Kamis, 30 Juni 2022 0 comments

sudah jujur saja salah apalagi bohong.

Hari ini gajian kedua setelah kembali ke proyek. Setelah memaksa diri untuk keluar, ternyata Tuhan masih pakai diri ini di proyek. Mau sejauh apa aku menghilang, tarikan ini lebih kuat dari dayaku.

Lucu memang kalau ingat bagaimana aku bisa kembali. Lewat sebuah panggilan yang awalnya kukira telepon biasa. Pertanyaan yang umum untuk basa-basi hingga ajakan untuk bergabung kesini. Tanpa pikir panjang, aku mengiyakan. Lalu, aku sampai di kota ini. 

Aku merasa ini semua memang sudah jalan hidupku. Aku tak ingin ada penolakan lagi sehingga aku tak bisa fokus dengan tujuan utamaku. Apalagi kalau bukan gaji bulanan yang semoga bisa menggemukan rekeningku.

Tapi rintangan sebenarnya bukan karena kembalinya aku. Melainkan tawaran lain yang seharusnya bisa ikut menyumbang lemak-lemak dalam rekeningku. Mereka dengan mudah menawarkannya kepadaku bahkan kali ini tanpa ada tedeng aling-aling.

Sebulan disini, aku sudah ditawari tiga kali. Dua kali lewat udara dan yang terakhir baru pagi tadi. Seharusnya aku tak kaget tapi yang membuat mencengangkan kenapa tak ada basa-basi yang mungkin bisa membuatku sedikit terbuai lalu goyah. Toh hanya mereka yang menandatangani pernyataan anti penyuapan. Aku? Pekerja harian yang sewaktu-waktu bisa berlalu begitu saja. 

Seperti pada umumnya lemak yang mudah hancur, seperti itulah mereka. Aku merasa mereka hanya akan sekejap di rekening. Kalau mereka menguap tak mengajak daging-dagingku tak mengapa. Kalau mereka mengajak semuanya, aku punya apa?

Dari awal aku sudah memasang acuh kepada semua orang. Aku tak ingin banyak omong agar aku tak mendapat informasi yang tak ingin kudengar. Kembali heran, aku malah mendapat apa yang tak ingin kudengar. Sampai sekarang, aku berhasil menelan semuanya. Semoga aku mampu tanpa memuntahkannya sedikitpun. Tapi aku tak yakin, kali ini apa aku sanggup sampai akhir? 

Pindah ke tempat yang lebih gelap dengan mulut-mulut yang lebih kejam sedikit banyak membuatku semakin ingin jadi tuli saja. Kerasnya lagu .feast bervolume maksimal headsetku tak membuatku tak mendengar suara-suara jahat. Telingaku masih terlalu peka mendengarkan mereka. Bahkan sekarang aku mulai bisa mendengar bisikan halus dari decit kursi yang menghantarkan informasi busuk.

Jujur aku salah apalagi berbohong. Dalam kotak ini aku tak melihat warna hitam atau putih. Semua sama, abu-abu. Tak ada yang bisa dibenarkan dan dipersalahkan. Sama seperti yang pernah aku bilang, semua orang benar menurut sudut pandang mereka masing-masing. Tapi apa tingkah laku mereka dibenarkan oleh penguasa semesta? 
Selasa, 31 Mei 2022 0 comments

belum tahu dan belum pernah tahu.

Hari ini hidupku terasa penuh. Banyak hal baik yang ternyata datang kepadaku tanpa disadari. Hal yang tadinya kukira kutukan ternyata dirasakan juga oleh beberapa kawan. Hal yang kusangka keberuntungan ternyata lebih dari itu. Hal yang kupikir karma buruk ternyata lebih baik dari semua yang pernah kuterima. Sampai aku merasa logikaku tak cukup untuk mencerna semuanya.

Hari ini aku tertawa karena bisa membelikan makanan kesukaan bapak. Aku juga bisa mengirim sejumlah uang untuk ibuk karena tak pernah ada yang ia mi ta kepadaku dan aku berharap dengan sedikit uang itu ia bisa membeli sendiri beberapa barang atau makanan yang ia sukai. Meski malam harinya aku menangis karena mengingat obrolan mendalamku dengan kawan lama yang kembali bersama setelah hampir tujuh tahun berpisah.

Kami banyak bercerita tentang keluarga kami yang ternyata punya banyak kemiripan. Dua keluarga yang punya empat anak, sepasang bapak yang memiliki kesibukan di kota lain, dan sepasang ibuk yang selalu ada untuk anak-anaknya. Awalnya, kami banyak menertawakan kutukan yang kami kira spesial untuk kita sendiri saja. Nyatanya, haltersebut juga tak asing untuk banyak orang. 

Katanya, jam enam sore punya kekuatan untuk membuat orang bersedih. Karena dulu ketika masih kecil, jam enam sore, kebanyakan semua orang sudah berkumpul bersama keluarganya masing-masing. Entah baru pulang kerja, mengerjakan pekerjaan rumah bersama, makan malam bersama, atau sholat berjamaah. Lalu ketika semua anak sudah tumbuh dewasa yang tersisa hanyalah ingatan. Kursi yang melingkari meja makan kosong, deretan buku usang yang tak pernah dijamah, atau tak ada saf di belakang imam menjadi pemandangan lumrah.

Aku langsung paham apa maksud kawanku itu. Takhanya rumahnya yang penuh kenangan, rumahku juga dan sekarang banyak sudut rumah yang sepi. Rumahtak seperti dulu yang selalu ramai, penuh dengan keempat anak yang selalu rebutan remote tv.

Lalu kawanku bertanya, pertanyaan yang sering terlintas di kepalaku sendiri namun dengan sekuat tenaga dan jiwa selalu aku hindari. 

"Pernah membayangkan gimana kamu kalau kehilangan salah satu dari mereka?"

Aku menghela napas panjang, pikiranku mengambang. 

"Aku egois. Aku sering berdoa kepada Tuhan, biar aku yang pergi duluan. Aku nggak mau kehilangan."

"Kamu nggak punya empati. Kamu nggak mikirin perasaan mereka?"

"Aku tahu. Mereka pasti sedih, berpikiran kenapa nggak mereka duluan karena mereka yang lebih tua. Tapi aku juga punya alasan."

"Apa? Alasan apa yang bisa membuat orang tua rela melepas anaknya?"

"Karena aku belum tahu dan belum pernah tahu rasanya hidup tanpa mereka."

Kami berdua terdiam, sampai tanpa kami sadari air mata meleleh. Tak ada lagi kata yang bisa kami ucapkan. Diskusi yang dibuka dengan tawa malah diakhiri dengan tangis karena bayangan ketakutan yang entah kapan akan terjadi. 

Senin, 11 April 2022 0 comments

bermimpilah ketika sudah tertidur.

Beberapa hal tentang bodohnya diri ini baru aku sadari. Semua terpancing keluar dari sumur luka yang ternyata aku gali sendiri. Pelan namun aku konsisten melakukannya sehingga sekarang alat ukur yang aku punya sudah tak sanggup untuk memeriksanya. Sekian lama aku menekuninya sehingga kini aku semakin mahir untuk membuat luka di hatiku sendiri.

Hal itu juga membuktikan kalau tangga yang aku bangun ternyata tak membawaku keatas melainkan semakin menenggelamkanku ke angan yang abu-abu dan dipenuhi kabut. Selama ini aku terlalu sibuk menyuapi egoku, menyalurkan hobiku untuk menyangkal segala realita yang ada di depan mata, serta terlalu sering memupuk harapan palsu orang-orang sok tahu di sekitarku. Semua yang dulu aku lakukan tak berbuah apapun dan sekarang tersisa sesak dan sesal.
Langkah kaki yang terlanjur jauh terasa sia-sia ketika dipaksa kembali ke titik awal. Keringat kering ini belum menerima upahnya. Semua yang dikorbankan telah selesai perjuangannya. Aku lupa seharusnya mataku terpejam ketika bermimpi. Tak bisa aku menggapainya hanya dengan mengawang-awang hal yang sepertinya indah.

Ya, aku memang bodoh dan baru sadar sambil mengetik narasi ini. Seharusnya aku bermimpi ketika tertidur karena hanya saat itulah aku dapat merasakan bahagiaku.


 
;