Minggu, 12 Januari 2025 0 comments

apa ini bahagia yang sebenarnya aku cari atau aku bahagia karena melihat mereka bahagia?

Malam-malam setelah pengumuman pra sanggah, pikiranku malah berkelana entah kemana. Sekian lama aku menantikan namaku ada di peringkat teratas tapi setelah terjadi aku malah meragu. Apa ini benar-benar yang aku mau? Apa aku akan bahagia menjalaninya?

Perjalanan ini sudah kumulai sedekade lalu. Tahun demi tahun aku hanya bisa menelan kecewa. Usaha yang aku lakukan, doa yang aku panjatkan, dan harapan orang tua yang setinggi langit seolah hancur ketika pengumuman akhir berkumandang. Jujur, aku tak tahu apa yang sebenarnya harus ku perbuat. Sedari awal, aku hanya mengikuti semua sabdanya, "Semua akan baik sampai kamu mati jika kamu berada disana."

Aku tak bisa melawan. Aku menjadikan ini event tahunan yang harus aku lalui walau akan berakhir dengan kekecewaan mereka. Lambat laun aku mulai terbiasa. Aku mulai merasa kecewa mereka hanya sementara dan kemudian aku melanjutkan hidup yang aku pilih sendiri.

Pikirku aku akan melalui ini lima kali lagi. Lalu aku bisa menggambar sesuatu di badanku atau menambah tindik di telingaku. Aku tetap berada di jalan yang aku pilih dan mereka tidak kecewa-kecewa amat karena setidaknya mereka tahu kalau aku sudah mencoba dan berusaha sejauh ini.

Tiba-tiba di tengah perjalanan aku berubah pikiran. Ombak yang aku lalui terlalu besar. Di umurku yang sekarang, aku mulai membutuhkan kepastian dan zona aman. Hidup di proyek ternyata terlalu berat untukku. Entah bagaimana, aku merasa harus berupaya lebih tahun ini. Aku harus menyelesaikan misi penyelamatan diri ini sampai selesai.

Entah bagaimana aku mencoba lebih di tahun ini. Sejak awal aku memilih tempat yang menjadi zona amanku. Walau beberapa syarat perlu biaya, aku mencoba all in. Seperti semesta menyuruhku untuk benar-benar bertaruh sebelum aku kecewa dengan usahaku sendiri. Bertahun aku hanya belajar seadanya tapi tahun ini aku berusaha lebih. Beberapa kelas aku ikuti usai pulang kerja. Disela sibukku aku menonton video pembahasan soal. Sampai di hari tes yang pertama, aku mencoba tidak berekspektasi lebih pada diriku. Uji coba soal yang sudah kulalui, nilailu tak pernah lebih dari 400. Belum lagi beberapa hari sebelumnya mantan teman sekantorku terisak ketika tahu nilainya tidak melewati ambang batas.

Aku sudah tak bisa belajar sehari sebelum hari itu. Pulang bekerja aku langsung berangkat ke Jakarta agar besok aku tak perlu melakukan perjalanan jauh. Jakarta menyapaku dengan gerimis. Ia tak tahu kalau perutku sudah perih menahan lapar. Usai menyelesaikan makan malam, aku langsung tidur berusaha menanamkan dalam pikiran kalau esok akan baik saja.

Aku berangkat lebih pagi dari jadwal yang sudah ditentukan. Tak berharap apa-apa, hanya semoga yang terbaik yang akan terjadi. Proses aku sampai di titik sini saja tak semudah yang orang pikirkan. Berulang kali mencoba tak membuatku patah semangat.

Tak ada halangan apapun ketika aku mengerjakan tiap soal yang muncul di layar. Kaki-kaki kakak sebelah yang mungkin gugup membuatku muak. Aku yang mulai terganggu, menarik mejaku menjauh darinya. Mungkin dia paham mengapa aku melakukannya, tapi daripada aku makin jengkel lebih baik aku melakukannya. Kanan-kiriku sudah selesai mengerjakan tes. Mereka mulai beranjak dari kursinya. Aku yang masih sibuk komat-kamit membaca soal TKP yang lumayan panjang. Timer di ujung kanan layar sudah berkedip merah, aku masih ada waktu untuk sepintas mengulang dari awal.

Layar monitor mendadak berubah tampilannya. Kotak putih dengan beberapa angka. Mataku terbelalak melihatnya seolah tak percaya. Rasanya tak mungkin aku bisa memecahkan rekor nilaiku sendiri setelah sekian lama. Sepanjang sedekade ini aku mentok di kepala tiga. Sebulan aku mengikuti try out, aku juga tak pernah pergi jauh dari kepala tiga. Terima kasih Tuhan Yesus.

Aku mencatat nilaiku di balik kartu peserta, langkahku ringan keluar dari ruangan. Sebelum menuruni anak tangga, aku memanjatkan syukurku di ujung aula. Tak peduli beberapa orang melihatku walau aku tak tahu bagaimana nilai pesaingku sepertinya aku harus berbahagia karena ternyata aku bisa punya nilai diatas empat ratus.

Tiap malam aku masih dikejar overthinking, kalau-kalau pesaingku bisa mencetak skor lebih dariku. Kalau mereka lebih hoki ketimbangku. Kalau mereka belajar lebih dariku. Kalau doa-doa mereka lebih di dengar daripada aku.

Cemasku kembali terlewati setelah hari pengumuman tiba. Aku melihat namaku masih berada di peringkat tengah. Tidak terlalu buruk untuk pesaingku yang kebanyakan anak fresh graduate. Aku tinggal menunggu jadwal tes tambahan yang sebenarnya lebih kutakutkan ketimbang tes selanjutnya. Benar, hari itu datang. Aku menghitung kembali uangku, sepertinya tidak cukup kalau aku harus menyewa kamar hotel untuk tes psikotes online sehingga aku lebih memilih meminjam kamar kakakku di Jakarta. Sebelumnya, aku sudah pernah psikotes online seperti ini tapi kali itu aku gagal. Aku tak tahu apa sebabnya tapi sejauh ini aku selalu gagal di tes terakhir.

Pagi itu aku sudah siap untuk melaksanakan tes. Laptop dan handphone kuatur sedemikian rupa. Koneksi internet sudah kuperiksa. Aku melenggang masuk ke ruang zoom. Aku panas-dingin ketika mulai absen, mendadak laptopku tak bisa terkoneksi ke thetering handphone. Aku segera tanya password wifi kost, aku bisa kembali online.

Di sesi tes yang terakhir, koneksi kembali putus. Aku kembali panik, aku menghubungi admin tes dan beruntungnya aku masih boleh melanjutkan tes. Skor tes langsung muncul ketika sesi selesai. Aku tersenyum, skorku masih berada di atas passing grade.

Siang itu aku berangkat naik Trans Jakarta sendirian. Aku berusaha menenangkan diriku sambil sesekali meminta Tuhan mengabulkan inginku. Kakiku sudah hapal jalan ke kantor yang sejak dulu aku idamkan mungkin ini udah kali ketiga aku kesini. Aku datang terlalu pagi, aku mengeluarkan tumbrl fuchia yang sudah kuisi es kopi. Kunikmati tiap teguk sambil duduk di pinggir trotoar dan memandangi kemacetan cawang. Tak lama aku duduk di sana, beberapa orang mengikutiku untuk duduk di sana. Banyak orang datang di antar oleh keluarganya memberikan support kepadanya. Beberapa diantar transportasi umum sendirian sepertiku. Ada yang datang dengan ojek online.

Setelah peserta sesi sebelumnya masuk, peserta sesi setelahnya dipanggil untuk mulai masuk untuk mulai mengantre. Panitia meminta peserta untuk melepas jaket dan menyiapkan kartu ujian sebelum masuk ke area tunggu. Aku pun mundur dari kerumunan, menaruh barang-barangku di atas pot tanaman dan melepas sweaterku sesuai instruksi panitia. Bapak-bapak yang sedang duduk di dekat situ tersenyum padaku dan memberiku semangat. "Semangat, berjuang buat masa depan!" teriaknya diiringi senyum. Aku ikut tersenyum, menundukkan kepalaku dan mengucap terimakasih. Sebelum mengantre aku menyeruput kembali es kopi.

Aku asal memilih tempat duduk. Aku juga tidak kenal siapapun di sini. Jadi tidak ada yang harus aku sapa. Setelah selesai registrasi, peserta diarahkan untuk menyimpan barang pribadi di loker yang sudah disediakan. Usai itu kami diarahkan untuk registrasi lagi dengan face recognize dan kembali diminta duduk di ruang tunggu. Kami diputarkan video cara pengerjaan test sambil menunggu sesi sebelumnya selesai. Kami kembali di pindahkan dari ruang tunggu ke ruang test. Aku mendapat ruang nomor 1 yang berada di lantai 6.

Aku duduk dekat jendela besar sambil menunggu aku menikmati deretan gedung-gedung tinggi. Sampai waktu test di mulai, aku habis akal membaca setiap soal yang muncul. Ini malah lebih ke laboratorium biologi atau fisika bukan laboratorium tanah atau hidrolika. Entah siapa yang membuat soal ini. Aku cuma berharap semua pilihanku benar dan paling tidak aku mendapat nilai 250. Waktu masih berlangsung beberapa menit, sampai ketika kakiku mulai kesemutan dan aku merubah posisi kakiku. Layar monitorku gelap. Aku panik, takut kalau aku harus mengulang semuanya lagi. Aku mengangkat tangan berharap panitia lekas datang menghampiri. Posisiku yang berada di kolom besar membuat panitia tak melihatku.

Untung, mas-mas yang duduk di depanku tanggap dan memanggilkan panitia yang ternyata berada di balik kolom besar. Seorang datang dan membetulkan deviceku. Layar menyala lagi dan aku bisa melanjutkan test. Detik-detik waktu selesai, aku masih sibuk membaca soal yang terlalu panjang. Beberapa orang sudah selesai dan berlalu meninggalkan ruangan. Aku mengakhiri semuanya sembari mulutku komat-kamit meminta hasil yang terbaik dari Tuhan. Tidak buruklah, paling tidak lebih dari target yang kumau.

Perutku keroncongan, aku menghampiri mbak Emma untuk makan malam bersama. Usai perang, tak lengkap kalau tidak makan enak. Seporsi besar paket A&W rasanya lengkap untuk mengakhiri perang ini. Aku tinggal menunggu hasil yang semoga saja kali ini sesuai harapanku. Berminggu-minggu aku hanya bisa menonton hasil pesaingku dari youtube. Perhitunganku tak bisa pasti karena ada nilai psikotes yang tak di publish. Di situ juga yang membuat aku agak khawatir karena bisa saja jadi ladang permainan orang dalam. 

Setelah test terakhir yang berlokasi di Semarang keluar hasil, seseorang mengirim pesan lewat whatsapp. Ia menanyakan nilai psikotes milikku, sepertinya dia juga membuat tabel hitungan nilai akhir. Ia malah sudah tidak berharap lagi dan kagetnya ia bilang kalau aku lebih punya peluang untuk lolos. Entahlah, aku tak mau banyak berharap karena yang sudah-sudah pun aku gagal di perhitungan akhir.

Minggu-minggu berlalu, jadwal pengumuman akhir tiba. Aku sudah tak banyak berharap lagi. Takutnya yang lalu terjadi lagi. Sabtu siang, aku berada di kost. Ramai-ramai grup tele membuat handphoneku berisik. Aku coba memeriksanya, ternyata pengumuman yang di tunggu sudah ada hilalnya. Aku coba mendownload lewat ponsel, namun karena beratnya file pdf sulit untuk langsung menemukan namaku. Aku mengirimnya ke grup keluarga agar adikku bisa ikut membantu mencarikan namaku. Aku juga membuka laptop dan memvideo call ibu agar kalaupun tidak sesuai harapan aku tak langsung sedih.

Rumah sepi, hanya ada ibu, bapak, cik dan mak wah yang sudah dari Desember lalu menginap. Video call langsung di ambil alih ibu, aku sibuk mencari namaku di laptop. Ibu berada di kamar Cik dan ikut antusias mencari namaku. Cik menemukannya terlebih dahulu. Aku memintanya untuk print screen dan memberitahu halaman berapa agar aku bisa tahu juga. Raut muka orang rumah tak bisa dibohongi, mereka ikut senang. Bapak yang tadinya sedang tidur siang merasa terganggu dengan suara ibu yang sedang senang. Ia bangun dan ikut menonton namaku di kamar Cik. keluar dari sana, ia memberitahu ke mak Wah apa yang terjadi. Semua bahagia.
Senin, 23 Desember 2024 0 comments

selalu ada cerita tentangmu dan namamu yang selalu ada di belakangku.

Seandainya Bapak tahu, ini adalah cerita tentang kita. Cerita yang kebanyakan orang tidak tahu atau bisa saja Bapak tidak pernah tahu juga. Sepanjang aku hidup tiga puluh tahun ini sepertinya tak sampai setengahnya aku bersamamu. Kita seperti sebuah obyek yang sedang bercermin. Beberapa hal kita memang mirip. Gengsi kita terlalu tinggi ya, Pak tapi kita malu untuk mengakuinya. Keras kepala kita sama, rasanya tak ada yang mengalahkannya. Cuma manusia-manusia yang dengan kadar sabarnya luar biasa yang bisa mengerti itu. Aku tahu Bapak sayang aku, begitupun aku tapi cara komunikasi kita memang berbeda. Aku dengan nadaku yang meledak-ledak dan Bapak dengan mode senyapnya. 

Dulu aku sering berujar kalau aku bisa memilih, aku lebih ingin jadi keponakanmu bukan jadi anakmu seperti sekarang. Aku tarik ucapanku itu ya, Pak. Sepertinya jadi keponakanmu jauh lebih tak enak karena harus membenci anak-anakmu yang terlalu memelukmu erat. Belum lagi mereka tak bisa benar-benar memilikimu. Walau kami sama-sama menikmati jerih payahmu rasanya mereka tak bisa mengertimu.

Aku ingat betul, pernah masuk rumah sakit karena gejala tipes dan cuma mau makan nanti nunggu Bapak. Hal-hal yang menurut mereka tidak penting, justru aku ingin, Pak. Aku ingin buku raporku ada tanda tanganmu, pergi dan pulang sekolah di jemput Bapak, atau belajar naik motor sama Bapak. Sepertinya masa kecilku hanya penuh cerita tentangmu saja. Yang aku tahu, Bapak harus kerja jauh biar aku tetap bisa sekolah. Kenyataannya semua bukan tentang aku tapi tentang banyak orang yang perlu Bapak.

Dulu aku merasa selalu jadi yang nomor sekian. Tak pernah ada nasehat atau arahan apapun tapi tuntutan untuk menjadi yang nomor satu selalu hadir. Ketika aku menuntut balik, tak pernah ada tanggapan. Awalnya aku masih berprasangka baik. Mungkin memang sedang tak ada atau aku yang terlalu banyak mau. Sampai dimana cita-citaku harus mengalah dengan kebutuhan keponakanmu, aku cukup menyimpan banyak luka. Ragamu sudah lama pergi dan ternyata bersama jiwamu juga. Semua yang sudah kuusahakan ternyata bertepuk sebelah tangan. Keringatku tak terbayarkan.

Aku sadar, setiap gerakku selalu dicaci. Semua yang aku lakukan selalu tak berarti dimata keponakanmu. Padahal setauku, aku jauh lebih unggul dibanding mereka. Aku sama sekali tak mengecewakanmu. Aku selalu berusaha sebaik mungkin tentang apa yang aku jalani. Aku menerima semuanya tapi tetap saja hatiku terluka.

Pak, aku lelah selalu menjadi tokoh antagonis disetiap cerita keponakanmu. Aku dengar semua ocehan mereka tentangku. Tak apa kalau hanya aku yang menjadi bahan tapi kalau itu tentangmu, apa aku harus tetap diam? Apa itu pantas? Apa itu cara mereka membalas budi?

Aku memang tak tahu apa yang ada dipikiranmu atau apa yang jadi niatmu. Tapi kurasa mereka yang Bapak prioritaskan tidak tahu diri. Setelah semua Bapak usahakan, mereka tidak  berusaha untuk dirinya sendiri apalagi untuk Bapak. Di kepala mereka, Bapak akan meladeni mereka seumur hidup Bapak. Mereka sudah bukan anak kecil yang tak bisa mencari makan sendiri.

Ada banyak hal yang sebenarnya yang ingin aku katakan dan tanyakan. Tapi aku sudah terlalu terluka dengan masa lalu. Sudah ya, pak. Sekarang sudah waktunya Bapak beristirahat. Aku sudah bisa sedikit bahagiakan Bapak. Bukan kewajiban Bapak untuk memenuhi kebutuhan semua orang.

Aku sudah maafkan Bapak walau kata itu tak pernah aku dapat setelah sedekade aku banyak belajar dari orang-orang jalanan. Rasanya selama ini kepahitan yang merusak jiwaku dari dalam. Semua yang kupendam dan kubawa kemanapun menjadi beban   sehingga aku tak bisa berlari.

Sudah, ya Pak. Sudah waktunya Bapak memikirkan diri Bapak sendiri, memprioritaskan kebahagian yang selama ini belum sepenuhnya Bapak rasakan. Kalau mereka tak bisa membalas budi, abaikan saja. Cukup doakan yang terbaik untuk mereka dan aku yang akan memberikan sedikit bahagia buat Bapak.

Kita buat cerita tentang kita, Pak. Kelak aku juga ingin seperti teman-temanku yang punya banyak waktu dan cerita dengan Bapaknya. Bukan setidaknya ada cerita tentang kita melainkan akan selalu ada cerita tentangmu dan namamu yang selalu ada di belakangku. Terimakasih Bapak. 

Jumat, 20 Desember 2024 0 comments

double shoot

Menghilang memang jadi salah satu defend mechanism yang paling aku kuasai. Tak ada seorangpun yang bisa mendebatnya. Tampak luar aku bisa terlihat tenang, tak punya beban masalah apapun, namun semua badai muncul menemani tiap malam.

Bodohnya, aku masih menambah amunisi dengan segelas coffee aren latte dengan double shoot. Benar sajakan. Seolah rasa pahitnya bisa menutupi getir di kepala, padahal cuma menambah jantung berdebar, mata terjaga, dan pikiran makin liar ke mana-mana. Ironis, aku membayar untuk menyiksa diri sendiri.

Katanya orang-orang bijak, “lari tidak akan menyelesaikan masalah.” Tapi kalau aku diam, apa masalahnya akan menyelesaikan aku? Mana yang lebih dulu: aku hancur atau masalahku hilang? Sialnya, aku sudah terbiasa jadi orang yang pura-pura kuat di depan semua orang, padahal kenyataannya aku sudah lama kalah dalam peperangan di dalam kepala sendiri.

Lucunya, semua orang masih percaya. Mereka lihat aku tertawa, mereka lihat aku update story, mereka lihat aku minum kopi manis di gelas cantik—padahal di baliknya aku sedang menghitung sisa napas, berharap tidak terlalu panjang umur.

Aku ingin berhenti. Berhenti dari semua basa-basi, berhenti dari semua pura-pura, berhenti dari semua pertanyaan “kamu baik-baik aja?” yang bahkan mereka sendiri malas dengar jawabannya.

Tapi aku masih di sini. Dengan double shoot yang kucari-cari, dengan rasa pahit yang kuanggap sahabat, dengan malam-malam yang selalu jadi saksi betapa kacaunya kepala ini.

Dan sekarang aku cuma bertanya pada diri sendiri, sambil menatap gelas kosong:

Apakah aku sedang mencoba bertahan hidup… atau cuma sedang memperlambat cara bunuh diri yang paling sopan?

 
;