Jumat, 13 Maret 2020 0 comments

the things i write that he will never read.

Aku terlahir dari sekumpulan perasaan yang tak terucapkan sedang kamu di antara caci maki dunia yang berisik. Aku terbiasa diam, memendam semua yang aku rasa dan menjalani semua seolah tak terjadi apa-apa. Sedang kamu terbiasa berteriak meletuskan amarah, tanpa malu menangis dan semua yang ada meluap begitu saja. Jalanku tenang walau sesekali kerikil menghalangi namun yang kamu lalui tak tentu arah. Kadang badai atau ombak tinggi menghadang. Aku dan kamu berbeda.

Aku sering salah menaruh hati kepada seseorang namun kali ini yang paling salah. Aku tahu kamu sudah ada yang memiliki walau belum ada cincin yang mengikat. Aku tahu jarak kita terlalu jauh. Aku tahu jurang pemisah tak mungkin dihancurkan. Ceritamu terlalu rumit untuk aku yang tak ingin sulit.

Aku dan kamu tak akan pernah menjadi kita. Aku tahu benar dimana kakiku berpijak. Aku yang bodoh kembali rela menjalani jalan yang salah. Walau rasa ini tak mungkin berhenti secepat aku menaruh hatiku ke dirimu, ijinkan aku menjalani sakitku sendiri. Tolong berikan aku waktu untuk menyembuhkan hatiku. Terimakasih telah datang di hidupku yang abu-abu ini.

Senin, 18 November 2019 0 comments

perihal Jaya.

perihal-jaya

Terinspirasi dari calon kantor baru, berharap banyak disana. Semoga awet dan tahan lama. Amin.

Tadinya karya ini buat meramaikan raws festival tapi ditengah jalan, terseok-seok. Akhirnya ya udah. Berisi penggalan cerita perihal spesimen yang diberi nama Jaya dalam menjumpai ketaksaan dunia. Tak hanya mengangkat kegamangan hati, masih ada kisah lain yang mungkin bisa menjadi rhema. Tentang bagaimana ia jungkir balik melunasi tagihan kebutuhan, representasi rezim yang membiarkan kewajaran, ranah keluarga yang mengandung air mata, dan perkara hati yang sejatinya tak ingin di intervensi.

perihal-jaya-welcome-home

Selamat datang di krisis seperempat abad. Imajinasi pada kesucian dunia akan berubah total karena jadi dewasa itu tak enak. Tak hanya raga yang berontak, pikiran diperkosa paksa peradaban, serta jiwa harus bertahan dijajah kebutuhan. Problematika hidup semakin bertambah. Dulu berharap jadi besar mudah, sekarang sudah tak relevan. Perlahan ilusi fatamorgana disingkap realita.

Jaya, tak pernah mengira semesta menjerat langkahnya hingga kemari. Jatuh jauh dari halusinasi, ia terjebak dalam rutinitas. Bangun pagi gosok gigi, pakai dasi meeting lagi, makan siang—sore dihantam kopi, malam hari masih lembur, dini hari baru kembali. Ia jadi buronan deadline, ditambah harus sembunyi dari follow up setiap masalah proyek yang menghancurkan schedule yang berdarah-darah ia susun.

Kurang tidur sudah jadi persekutuannya. Sibuk mabar sampai lupa kirim kabar sudah wajar. Pacar? Masih jadi rahasia Sang Maha Benar. Sudah ada lonceng notifikasi yang jadi pusat tata suryanya. Kawan tak lagi merapat. Seangkatan mulai berumah tangga, beberapa hidup mewah, jadi abdi negara atau pejabat. Entah nasib baik atau naas yang membawa mereka kesana. Kebebasan dirampas, darah mengering, dan badan jadi mayat.

Racun mengalir dalam darah, hati berduri, dusta tersebar, etika terinjak jaman tapi senyum Jaya tetap mengembang. Ia hidup dalam kotak kaca, tinggal dalam panggung pertunjukan. Ramai-ramai kerasukan Joker, katanya. Jual beli surga lewat sosial media hal yang lumrah. Jaya mulai goyah. Rezim mulai menggila. Teori demokrasi, oligarki nyatanya. Jaya terseret ombak. Ia kehilangan pegangannya, terinjak standar, tergilas pergaulan. Jati dirinya musnah, sekilas seragam. Kelakarnya culas. Jaya termanipulasi retorika kehidupan.

Kejutan menampar pipinya hingga tersadar kalau ini bukan yang dicarinya. Sibuk bahagiakan orang lain hingga diri sendiri lupa. Jaya mencari kesempatan putar arah, kembali pulang ke rumah. Agama jadi petanya, tekad jadi kendaraannya. Jaya mengetuk pintu dengan angan yang lama telah dirancang. Ia melangkahkan kakinya di ruang tamu rumah. "Jaya, welcome home." teriak problematika menyambut kedatangannya kembali.

perihal-jaya-ke-liang-peristirahatan

Jaya berjalan sendirian kembali ke liang peristirahatannya. Temaram bohlam kuning membingkai kegelapan. Ia menyisir lorong yang tak lebih lebar dari bahunya. Jemarinya mengusap dinding tanpa finishing yang menghimpit jalanan. Sesekali langkahnya terusik dengan tikus-tikus yang berseliweran mengais sisa makanan diiringi aroma yang menyeruak tajam. "Nasibmu Jay." gerutunya sembari tersenyum kecut.

perihal-jaya-depan-gedung-dewan

Jaya muda merangsek maju ke barisan terdepan, membubuhi tralis pagar gedung dewan dengan kata. Ia menolak bungkam. Pemakluman telah merajalela. Rakyat kelaparan di lumbung padinya. Mahasiswa tewas pakai almamater kebanggaan. Berbagi kursi mereka praktekan. Kartel partai tebas leher pribumi soal biasa. Bersekutu dengan retorika demi negara. Jaya geram tak lagi diam.

perihal-jaya-senin-pagi

Cat dinding yang mulai mengelupas, ubin keramik retak, hingga kipas angin berisik minim udara dipunggungi Jaya. Hibernasi dua hari tak menambah antusiasme kembali beraktivitas. Kasur busa tipis, membekap raga Jaya dengan erat. Niatnya pun menciut melongok tanggalan.

Tanggal tua dan seabrek pekerjaan di senin pagi. Rasa malas mulai menginvasi. Bayang ruwet dan macet tak dapat dikompromi. Matikan alarm, bodo amat apel pagi. Tarik selimut maksud hati bobok lagi.

Jiwa berkecamuk saling baku hantam. Kebutuhan duniawi tak bisa diabaikan. Akal sehat dan logika menyadarkan. Sebuah alasan terpaksa melepaskan sandera. Kalkulasi transaksi dan tagihan membuyarkan ketidakberdayaan. Mungkin suatu hari bisa tidur pulas.

perihal-jaya-putus

Nona manis berambut keriting milik Jaya, paling pandai meluluhkan hati. Ia sapa dengan berhias senyum pagi hari, tak akan dilupa hingga malam nanti. Pinggul molek bergoyang, jemari lentiknya lemah gemulai. Tuturnya santun lakunya sopan. Cantik parasnya membuyarkan lamunan Jaya. Tubuhnya sintal berbalut seragam SMA.

"Tetap bersamaku ya! Kita menua bersama."

perihal-jaya-putus

Sejuk angin membelai lembut rambut keriting Cea. Kekisi tangannya terisi jemari Jaya yang mendekap erat seolah tak ingin berpisah. Merdu kicau burung dan derit lembut pepohonan bersorai mengiringi kisah kasih mereka. Keduanya berjalan beriringan menikmati hijau lembut syahdunya udara yang segar.

Bermandi sinar matahari, Jaya mengutarakan isi hatinya, "Cea kita putus, ya. Aku nggak sanggup jauh dari kamu."

Kedua remaja itu saling diam. Perlahan Cea melepas genggaman tangan Jaya dan terisak. Lama dalam keheningan, Cea menghapus air mata dari kedua pipinya memakai sapu tangan biru milik Jaya. Dengan terbata, ia berkata, "Apa salahnya kita coba dulu? Menyerah sebelum berperang? Pengecut."

perihal-jaya-buyar

Terdengar suara rintih halus menyaru dengan suara kipas. Rasanya melegakan dan sangat nikmat. Itu meronta menyemburkan cairan. Hangat, lengket, dan pekat. Tiap gesekan tak malah meredakan emosinya. Itu meledak-ledak meluapkan semua amarah.

"Tok...tok...tok..." ketuk pintu kayu membuyarkan fokus Jaya. Ia segera menyudahi kegiatannya dan membereskan ceceran tisu.

perihal-jaya-pulang

Lalu lalang kuda besi memenuhi jalan raya, diselingi suara klakson bersahut-sahutan. Berisik bualan manusia tak tentu arah dalam dinginnya ruangan sempit yang membawa mereka menuju satu tujuan. 

Segerombolan orang bergumul mencari pengakuan. Sepasang tua renta beraroma minyak angin berpelukan saling menghangatkan. Keluarga baru mendekap buah hati yang teriakannya memekakan telinga. Sepasang kekasih berkaos senada bertengkar hebat saling menyalahkan. Orang-orang sibuk dengan dunianya.

Duduk di belakang kemudi, pria berkumis tebal dengan handuk kecil di bahunya. Sambil berdiri, dua orang seniman mengdendangkan bait demi bait tembang campur sari dengan fasih. Seorang yang memakai topi memijit gendang dan seorang lagi memetik gitar. Keduanya beraktrasi meramaikan ruangan. Beberapa penumpang juga ikut tenggelam dengannya.

Jaya termenung di sudut belakang ruangan. Kepalanya bersandar pada jendela kaca yang latarnya mulai gelap. Sambil mendengar kicauan orang-orang, Jaya memejamkan mata. Gemericik uang receh membangunkan lelapnya. Jaya memberikan beberapa lembar uang yang telah ia siapkan di saku kemejanya. Kini ia terjaga.

Berada seroda bersama, Jaya berbagi udara. Rintik gerimis hujan menambah syahdu perjalanan yang masih panjang. Entah apa yang dipandanginya dari balik jendela. Di luar hujan turun mulai deras. Pikirannya melayang-layang ke tempat yang kini jadi tujuan. 

Pulang, yang dulu adalah hal yang paling ditunggu-tunggu namun kini jadi perjalanan yang menyakitkan bagi Jaya. Sebelumnya, Lelah di perantauan rumah jadi tempat melupakan kesibukan. Tempat melepas rindu pada yang tersayang. Kini Jaya tak tahu lagi, apa arti kata tersebut.

Memutar lagu sendu jadi satu-satunya pilihan hiburan Jaya. Paling tidak untuk mematikan kebisuan yang mendera di tengah keramaian yang tak dapat melebur sejiwa dengannya. Lagu rindu yang ia gumamkan malah menjadi bumerang. Bulir air mata menetes membanjiri pipinya.

Hati Jaya remuk seremuk-remuknya. Emosinya tak dapat ia bendung, semua menguar begitu saja. Ruangan yang gaduh malah jadi tempat ia mengaduh. Riuh berisik melahirkan sepi yang lama membelenggu.

perihal-jaya-kapten-kesayangan

Kotak hitam ajaib mulai menyala. Jaya duduk sendirian bersila di atas karpet coklat usang dengan antusias. Matanya tak berkedip melihat aksi kapten kesayangannya yang telah ia nantikan. Ketika pemain bernomor punggung sepuluh mencetak goal dengan tendangan halilintar andalannya, Jaya berteriak dengan kencang. Ia ikut heboh mengumandangkan nama kapten tersebut, Tsubasa.

perihal-jaya-menuruti-siapa

Lewat media, Jaya menonton ruangan beratap hijau megah yang dipenuhi berbagai wahana. Bocah gendut berkemeja merah menarik blus ibunya, merengek ingin naik bianglala. Anak yang berkaos biru ingin mencoba istana boneka. Sang ibu kebingungan menuruti siapa.

"Bukannya mereka harus menuruti ibunya?" Jaya tersadar, "Sudah bukan jamannya yang diwakili yang dituruti."

perihal-jaya-maaf-terakhir

Ponsel berdering, kabar duka datang dari kampung halaman. Kepergian yang mendadak, membikin Jaya tersedak. Waktu yang terlewat menjadi penyesalan terbesar Jaya. Kesempatan yang berdatangan berulang terasa sia-sia yang berujung pada penyesalan.

Kepulangannya semalam jadi prolog dalam potongan hidup Jaya. Materi pembelajaran baru untuk melepas seseorang yang telah pergi selamanya. Meski ini bukan kali pertama ia kehilangan, namun tetap saja rasanya jauh berbeda. Inti jiwanya berteriak kencang, menolak.

Jaya tak berhenti menangis di depan ibunya yang sudah membujur kaku. Hingga tanah menutup seluruh raganya, Jaya masih tak mampu menerima kenyataan. Hatinya tercabik, batinnya tersiksa.

"Buk, maaf Jaya belum bahagiain Ibuk."

perihal-jaya-peluk-penuh-peluh

Peliknya hidup membuat Ibuk harus rela memeras peluh. Semua rela dilakukan demi senyum mengembang dari buah hati tersayang. Itu yang membuat Jaya bangga memiliki sosok yang luar biasa. Hal tersebut pula yang membuat Jaya rindu akan peluk hangatnya yang penuh peluh usai bekerja memberi penghidupan pada putranya yang sering berulah.

perihal-jaya-wingardium-leviosa

Bulu yang terkulai melayang-layang mengikuti gerakan tongkat sihir seorang bocah perempuan. Ia merapal mantra, mengajari dua lelaki bertampang setengah tak percaya di kanan-kirinya. Jaya ikut terkagum.

"Wingardium leviosa!" teriak Jaya terhipnotis bocah perempuan di layar kaca.

"Mungkin bukan bulu ini yang melayang tapi anganku." bisik Jaya menghibur diri.

perihal-jaya-asing

Ini adalah salah satu keputusan berat yang pernah Jaya ambil. Keluar dari rumah, meninggalkan kenyamanan, dan bertahan hidup demi spekulasi ambisi. Semua terasa dingin ketika ia harus melakukan semuanya sendiri. Tak ada peluk hangat lembut Ibuk yang menguatkan hati. Tak ada sosok Cea yang mengisi kosongnya batin. Semua terasa asing.

perihal-jaya-mengurai-perasaan

Langit-langit plafon kamar terus dipandangi Jaya. Tubuhnya terbujur kaku malang melintang di atas kasur busa. Teriakan Ibuk tak digubris sama sekali olehnya. Tatapannya menerawang melayang-layang membayangkan rupa elok pujaan hatinya. Semalaman Jaya tak bisa lelap, terbayang senyum manis Cea. Pertemuan pertama yang detik itu juga membuatnya jatuh cinta.

Drama korea menjadi referensi. Setangkai mawar merah senada dengan warna kesayangan calon pacar. Segenap jiwa Jaya menuangkan diksi ke dalam puisi romantis. Taman kota jadi pilihan lokasi.

"Ce, aku suka kamu. Mau jadi pacar aku?" ucap Jaya lirih.

Cea senyum malu-malu. Tangannya menerima kembang dari Jaya, kepalanya mengangguk-angguk.

perihal-jaya-analisis-kartasis

Jaya diambang kegamangan. Galau dengan apa yang tengah ia rasakan. Urusan kantor tak bisa dikesampingkan. Masalah hati masih melompong tanpa tambatan. Karir kawan makin melejit, milik sendiri cuma begini. Weekend-nya sibuk roadshow kota ke kota demi menghadiri pelaminan karib. Tak ada waktu untuk senangkan diri.

Gejolak emosi meledak-ledak dalam sanubari. Berdoa keras-keras tak digubris. Pencipta tak mau beri kisi-kisi konklusi. Apalagi manusia yang tak mau berusaha saling mengerti.

Tak ada pilihan untuk Jaya. Ini akibat memberi makan ego terlalu berlebihan. Rela membahagiakan orang lain tapi menyakiti nurani. Jadi badut yang nampak luar menyenangkan namun hatinya teriris

perihal-jaya-sapu-ajaib

"Tadi kenapa lari waktu Ibuk lewat lapangan?"

"Ibuk bawa sapu, sih."

"Emang kenapa kalau Ibuk bawa sapu? Nggak boleh?"

"Ibuk tadi bawa sapu buat mukul Jaya, kan? Gara-gara sudah sore Jaya belom pulang."

"Hush, ngawur kamu."

"Terus buat apa kalau nggak buat mukul Jaya? Masak Ibuk mau nyapu lapangan?"

"Ibuk habis beli sapu baru, iseng aja lewat lapangan. Tadinya mau beliin kamu es lilin, eh kamunya lari pulang duluan."

Jaya cengo sedikit tak percaya dengan Ibuknya. Nasi yang sudah siap mendarat, ia tunda sejenak.

"Makanya, kalau main jangan pulang nunggu diteriakin Ibuk dulu."

"Yah, Ibuk! Nggak bilang-bilang dulu."

perihal-jaya-nggak-papa

Cahaya merangsek masuk ke pupil seketika Jaya membuka mata. Ia menelan ludah perlahan membasahi kerongkongan yang kerontang. Jarum menusuk lengan kanannya. Pemandangan kamar kost yang kelabu, berubah menjadi serba putih sebelum ia tersadar.

"Dimana?" tanyanya dengan suara parau.

Wanita berkemeja pantai yang sedang menyiapkan segelas air untuk Jaya menjawab, "Kamu nggak inget apa-apa?"

Usai melepas dahaganya, Jaya menerawang dan mencoba mengingat kejadian semalam.

"Kamu tiba-tiba pingsan. Makanya di bawa kemari. Aku kan sudah pernah bilang, cerita kalau ada apa-apa. Jangan bikin susah diri sendiri!" Air muka gadis itu nampak khawatir walau nada bicaranya meninggi.

"Aku nggak papa."

perihal-jaya-amplop-merah-jambu

Minggu lalu ada whatsapp darinya memohon Jaya datang. Dia bilang akan bicara tentang maaf dan masa depan. Jaya mau dengan harap memori bias lalu bisa terulang. Kembali bersama menikmati sepotong senja.

Berhias senyum manisnya dia berucap, "Datang ya Jay ke nikahan aku!"

Detik waktu berhenti. Sanubarinya tercabik. Kelambanannya membuka celah untuk Cea pindah ke lain hati. Pertemuan ini malah membuat luka baru di atas parut yang sudah terobati.

Tangannya bergetar, lidahnya kelu. Sebuah amplop merah jambu yang memaksa mengakhiri rindu. Degub jantung Jaya tak karuan menderu. Tubuhnya tumbang memeluk undangan bertuliskan Cea dan Bayu. Jaya ingin ini hanya mimpi semu.

perihal-jaya-rindu-yang-sia-sia

Petualangan Jaya dan Cea telah usai. Hayal menua bersama, kalah cepat di tikungan akhir. Tinggal rasa sesal yang tersisa. Serta rindu yang nampaknya sia-sia.

Hari bahagianya jadi hari paling kelam Jaya. Berteman sepi, ia berhenti berharap. Tak seorangpun tahu yang telah ia lewati. Kini ia belajar menata hati kembali.

perihal-jaya-kopi-darat

Bukan ide Jaya untuk melakukan kerumitan ini, bertemu spesimen lain yang entah siapa dan bagaimana rupanya. Karib bilang ini yang dinamai seni mencari pendamping yang senyawa dan sejiwa. Lewat daring yang penting mulai aja dulu karena semua ada. Bukan menggantikan Cea hanya mencari peluang namun siapa kira dia teman semeja.

perihal-jaya-dua-hati

Kemana Jaya harus melangkah. Keraguan mengikatnya erat di bawah lampu percabangan jalan. Ia terjebak diantara dua wanita. Raganya berpetualang bersama Asih tapi jiwanya masih menari bersama bayangan Cea.

"Mas Jaya, kamu harus putuskan sekarang!" desak Asih malam itu.

Pikiran Jaya masih bergelayut. Ia diambang ketaksaan memilih satu di antara dua hati yang hadir kini dan dari masa lalu.

"Aku pilih..." Jaya bergumam di akhir kalimatnya.

Netra Asih membulat, ia tak sabar menanti jawaban Jaya. Sepoi angin membuyarkan lamunan Jaya. Ia harus memutuskan saat ini juga. Pikiran indah dan khayalan cantik bersamanya, tersirat. Nama itu sudah di ujung bibirnya.

"Cea," bisiknya.

perihal-jaya-memori-mantan

Ingatan kembali menggoda mesra. Kenangan datang bersama turunnya hujan. Rindu tersaji, nostalgia ke masa indah bersamamu memenuhi kepala. Pandangan pertama yang mampu meluluh lantahkan kalbu.

Sayup tawamu mengiringi terputar ulangnya memori. Sisa cerita yang menyesakan dada. Temali yang dirajut terpaksa putus karena kondisi. Mantan, maafkan Jaya yang takut terbentur jarak.

perihal-jaya-hipokrit

Merah pipi Jaya akibat tangan Asih yang mendarat sempurna di atasnya belum menyadarkan Jaya. Susah payah, Asih menyulam cerita indah bersama, Jaya siakan. Kedok Jaya mencoba kembali membangun kisah kasih bersama Asih pun terbongkar. Asih hanya pelarian.

Jaya masih saja mengelabui hatinya. Membangun benteng pertahanan agar jiwa tak lagi terluka.

perihal-jaya-bukan-jaya

Degub jantung beranjak. Rindu Jaya pada Cea tak ada diskon. Berbatik, Jaya semangat berangkat. Hari ini Jaya kembali bertemu Cea.

Panggung mempertontonkan lagu-lagu syahdu. Meja panjang beraneka makanan dipajang. Amplop merah muda jadi tiket masuk. Deretan orang berbaris hendak bersalaman.

Janur kuning melengkung menghias rumah mungil orang tua Cea. Dekorasi sederhana mempercantik halamannya. Orang-orang tersenyum berpesta. Mempelai menebar senyum menawan.

Jaya bukan orang asing namun suasana terasa asing. Hari ini, hari bahagia Cea bukan Jaya. Batin Jaya menciut. Api di dadanya padam. Kakinya bergetar dalam barisan.

"Selamat Ce! Bay, dia paling suka di elus lehernya. Semoga kalian bahagia."

perihal-jaya-mengepul

Duh, senin." Ujar Jaya. Harinya sudah diawali dengan keluh kesah rutinitas pegawai kantoran.

"Macet lagi, desak-desakan di kereta lagi, meeting lagi, diomelin lagi tapi nggak kaya-kaya." Gerutunya sendiri.

Ia mengacak rambut kusutnya dan beranjak dari kasur. Mau tak mau, ia harus kerja demi asap rokok bapaknya tetap mengepul.

perihal-jaya-start-a-revolution

Edukasi tak selaras dengan pemikiran Jaya yang masih dangkal. Ketakutan, kekalutan, dan ketaksaan menyelimuti kepalanya. Jaya terambang di dalam arus.

"So I start a revolution from my bed..." senandungnya.

"Harusnya from my head. Gimana mau maju kalo tidur mulu, Jaya!" Pekiknya pada dirinya sendiri sembari menarik selimut, bersiap tidur lagi.

perihal-jaya-evakuasi

Lepas dari seorang wanita itu sangatlah sulit. Bibir bisa saja berkata mudah. Tapi dalam lubuk sanubari, ia sering mampir tanpa diundang. Ia datang tak kenal waktu. Kadang saat makan siang bahkan tak jarang saat membuang emisi nokturnal.

"Hatiku siaga tiga, butuh segera di evakuasi. Nggak bisa perasaanku melulu di invansi."

Rabu, 30 Oktober 2019 0 comments

Berita Kehilangan

Kepulangan Jendra memang akhir dari hidupnya tapi hal itu pula yang diamini masyarakat sebagai pertanda agar lahir kembalinya reformasi setelah lama dikorupsi oleh para elit yang duduk nyaman di kursi dewan. Tak ada tangis air mata yang membanjiri tubuh kaku Jendra, bahkan dari sang ibunda. Beliau hanya sibuk merapal doa untuk kepergian sang buah hati tercinta. Almamater kebanggaan Jendra tergantung di dinding ruang keluarga kediamannya. Noda memerah masih membekas di bagian dada, juga di ingatan 

"Buk, Jendra berangkat!" suara teriakan terakhir Jendra dari teras rumah masih terngiang di telinga. Ia sudah siap menggeber motor bebeknya menuju meeting point yang disebar luaskan sejak malam sebelumnya. Tak lupa jas identitas kampus ia masukan kedalam tas punggungnya. Ibu Dewi—ibu Jendra, tak memiliki pertanda buruk apapun mengenai kepergian Jendra. Pagi itu ia hanya mengingatkan Jendra untuk pulang tak terlalu larut malam.

Jendra mencium tangan Ibunya. Mimiknya tak menunjukan kejanggalan. Jam tidurnya yang tersita oleh urusan kampus tercermin dari kantong mata yang kian menghitam. Kaos hitam polos kesayangan, Jendra kenakan.

Sebagai mahasiswa jurusan hukum, Jendra aktif mengawasi kinerja rezim sekarang. Ia sering buka suara mengenai legislasi yang dikeluarkan anggota dewan. Tak hanya yang mengundang kontroversi, Jendra juga menitikberatkan substansi di dalamnya. Tak segan ia sering berdebat dengan dosen mengenai kebijaksanaan pemerintah yang sekiranya tak berpihak pada rakyat. Tak konsisten dengan janji politik, katanya.

"Pokoknya besok kita turun ke jalan! Ini bukan semata karena retorika demi negara. Ini benar karena panggilan jiwa." seru Jendra.

Beberapa kawan yang setuju akan aspirasinya bersorak. Moderator yang memimpin pertemuan tersebut berusaha menenangkan massa. Ia tahu akan kalah suara dengan Jendra yang notabene seorang aktivis yang cakap dan tak asal ngomong, semua pasti berlandaskan alasan yang logis dan relevan. Manuver Jendra sebagai aktivis di kampus juga tak main-main, ia sering mengikuti berbagai gerakan kepemudaan yang sensitif akan perjuangan melawan HAM.

"Logistik sudah siap semua, Zein?" tanya Jendra pada kawan seperjuangannya. Zein mengangguk penuh keyakinan. "Masih ada tambahan lagi nanti. Jam makan siang kita bongkar. Kampus sebelah juga bawa masing-masing. Cukuplah kalau buat orang kita sendiri." jawabnya.

"Jangan bergantung sama bantuan orang lain. Kita harus siapin amunisi buat perang sendiri. Medis gimana?"

"Udah, ada sepuluh paket kita siapin. Udah ada list relawan yang mau bantu juga. Mereka siap perang di lokasi. Beberapa lagi on the way."

"Oke. Aman ya?"

Zein mengacungkan kedua jempolnya. Senyum lebar menghiasi wajah Jendra. Ia nampak puas dengan apa yang sudah dipersiapkan. Kertas karton bertuliskan petisi juga sudah dikantongi Jendra. Tinggal tunggu waktu pertunjukan.

Jendra berbaris di barisan paling depan. Ia membawa toa untuk membakar semangat kawan-kawan lain yang juga ikut dalam gerakan. Ia naik ke mimbar yang dibawa dari ruang himpunan. Lagu-lagu kebangsaan dinyanyikan. Tak lupa doa mereka panjatkan. Tujuh tuntutan gerakan mahasiswa, siang itu dibacakan.

"Jangan mau gerakan ini ditunggangi! Gerakan ini untuk menuntut reformasi bukan menurunkan Jokowi! Ingat inti petisi!" teriak Jendra ketika mendengar seruan mahasiswa keluar dari intisarinya.

"Komitmen parlemen telah lama mati! Anggotanya tak lagi bersinergi! Hidup mahasiswa! Hidup mahasiswa! Hidup mahasiswa!" pekiknya diikuti ribuan mahasiswa lain yang memakai atribut berbagai kampus. Suara lantang yang kini mulai langka akhirnya mengudara dan terpecah di langit Indonesia. Gerakan dari kaum intelektual yang tak akan digerus jaman.

Ketika sore menjelang, Jendra dan Zein tengah beristirahat sejenak di pinggir jalan. Zein hanya mengangguk-angguk tanpa kata menanggapi ocehan Jendra. Ia sudah cukup lelah sedari tadi menjerit meminta reformasi tak dikorupsi. 

"Zein, besok pagi kamu ke rumah ya! Bawakan semua barangku yang ada di loker himpunan, kasih ke ibuku!" perintah Jendra.

"Kenapa nggak bawa sendiri? Nanti malam aku antar mampir kampus."

"Sudah, kamu nurut saja. Nanti malam sudah tak sempat."

Jendra masih tak berhenti bicara. Ia kini memberikan aspirasinya kepada Zein, "Representasi negara sudah membiarkan pewajaran. Gerakan mahasiswa sebesar ini, entah didengar atau tidak. Pemerintah udah tutup mata, tutup telinga soal keadilan."

"Kan sudah ada media yang ikut andil besar dalam gerakan ini, Ndra. Seharian timeline, headline, berita di televisi, internet, sosial media cuma gerakan ini isinya. Masih kurang?" jawab Zein.

"Kamu tahu, dua belas tahun aksi kamisan berlangsung buat cari keadilan. Banyak aktivis sembilan delapan yang entah mati atau hilang kemana, cuman sekali masuk ke istana. Nihil hasilnya. Mau media gembar-gembor sekeras apa kalau pemerintah pura-pura buta dan tuli ya, percuma. Ditambah lagi, aku takut gerakan ini ditunggangi, nanti aktivis dikriminalisasi, dan bisa-bisa jurnalis dibungkam."

Zein menarik napas panjang. Benar juga perkataan Jendra. Tak salah kalau dia jadi pemimpin orasi gerakan mahasiswa. Baru beberapa menit duduk bersama, Zein terasa dicuci otaknya. 

"Gerakan serasa sia-sia kalau penumpang gelap ikut-ikutan. Belum lagi penguasa yang terus membela diri dan merasa manusia dewa yang selalu benar. Belum lagi pasti ada upaya terselubung pemerintah untuk menggembosi aksi kita. Masa konsolidasi massa kurang lama." tambah Jendra.

"Susah kalau lawan konfrontasinya Jendra. Sudah pasti salah langkah. Kamu gantiin mereka di parlemen aja besok!" canda Zein.

"Enggak! Melenggang ke Senayan bukan langkah untuk jadi corong aspirasi masyarakat. Masih ada kepentingan kelompok yang harus didahulukan di atas kepentingan rakyat. Belum mahar politiknya yang luar biasa besar. Mau nggak korupsi darimana?"

"Bener juga kamu, Ndra. Pantas mereka ngiler kalau bahas anggaran."


"Kalau ada yang besok hilang, bilang ke keluarga mereka untuk memaafkan dan merelakan. Sebar berita kehilangan ke pelosok negeri. Dia akan jadi sejarah baru di negeri ini. Namanya akan sama abadinya dengan reformasi yang masih sekedar janji."

Petang menjelang, suasana di depan gedung dewan berubah jadi ricuh. Kepulan gas air mata mengepung segerombolan mahasiswa yang terus bersuara. Aparat memukul mundur massa yang rusuh. Tembakan peluru karet tak berhenti dilesatkan.

Zein kehilangan jejak Jendra. Padahal sejak pagi mereka selalu kompak berdua. Dering ponsel Ibu Dewi berkumandang. Beberapa dari kawan Jendra yang menanyakan posisi Jendra. Ibu Dewi sempat merasa gundah. Firasatnya mulai tak enak. Tak ada yang dapat ia lakukan. Lantunan doa tak berhenti ia panjatkan. "Semoga selamat." ujarnya.

Zein menyelusuri tenda tim medis sekitar lokasi satu-persatu. Tampak beberapa mahasiswa yang mengikuti gerakan ini terluka. Beberapa terluka ringan seperti lecet, goresan, memar akibat terpeleset atau terjatuh. Beberapa yang terluka berat segera dilarikan ke rumah sakit terdekat.

Baku hantam aparat dan mahasiswa tak dapat dihindarkan. Beberapa provokator diamankan. Mereka dianggap sebagai dalang terjadinya kerusuhan. Zein tak dapat melapor ke pihak berwajib atas hilangnya Jendra. Prosedur bilang satu kali dua puluh empat jam.

Zein tak tenang. Ia kalang kabut mencari keberadaan kawannya. Malam semakin larut, kondisi semakin membabi buta. Aparat tak segan menembakkan water canon ke arah mahasiswa. Alasannya sederhana, memukul mundur massa.

"Jendra dimana, Zein?" tanya Ibu Dewi khawatir.

Dari ujung sambungan, Zein menjawabnya, "Masih Zein usahakan cari. Zein dan kawan-kawan bagi tugas untuk cari Jendra ke rumah sakit rujukan. Nanti Zein kasih kabar tante. Tante di rumah saja."

Mahasiswa lari tunggang langgang menghindari pukulan. Aparat bersenjata sweeping di jalanan Senayan. Gerakan pecah menjadi kerusuhan yang membuahkan korban jiwa. Semakin malam, suasana semakin memanas.

Tak hanya water canon, aparat menebas mahasiswa dengan gas air mata. Aksi saling lempar bom molotov terjadi. Aparat merapatkan barisan. Massa kocar-kacir menyelamatkan dirinya. Merah putih tetap berkibar.

Zein terkena luka bakar di kaki kirinya. Ia harus dilarikan ke rumah sakit terdekat. Upayanya mencari Jendra harus berhenti sejenak. Beberapa kawan yang ia hubungi belum menemukan titik terang akan keberadaan Jendra.

Berita yang ditunggu akhirnya tiba. Pagi-pagi buta, sebuah mobil berhenti di muka rumah. Ibu Dewi yang sendirian memberanikan diri melongok melalui jendela. Sedan berwarna kelabu milik aparat terparkir di balik gerbang. Ibu Dewi segera beranjak.

Dua orang berseragam menyerahkan barang-barang yang Ibu Dewi yakin benar milik Jendra. Mereka memberikan sepucuk surat dari rumah sakit yang menangani Jendra. Sepersekian detik pikirannya melayang. Benar firasat yang ia rasa. Jendra telah tiada. Tak lama, petugas berpakaian serba putih membopong jasad yang ia yakini putranya. Tak ada tangis, sedih, kecewa, marah ataupun sesal. Ibu Dewi paham benar apa yang diperjuangkan putranya hingga berkorban nyawa.

Reformasi nyatanya mengalami kemunduran. Apa yang dialami suami Ibu Dewi kembali terjadi pada putra semata wayangnya. Air mata telah surut, menangisi kepergian suaminya di masa lalu. Kini amanah yang diserahkan dari suaminya juga direnggut.

Zein dan kawan-kawan lainnya ikut melayat. Bukan kepergian Jendra yang mereka tangisi tapi keberadaan keadilan yang benar-benar tiada. Lubang di dada kiri Jendra jadi bukti. Kematiannya tak akan sia-sia, namanya akan kekal abadi. 

Pemakaman Jendra Adhiguna didatangi ribuan aktivis, relawan, dan mahasiswa. Kepergiannya menjadi duka Indonesia. Kepergiannya menjadi bukti kalau janji reformasi belum ditepati. Nama Jendra Adhiguna tak akan sia-sia.

Zein membagikan percakapan terakhirnya bersama Jendra. Ia juga memberikan barang-barang Jendra dari loker himpunan. Salah satunya terdapat sepucuk surat yang selalu Ibu Dewi bacakan tiap acara kamisan berlangsung. Lantang, Ibu Dewi membacakan kenangan terakhir dari putranya.

"Ibuk, banyak cara taklukan malam dan mungkin ini salah satunya. Relakan dan ikhlaskan kepergian Jendra. Maafkan mereka yang belum tahu kesalahannya. Lukamu akan mengering perlahan. Ini sudah jadi resiko menantang cakrawala. Surya tahu kapan waktunya untuk bersinar."

Tekad Jendra menjadi pemicu semangat aktivis lainnya. Ia menabur biji yang akan menjadi tunas baru di seluruh penjuru Indonesia. Kelak, semua akan tumbuh, dituai, dan menghancurkan pemerintah yang lupa akan rakyatnya. Hari belum selesai, tunggu waktu yang tepat untuk kembali berangkat.

 
;