Selasa, 18 Mei 2021 0 comments

yuk, bisa yuk!

Lets start our new journey.

Kita restart dari awal. Nggak ada kata terlambat kok. Justru harusnya malu kalo kita nggak mulai lagi. Malu kalau sudah umur segini nggak mau belajar.

Dunia bodo amat sama perasaan kamu. Dunia nggak peduli kamu lagi sedih, seneng, rapuh, atau cemas. Mereka nggak mau tahu dan mereka nggak perlu tahu.

Cukup simpan rapat, istirahat, dan besok belajar lebih kuat lagi.

Jangan ulang kesalahan yang sama. Stop menggantungkan kebahagiaan kamu ke orang lain. Toh, nantinya kamu bakal kehilangan lagi. Entah besok, lusa, atau nggak tahu kapan. Tinggal tunggu waktunya aja.

Kita berjuang dari awal lagi ya. Kalo di dunia ini nggak ada yang bisa ngertiin kamu, kamu masih punya kamu sendiri. Hibur diri kamu. Semangatin lagi. Kita jalan lagi. Kita ulang lagi pokoknya. Kamu itu nggak sampai disini aja kapasitasnya. Buktiin ke diri kamu kalau kamu bisa. Nggak usah dengerin orang lain. Kamu nggak perlu validasi mereka.

Ayok, kamu bisa. Rehat sebentar lagi aja ya. Habis itu kita lari lagi. Kita kejar mimpi kita yang udah lama kita lupain. Yuk, bisa yuk!

Minggu, 14 Maret 2021 0 comments

lihat saja nanti.


Lihat saja nanti, kalimat yang sampai detik ini masih terngiang baik intonasi maupun ekspresi dari seseorang yang melontarkannya kepadaku secara langsung seperti baru terjadi kemarin. Itu juga yang melecut semangatku untuk terus menjadi yang lebih baik sampai hari ini seolah hidup hanya untuk pembuktian. Sampai dititik dimana aku merasa belum bisa memenuhi itu semua, aku baru tahu kalau semua harus dikolaborasikan kebahagiaan yang kita inginkan versi kita sendiri.

bagian 1. aku, si-biasa saja.

Aku kembali dikepung tembok cemas malam ini. Entah sudah berapa ratus domba yang melompat tapi kepala masih enggan diajak rehat. Padahal besok schedule padat yang pasti akan membuat mulut mengumpat.

"Lihat saja nanti!" kalimat yang seolah baru saja terjadi hingga ekspresi dan intonasi orang tersebut masih membekas. Dia memang bukan siapa-siapa buatku, tak ada kontribusi dalam proses dewasaku yang ternyata melelahkan ini tapi lewat ucapannya hari itu, sedikit banyak memberi motivasi untukku agar menjadi yang lebih baik daripada dirinya.

Kepalaku seakan diseret masuk kedasar pensieve. Ingatan masa lalu yang selama ini beku, mengantarkan aku sampai disini. Titik dimana aku baru sadar kalau hidupku ini cuma berisi pembuktian diri.

Aku masih bocah kala itu. Hidup santai, penuh haha-hihi, kepala belum ada isi, pokoknya yang nomor satu urusan duniawi. Sampai tibalah penyihir itu menceritakan semua anaknya yang bisa sukses dengan jalannya sendiri sedangkan aku, si-biasa-saja ini belum tahu bagaimana nasibnya besok sampai terucaplah mantra tersebut.

Setelah bertahun, si-biasa-saja mulai sadar. Mantra itu bukan sekedar kata-kata biasa. Kalimat itu pertanda kalau si-biasa-saja cuma secuil dari rakyat jelata yang masa depannya tidak ada apa-apa.

Komparasi yang tak seimbang terngiang di kepala dan si-biasa-saja tumbuh di dalamnya. Takdir tertulis kalau si-biasa-saja tidak menjadi apa-apa. Bukannya merendah tapi memang tidak ada yang bisa ditinggikan.

Kegelapan mulai menyelimuti. Dunia haha-hihi kini berubah sunyi. Hanya pertanyaan dari kepala yang menemani. Apa sekarang aku sudah sampai di "nanti"? Apa itu kutukan dari mantra ini? Kutukan itu menyiksa perlahan dan tak termaafkan. Dimulai dari jiwa dan kalau terabaikan akan menjalar hingga kemana-mana.

Semua orang memajang kesuksesan versinya masing-masing. Sedangkan aku, si-biasa-saja, hanya bisa memandangi dan mengagumi milik yang lainnya saja. Aku tak tahu apa yang sebenarnya mereka alami tapi yang pasti mereka semua kini sukses dengan jalan ceritanya masing-masing.

Malam kembali datang, mataku enggan terpejam meski ragaku merindukan kedamaian. Semua kenikmatan yang orang lain rasakan tumpah ke kepalaku dan membanjirinya. Satu persatu pertanyaan muncul sampai aku kewalahan menjawabnya.

Banyak kenapa bertebaran di kepala. Banyak tanya yang tak menemukan jawab. Banyak koma yang enggan bertemu titik. Banyak harap yang ingkar.

Mari kembali kuperkenalkan, aku, si-biasa-saja.

bagian 2. semua hanyalah komedi.

Hidup merupakan sebuah perjalanan panjang untuk mengenal semesta, Pencipta, dan kita. Lucunya, bagian paling rumit untuk dikenal adalah kita. Bagaimana tidak, kita bisa dengan mudah berkenalan dengan semesta lewat sains, Pencipta lewat agama, namun bagaimana kita bisa tidak kenal dengan diri kita? Padahal dalam kondisi apapun selama kehidupan, kita tetap bersama kita, tak pernah berpisah barang se-senti.

Terus jawabannya apa?

Jawabannya tak perlu sampai pergi ke ujung langit dengan seorang anak yang tampan dan pemberani. Semua sudah ada serta tak jauh dari pertanyaannya. Ya, ada di dalam diri kita sendiri dan hanya kita sendiri yang dapat menjawabnya.

Waktu?

Ia hanya akan terus bergerak, mengamati seberapa kuat kita bertahan, dan menertawakan ketika kita menyerah.

Kok lucu. Ya begitulah hidup yang kalau diibaratkan buku, halamannya tak terhingga, tebalnya jangan ditanya, belum selesai satu halaman sudah nambah tiga halaman.



Minggu, 07 Maret 2021 0 comments

sebuah pengingat kalau semisal besok aku lupa.

Kembali aku menuliskan catatan. Bukan untuk orang lain, melainkan untuk pengingatku sendiri agar nanti ketika aku menjadi besar dan lupa cara menjadi manusia, aku tak memerlukan orang lain untuk menampar pipi-ku. Melainkan aku sendiri dengan catatan ini.

sehebat-hebatnya manusia, besok hanya jadi cerita.

Munafik, kalau seorang manusia biasa mengatakan kalau ia tak ingin menjadi besar. Entah seberapa ukuran 'besar' yang ia harap tapi di dalam hati kecilnya pasti pernah ada keinginan itu. Tak ada standar untuk 'besar' yang diinginkan manusia. Bisa saja 'besar' yang telah aku raih nanti, bukan menjadi ukuran 'besar' yang kamu ingin.

Beberapa minggu ini, aku masih ter-heran dengan sikap dan karakter manusia yang ada disekitar ku. Tak tahu apa aku yang terlalu sensitif dan ba-per, tapi rasanya semakin kesini, semakin unik karakter manusia yang aku jumpai. Aku akui kalau mereka hebat. Mereka manusia yang bisa membuat orang luar ter-heran. Tapi, sehebat-hebatnya manusia, suatu saat hanya akan jadi cerita. Namun kamu mau cerita yang mana dulu? Cerita besar yang penuh ayal dan bualan atau cerita biasa saja yang akan meninggalkan decak kagum buat pembaca nya?

Latar belakang mereka sama, uang. Bahan bakar mereka bisa hidup, kalau udara bisa mereka ganti mungkin akan mereka lakukan. Apa yang mereka lakukan didasari dengannya. Apa yang mereka lakukan harus mendapatkannya.

Pertanyaan-ku, untuk apa? Untuk apa mereka mengumpulkan pundi-pundi sebanyak itu? Eksistensi? Validasi diri?

Semua dinilai dari nominal. Tak ada harga yang tak bisa dibayar. Liburan? Uang. Ketenangan? Uang. Kebahagiaan? Uang. Semua bisa dibeli, asal ada uang.

Tapi benarkah semua bisa dengan uang? Sesuatu yang bisa dinominalkan justru tak benar-benar bernilai. Be realistic. Mana mungkin bisa bahagia kalau nggak punya uang? Ya. Terus, kamu baru bisa bahagia kalau sudah punya uang. Kapan? Punya uang yang kamu maksud itu berapa? Sejuta? Sepuluh juta? Seratus juta? Atau secukupnya? Secukupnya bukan angka yang pasti kan? Kalau dinominalkan, nggak bisa.

Punya keyakinan kalau uang nggak bisa beli segalanya, nggak berarti aku nggak ngapa-ngapain juga. Tetap kerja cari uang bukan buat bahagia tapi buat kebutuhan hidup. Biar hidup lebih tenang, walau itu masih angan-angan saja sejauh ini. Penggalan lirik lagu Jam Makan Siang juga jadi bukti, kan. Kita mati butuh uang. Entah mau caranya dikubur atau dikremasi, semua butuh uang. Paling tidak, nanti kalau mati nggak nyusahin yang masih hidup.

Rata-rata, manusia yang begitu juga punya seribu wajah. Baik di depan, sampai belakang menghujat. Jilat sana-sini, demi posisi dan keuntungan sendiri yang ujung-ujungnya balik lagi ke uang. Hampir setiap hari mengutuk mereka-mereka yang seperti itu. Belagak paling sibuk padahal sok sibuk. Mengutuk mereka seumur hidup tak akan menjadikan hidup sesuai yang kita harapkan, yang ada capek badan dan mental. Mulut mereka manis luar biasa tapi hatinya lebih luar biasa lagi.
Solusinya?

mengutuk mereka seumur hidup tak akan menjadikan hidup lebih baik.

Kerja ikhlas nggak bikin miskin. Mental apa-apa mesti cuan harus dikurang-kurangi. Tapi ya tahu diri, jangan mentang-mentang begitu, pas temen jualan malah di nego. Apa yang mau dilakukan, pikir lagi. Mau nggak kalau kamu digituin. Coba cari sudut pandang lain, jangan mempersempit pandangan sendiri. Temukan cara hidup kita sendiri agar lepas dari rasa sakit!

Aku selalu berdoa buat orang-orang yang hidupnya 'begitu'. Semoga mereka lekas menemukan uang yang mereka dewakan itu sesuai yang mereka ingin, kalau bisa lebih biar mereka lekas sadar kalau punya uang banyak bukan jaminan mereka akan bahagia, bakal tenang. Semoga besok mereka kita bisa lebih baik lagi jadi manusia.

 
;