Ego yang tak bisa dibendung melawan perasaan yang patut diperjuangkan.
Ini menjadi kesalahanku yang kesekian kali dan aku yang bodoh tak punya niat untuk mengakhirnya segera. Berulang kali aku menolak rasa ini. Meneriakannya keras-keras kalau aku tidak sedang jatuh hati. Dia hanya seorang teman yang memang peduli dengan siapapun, bukan hanya aku. Kuulang terus kata “bukan hanya aku” ribuan kali di kepalaku.
Berkali aku meyakinkan diri, berulang aku menyakiti hati.
Membenamkan wajahku ke dasar kolam tak membuat aku sadar kalau dia bukan milikku. Rasa kagum yang terus tumbuh ini jatuh ke orang yang salah. Kepalaku yang bebal sulit sekali untuk diberitahu. Telingaku sudah seperti orang tuli. Semakin rasa ini tumbuh, malah semakin besar rasa bersalah yang ikut terpupuk.
Tagihan menghajarku tak kenal ampun. Belum sempat aku menghindarinya, datang pekerjaan lain yang ikut menyiksaku. Hah. Semua itu belum cukup. Pundakku masih terasa ringan, hingga semesta menambahnya dengan nyanyian sumbang orang lapangan yang dipadukan apik dengan musik ala kadarnya dari vendor dan jangan lupa, semuanya dipimpin oleh pemimpin orkestra, bos divisi lain yang kerjaannya menganggu kehidupan orang.
Bagaimana aku pulang sudah aku pikirkan sejak keluar gerbang rumah. Sepanjang perjalanan ke kantor, kuputar ulang kumpulan perjalanan pulang yang setidaknya melegakan dada. Ketika aku membuka mata, bukan chat dari mas pacar yang kutemui melainkan mandor yang meminta hak mereka dipenuhi. Semuanya terus terulang tanpa tahu ujung ceritanya.
Kujejalkan headset ke lubang telingaku untuk meredam gemuruh petir di kepala dan menangkal berisik dunia tipu-tipu. Namun paduan suara sumbang luput juga. Lidah beracun tetap melecut hati.
Tembok memulai aksinya. Skenario yang awalnya entah dari siapa menjadi sajian hangat untuk siapa saja. Sepiring nasi tanpa lauk berubah menjadi ketoprak kadang berubah wujud menjadi gado-gado. Semua di racik sempurna seperti hidangan di acara Master Chef. Koki yang meraciknya juga alumni Le Cordon Bleu jadi harusnya tak heran kalau apa saja yang ada akan disulap sesuka hati mereka.
Usai jam kerja berakhir, langkahku mulai ringan. Perjalanan menuju mess menjadi hiburan yang melegakan hati. "Akhirnya, hari ini selesai juga." Bayang sepedaan dengan santai sudah ada di angan dan semua benar hanya ada di angan. Belom sampai pantat ini duduk di kasur yang posesif, notifikasi kembali berdering. "Minta tolong ya." Setangkup tangan kuterima dengan tidak lapang dada. Aku kembali gagal mewujudkan work life balance. Belom selesai dengan urusan mengedit, invitation zoom meeting datang. Fix, work life balance semakin jauh.

- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact