Postingan

yuk, bisa yuk!

Lets start our new journey. Kita restart dari awal. Nggak ada kata terlambat kok. Justru harusnya malu kalo kita nggak mulai lagi. Malu kalau sudah umur segini nggak mau belajar. Dunia bodo amat sama perasaan kamu. Dunia nggak peduli kamu lagi sedih, seneng, rapuh, atau cemas. Mereka nggak mau tahu dan mereka nggak perlu tahu. Cukup simpan rapat, istirahat, dan besok belajar lebih kuat lagi. Jangan ulang kesalahan yang sama. Stop menggantungkan kebahagiaan kamu ke orang lain. Toh, nantinya kamu bakal kehilangan lagi. Entah besok, lusa, atau nggak tahu kapan. Tinggal tunggu waktunya aja. Kita berjuang dari awal lagi ya. Kalo di dunia ini nggak ada yang bisa ngertiin kamu, kamu masih punya kamu sendiri. Hibur diri kamu. Semangatin lagi. Kita jalan lagi. Kita ulang lagi pokoknya. Kamu itu nggak sampai disini aja kapasitasnya. Buktiin ke diri kamu kalau kamu bisa. Nggak usah dengerin orang lain. Kamu nggak perlu validasi mereka. Ayok, kamu bisa. Rehat sebentar lagi aja ya. Habis itu kita ...

lihat saja nanti.

Gambar
Lihat saja nanti, kalimat yang sampai detik ini masih terngiang baik intonasi maupun ekspresi dari seseorang yang melontarkannya kepadaku secara langsung seperti baru terjadi kemarin. Itu juga yang melecut semangatku untuk terus menjadi yang lebih baik sampai hari ini seolah hidup hanya untuk pembuktian. Sampai dititik dimana aku merasa belum bisa memenuhi itu semua, aku baru tahu kalau semua harus dikolaborasikan kebahagiaan yang kita inginkan versi kita sendiri. bagian 1. aku, si-biasa saja. Aku kembali dikepung tembok cemas malam ini. Entah sudah berapa ratus domba yang melompat tapi kepala masih enggan diajak rehat. Padahal besok schedule padat yang pasti akan membuat mulut mengumpat. "Lihat saja nanti!" kalimat yang seolah baru saja terjadi hingga ekspresi dan intonasi orang tersebut masih membekas. Dia memang bukan siapa-siapa buatku, tak ada kontribusi dalam proses dewasaku yang ternyata melelahkan ini tapi lewat ucapannya hari itu, sedikit banyak memberi motivasi unt...

sebuah pengingat kalau semisal besok aku lupa.

Kembali aku menuliskan catatan. Bukan untuk orang lain, melainkan untuk pengingatku sendiri agar nanti ketika aku menjadi besar dan lupa cara menjadi manusia, aku tak memerlukan orang lain untuk menampar pipi-ku. Melainkan aku sendiri dengan catatan ini. sehebat-hebatnya manusia, besok hanya jadi cerita. Munafik, kalau seorang manusia biasa mengatakan kalau ia tak ingin menjadi besar. Entah seberapa ukuran 'besar' yang ia harap tapi di dalam hati kecilnya pasti pernah ada keinginan itu. Tak ada standar untuk 'besar' yang diinginkan manusia. Bisa saja 'besar' yang telah aku raih nanti, bukan menjadi ukuran 'besar' yang kamu ingin. Beberapa minggu ini, aku masih ter-heran dengan sikap dan karakter manusia yang ada disekitar ku. Tak tahu apa aku yang terlalu sensitif dan ba-per, tapi rasanya semakin kesini, semakin unik karakter manusia yang aku jumpai. Aku akui kalau mereka hebat. Mereka manusia yang bisa membuat orang luar ter-heran. Tapi, sehebat-hebatny...

Peron Dua, Stasiun Tanah Abang

Halo kamu, apa kabar? Tiba - tiba pagi ini, aku rindu Jakarta . Semua rutinitas yang dulu membuatku jenuh. Bangun pagi, berdesakan di kereta, bekerja, berdesakan lagi, tidur beberapa jam, kemudian mengulang kegiatan itu (lagi). Begitu terus selama tujuh hari dalam seminggu sampai akhirnya aku tak sengaja bertemu kamu. Sore itu aku terburu-buru menaiki kereta terakhir dari Stasiun Jurang Mangu . Awal pandemi , jadwal kereta ikut kacau. Kereta terakhir yang biasanya tiba jam 23.45 wib berubah menjadi 16.45 wib. Padahal jam kerjaku masih sama saja. Aku berdiri memandang keluar jendela berusaha tetap waras di tengah semua angan - angan yang sampai saat itu belum tercapai. Ralat, hingga saat ini mungkin. Berbagai pertanyaan muncul begitu saja di kepala. Apa mereka tidak bosan dengan rutinitas yang mereka jalani? Beberapa wajah mereka sudah tak asing buatku. Bisa dibilang aku bertemu mereka setiap pagi dan kalau aku tak lembur, aku juga bisa pulang bersama mereka. Ekspresi mereka tertutup o...

mengalah bukan berarti kalah.

Masih awal tahun tapi udah overthinking sama semua masalah yang menimpa. Suara-suara bising sudah terdengar. Bisikan sudah menjelma menjadi teriakan. Sering terlintas untuk mati saja. Toh, ada tertulis kalau mati di usia muda itu keuntungan buat kita. Iyalah, nggak perlu capek cari jawaban dari pertanyaan klise yang nggak ada ujungnya. Kapan nikah? Udah punya apa aja? Kok kerja swasta? Kok nggak kayak kakaknya? Kok ini? Kok anu? Kok itu? Kepala jadi sesak dengan keinginan orang lain. Padahal dalam benak sudah banyak planning . Kadang bingung mesthi ikut yang mana. Takut ambil keputusan, takut sama pendapat orang nantinya. Mentari menyingsing, bukan semangat yang menyongsong. Tapi malah insecure yang menyambut. Iya, semakin sering buka sosial media semakin ciut nyali untuk mengambil langkah. Kebahagiaan sobat online justru membuat hambatan yang cuma kita sendiri yang bisa hancurkan. Rasa iri menggerus keinginan untuk maju kalau mental kita sudah lelah. Jarak antara mimpi dan kenyataan...

aku, kau, dan laut

Gambar
Laut kembali gaduh. Riak-riak ombak menari abstrak menerjang karang. Ia memporak-porandakan perkampungan yang tak jauh darinya. Hatinya panas melihat Angkasa. Ia sedang cemburu kepada Angkasa karena ia selalu diramaikan oleh Bintang. "Kenapa lagi? Kamu masih marah padaku?" tanya Angkasa. Laut hanya diam. Buih-buih putih membuncah. Ia menarik air ke tengah dan menyemburkannya kembali ke daratan dengan cepat. Ia tak memberi ampun. Bintang yang mengetahui kemarahan Laut hanya mengedip kepada kedua kawannya, Bulan dan Matahari. "Laut," panggil Bintang pelan. Laut tak menggubris. Ia masih dipenuhi emosi. Ia kembali mengirim air ke daratan, kali ini dengan kuantitas yang lebih besar dan dengan ombak setinggi lebih dari pohon kelapa. Ia marah, semarah-marahnya. Ia melampiaskan segala emosinya. Awan yang melihat, menangis. Matahari meredupkan cahayanya. Bulan bersembunyi di balik kelam. Laut merasa sendirian. Ia pikir semua lebih memilih Angkasa—Bintang yang setia men...

kepada sesuatu yang sedang bergibah di kepala.

Kepada sesuatu yang sedang bergibah di kepala, dihimbau untuk segera keluar dikarenakan aku ingin tidur. Terima kasih. Aku hanya bisa menghela napas panjang tiap kali mereka datang. Biasanya di malam hari, tapi entah akhir-akhir ini mereka sering mencuri-curi waktu untuk bertemu denganku. Kangen katanya. Seberapa kuat aku untuk menolaknya masuk, mereka tetap merangsek ke dalam. Mungkin pagar rumahku yang tak terlalu kokoh untuk menghalaunya. Atau akunya saja yang tak bisa bernegosiasi dengan mereka. Pagi kemarin mereka datang. Mereka bahkan menemaniku sampai ke kantor. Saat aku bekerja, aku sedikit mendiamkan mereka. Aku suguhi mereka dengan sedikit air dan cemilan habisnya aku tak ada daya untuk menyuruh mereka pulang. Lepas dari kantor, mereka bertamu kembali dan baru dini hari tadi mereka pulang. Itupun karena aku tertidur mendengar bualan mereka. Mereka selalu bilang kalau aku tak ada apa-apanya dibanding yang lain. Tak ada pencapaian yang bisa dibanggakan. Semua yang sudah aku lak...