Postingan

pada akhirnya semua akan berakhir.

Entah kenapa tiba-tiba aku ingin menceritakan hal ini yang seharusnya membuka laptop untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum juga selesai, aku malah ingin segera memulai meluapkan ini semua. Cerita tentang aku yang mulai muak dengan banyak perubahan besar akibat pandemi ini. Bagaimana tidak, dua tahun ini mobilitas banyak dibatasi, semua terasa sulit. Semua berawal dari bulan Maret 2020 lalu. Ketika virus ini masuk ke Indonesia, aku masih bekerja sebagai karyawan swasta di salah satu kontraktor swasta. Kala itu aku ditempatkan di proyek pusat pembelanjaan yang aku yakin di tahun mendatang akan terkenal di Bintaro (kawasan yang lumayan keren buatku anak kampung).  Akhir bulan Maret 2020, salah satu staff mendadak divonis Covid-19. Beliau tinggal di Depok, bolak-balik Bintaro setiap hari terlebih sebagai staff lapangan beliau sering lembur untuk storing . Kami masih positif thinking . Apalagi kasus di Indonesia masih belum mencapai angka ribuan.  Kebetulan beliau memiliki kaka...

rumput tetangga selalu lebih menggoda.

Pikiran kosong, buka sosmed. Pikiran buntu, buka sosmed. Pikiran kacau, buka sosmed. Pikiran galau, buka sosmed. Apapun yang terjadi minimal sekali sehari ada peraturan yang nggak tertulis buat buka sosmed. Minimal kasih kabar ke orang kalau kita masih bernyawa. Tapi, efeknya luar biasa. Bukan bikin terhibur malah bikin insecure. Gila, si A udah bisa beli mobil baru tahun ini. Padahal sering update  beli tas baru merek artis. Belum lagi cicilan apartment juga belum lunas. Sarapan, makan siang, makan malam Go-food mulu. Duitnya ngegunting sendiri kali, ya? Padahal tau sendiri, gaji rate -nya segitu aja. Jadi simpenan om-om kali ya. Si B kerjaannya staycation mulu. Rumah sama hotel juga tinggal ngesot sampe. Kantor lama adem ayem ya udah aku tinggal. Apa setannya aku kali ya? Story si C keliatan bahagia banget sekarang. Giliran ditinggal aja begitu. Dulu, lupa namanya libur, sambat sana-sini soal workload. Apa jangan-jangan buat sabotase biar aku cabut, ya? Niat awal buka sosmed b...

kembali kalah (lagi)

Mimpi lama yang telah terkubur, kembali bangkit seperti  zombie . Dari balik bayangan kekalutan, ia mengendap-endap muncul. Dari bayang-bayang ketakutan, ia mengkagetkanku. "Lalu bagaimana?" Tanyanya. Semalam angin berbisik padaku, "Percuma untuk mengejarnya kembali, nyalimu tak ada. Apa kamu mau kembali kalah? Apa kamu berani mempertaruhkan semuanya?" Aku terdiam, tak ada jawab. Bayangkan kalau aku dulu mampu. Gemuruh tepuk tangan sudah ku tuai. Sanjung dan puji memenuhi lumbung. Namun nyatanya? Aku jatuh. Terkapar, sendirian dan tak berdaya. Mereka bilang aku belum beruntung. Mereka bilang aku terlalu muluk-muluk. Mereka bilang aku. Aku semakin jauh. Semakin ditenggok ke belakang, semakin dekat jaraknya. Mereka mampu mengejar. Fokus ke depan, musuh sudah tak terlihat. Beristirahat sebentar, makin tertinggal. Terus berlari, napas sudah senin-kamis. Pengin berjalan, terkejar yang lain. Semoga kita tak kehabisan semoga. Apalagi yang bisa aku harap. Pantas saja tidak....

hujan di siang hari.

Segumpal rindu untuk dia yang tak bisa aku miliki yang aku luapkan menjadi rangkaian kata di siang hari dan dihiasi dengan rintik hujan nan sendu namun romantis.  Semoga dirimu diberi secercah kepekaan untuk mengetahui rinduku ini. Hujan di siang hari mengantarkanku pada kenangan kita. Bukan kenangan indah yang pernah aku lewati bersamamu namun kenangan kuat yang dapat membuat aku bahagia mengenangmu. Mustahil kau mengerti tentang kenangan ini. Ku pikir hanya aku seorang yang memilikinya. Inilah yang menjadi sebab aku tak terlalu suka hujan di siang hari. Ini sama dengan bom waktu bagiku. Seolah menghitung mundur kematianku. Aku akan segera meledak. Hancur menjadi serpihan karena tak mampu menahan rinduku padamu. Hujan di siang hari seolah memaksaku mengingat kenangan yang ingin kulupakan. Kenangan yang sebenarnya ingin ku kubur ke dalam benakku. Kenangan tentang cinta yang tak pernah terucap. Tentang cinta yang tak boleh diungkapkan. Siapalah aku ini. Aku hanyalah wanita biasa....

untuk pahlawan yang namanya tersemat di ujung namaku.

Gambar
Bapak, Jarak menjadi musuh kita sedari dulu. Masa sekolah dasarku sempat menjadi tak berwarna karena ketidakhadiranmu. Tak ada foto bersamamu seusai aku pentas menari. Tak ada riuh tepuk tanganmu selepas aku beratraksi. Tak ada gemuruh tawamu menonton aku berlomba baca puisi. Tak ada pelukmu usai aku bersedih kalah lomba menulis. Bahkan tak ada tanda tanganmu di buku raporku. Hadirmu hanya kudapat melalui secarik surat yang rutin yang kau kirim di akhir bulan. Lewat secarik surat, kita mengenal dan memahami perasaan. Lewat tulisan, kau menyampaikan kasih yang ingin kau curahkan. Bukan hanya petuah yang menggurui tetapi juga obrolan yang menghangatkan. Lewat sana pula aku merasakan kasihmu yang nyata. Bapak, Aku tahu jarak menghalangi pelukmu untukku. Namun jarak tak cukup kuat untuk menghalangimu menjadi pahlawanku. Bapak tetap jadi lelaki pertama di dunia yang mencintaiku. Hingga menjadi yang utama dalam doaku. Puluhan surat yang aku kumpulkan kemarin telah menggunung. Sama tingginya ...

tenggelam dalam kubangan saliva.

Lagi. Aku yang tak bisa berenang memberanikan diri untuk menyebrangi kubangan. Bodoh? Tidak, aku menyiapkan segalanya diam – diam selama ini. Langkah ini harus aku ambil, karena ini satu – satunya jalur evakuasiku. Bahtera telah ku bangun. Jalur pelayaran telah ku pelajari, ilmu navigasi ku kuasai, astronomi ku gali, meteorologi ku lalap habis. Bahan bakarku penuh, mampu mengelilingi Bumi tiga kali. Badanku sudah mandi dan wangi. Siap berangkat esok dini hari. Entah badai atau ombak yang meluluh – lantahkan bahteraku. Tiang – tiang layar roboh, lambungnya berlubang, dan kemudinya menghilang. Aku pun heran melihatnya. Padahal ombak tak sedang gaduh juga langit tak sedang berduka. Kukira persiapanku ini sudah seribu persen, benar – benar siap dan aku pasti bisa melalui hari yang kunanti dengan bahagia. Para pesaing telah pergi mengarungi kubangan. Perahu penuh warna, topeng, kostum, dan ambisi jadi andalan. Sepoi angin membantu laju kapal serta riak ombak riuh menyambut kepergian m...

Latar Belakang Masalah

Perjalanan panjang tanpa tujuan ini akan mulai aku tulis satu-persatu agar kelak ketika kakiku tak bisa melangkah lagi, aku tidak akan mengumpat pada semesta dan pencipta, agar aku bersyukur kalau kakiku ini sudah pernah melangkah sejauh itu. Aku akan coba mengingat, kemana saja kakiku pernah berjalan. Sambil diiringi Lagu Pejalan dari Sisir Tanah, salah satu lagu yang mendorong aku untuk sesegera mungkin keluar dari zona yang aku "anggap" nyaman kala itu. Mari bersamaku menjejaki semesta yang terlalu indah ini. Sudah lama kaki ini tak merasakan riak-riak ombak dan desiran pasir. Perjalanan selama tiga puluh menit menemukan akhir yang bahagia. Berangkat pukul setengah enam pagi dari penginapan di daerah UPN, pukul tujuh lebih sepuluh menit kami tiba di pantai  Meski sebentar, paling tidak rindu yang menggebu sudah terbayar tuntas.