Minggu, 27 April 2025 0 comments

semua karena bacotmu yang jahat.

"Janji ga marah?"

"Iya, emang kenapa dulu tapi?"

Aku hanya tertawa mendengar cerita dari Ibuk. Bingung saja harus merespon bagaimana. Apa aku perlu mengirim kue ke rumahmu untuk ucapan terima kasih? Atau aku harus bagaimana? 

Gimana aku bisa marah? Katamu aku bisa kesana karena kamu memintakan doa ke 'orang pintar'. Terus, bagaimana dengan doa orang-orang yang memang tulus mendoakanku tanpa aku minta? Bagaimana dengan usaha belajarku siang dan malam sampai aku mengurangi waktu tidur, scroll, dan nongkrongku? Bagaimana dengan kursus online dan try out berbayar yang kuusahakan agar hidupku lebih baik dari hari ini? Apa Tuhan hanya mendengar doa dari 'orang pintar' mu itu saja? 

Tapi kalau di tarik mundur jauh ke belakang, apa yang bisa aku capai sampai sekarang ini memang karena bacotmu yang jahat. Omonganmu memang jadi bahan bakarku untuk hidup lebih baik darimu tanpa meminta bantuan dari orang lain. Hinaanmu jadi semangatku untuk belajar lebih giat, bisa masuk sekolah favorit, masuk perguruan tinggi negeri dengan jurusan teknik tanpa amplop, orang dalam, atau jalur-jalur yang entah apa itu.

Dari dulu aku terlalu diam sampai aku yang sekarang sudah tak peduli lagi denganmu. Aku sudah terbiasa tak dianggap jadi kalau sekarang kamu menganggap kenal denganku justru aku heran. Sepertinya aku malah berharap itu tak pernah terjadi saja. Untuk apa apresiasi darimu? Aku tidak butuh validasimu itu, tak kenal dan tak dianggap olehmu malah sudah menjadi hal yang lurah untukku. Aku tak semembanggakan itu kok. Tetap kamu yang paling dan terhebat. Tapi tak apalah, aku memang harus berterimakasih kepadamu ternyata.

Kamis, 10 April 2025 0 comments

sempurna saja tak cukup.

Entah mengapa aku selalu merasa tak pernah pantas menjadi “aku”. Aku memang biasa saja, belum punya banyak pencapaian seperti orang lain, namun aku merasa menjadi “aku” benar-benar tak ada beban dan aku tak pantas seperti ini. Rasa damai yang ku damba kini terjadi walau aku ada di kamar kost yang kecil. Rasa tenang yang ku ingin ada walau kehilangan beberapa orang rasanya tak mengenakan. Tapi menjadi “aku” tak pernah ku bayangkan seberat ini sebelumnya.

Orang kira tanyaku ini sekadar keluhan. Orang kira ini sekadar drama. Padahal ini bukan sekadar bertanya pada hidup, tapi bertanya pada diriku sendiri. Tentang kenapa aku selalu merasa harus mengejar sesuatu agar dianggap layak, tentang kenapa aku merasa tak pernah cukup meski sudah berusaha jadi versi terbaik.

Sempurna saja ternyata tidak cukup. Tidak cukup untuk menenangkan omongan orang yang selalu punya standar mereka sendiri. Tidak cukup untuk membuat mereka berhenti menilai kenapa aku belum menikah, kenapa aku belum punya ini, belum punya itu. Tidak cukup juga untuk menghapus takut yang diam-diam tumbuh di dalam dada: takut salah pilih pasangan, takut rumah tangga tak sesuai ekspektasi, takut beda pandangan di tengah jalan, takut tak mampu membuat orang lain nyaman, bahkan takut untuk sekadar berharap.

Kadang aku bertanya, hidup macam apa ini? Mengapa aku harus merasa seperti berlomba padahal garis finisnya pun samar? Mengapa aku harus mendengar suara-suara yang tidak pernah hidup di tubuhku, tidak pernah memikul bebanku, tapi selalu merasa berhak memberi komentar?

Aku tahu aku banyak takutnya. Takut ini, takut itu, takut masa depan, takut kehilangan, takut mengecewakan. Tapi ya sudah. Hidup memang tidak pernah adil. Siapa suruh aku berharap terlalu banyak? Kadang aku pikir mungkin salahku juga yang terlalu sering menggantungkan diri pada gambaran ideal yang bahkan tidak pernah benar-benar ada.

Di balik semua itu, aku menemukan satu hal kecil yang diam-diam jadi tempat pulangku: aku tetaplah “aku”. Aku dengan kamar kost kecilku, dengan waktu yang kadang terasa kosong, dengan rasa tenang yang hadir meski tanpa pencapaian besar, meski dengan kehilangan yang menyakitkan. Mungkin inilah aku. Mungkin inilah bentuk sempurna yang sebenarnya: bukan sempurna seperti standar orang, tapi sempurna dalam keberanian untuk tetap hidup meski takut, untuk tetap berjalan meski ragu.

Dan mungkin, meski sempurna saja tak cukup, menjadi “aku” yang sekarang — dengan segala takut, gagal, dan luka — justru adalah satu-satunya hal yang paling mendekati utuh.

0 comments

low pace, long story

Awalnya aku lari bukan karena suka. Bukan juga karena ingin jadi pelari. Aku lari semata-mata untuk persiapan naik gunung. Biar kaki nggak kaget pas diajak nanjak, biar napas nggak engap waktu summit. Latihan pun simpel: seminggu dua kali, cukup sebulan sebelum hari H pendakian. Habis itu? Ya sudah, sepatu lari masuk lagi ke pojokan rak.

Tapi ternyata kebiasaan kecil itu menempel. Lari yang tadinya cuma “bekal nanjak” perlahan jadi sesuatu yang kucari. Entah kenapa, meski nggak ada agenda mendaki, aku tetap pengin keluar, ikat sepatu, dan gas lari. Kadang di jalan sekitar rumah, kadang di jalan kota, kadang cuma keliling GOR.

Pace? Masih keong. Long run? Masih belum bisa. Suka banget sama lari? Jujur aja, masih belum. Tapi yang jelas, lari sudah jadi bagian dari rutinitas. Walaupun latihan nggak selalu konsisten, setidaknya dalam seminggu aku bisa dapat 10K.

Dan dari situ aku sadar, lari itu bukan soal siapa yang paling cepat atau siapa yang bisa jauh. Lari itu soal keberanian untuk tetap melangkah, meski rasanya berat, meski motivasi naik-turun, meski sering kali lebih banyak alasan untuk berhenti.

Kalau dulu lari hanyalah cara biar kuat nanjak, sekarang lari jadi cara untuk tetap bergerak, tetap waras, dan tetap merasa hidup.

 
;