Postingan

Dear Tante Lina: Panggil Aku, Please!

Badanku terbujur kaku jiwaku melayang-layang menunggu panggilan dari seseorang yang entah dimana dan siapa. Sehari, dua hari, seminggu, sebulan berlalu begitu saja. Tak ada kabar darimu sama sekali. Kolong plafon kamarku ini jadi saksi bisu. Enam bulan usai pesta pora atas prosesi pemindahan temali dari kiri ke kanan yang memakan waktu dan biaya yang tak sedikit berbanding terbalik dengan apa yang dapat kulakukan sekarang. "Nanti kalau prosesnya sudah selesai, kami hubungi via telepon atau e-mail. Ada yang mau ditanyakan lagi?" Senyum penuh misteri dipertontonkan olehmu kala itu. Aku hanya dapat membalasnya, "Sudah cukup." Aku merapikan kemeja merah mudaku, bergegas menyambar jabat tanganmu, dan meninggalkan ruangan bernuansa putih itu. Sepertinya bukan pertanda baik kalau dilihat dari ekspresimu tadi, sudahlah tunggu saja. "Semoga ini harinya." doaku setiap kaliku membuka mata. Semilir sepoi surgawi berhembus. "Iya, firasatku hari ini. Semog...

the things i write that he will never read.

Aku terlahir dari sekumpulan perasaan yang tak terucapkan sedang kamu di antara caci maki dunia yang berisik. Aku terbiasa diam, memendam semua yang aku rasa dan menjalani semua seolah tak terjadi apa-apa. Sedang kamu terbiasa berteriak meletuskan amarah, tanpa malu menangis dan semua yang ada meluap begitu saja. Jalanku tenang walau sesekali kerikil menghalangi namun yang kamu lalui tak tentu arah. Kadang badai atau ombak tinggi menghadang. Aku dan kamu berbeda. Aku sering salah menaruh hati kepada seseorang namun kali ini yang paling salah. Aku tahu kamu sudah ada yang memiliki walau belum ada cincin yang mengikat. Aku tahu jarak kita terlalu jauh. Aku tahu jurang pemisah tak mungkin dihancurkan. Ceritamu terlalu rumit untuk aku yang tak ingin sulit. Aku dan kamu tak akan pernah menjadi kita. Aku tahu benar dimana kakiku berpijak. Aku yang bodoh kembali rela menjalani jalan yang salah. Walau rasa ini tak mungkin berhenti secepat aku menaruh hatiku ke dirimu, ijinkan aku menjalani sak...

perihal Jaya.

Gambar
Terinspirasi dari calon kantor baru, berharap banyak disana. Semoga awet dan tahan lama. Amin. Tadinya karya ini buat meramaikan raws festival tapi ditengah jalan, terseok-seok. Akhirnya ya udah. Berisi penggalan cerita perihal spesimen yang diberi nama Jaya dalam menjumpai ketaksaan dunia. Tak hanya mengangkat kegamangan hati, masih ada kisah lain yang mungkin bisa menjadi rhema. Tentang bagaimana ia jungkir balik melunasi tagihan kebutuhan, representasi rezim yang membiarkan kewajaran, ranah keluarga yang mengandung air mata, dan perkara hati yang sejatinya tak ingin di intervensi. Selamat datang di krisis seperempat abad. Imajinasi pada kesucian dunia akan berubah total karena jadi dewasa itu tak enak. Tak hanya raga yang berontak, pikiran diperkosa paksa peradaban, serta jiwa harus bertahan dijajah kebutuhan. Problematika hidup semakin bertambah. Dulu berharap jadi besar mudah, sekarang sudah tak relevan. Perlahan ilusi fatamorgana disingkap realita. Jaya, tak pernah mengira semes...

Berita Kehilangan

Gambar
Kepulangan Jendra memang akhir dari hidupnya tapi hal itu pula yang diamini masyarakat sebagai pertanda agar lahir kembalinya reformasi setelah lama dikorupsi oleh para elit yang duduk nyaman di kursi dewan. Tak ada tangis air mata yang membanjiri tubuh kaku Jendra, bahkan dari sang ibunda. Beliau hanya sibuk merapal doa untuk kepergian sang buah hati tercinta. Almamater kebanggaan Jendra tergantung di dinding ruang keluarga kediamannya. Noda memerah masih membekas di bagian dada, juga di ingatan  "Buk, Jendra berangkat!" suara teriakan terakhir Jendra dari teras rumah masih terngiang di telinga. Ia sudah siap menggeber motor bebeknya menuju meeting point yang disebar luaskan sejak malam sebelumnya. Tak lupa jas identitas kampus ia masukan kedalam tas punggungnya. Ibu Dewi—ibu Jendra, tak memiliki pertanda buruk apapun mengenai kepergian Jendra. Pagi itu ia hanya mengingatkan Jendra untuk pulang tak terlalu larut malam. Jendra mencium tangan Ibunya. Mimiknya tak m...

Renjani dan Psikotik Senja

Gambar
Langit sedang murka, warna darah yang menakutkan tanpa ampun mencabik keindahan langit biru. Siluet mesra dua insan tergambar jelas di bibir pantai. Keduanya saling peluk, cium, dan bergenggaman tangan. Adu tawa dan senyum mereka pertontonkan kepada senja. Hati bahagia Renjani jauh dari ekspektasi. Cekung di kedua pipi chubby nya berubah menjadi nestapa walau cincin emas bermata putih tetap menghias jari manisnya. "Diam sejenak agar aku bisa menikmati sore bersamamu. Jangan bergerak barang sejengkalpun! Tetaplah disana!" Cairan bening mengalir dari sudut-sudut netra Renjani. Bibirnya bungkam. Seluruh tubuhnya beku. Tiap rintih senyap malah menjadi bumerang baginya. "Kehadiranku tak pernah ada yang mengharapkan. Termasuk kamu." Suara parau seorang pria ditambah bebunyian lonceng yang menguar dari balik pintu merah di sudut ruangan menambah kengerian. Birunya langit mendadak sirna. Hangatnya matahari perlahan pudar. Sejuk angin berubah dingin...

Menua itu Harus!

Beberapa malam lagi, genap usiaku seperempat abad. Sebuah pencapaian yang lumayan membuatku kalang kabut. Duh dek, semakin uzur Hayati. Nggak kerasa banget udah dikasih hidup selama itu sama Tuhan. Rasanya kayak kemaren baru lahir. Quarter Life Crisis? Jelas! Bagaimana tidak, diusiaku yang sudah seharusnya mampu berdiri di kaki sendiri, aku masih saja begini. Berlindung di bawah ketek orang tua. Mau tak mau, suka tak suka yang namanya manusia masih bernapas selalu membandingkan hidupnya sama orang lain, ditambah kemajuan teknologi yang bikin kita semakin gampang mengintip gaya hidup orang lain. Tarik napas panjang. Huft. Undangan nikahan silih berganti datang dan sekarang sudah diselingi sama undangan ulang tahun bocah-bocah di McD. Nggak ngerti lagi, sudah berapa banyak temen yang sudah punya anak. Sedangkan aku. Jomblo binti pengangguran. Menganggur boleh, goblok jangan! Sejumput kutipan dari influencer yang akhir-akhir ini sering aku stalking instagram -nya itu sep...

Berkawan Dengan Kegagalan

Kalau kau belum tahu rasanya penolakan, itu seperti luka menganga akibat hunusan pedang. Perih apabila terkena sesuatu namun apabila sudah sembuh, jangan kau tanya lagi rasanya, aku sudah lupa. Kegagalan adalah masa dimana kelemahan kita diuji, ditekan, dan ditempa. Tak ada pilihan lain selain menerima kenyataan, mengumpulkan sisa tenaga untuk kembali bangkit dari keterpurukan, dan menghadapinya. Titik terendah seumur hidupku, terjadi belum lama ini. Resign dari pekerjaan, tak lekas mendapat kerja kembali. Belum bisa melanjutkan sekolah yang sudah tertunda. Tapi dari sana, aku banyak belajar untuk bersabar. Because at the right time, He will make it happen. Tuhan punya cara sendiri dalam bekerja, jauh dari pikiran kita, dan setiap rencana-Nya tak ada yang kebetulan. Tetap berusaha, ternyata rencana Tuhan indah pada waktu-Nya. Aku bisa melanjutkan studi di tempat yang tidak sama sekali aku duga sebelumnya. Kesempatan baru, kenalan baru, pengalaman mahal lainnya, aku dapat...