Rabu, 30 Oktober 2024 0 comments

semoga aku hilang dalam tidurku.

Hari-hari ini cepat berlalu. Rutinitas membosankan dan hati yang kosong menjadi teman. Mungkin minggu ini aku tak bicara lebih dari lima puluh ribu kata. Aku terlalu banyak diam dan memendam pikiranku.

Rumah nampaknya masih sepi. Semua seolah membeku bersama dengan topik pindah rumah yang aku lontarkan. Tak apa aku kembali menjadi tokoh antagonis tapi mengapa selalu aku?

Semua yang ada di kepalaku seolah salah. Bahkan ketika aku berusaha jujur, hasilnya tetap saja dianggap salah. Rasanya seperti hidup di ruang sidang tanpa hakim, hanya penuh jaksa yang menunggu celah untuk menuding.

Kadang aku berpikir, mungkin benar: diam adalah bentuk perlindungan terakhir. Kalau aku tak bersuara, tak ada yang bisa mereka salahkan. Tapi anehnya, bahkan diam pun bisa ditafsirkan macam-macam. Mereka bilang aku dingin, egois, terlalu jauh, terlalu sulit dimengerti. Padahal aku hanya berusaha tidak hancur di depan mereka.

Aku bosan jadi pemeran sampingan di cerita orang lain. Bosan jadi “masalah” hanya karena aku tidak sesuai dengan naskah yang mereka tulis untukku. Lucu ya, bahkan keberadaanku bisa jadi plot twist yang tidak mereka sukai.

Malam ini, sebelum tidur, aku sempat menulis satu kalimat di catatan kecil:

“Semoga aku hilang dalam tidurku.”

Bukan karena aku benar-benar ingin mati, tapi karena lelah terus terbangun hanya untuk mengulang hal yang sama: rutinitas yang kosong, rumah yang dingin, dan suara-suara yang tak pernah mau mendengar.

Kalau besok aku masih ada, mungkin aku akan tetap jadi tokoh antagonis itu. Tapi kalau tidak, ya sudahlah. Siapa peduli? Mereka toh sudah terbiasa menyalahkanku untuk semua hal.

Minggu, 27 Oktober 2024 0 comments

aku dan keruwetan kepalaku.

Bukan kamu orang pertama yang mengomentariku seperti itu. Telingaku sudah biasa menerimanya. Mulutku juga hanya bisa terkatup. Aku memilih untuk tidak melawan karena memang begitu adanya.

Ruwet.

Aku terbiasa terlihat baik-baik saja, gampang mengumbar senyum, tertawa tiap guyon receh yang orang lontarkan. Pokoknya aku bisa bersikap asyik ke semua orang. Aku seorang pendengar yang baik. Apa saja masalahmu mau dari percintaan, orang tua, perekonomian, sampai politik aku siap mendengar. Setiap kali kamu menelepon, aku akan angkat sekalipun aku berada di tengah badai. Kalaupun aku terlewat, aku akan segera meneleponmu balik atau mengirim pesan agar kamu tak kepikiran.

Tapi, mungkin cerita tentangku akan sangat sedikit. Semua yang berenang di kepalaku terlalu sulit untuk kuterjemahkan. Setiap kata yang mau kuucap seakan percuma. Aku tak pernah melihat kalian antusias mendengarkan ceritaku. Entah karena lidahku yang belibet atau memang ceritaku tak sebanding dengan milikmu. Kadang aku juga merasa telinga kalian tak benar-benar ada untuk ceritaku. Potongan kejadian atau lelucon yang kalian anggap lucu kalian lempar begitu intro ceritaku mulai kuputar.

Aku selalu merasa aku tak sepenting itu untuk bercerita atau diceritakan. Aku merasa kalaupun aku tak ada juga bukan masalah yang besar. Aku sering mensimulasikannya. Beberapa kali mencoba menghilang tanpa kabar. Sehari, dua hari. Tak ada juga notifikasi. Sepertinya selalu harus aku yang memulai. Pesan dariku yang menurutmu mungkin tak penting membuatku kepikiran mengapa tak segera kamu balas. Kadang aku memastikannya berulang apa aku sudah membalas pesan dari kalian. Apa aku lupa memencet tombol kirim sehingga tak ada pesan lagi dari kalian.

Tapi begitu kalian punya cerita baru, apapun yang sedang aku pikirkan langsung menghilang. Apapun yang kalian ucapkan seperti titah untukku. Lelah tak pernah ada untuk kalian, selalu ada ruang untuk hatiku yang sebenarnya sudah sangat sesak jika itu tentang kalian. Tidak ada kata tidak untuk semua permintaan kalian. Apa aku harus selalu seperti itu untuk mendapat tempat di hati orang lain?

Apa memang benar tak akan ada yang kehilangan jika memang belum benar-benar hilang atau memang aku tak sepenting itu?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar. Sampai akhirnya aku punya kesempatan untuk pergi. Lantas, apa aku akan benar-benar dilupakan begitu saja? Apalagi aku tak pernah ada cerita sama sekali. Jadi apa yang bisa diingat tentangku?

Aku tak pernah berharap orang akan memperlakukanku dengan baik walau aku berbuat baik. Aku justru akan heran jika ada yang memperhatikan. Apa yang sebenarnya mereka inginkan? Memang aku ada manfaatnya untuk mereka?

Selasa, 08 Oktober 2024 0 comments

aku tolol, ya.

Ga tau lagi kenapa kepalaku penuh dengan kamu. Padahal setelah pertemuan sebelumnya aku sudah berjanji untuk tidak memikirkanmu dan menghilang. Tapi kamu menghancurkan seenaknya. Semua hal yang kulakukan kemarin seolah percuma. Kamu tahu aku. Mulutku selalu sulit untuk menolak ajakanmu apalagi kalau sudah ada namamu di notifikasiku.

Beberapa hari ini aku menunggu notifikasi darimu lagi. Aku tolol, ya. Aku juga ga tau kenapa aku melakukannya. Semua terjadi begitu saja.

Aku tahu diri. Aku sadar posisi. Tapi kalau memang kamu yang aku suka, aku bisa apa?

Iya, kamu sudah ada dia. Aku tahu tembok kita juga terlalu tinggi. Semua tak mungkin terjadi. Tapi beri aku waktu untuk melepaskan semuanya perlahan.

Semua terlalu cepat, sampai aku tak sempat untuk mencernanya. Di pikiranku, aku yang memang tidak pantas untuk menerima kebaikanmu. Aku memang tidak layak untuk mencicipi bahagia dari orang lain. Sampai aku mengira kalau kamu orang yang aku tunggu untuk melepas dahagaku. Sebentar kamu menenangkan namun selepas itu badaiku kembali memporak-porandakan semuanya. Aku yang berantakan mengacaukan semuanya.

Aku yang kacau membuatmu pergi. Terimakasih sudah pernah singgah sebentar biarkan aku yang koyak ini kembali sendiri untuk merapikan semua yang kacau.
 
;