drama. Kugosok gigiku sembari mengeset schedule dan menata apa saja yang harus aku lakukan dari pagi. Senin harus produktif. Sebentar, biar aku tarik napas panjang sambil mengingat hari yang tak terlalu baik ini. I.  Sampai di kantor, aku mendapat kabar dari teman semasa berseragam putih biru. Teman yang lebih dari lima belas tahun lalu aku kenal. Tanpa berbasa-basi, ia membagikan tautan. Aku sudah tahu sejak lama kalau dia menjalin cerita bersama seseorang. Tapi aku tak berpikiran kalau akan secepat ini. Benar, tautan tersebut adalah undangan pemberkatan pernikahan. Dari empat orang teman dekat sejak putih-biru hanya aku saja yang belum tahu arahnya bagaimana, yang paling muda sudah punya tiga putra, yang tertua menikah dan menetap di pulau yang paling cantik di timur pulau Jawa, s...