

Rasanya jauh lebih enteng pas nggak bawa keril sama nggak ndengerin bacot kalian. Hari Sabtu yang tenang ini dimulai dari basecamp rumah Pak Darno. Dari sana, Gunung Ungaran berdiri gagah di belakang, seolah jadi tuan rumah yang siap menerima tamunya.
Kami berangkat tektok, tanpa banyak persiapan ribet. Jalurnya sudah sering kudengar: cocok buat warga Semarang yang baru pertama kali naik gunung, semacam starter pack pendakian. Tapi kali ini aku datang bukan untuk coba-coba, melainkan buat sekadar melarikan diri dari riuhnya kota dan kepalaku sendiri.
Via Perantunan, jalurnya lumayan ramai. Anak-anak kalcer bertebaran dengan outfit paling niat. Sepatu warna-warni, kacamata gelap, botol minum fancy, bahkan ada tripod kecil yang selalu siap dipasang tiap nemu spot kece. Ada yang ngos-ngosan tapi masih sempet update instastory, ada yang sibuk bergaya seolah perjalanan ini cuma pemotretan outdoor. Lucu sih, tapi yaudah. Aku cuma jalan, santai, kadang nyalip, kadang ngalah.
Jalurnya cukup bersahabat. Vegetasi rapat, angin sesekali mampir bikin adem, meski tanjakannya tetap bikin betis kerja keras. Di tengah ramainya jalur, aku merasa entah kenapa justru lebih bebas. Bebas karena langkahku sendiri yang nentuin kapan harus berhenti, kapan harus lanjut. Nggak ada keril di punggung, jadi tubuh lebih ringan. Dan mungkin, hati juga ikut terasa lebih ringan.
Sampai di pos-pos, aku lihat banyak yang berhenti lama hanya untuk berfoto. Aku sih cuma numpang tarik napas sebentar lalu lanjut lagi. Jalannya nggak terlalu ekstrem, tapi cukup buat bikin keringat mengucur deras. Dari beberapa spot, pemandangan hamparan kota dan sawah terbentang. Langitnya cerah, biru sempurna.
Menuju puncak, jalur makin terbuka. Angin lebih kencang, rumput ilalang tinggi bergoyang seirama. Di titik itu, aku diam sebentar, memandang jauh. Kadang, naik gunung bukan soal mencapai puncak, tapi tentang jeda. Tentang bagaimana diam sejenak bisa bikin hati nggak sesak.
Akhirnya sampai puncak Ungaran. Ramai, seperti yang kuduga. Anak-anak kalcer sibuk cari angle terbaik, beberapa buka bekal, ada juga yang teriak-teriak biar eksis di video. Aku cuma duduk di sudut, meneguk sisa air minum, dan membiarkan angin puncak menerpa wajah. Dari sana, gunung lain di kejauhan terlihat gagah, seolah saling menyapa.
Turun jalur terasa lebih santai. Betisku sudah mulai protes, tapi entah kenapa nggak terasa seberat biasanya. Jalur menurun dipenuhi tawa-tawa asing, dan aku ikut terseret di dalamnya meski dalam diam.
Sampai kembali ke basecamp, rasa lega bercampur lelah. Tektok selesai. Nggak ada pencapaian besar, nggak ada drama luar biasa. Tapi perjalanan singkat ini berhasil bikin tubuhku ringan dan pikiranku lebih lapang. Ungaran memang gunung starter bagi banyak orang, tapi buatku hari ini, dia adalah tempat singgah. Tempat yang diam-diam memberi ruang untuk bernapas lebih dalam.
Banyak orang mengira aku baik-baik saja. Iya, mereka melihat aku baik-baik saja karena mereka melihatnya dari kata orang saja, dari sosial mediaku saja, atau dari potongan diriku yang sengaja kubagikan ke mereka. Tapi jauh lebih dari itu, aku pun baik-baik saja.
Aku akan menjawab “baik” bila seseorang menanyakan kabarku. Bukan apa-apa, tapi aku memang baik-baik saja, dan aku tidak mau merepotkan banyak orang kalau aku menjawab “tidak baik-baik saja.” Karena jawaban itu hanya akan menimbulkan pertanyaan baru yang mungkin tidak ingin aku jawab.
Baik-baik saja itu kadang bukan tentang benar-benar baik, tapi tentang bertahan. Tentang bagaimana aku menyembunyikan badai di kepala dengan senyum tipis di bibir. Tentang bagaimana aku mengalihkan rasa sakit dengan cerita ringan. Tentang bagaimana aku memilih diam ketika isi hati sebenarnya ingin berteriak.
Ada kalanya aku iri pada orang-orang yang bisa bebas menceritakan masalahnya. Mereka yang punya telinga untuk mendengarkan dan bahu untuk bersandar. Aku? Aku memilih menumpuknya sendiri, berharap lama-lama rasa itu padam. Nyatanya tidak. Rasa itu hanya berubah bentuk, tapi tetap tinggal di dalam diri.
Namun, di balik semua itu, aku belajar sesuatu. Bahwa tidak apa-apa untuk sekadar baik-baik saja. Tidak harus selalu kuat, tidak harus selalu ceria. Baik-baik saja artinya aku masih berdiri, masih bernafas, masih mencoba menata langkah.
Jadi, jika kau menanyakan kabarku hari ini, jawabanku masih sama: aku baik-baik saja. Dan kalaupun aku tidak baik-baik saja, aku akan tetap bilang aku baik-baik saja.












.jpg)









- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact