Lagi. Aku yang tak bisa berenang memberanikan diri untuk menyebrangi kubangan. Bodoh? Tidak, aku menyiapkan segalanya diam – diam selama ini. Langkah ini harus aku ambil, karena ini satu – satunya jalur evakuasiku.
Bahtera telah ku bangun. Jalur pelayaran telah ku pelajari, ilmu navigasi ku kuasai, astronomi ku gali, meteorologi ku lalap habis. Bahan bakarku penuh, mampu mengelilingi Bumi tiga kali. Badanku sudah mandi dan wangi. Siap berangkat esok dini hari.
Entah badai atau ombak yang meluluh – lantahkan bahteraku. Tiang – tiang layar roboh, lambungnya berlubang, dan kemudinya menghilang. Aku pun heran melihatnya. Padahal ombak tak sedang gaduh juga langit tak sedang berduka. Kukira persiapanku ini sudah seribu persen, benar – benar siap dan aku pasti bisa melalui hari yang kunanti dengan bahagia.
Para pesaing telah pergi mengarungi kubangan. Perahu penuh warna, topeng, kostum, dan ambisi jadi andalan. Sepoi angin membantu laju kapal serta riak ombak riuh menyambut kepergian mereka. Tinggal samar buritan yang terlihat dari tepi pantai.
Aku?
Aku duduk menepi di bawah pohon kepala, menggali pasir tak seberapa dalam untuk mengubur asaku yang memang sudah menipis. Tak ada air mata, tak ada tangis ataupun kecewa, yang tersisa hanya tanya.
Apa semua yang sudah aku korbankan percuma? Apa perjuanganku masih kurang? Apa aku memang tak pantas untuk bersaing dengan mereka? Dan apa – apa yang lain mulai tumbuh di kepala.
Sayangnya aku tak punya banyak waktu untuk menjawab itu semua. Aku malah akan menyesal kalau sama sekali tak kembali mencoba. Aku akan semakin terpuruk bila sama sekali tak berusaha hari ini.
Aku sadar aku tak mungkin berenang, membuat kembali bahtera akan makan waktu, aku tak bisa menyamai langkah mereka. Aku kalah.
Sepoi angin mengeringkan air mata. Aku sadar, aku belum sepenuhnya kalah. Aku tak ingin esok hariku terjerat sesal. Kepalaku masih kosong tak tahu mau apa. Teori yang kupelajari entah hilang kemana.
Aku mulai berjalan mengejar kapal. Ya, aku berjalan. Langkah demi langkah aku lalui. Sesekali tanganku mengenangkan pelukan ke pelampung yang kupeluk. Namun, tiba-tiba aku tersadar.
Aku tak ingin esok hariku terjerat sesal.
Aku yang bodoh baru tersadar kalau aku hanya melalui kubangan yang tak seberapa dalam. Cekungan yang berisi penuh saliva. Overthinkingku selama ini percuma. Tanya perlahan terhapus berganti tawa. Bodoh, mana mungkin aku tenggelam dalam kubangan saliva.

