Hari ini hidupku terasa penuh. Banyak hal baik yang ternyata datang kepadaku tanpa disadari. Hal yang tadinya kukira kutukan ternyata dirasakan juga oleh beberapa kawan. Hal yang kusangka keberuntungan ternyata lebih dari itu. Hal yang kupikir karma buruk ternyata lebih baik dari semua yang pernah kuterima. Sampai aku merasa logikaku tak cukup untuk mencerna semuanya.
Hari ini aku tertawa karena bisa membelikan makanan kesukaan bapak. Aku juga bisa mengirim sejumlah uang untuk ibuk karena tak pernah ada yang ia mi ta kepadaku dan aku berharap dengan sedikit uang itu ia bisa membeli sendiri beberapa barang atau makanan yang ia sukai. Meski malam harinya aku menangis karena mengingat obrolan mendalamku dengan kawan lama yang kembali bersama setelah hampir tujuh tahun berpisah.
Kami banyak bercerita tentang keluarga kami yang ternyata punya banyak kemiripan. Dua keluarga yang punya empat anak, sepasang bapak yang memiliki kesibukan di kota lain, dan sepasang ibuk yang selalu ada untuk anak-anaknya. Awalnya, kami banyak menertawakan kutukan yang kami kira spesial untuk kita sendiri saja. Nyatanya, haltersebut juga tak asing untuk banyak orang.
Katanya, jam enam sore punya kekuatan untuk membuat orang bersedih. Karena dulu ketika masih kecil, jam enam sore, kebanyakan semua orang sudah berkumpul bersama keluarganya masing-masing. Entah baru pulang kerja, mengerjakan pekerjaan rumah bersama, makan malam bersama, atau sholat berjamaah. Lalu ketika semua anak sudah tumbuh dewasa yang tersisa hanyalah ingatan. Kursi yang melingkari meja makan kosong, deretan buku usang yang tak pernah dijamah, atau tak ada saf di belakang imam menjadi pemandangan lumrah.
Aku langsung paham apa maksud kawanku itu. Takhanya rumahnya yang penuh kenangan, rumahku juga dan sekarang banyak sudut rumah yang sepi. Rumahtak seperti dulu yang selalu ramai, penuh dengan keempat anak yang selalu rebutan remote tv.
Lalu kawanku bertanya, pertanyaan yang sering terlintas di kepalaku sendiri namun dengan sekuat tenaga dan jiwa selalu aku hindari.
"Pernah membayangkan gimana kamu kalau kehilangan salah satu dari mereka?"
Aku menghela napas panjang, pikiranku mengambang.
"Aku egois. Aku sering berdoa kepada Tuhan, biar aku yang pergi duluan. Aku nggak mau kehilangan."
"Kamu nggak punya empati. Kamu nggak mikirin perasaan mereka?"
"Aku tahu. Mereka pasti sedih, berpikiran kenapa nggak mereka duluan karena mereka yang lebih tua. Tapi aku juga punya alasan."
"Apa? Alasan apa yang bisa membuat orang tua rela melepas anaknya?"
"Karena aku belum tahu dan belum pernah tahu rasanya hidup tanpa mereka."
Kami berdua terdiam, sampai tanpa kami sadari air mata meleleh. Tak ada lagi kata yang bisa kami ucapkan. Diskusi yang dibuka dengan tawa malah diakhiri dengan tangis karena bayangan ketakutan yang entah kapan akan terjadi.

