Rabu, 12 April 2023 0 comments

perasaanku yang kacau dan bajingan yang baik hati.

Ya, ini masih merupakan tulisanku tentangnya. Teman lama yang sekarang entah apa. Degub jantungku tak bisa berbohong. Ia tak mau diam sepanjang perjalananku menuju Purwakarta. Entah darimana aku berasal, jantung ini tak bisa memelankan iramanya ketika mendekati kota ini. Perasaanku semakin kacau ketika melihat rumah bercat kuning tepat di ujung pertigaan jalan.

Walau beberapa teman terus menghiburku, rasa takut ini terus menyelubungi. Mereka tetap mendengarkanku meski aku tak mau bercerita. Mereka tetap peduli meski aku tak meminta. Dan mereka tetap selalu ada meski aku selalu menghindar.

Dari balik ketakutanku, aku menjadi tahu siapa yang benar-benar peduli dan tidak. Siapa saja yang mencari kebenaran bukan pembenaran. Dari diamku tersirat seribu bahasa.

Ternyata beberapa orang memperhatikan dari jauh. Telinga mereka jauh lebih tajam. Setiap percik air yang menetes, mereka lebih peka. Semua yang tak aku sangka justru aku ketahui dari suara-suara tanpa tahu sumbernya.

Mereka memang bukan ibu peri. Mereka punya masing-masing badainya di kepala. Beberapa dari mereka lebih bajingan dariku tapi paling tidak mereka masih mau menemaniku di tempat yang gelap, mau mendekapku sejenak hingga aku bisa sedikit tenang.

Aku yang tak bisa meminta tolong lagi hanya diam tak bersuara. Namun entah darimana tangan mereka datang. Ia, bajingan yang baik itu punya cara sendiri untuk melindungiku sampai aku sering tak sadar kalau tangan kotornya yang menghadang pisau mengejar setiap langkahku.

Jujur aku semakin tak mengerti. Perkara ini seperti benang kusut yang sudah tak bisa digunakan lagi. Bahkan untuk menemukan kedua ujungnya saja, sulit. Masalah yang awalnya sepele dan kupikir akan menguap begitu saja nyatanya tetap terus membara. Sesekali setetes air turun dan memadamkannya tapi akan berkobar ketika gesekan terjadi.

Ego yang tak bisa dibendung melawan perasaan yang patut diperjuangkan.

Aku tak mencari siapa yang benar. Aku tak butuh validasi akan itu. Kalau aku butuh, dari awal aku tak akan bungkam. Nyatanya aku tetap bungkam meski kadang rasanya sudah tak tahu lagi dengan apa aku menyumpal mulutku. Sering aku tak tahan untuk tak berteriak ketika dia merasa makhluk Tuhan yang paling tersakiti.

Diam yang kuperjuangkan malah dianggap angin lalu yang tidak akan merebahkan bulu. Semesta berjalan seperti biasa dan waktu terus berputar sebagaimana mestinya. Ia terus mencari panggung untuk menjadi yang paling bersinar di tengah gemuruh yang ia ciptakan.


Jumat, 24 Maret 2023 0 comments

patah sebelum sempat tumbuh.

Ini menjadi kesalahanku yang kesekian kali dan aku yang bodoh tak punya niat untuk mengakhirnya segera. Berulang kali aku menolak rasa ini. Meneriakannya keras-keras kalau aku tidak sedang jatuh hati. Dia hanya seorang teman yang memang peduli dengan siapapun, bukan hanya aku. Kuulang terus kata “bukan hanya aku” ribuan kali di kepalaku.

Dia memang orang yang ramah, mudah dekat dengan siapapun. Orang yang selalu ada bila ada yang kesusahan bahkan mau menjadi tameng bila diperlukan. Memang, kehidupan tak selamanya terang. Ada beberapa ritual yang tak seharusnya dia lakukan malah menjadi rutinitas dan yang seharusnya dia lakukan malah dia abaikan.

Tapi, terlalu banyak tapi yang menganjal di hatiku. Dia orang yang selama ini aku cari. Pemikiran sederhananya dan setiap gerak-geriknya selalu menarikku untuk lebih bisa dekat dengannya. Seperti beberapa hari ini, suasana yang membuatku agak ngeri bisa dibuatnya lebih hangat hanya karena kehadirannya. Tak banyak bualan, ia lebih menunjukan sikap. Tak melulu menjadi dewasa, ia juga tak malu menunjukan sisi lainnya.

Berkali aku meyakinkan diri, berulang aku menyakiti hati.

Membenamkan wajahku ke dasar kolam tak membuat aku sadar kalau dia bukan milikku. Rasa kagum yang terus tumbuh ini jatuh ke orang yang salah. Kepalaku yang bebal sulit sekali untuk diberitahu. Telingaku sudah seperti orang tuli. Semakin rasa ini tumbuh, malah semakin besar rasa bersalah yang ikut terpupuk.

Hati ini sudah patah sebelum bisa tumbuh. Hati ini kembali jatuh ke hati yang salah. Dia sudah punya hati lain yang dijaga dan aku hanya salah satu orang yang berada di kerumunan.
Selasa, 14 Maret 2023 0 comments

aku meninggalkan perasaanku ketika berangkat ke kantor.

Tagihan menghajarku tak kenal ampun. Belum sempat aku menghindarinya, datang pekerjaan lain yang ikut menyiksaku. Hah. Semua itu belum cukup. Pundakku masih terasa ringan, hingga semesta menambahnya dengan nyanyian sumbang orang lapangan yang dipadukan apik dengan musik ala kadarnya dari vendor dan jangan lupa, semuanya dipimpin oleh pemimpin orkestra, bos divisi lain yang kerjaannya menganggu kehidupan orang. 

Bagaimana aku pulang sudah aku pikirkan sejak keluar gerbang rumah. Sepanjang perjalanan ke kantor, kuputar ulang kumpulan perjalanan pulang yang setidaknya melegakan dada. Ketika aku membuka mata, bukan chat dari mas pacar yang kutemui melainkan mandor yang meminta hak mereka dipenuhi. Semuanya terus terulang tanpa tahu ujung ceritanya.

Kujejalkan headset ke lubang telingaku untuk meredam gemuruh petir di kepala dan menangkal berisik dunia tipu-tipu. Namun paduan suara sumbang luput juga. Lidah beracun tetap melecut hati.

Tembok memulai aksinya. Skenario yang awalnya entah dari siapa menjadi sajian hangat untuk siapa saja. Sepiring nasi tanpa lauk berubah menjadi ketoprak kadang berubah wujud menjadi gado-gado. Semua di racik sempurna seperti hidangan di acara Master Chef. Koki yang meraciknya juga alumni Le Cordon Bleu jadi harusnya tak heran kalau apa saja yang ada akan disulap sesuka hati mereka.

Usai jam kerja berakhir, langkahku mulai ringan. Perjalanan menuju mess menjadi hiburan yang melegakan hati. "Akhirnya, hari ini selesai juga." Bayang sepedaan dengan santai sudah ada di angan dan semua benar hanya ada di angan. Belom sampai pantat ini duduk di kasur yang posesif, notifikasi kembali berdering. "Minta tolong ya." Setangkup tangan kuterima dengan tidak lapang dada. Aku kembali gagal mewujudkan work life balance. Belom selesai dengan urusan mengedit, invitation zoom meeting datang. Fix, work life balance semakin jauh.

 
;