Minggu, 29 Juni 2025 0 comments

aku baik-baik saja.

Banyak orang mengira aku baik-baik saja. Iya, mereka melihat aku baik-baik saja karena mereka melihatnya dari kata orang saja, dari sosial mediaku saja, atau dari potongan diriku yang sengaja kubagikan ke mereka. Tapi jauh lebih dari itu, aku pun baik-baik saja.

Aku akan menjawab “baik” bila seseorang menanyakan kabarku. Bukan apa-apa, tapi aku memang baik-baik saja, dan aku tidak mau merepotkan banyak orang kalau aku menjawab “tidak baik-baik saja.” Karena jawaban itu hanya akan menimbulkan pertanyaan baru yang mungkin tidak ingin aku jawab.

Baik-baik saja itu kadang bukan tentang benar-benar baik, tapi tentang bertahan. Tentang bagaimana aku menyembunyikan badai di kepala dengan senyum tipis di bibir. Tentang bagaimana aku mengalihkan rasa sakit dengan cerita ringan. Tentang bagaimana aku memilih diam ketika isi hati sebenarnya ingin berteriak.

Ada kalanya aku iri pada orang-orang yang bisa bebas menceritakan masalahnya. Mereka yang punya telinga untuk mendengarkan dan bahu untuk bersandar. Aku? Aku memilih menumpuknya sendiri, berharap lama-lama rasa itu padam. Nyatanya tidak. Rasa itu hanya berubah bentuk, tapi tetap tinggal di dalam diri.

Namun, di balik semua itu, aku belajar sesuatu. Bahwa tidak apa-apa untuk sekadar baik-baik saja. Tidak harus selalu kuat, tidak harus selalu ceria. Baik-baik saja artinya aku masih berdiri, masih bernafas, masih mencoba menata langkah.

Jadi, jika kau menanyakan kabarku hari ini, jawabanku masih sama: aku baik-baik saja. Dan kalaupun aku tidak baik-baik saja, aku akan tetap bilang aku baik-baik saja.

Kamis, 26 Juni 2025 0 comments

keluh kesah donatur tak kasat mata

Kenapa semua maksud baikku selalu dianggap sebuah tuntutan yang berat untuk orang-orang? Aku mau membantu, tapi jangan bebankan semua ke pundakku. Aku mau menolong, tapi bukan berarti semuanya menjadi tanggung jawabku. Semua yang sudah aku lakukan sepenuh hati seolah tak pernah terlihat. Aku sadar posisiku, tapi apakah akan terus seperti ini?

Aku tidak boleh sakit hati. Aku tidak boleh marah. Aku harus selalu menurut. Aku tidak boleh bicara. Aku hanya boleh mendengar. Sampai kapan?

Kadang aku merasa seolah hanya dijadikan wadah: menampung keluh kesah, menampung tuntutan, menampung segala hal yang tidak diinginkan orang lain. Tapi ketika aku sendiri penuh, siapa yang mau menampungku?

Semua kebingungan yang kutemui hanya berubah jadi emosi. Semua solusi yang kucari hanya sebatas omong kosong. Dan pada akhirnya, aku kembali lagi ke diam. Diam yang katanya emas, tapi sebenarnya lebih sering terasa seperti beban di dada.

Sabtu, 21 Juni 2025 0 comments

banyak yang mereka tak sadari.

Mereka menudingku dingin, tak peduli, tanpa perasaan. Kata-kata itu sering dilempar dengan mudah, seolah mereka tahu seluruh isi diriku hanya dari permukaan. Tapi tak ada yang bertanya kenapa aku menjadi seperti ini. Tak ada yang benar-benar mau melihat ke dalam—melihat bahwa di balik sikapku yang tampak tak peduli, ada kelelahan yang terlalu sering dilupakan. Aku tidak memilih jadi seperti ini; aku bertahan.

Bicara enteng aku nir-empati tapi mereka tak sadar kalau itu mereka yang ciptakan.

Dulu aku mencoba peduli. Aku merasa, aku menangis, aku berusaha memahami semua orang, meskipun seringkali tak dimengerti balik. Tapi kepedulianku tak pernah cukup. Empatiku dibalas tuntutan. Kebaikanku disambut pengkhianatan. Lama-lama aku belajar menyimpan air mata, membungkam empati, dan mengganti pelukan dengan jarak. Bukan karena aku tak bisa merasa, tapi karena merasa terlalu banyak pernah hampir menghancurkanku.

Mereka bilang aku berubah. Tapi mereka tak sadar bahwa mereka juga bagian dari perubahan itu. Setiap kata tajam, setiap pengabaian, setiap kali aku dicintai hanya saat aku berguna—semua itu perlahan membentuk benteng yang kini mereka keluhkan. Aku bukan patung es yang lahir beku; aku adalah hati yang pernah hangat, tapi terlalu sering terbakar.

Lucunya, yang menciptakan luka sering merasa berhak menilai bentuk sembuhku. Mereka menciptakan versi diriku yang kebal dan kini menyalahkanku karena tak lagi lembut. Tapi siapa yang akan terus menampung bara dengan tangan telanjang? Di titik tertentu, aku sadar: menjadi kuat kadang berarti harus kelihatan kejam bagi yang tak pernah tahu rasanya hancur.

Aku tidak bangga jadi seperti ini, tapi aku juga tidak menyesal. Karena jika ini satu-satunya cara untuk melindungi sisa-sisa diriku, maka biarlah aku disebut nir-empati. Aku lebih memilih dituduh tak peduli, daripada kembali tenggelam dalam kepedihan yang tak pernah dihargai. 

 
;