Hari ini gajian kedua setelah kembali ke proyek. Setelah memaksa diri untuk keluar, ternyata Tuhan masih pakai diri ini di proyek. Mau sejauh apa aku menghilang, tarikan ini lebih kuat dari dayaku.
Lucu memang kalau ingat bagaimana aku bisa kembali. Lewat sebuah panggilan yang awalnya kukira telepon biasa. Pertanyaan yang umum untuk basa-basi hingga ajakan untuk bergabung kesini. Tanpa pikir panjang, aku mengiyakan. Lalu, aku sampai di kota ini.
Aku merasa ini semua memang sudah jalan hidupku. Aku tak ingin ada penolakan lagi sehingga aku tak bisa fokus dengan tujuan utamaku. Apalagi kalau bukan gaji bulanan yang semoga bisa menggemukan rekeningku.
Tapi rintangan sebenarnya bukan karena kembalinya aku. Melainkan tawaran lain yang seharusnya bisa ikut menyumbang lemak-lemak dalam rekeningku. Mereka dengan mudah menawarkannya kepadaku bahkan kali ini tanpa ada tedeng aling-aling.
Sebulan disini, aku sudah ditawari tiga kali. Dua kali lewat udara dan yang terakhir baru pagi tadi. Seharusnya aku tak kaget tapi yang membuat mencengangkan kenapa tak ada basa-basi yang mungkin bisa membuatku sedikit terbuai lalu goyah. Toh hanya mereka yang menandatangani pernyataan anti penyuapan. Aku? Pekerja harian yang sewaktu-waktu bisa berlalu begitu saja.
Seperti pada umumnya lemak yang mudah hancur, seperti itulah mereka. Aku merasa mereka hanya akan sekejap di rekening. Kalau mereka menguap tak mengajak daging-dagingku tak mengapa. Kalau mereka mengajak semuanya, aku punya apa?
Dari awal aku sudah memasang acuh kepada semua orang. Aku tak ingin banyak omong agar aku tak mendapat informasi yang tak ingin kudengar. Kembali heran, aku malah mendapat apa yang tak ingin kudengar. Sampai sekarang, aku berhasil menelan semuanya. Semoga aku mampu tanpa memuntahkannya sedikitpun. Tapi aku tak yakin, kali ini apa aku sanggup sampai akhir?
Pindah ke tempat yang lebih gelap dengan mulut-mulut yang lebih kejam sedikit banyak membuatku semakin ingin jadi tuli saja. Kerasnya lagu .feast bervolume maksimal headsetku tak membuatku tak mendengar suara-suara jahat. Telingaku masih terlalu peka mendengarkan mereka. Bahkan sekarang aku mulai bisa mendengar bisikan halus dari decit kursi yang menghantarkan informasi busuk.
Jujur aku salah apalagi berbohong. Dalam kotak ini aku tak melihat warna hitam atau putih. Semua sama, abu-abu. Tak ada yang bisa dibenarkan dan dipersalahkan. Sama seperti yang pernah aku bilang, semua orang benar menurut sudut pandang mereka masing-masing. Tapi apa tingkah laku mereka dibenarkan oleh penguasa semesta?

