Postingan

jangan berubah ketika kalian membaca ini!

Aku sulit menyusun kata dan menyampaikannya secara langsung. Aku merasa setiap bercerita, ceritaku tak kunjung mencapai klimaks. Lidahku pun mendadak kaku ketika ditodong pertanyaan, "kamu kenapa?" Padahal dalam hati aku senang, ketika ada orang yang ternyata menunggu kisahku. Walau aku juga tak tahu, bagaimana responmu setelah mendengar kisahku. Jujur aku ingin kalian tahu bagaimana aku dan perjalanan hidupku. Ketakutan terlanjur membalut lukaku. Aku yang sekarang, sulit terbuka dan menjadi misterius. Mungkin ini adalah kombinasi dari goresan yang selama ini aku kumpulkan. Mereka kini berubah menjadi benteng pertahanan yang kokoh. Aku tahu tak adil rasanya kalau aku menyimpan semua kisahmu tapi kamu tak punya kisah tentangku. Aku tahu kamu juga bertanya-tanya bagaimana ceritaku. Tapi, aku minta maaf karena aku tak bisa menceritakannya secara langsung. Bukannya aku tak mau tapi aku tak bisa. Aku paham kalau kalian tak bisa mengerti aku sepenuhnya kalau kalian sama sekali tak ...

semua lebih dari cukup.

Dulu aku sama seperti orang kebanyakan, menutupi semua luka dengan tawa, belum lagi berpura kuat agar semua tak melihat sisi lemahku. Aku rajin berganti topeng setiap saat, memolesnya sampai berkilau, dan menghiasnya dengan beragam pernak-pernik hingga aku tak tahu bagaimana wujud wajah asliku.  Menghapus dengan cleansing balm tak membantu semuanya hilang. Terlalu banyak aku mengenakan topeng kepalsuan ini. Terlalu tebal hingga sulit aku memudarkannya. Usahaku untuk melepaskannya sangat tak mudah. Aku harus melepaskan satu persatu, mengingat setiap detail wajah asliku, dan menerima mukaku yang sebenarnya.  Rekatan tiap topeng sangat erat, tiap aku mengelupasnya aku seperti membuka kisah lama yang ingin dilupakan. Tapi berkat topeng itu, aku bisa mengingat setiap luka yang pernah menyayat hatiku dan karenanya aku bisa sampai di pencapaian ini. Mau tak mau, aku harus mengikis topeng sampai aku bisa melihat aku yang sebenarnya. Supaya aku dapat menjadi aku.  Aku memang belum...

untuk kita yang tak tahu sedang menunggu apa.

Aku selalu menarik napas dalam ketika duduk bersama dengan kamu seperti saat ini. Dinginnya hujan di luar, tak membuat api dalam hati ini padam. Semua yang melayang di kepala, tetap seperti itu adanya. Kisah tak sengaja ini, pernah menjadi sesuatu yang aku impikan. Cerita ini sempat singgah di mimpiku beribu malam yang lalu. Sampai akhirnya, kisah ini benar terwujud dan kamu menjadi cerita yang esok akan kukenang walaupun pahit ketika diingat. Kita hanya duduk bersama sampai hari ini. Tak bercengkerama atau bercerita. Sehingga kita tak pernah saling dekat. Walau lama kita duduk bersama, aku tak tahu isi kepalamu, tak tahu maksudmu, dan tetap tak saling kenal. Tujuan kita saat ini sama namun kita tak seirama. Banyak cara untuk kita sampai namun kita memilih duduk dan diam menunggu. Konyol memang disaat yang lain bisa bergerak bersama, kita malah duduk saling menunggu tanpa tahu apa yang dinanti. “Bisakah kita memulainya sekarang?” Pertanyaan itu yang selalu muncul di kepala tapi aku sel...

sedikit keluh kesah malam ini.

Seharian moodku seperti wahana. Menjelang pagi aku sangat bersemangat menghadapi Senin di akhir bulan. Semua kalimat positif sudah aku ucapkan, semua doa sudah kurapal agar hari ini bisa kulewati tanpa drama. Kugosok gigiku sembari mengeset schedule dan menata apa saja yang harus aku lakukan dari pagi. Senin harus produktif. Sebentar, biar aku tarik napas panjang sambil mengingat hari yang tak terlalu baik ini. I.  Sampai di kantor, aku mendapat kabar dari teman semasa berseragam putih biru. Teman yang lebih dari lima belas tahun lalu aku kenal. Tanpa berbasa-basi, ia membagikan tautan. Aku sudah tahu sejak lama kalau dia menjalin cerita bersama seseorang. Tapi aku tak berpikiran kalau akan secepat ini. Benar, tautan tersebut adalah undangan pemberkatan pernikahan. Dari empat orang teman dekat sejak putih-biru hanya aku saja yang belum tahu arahnya bagaimana, yang paling muda sudah punya tiga putra, yang tertua menikah dan menetap di pulau yang paling cantik di timur pulau Jawa, s...

sudah jujur saja salah apalagi bohong.

Hari ini gajian kedua setelah kembali ke proyek. Setelah memaksa diri untuk keluar, ternyata Tuhan masih pakai diri ini di proyek. Mau sejauh apa aku menghilang, tarikan ini lebih kuat dari dayaku. Lucu memang kalau ingat bagaimana aku bisa kembali. Lewat sebuah panggilan yang awalnya kukira telepon biasa. Pertanyaan yang umum untuk basa-basi hingga ajakan untuk bergabung kesini. Tanpa pikir panjang, aku mengiyakan. Lalu, aku sampai di kota ini.  Aku merasa ini semua memang sudah jalan hidupku. Aku tak ingin ada penolakan lagi sehingga aku tak bisa fokus dengan tujuan utamaku. Apalagi kalau bukan gaji bulanan yang semoga bisa menggemukan rekeningku. Tapi rintangan sebenarnya bukan karena kembalinya aku. Melainkan tawaran lain yang seharusnya bisa ikut menyumbang lemak-lemak dalam rekeningku. Mereka dengan mudah menawarkannya kepadaku bahkan kali ini tanpa ada tedeng aling-aling. Sebulan disini, aku sudah ditawari tiga kali. Dua kali lewat udara dan yang terakhir baru pagi tadi. Seh...

belum tahu dan belum pernah tahu.

Hari ini hidupku terasa penuh. Banyak hal baik yang ternyata datang kepadaku tanpa disadari. Hal yang tadinya kukira kutukan ternyata dirasakan juga oleh beberapa kawan. Hal yang kusangka keberuntungan ternyata lebih dari itu. Hal yang kupikir karma buruk ternyata lebih baik dari semua yang pernah kuterima. Sampai aku merasa logikaku tak cukup untuk mencerna semuanya. Hari ini aku tertawa karena bisa membelikan makanan kesukaan bapak. Aku juga bisa mengirim sejumlah uang untuk ibuk karena tak pernah ada yang ia mi ta kepadaku dan aku berharap dengan sedikit uang itu ia bisa membeli sendiri beberapa barang atau makanan yang ia sukai. Meski malam harinya aku menangis karena mengingat obrolan mendalamku dengan kawan lama yang kembali bersama setelah hampir tujuh tahun berpisah. Kami banyak bercerita tentang keluarga kami yang ternyata punya banyak kemiripan. Dua keluarga yang punya empat anak, sepasang bapak yang memiliki kesibukan di kota lain, dan sepasang ibuk yang selalu ada untuk ana...

bermimpilah ketika sudah tertidur.

Beberapa hal tentang bodohnya diri ini baru aku sadari. Semua terpancing keluar dari sumur luka yang ternyata aku gali sendiri. Pelan namun aku konsisten melakukannya sehingga sekarang alat ukur yang aku punya sudah tak sanggup untuk memeriksanya. Sekian lama aku menekuninya sehingga kini aku semakin mahir untuk membuat luka di hatiku sendiri. Hal itu juga membuktikan kalau tangga yang aku bangun ternyata tak membawaku keatas melainkan semakin menenggelamkanku ke angan yang abu-abu dan dipenuhi kabut. Selama ini aku terlalu sibuk menyuapi egoku, menyalurkan hobiku untuk menyangkal segala realita yang ada di depan mata, serta terlalu sering memupuk harapan palsu orang-orang sok tahu di sekitarku. Semua yang dulu aku lakukan tak berbuah apapun dan sekarang tersisa sesak dan sesal. Langkah kaki yang terlanjur jauh terasa sia-sia ketika dipaksa kembali ke titik awal. Keringat kering ini belum menerima upahnya. Semua yang dikorbankan telah selesai perjuangannya. Aku lupa seharusnya mataku t...