Aku terlahir dari sekumpulan perasaan yang tak terucapkan sedang kamu di antara caci maki dunia yang berisik. Aku terbiasa diam, memendam semua yang aku rasa dan menjalani semua seolah tak terjadi apa-apa. Sedang kamu terbiasa berteriak meletuskan amarah, tanpa malu menangis dan semua yang ada meluap begitu saja. Jalanku tenang walau sesekali kerikil menghalangi namun yang kamu lalui tak tentu arah. Kadang badai atau ombak tinggi menghadang. Aku dan kamu berbeda.
Aku sering salah menaruh hati kepada seseorang namun kali ini yang paling salah. Aku tahu kamu sudah ada yang memiliki walau belum ada cincin yang mengikat. Aku tahu jarak kita terlalu jauh. Aku tahu jurang pemisah tak mungkin dihancurkan. Ceritamu terlalu rumit untuk aku yang tak ingin sulit.
Aku dan kamu tak akan pernah menjadi kita. Aku tahu benar dimana kakiku berpijak. Aku yang bodoh kembali rela menjalani jalan yang salah. Walau rasa ini tak mungkin berhenti secepat aku menaruh hatiku ke dirimu, ijinkan aku menjalani sakitku sendiri. Tolong berikan aku waktu untuk menyembuhkan hatiku. Terimakasih telah datang di hidupku yang abu-abu ini.
Selamat datang di krisis seperempat abad. Imajinasi pada kesucian dunia akan berubah total karena jadi dewasa itu tak enak. Tak hanya raga yang berontak, pikiran diperkosa paksa peradaban, serta jiwa harus bertahan dijajah kebutuhan. Problematika hidup semakin bertambah. Dulu berharap jadi besar mudah, sekarang sudah tak relevan. Perlahan ilusi fatamorgana disingkap realita.
Jaya, tak pernah mengira semesta menjerat langkahnya hingga kemari. Jatuh jauh dari halusinasi, ia terjebak dalam rutinitas. Bangun pagi gosok gigi, pakai dasi meeting lagi, makan siang—sore dihantam kopi, malam hari masih lembur, dini hari baru kembali. Ia jadi buronan deadline, ditambah harus sembunyi dari follow up setiap masalah proyek yang menghancurkan schedule yang berdarah-darah ia susun.
Kurang tidur sudah jadi persekutuannya. Sibuk mabar sampai lupa kirim kabar sudah wajar. Pacar? Masih jadi rahasia Sang Maha Benar. Sudah ada lonceng notifikasi yang jadi pusat tata suryanya. Kawan tak lagi merapat. Seangkatan mulai berumah tangga, beberapa hidup mewah, jadi abdi negara atau pejabat. Entah nasib baik atau naas yang membawa mereka kesana. Kebebasan dirampas, darah mengering, dan badan jadi mayat.
Racun mengalir dalam darah, hati berduri, dusta tersebar, etika terinjak jaman tapi senyum Jaya tetap mengembang. Ia hidup dalam kotak kaca, tinggal dalam panggung pertunjukan. Ramai-ramai kerasukan Joker, katanya. Jual beli surga lewat sosial media hal yang lumrah. Jaya mulai goyah. Rezim mulai menggila. Teori demokrasi, oligarki nyatanya. Jaya terseret ombak. Ia kehilangan pegangannya, terinjak standar, tergilas pergaulan. Jati dirinya musnah, sekilas seragam. Kelakarnya culas. Jaya termanipulasi retorika kehidupan.
Kejutan menampar pipinya hingga tersadar kalau ini bukan yang dicarinya. Sibuk bahagiakan orang lain hingga diri sendiri lupa. Jaya mencari kesempatan putar arah, kembali pulang ke rumah. Agama jadi petanya, tekad jadi kendaraannya. Jaya mengetuk pintu dengan angan yang lama telah dirancang. Ia melangkahkan kakinya di ruang tamu rumah. "Jaya, welcome home." teriak problematika menyambut kedatangannya kembali.
Jaya berjalan sendirian kembali ke liang peristirahatannya. Temaram bohlam kuning membingkai kegelapan. Ia menyisir lorong yang tak lebih lebar dari bahunya. Jemarinya mengusap dinding tanpa finishing yang menghimpit jalanan. Sesekali langkahnya terusik dengan tikus-tikus yang berseliweran mengais sisa makanan diiringi aroma yang menyeruak tajam. "Nasibmu Jay." gerutunya sembari tersenyum kecut.
Jaya muda merangsek maju ke barisan terdepan, membubuhi tralis pagar gedung dewan dengan kata. Ia menolak bungkam. Pemakluman telah merajalela. Rakyat kelaparan di lumbung padinya. Mahasiswa tewas pakai almamater kebanggaan. Berbagi kursi mereka praktekan. Kartel partai tebas leher pribumi soal biasa. Bersekutu dengan retorika demi negara. Jaya geram tak lagi diam.
Cat dinding yang mulai mengelupas, ubin keramik retak, hingga kipas angin berisik minim udara dipunggungi Jaya. Hibernasi dua hari tak menambah antusiasme kembali beraktivitas. Kasur busa tipis, membekap raga Jaya dengan erat. Niatnya pun menciut melongok tanggalan.
Tanggal tua dan seabrek pekerjaan di senin pagi. Rasa malas mulai menginvasi. Bayang ruwet dan macet tak dapat dikompromi. Matikan alarm, bodo amat apel pagi. Tarik selimut maksud hati bobok lagi.
Jiwa berkecamuk saling baku hantam. Kebutuhan duniawi tak bisa diabaikan. Akal sehat dan logika menyadarkan. Sebuah alasan terpaksa melepaskan sandera. Kalkulasi transaksi dan tagihan membuyarkan ketidakberdayaan. Mungkin suatu hari bisa tidur pulas.
Nona manis berambut keriting milik Jaya, paling pandai meluluhkan hati. Ia sapa dengan berhias senyum pagi hari, tak akan dilupa hingga malam nanti. Pinggul molek bergoyang, jemari lentiknya lemah gemulai. Tuturnya santun lakunya sopan. Cantik parasnya membuyarkan lamunan Jaya. Tubuhnya sintal berbalut seragam SMA.
"Tetap bersamaku ya! Kita menua bersama."
Sejuk angin membelai lembut rambut keriting Cea. Kekisi tangannya terisi jemari Jaya yang mendekap erat seolah tak ingin berpisah. Merdu kicau burung dan derit lembut pepohonan bersorai mengiringi kisah kasih mereka. Keduanya berjalan beriringan menikmati hijau lembut syahdunya udara yang segar.
Bermandi sinar matahari, Jaya mengutarakan isi hatinya, "Cea kita putus, ya. Aku nggak sanggup jauh dari kamu."
Kedua remaja itu saling diam. Perlahan Cea melepas genggaman tangan Jaya dan terisak. Lama dalam keheningan, Cea menghapus air mata dari kedua pipinya memakai sapu tangan biru milik Jaya. Dengan terbata, ia berkata, "Apa salahnya kita coba dulu? Menyerah sebelum berperang? Pengecut."
Jaya diambang kegamangan. Galau dengan apa yang tengah ia rasakan. Urusan kantor tak bisa dikesampingkan. Masalah hati masih melompong tanpa tambatan. Karir kawan makin melejit, milik sendiri cuma begini. Weekend-nya sibuk roadshow kota ke kota demi menghadiri pelaminan karib. Tak ada waktu untuk senangkan diri.
Gejolak emosi meledak-ledak dalam sanubari. Berdoa keras-keras tak digubris. Pencipta tak mau beri kisi-kisi konklusi. Apalagi manusia yang tak mau berusaha saling mengerti.
Tak ada pilihan untuk Jaya. Ini akibat memberi makan ego terlalu berlebihan. Rela membahagiakan orang lain tapi menyakiti nurani. Jadi badut yang nampak luar menyenangkan namun hatinya teriris
Minggu lalu ada whatsapp darinya memohon Jaya datang. Dia bilang akan bicara tentang maaf dan masa depan. Jaya mau dengan harap memori bias lalu bisa terulang. Kembali bersama menikmati sepotong senja.
Berhias senyum manisnya dia berucap, "Datang ya Jay ke nikahan aku!"
Detik waktu berhenti. Sanubarinya tercabik. Kelambanannya membuka celah untuk Cea pindah ke lain hati. Pertemuan ini malah membuat luka baru di atas parut yang sudah terobati.
Tangannya bergetar, lidahnya kelu. Sebuah amplop merah jambu yang memaksa mengakhiri rindu. Degub jantung Jaya tak karuan menderu. Tubuhnya tumbang memeluk undangan bertuliskan Cea dan Bayu. Jaya ingin ini hanya mimpi semu.
Ingatan kembali menggoda mesra. Kenangan datang bersama turunnya hujan. Rindu tersaji, nostalgia ke masa indah bersamamu memenuhi kepala. Pandangan pertama yang mampu meluluh lantahkan kalbu.
Sayup tawamu mengiringi terputar ulangnya memori. Sisa cerita yang menyesakan dada. Temali yang dirajut terpaksa putus karena kondisi. Mantan, maafkan Jaya yang takut terbentur jarak.
Merah pipi Jaya akibat tangan Asih yang mendarat sempurna di atasnya belum menyadarkan Jaya. Susah payah, Asih menyulam cerita indah bersama, Jaya siakan. Kedok Jaya mencoba kembali membangun kisah kasih bersama Asih pun terbongkar. Asih hanya pelarian.
Jaya masih saja mengelabui hatinya. Membangun benteng pertahanan agar jiwa tak lagi terluka.
Degub jantung beranjak. Rindu Jaya pada Cea tak ada diskon. Berbatik, Jaya semangat berangkat. Hari ini Jaya kembali bertemu Cea.
Panggung mempertontonkan lagu-lagu syahdu. Meja panjang beraneka makanan dipajang. Amplop merah muda jadi tiket masuk. Deretan orang berbaris hendak bersalaman.
Janur kuning melengkung menghias rumah mungil orang tua Cea. Dekorasi sederhana mempercantik halamannya. Orang-orang tersenyum berpesta. Mempelai menebar senyum menawan.
Jaya bukan orang asing namun suasana terasa asing. Hari ini, hari bahagia Cea bukan Jaya. Batin Jaya menciut. Api di dadanya padam. Kakinya bergetar dalam barisan.
"Selamat Ce! Bay, dia paling suka di elus lehernya. Semoga kalian bahagia."
Duh, senin." Ujar Jaya. Harinya sudah diawali dengan keluh kesah rutinitas pegawai kantoran.
"Macet lagi, desak-desakan di kereta lagi, meeting lagi, diomelin lagi tapi nggak kaya-kaya." Gerutunya sendiri.
Ia mengacak rambut kusutnya dan beranjak dari kasur. Mau tak mau, ia harus kerja demi asap rokok bapaknya tetap mengepul.
Edukasi tak selaras dengan pemikiran Jaya yang masih dangkal. Ketakutan, kekalutan, dan ketaksaan menyelimuti kepalanya. Jaya terambang di dalam arus.
"So I start a revolution from my bed..." senandungnya.
"Harusnya from my head. Gimana mau maju kalo tidur mulu, Jaya!" Pekiknya pada dirinya sendiri sembari menarik selimut, bersiap tidur lagi.
Lepas dari seorang wanita itu sangatlah sulit. Bibir bisa saja berkata mudah. Tapi dalam lubuk sanubari, ia sering mampir tanpa diundang. Ia datang tak kenal waktu. Kadang saat makan siang bahkan tak jarang saat membuang emisi nokturnal.
"Hatiku siaga tiga, butuh segera di evakuasi. Nggak bisa perasaanku melulu di invansi."






























- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact