sedikit keluh kesah malam ini.

Seharian moodku seperti wahana. Menjelang pagi aku sangat bersemangat menghadapi Senin di akhir bulan. Semua kalimat positif sudah aku ucapkan, semua doa sudah kurapal agar hari ini bisa kulewati tanpa drama. Kugosok gigiku sembari mengeset schedule dan menata apa saja yang harus aku lakukan dari pagi.

Senin harus produktif.

Sebentar, biar aku tarik napas panjang sambil mengingat hari yang tak terlalu baik ini.

I. 
Sampai di kantor, aku mendapat kabar dari teman semasa berseragam putih biru. Teman yang lebih dari lima belas tahun lalu aku kenal. Tanpa berbasa-basi, ia membagikan tautan. Aku sudah tahu sejak lama kalau dia menjalin cerita bersama seseorang. Tapi aku tak berpikiran kalau akan secepat ini.

Benar, tautan tersebut adalah undangan pemberkatan pernikahan. Dari empat orang teman dekat sejak putih-biru hanya aku saja yang belum tahu arahnya bagaimana, yang paling muda sudah punya tiga putra, yang tertua menikah dan menetap di pulau yang paling cantik di timur pulau Jawa, sedangkan yang paling pandai, menikah dengan sahabatnya sejak putih abu-abu.

Jangan tanya bagaimana kabarku! Aku akan terlihat baik-baik saja, bertopeng senyum, dan melempar canda agar mereka tertawa membaca chat dariku. Namun mereka tak tahu bagaimana hariku karena kabar bahagia darinya.

Aku sudah terbiasa berpura biasa saja.

Aku merasa lukaku ini cukup aku saja yang tahu. Tak perlu mereka tahu. Dalam bayangku jika mereka tahu, mereka akan ikut menaburi garam di atas lukaku atau minimal turut bertepuk tangan menanti aku tenggelam.

Aku yang masih sendiri, turut senang dan bersedih. Senang karena mereka bisa memiliki seseorang yang akan menemani sampai tua, ikut bahagia karena akhirnya mereka dapat mewujudkan wedding dream yang selama ini di idam-idamkan.

Aku kehilangan mereka satu-persatu dan kembali meringkuk sendirian. Tanpa sahabat yang punya banyak waktu luang untuk sekedar basa-basi denganku. Waktu dan pikiran mereka tak akan lagi sama.

II. 
Belum selesai urusanku dengan undangan pernikahan yang tak pernah akur, setumpuk opname mandor tak mau berhenti menyerang.

Belum selesai yang satu, yang lainnya sudah berbaris menodongku. Baru selesai meeting dengan vendor satu, yang lainnya sudah menunggu di balik pintu. Aku semacam dokter dengan banyak pasien yang minta disembuhkan.

Semakin banyak orang bergerak, semakin tinggi tumpukan tagihanku. Belum lagi drama teman kerja yang dari minggu lalu memberiku silent treatment. Aku seakan cenayang yang mengerti semua isi kepalanya yang rumit. Jadi sebenarnya apa pekerjaanku? Dokter, dukun, kuli, atau budak korporat?

III. 
Sore tadi aku sejenak menghilang. Sedikit mundur dari hiruk-pikuk drama tanpa titik yang mulai membuatku sesak napas. Sebentar pergi ke minimarket di depan kantor dan menikmati sebotol kopi dingin sudah sedikit jiwaku yang kewalahan menerima kenyataan.

Angin sore membuyarkan lamunan. Pertanyaan dari dalam kepala mulai menyeruak membanjiri otak dan yang yang sulit dijawab adalah, "Sebenarnya, apa sih yang kamu cari?”

Aku terdiam cukup lama di sana. Deretan bangku yang biasanya ramai untuk santai merokok sore itu sepi. Hanya ada aku, sebotol kopi, dan sepoi angin. Sampai adzan ashar berkumandang dan satu-persatu orang keluar dari ruangan untuk menunaikan sholat.

Aku masih tak bisa menjawab pertanyaan itu sampai malam ini. Waktu yang seharusnya membuaiku untuk terbang ke alam lain. Malam yang seharusnya lelap.

Uang? Kalau ini jawabannya, aku tak akan resign dari kantor pertamaku yang berani membayarku sama dengan gajiku sekarang walau aku masih fresh graduate.

Relasi? Apa yang bisa didapat dari hubungan toxic yang penuh kepalsuan ini? Aku sudah bisa mencium maksud hati mereka walau masih berupa niat. Tak ada yang tulus dan murni mau berteman di lumbung saliva ini.

Apalagi? Validasi? Aku tetap bisa makan enak dan kenyang tanpa perlu pamer ke sosial media. Zakat dan perpuluhanku sampai ke orang yang benar di waktu yang tepat tanpa semua orang tahu.

Kepalaku sudah terlebih dahulu ramai sebelum sorai kalian datang.

Aku tak butuh pengakuan atau lampu sorot. Tepuk tangan kalian tak semeriah tulus kata. Semua hanya tipu-tipu di depan mata. Bualan kalian hanya omong kosong pujian yang tak sejalan dengan hati.

Tenang. Mungkin hanya ini yang aku minta setiap hari dari Tuhanku. Semua syukur yang dipanjatkan percuma kalau tak ada rasa tenang dari hati. Walau Ia telah menjauhkan daripada yang jahat, tidak berguna kalau tak ada ketenangan batin. Tenang sejenak untuk aku bisa mengistirahatkan jiwa dan raga yang lelah karena seharian berpura biasa saja.

Copyright © catatan sudarnowati. Designed by OddThemes