Selasa, 30 April 2024 0 comments

i am maybe small but i have universe inside my head.

Usai menikmati secangkir es kopi, kepalaku seperti ada cahaya lampu di dalamnya. Warna-warninya sampai menyilaukan mata. Semua yang tadinya buntu jadi punya banyak jalan untuk keluar. Seperti tulisan ini yang entah darimana dan bagaimana, aku mudah saja mengetiknya. Sepertinya aku sedang ingin banyak bercerita.

ada pesta di kepalaku setiap larut malam.

Tak ada malam yang bisa aku lewatkan tanpa ritual ini. Banyak pertanyaan yang tiba-tiba berjubal minta jawaban. Aku yang tak pernah siap hanya bisa menghela napas. Mata ini sibuk memandangi layar komputer yang beberapa menit lalu sudah ingin dimatikan sebenarnya.

Malam ini dimulai dari perihal cincin. Malam-malam tanpa ada seseorang yang bisa aku hubungi sama sekali rasanya begitu hampa. Bolak-balik cek notifikasi, tak ada satupun. Di benak juga sudah tak ada tujuan lagi kepada siapa aku bisa bercerita. Padahal story lamaran sudah mulai banyak lagi, undangan sudah mulai berdatangan lagi. Tapi kapan giliranku?

Banyak ketakutan yang menghalangi setiap langkah yang mau aku ambil. Agama, orang tua, kasta, belum lagi weton. Kalau boleh, alu ingin tak menjadi milik siapa-siapa tapi apa aku siap dan bisa hidup sendiri seumur hidup? Paling tidak aku butuh teman bercerita yang sepadan dan mau berperang bersamaku.

Sejauh ini tak ada seseorang yang bisa di-prospek. Sekalinya ada yang cocok, dia sudah ada pasangan. Ada yang kira-kira mendekati sempurna, dia mundur karena beda keyakinan. Ada lagi yang sepertinya kusuka karena dia banyak pengalaman, dia masih belum selesai dengan dirinya sendiri. Lalu?

Saat teman sebangku SMP ku sudah punya tiga anak, aku masih sibuk nge-war tiket konser, sibuk daftar kerja kesana-kemari, dan sibuk menyuapi inner child-ku sendiri. Apa hidup tidak seadil itu? Apa bahagia di nilai dengan seberapa bahagia keluarga kecil yang dia punya sedang aku yang belum menikah dan menyibukan diri dengan diri sendiri dianggap tidak bahagia dan tidak punya pencapaian?

Tahun ini ganti kepala tapi yang ada cuma feel worry lost, unsure about the future. I dont know my wants, needs, goals, and values again. Boro-boro bicara soal pencapaian. Semua seperti tak pernah pantas untuk didapatkan.

Circle yang mulai sempit. Lingkungan kerja yang toxic. Rutinitas yang menghabiskan waktu. Rasanya aku sendiri tak punya waktu untuk "aku".

Aku mulai bingung dengan diriku sendiri. Aku seperti tak tahu "aku" yang sebenarnya. Lapisan topeng ini tak ada habisnya. Apa aku mulai kehilangan aku?

Aku tak bisa mengartikan isi kepalaku sendiri. Aku yang kadang hanya ingin diam, aku yang kadang ingin ada kontribusi, aku yang kadang perlu keramaian, aku yang kadang ingin menghilang, dan aku yang kadang aku sendiri tak habis pikir kenapa bisa menginginkan hal-hal yang tak biasa orang inginkan. Apa aku normal? Apa dewasa memang semembingungkan ini?
Minggu, 28 April 2024 0 comments

lima menit tentangmu.

aku tak tahu apa yang ada di kepalamu. aku berusaha dengan keras mengisi kepalaku sendiri. kita hanya dua orang asing yang tak sengaja bertemu dan kamu tak mungkin bisa melangkah lebih dekat ke arahku. aku bukan siapa-siapa.

tapi apa? setiap aku berpikir tentangmu, notifikasimu muncul. dua kata biasa saja yang membuat perutku terisi kupu-kupu. sudah makan?

sebenarnya kamu menganggapku apa?

sekali dua kali kamu lakukan itu, aku masih kokoh dengan pikiranku. kita bukan siapa-siapa, tak mungkin orang sepertimu menyukaiku.

cerita tentangmu memang banyak ku dengar. seringkali dari mulutmu sendiri malah. aku yang sibuk menahan semuanya hanya bisa menimpali seadanya. aku tahu batasan diriku.

sekarang cerita tentangmu sudah selesai. apa aku ada kesempatan untuk bisa lebih? tapi apa bisa? aku tak pernah sebanding dengan masa lalumu tapi aku tak selamanya aku bisa menahan semuanya.

Minggu, 21 April 2024 0 comments

aku menyukai hal yang rumit.

Hai, kamu!

Apa kabar? Apa sudah ada kabar lain yang kau tunggu? Apa sudah ada hati lain yang mengisi kekosonganmu? Apa sudah ada yang mengingatkanmu untuk hal-hal remeh yang sering kau lupa? Apa sudah ada yang mendengarkan celotehmu? Apa sudah ada yang mengkhawatirkanmu sepanjang hari? Apa sudah ada yang gantikanku?

Kuharap semua itu belum terjadi. Kuharap kamu masih sama seperti yang kukenal. Kuharap kamu merasakan juga apa yang aku rasa. Kuharap kamu baik-baik saja. Harapku terlalu tinggi padamu. Semua ekspektasiku runtuh ketika yang ku harap tak terjadi sama sekali.

Aku masih tak apa-apa. Toh, aku terbiasa melewati semuanya sendirian. Sembuh, sepertinya jauh dari bayanganku. Aku malah tak pernah merasa se-sehat ini. Aku hanya membiasakan hidupku tanpa kehadiranmu dan semua berjalan seperti biasa walau kadang air mata yang menemani.

Mengapa semua tak kuketahui sejak awal saja? Paling tidak, aku bisa menyiapkan hati untuk patah kembali. Ya, aku tetap akan melakukan seperti yang kemarin meski aku sudah tahu karena aku mencintai kamu dan kerumitanmu.

Sesuatu yang sepele terlahir dari kerumitan yang tak perlu.

Tadinya kukira cerita ini akan panjang. Kukira akan ada akhir yang bahagia atau semacamnya. Tapi sejauh aku mencarinya, ia belum bisa kembali. Tadinya yang kukira rumah malah ikut melenyapkannya. Mungkin memang aku yang tak bisa menahan semuanya, aku yang terlalu terburu-buru, dan aku yang tenggelam dalam mimpiku.

Kukira, aku akan bisa paham tentang kerumitanmu ternyata aku terlalu sederhana untuk itu. Aku selalu mencari jalan termudah untukmu yang selalu memikirkan dan melakukan tiap detail yang tak pernah aku bayangkan. Semua yang aku rengkuh terasa tertatih bila kulakukan bersamamu. Semua menjauh dari bayangan.

Melihatmu bahagia dengan orang lain adalah episode terakhir aku mencintaimu.

Melepaskanmu mungkin jadi caraku untuk mencintaimu. Aku tak akan mencarimu. Sebisa mungkin aku akan bersembunyi jika semesta menemukan kita kembali. Sengaja atau tak sengaja aku akan menghilang ketika kita berada di tempat yang sama. Nanti kalau kamu sudah menemukan orang yang kamu cari, titip doa semoga kalian bisa bersama selamanya.

Aku dengan sadar akan pergi jika itu semua terjadi. Aku tahu siapa diriku. Aku dan kamu hanya dua orang asing yang pernah saling menyapa. Kita hanya bisa menjadi diri kita masing-masing yang asing. Nanti kalau aku melihatmu tertawa lepas bersamanya, aku akan ikut merayakan kebahagiaanmu. Kamu orang rumit yang terlalu baik untuk siapapun itu. Semoga kamu menemukan seseorang yang lebih mengerti dan paham tentang kerumitan dirimu.
 
;