Jumat, 28 Juni 2019 0 comments

Oliv.


"Pertemanan itu bukan kayak rumus fisika atau matematika yang satu tambah satu sama dengan dua dan semua orang bakal agree hasilnya. Lo ngertiin gue dong. Kaku banget kayak kanebo kering lo!" seru Oliv, tepat di telinga kananku. Aku pun hanya diam merunduk tak berdaya. Entah mengapa, lidahku kelu bila bersamanya.

Menurutku, apapun yang ia pinta serasa titah seorang ratu yang selalu aku laksanakan. Namun, selalu ada ragu dalam diri saat hendak mengungkapkan rasa yang telah lama mengendap di hati. Bagaimanapun, aku tak ingin kehilangan sahabat terbaik yang sudah dihadiahkan semesta.

Olivia. Dia orang yang mengetahuiku sampai akar termurni dan tanpa diduga, dan harus kuakui kalau aku jatuh cinta padanya. Dia adalah saksi hidup kenakalanku yang kadang terasa tak masuk akal jika ditilik lagi hari ini sejarahnya. Dialah yang paling tahu keisenganku, bau khas seragamku yang terpanggang matahari karena belum kenal parfum yang wangi.

"Liv, gue suka sama lo," ucapku dengan jelas, "gue beneran suka sama lo. Lo mau nggak, jadi pacar gue?"

"Lo buta?" Teriaknya. Ia membanting tas ranselnya ke kursi dan pergi keluar kelas.

"Curtis Milano! Kuping lo dimana sih? Lo nggak denger, dari tadi gue teriak-teriak manggil lo? Dasar, Cumi." omelan Alex, sahabatku yang lain, pagi ini membuyarkan lamunan. Keberadaannya yang ternyata sudah sedari tadi tak aku sadari. "Lo kenapa, Cumi? Wajah lo kusut amat. Udahlah, balik demi nikahan gue ini, nggak bikin hidup lo berakhir. Di lab juga banyak orang yang backup kerjaan lo. Udah lama lo nggak balik. Don't worry be happy, brother."

"Enggak, gue lagi berfilosofi Lex."

"Bahasa lo ketinggian, Cumi. Ngayal apaan lo?" ujar Alex, sembari terkekeh memperhatikan tingkahku.

"Nasib lo bagus juga ya. Lo tau hukum Hooke kan?" tanyaku lemas, "Gaya itu berbanding lurus sama jarak pergerakan pegas. Nah, seharusnya ya kalo dikomparasikan, wajah tampan, otak encer, dan dompet tebel gue, berbanding lurus sama nasib percintaan gue. Tapi nyatanya? Lo duluan yang nikah, sama...." Aku tak melanjutkan ucapanku. Tenggorokanku tersekat ketika mengucap namanya.

"Maksud lo? Paras gue kurang rupawan? Otak gue kurang brilian? Dompet gue kurang nyata, nih, nih." Alex mengeluarkan dompetnya dari saku celana yang isinya penuh dengan bon-bon tagihan.

"Halah, tapi kan lo-lo nggak inget janji lo?" tanyaku, setengah emosi.

Segerombolan bocah berpakaian putih abu-abu menjajah bangku kantin. "Cumi, kapan lo ajak gue ketemu Anti?" tanya Oliv sembari menyomot mendoan yang masih panas. Mulut Alex yang penuh, melongo tak percaya dengan kalimat yang baru beberapa detik lalu dilontarkan oleh Oliv.

"Nyo-nyo nyo-nyo-nyo!" ucap Alex tak jelas.

"Ngomong apaan lo Lex? Gak jelas banget kayak idup lo. Jadi cowok tuh kayak Cumi gitu lo. Anteng, kalem, ganteng, tajir pula. Nah, elo? Udah jelek, belagu, kere, nyusahin, idup lagi." Seperti biasa, omongan Oliv persis dengan komentar netijen yang lagi kurang asupan kuota.

"Kampret lo Liv! Omongan lo bener semua. Liat lo, kalo gue udah kerja. Gue traktir lo tiap gue abis gajian." ujar Alex tak gentar.

"Mau ngapain lo ketemu Anti? Gue aja males ketemu dia, lo malah pengen." jawabku singkat. Ia lebih asyik menikmati gorengannya.

"Mamam tuh rawit kalo kurang pedes." ejek Alex dengan suara tawanya yang menggelegar. Ia melemparkan beberapa cabe yang ia comot dari plastik gorengan yang kubeli.

"Sialan. Nih, cabe-cabean buat lo!" balas Oliv dengan menjejalkan cabe ke mulut Alex dengan paksa.

"Bentar lagi kan lo mau sekolah di luar Cumi. Nasib gue sama si belek gimana kalo lo tinggal. Kita nggak ada sponsor lagi dong. Kalo lo kenalin gue ke calon lo, paling nggak gue kalo butuh duit bisa minjem sama dia. Bener nggak?" Kedua alis Oliv naik turun, mencoba meyakinkanku akan ide anehnya.

"Apaan sih lo? Sana lo! Katanya lo dipanggil Bu Trias. Keburu dia ngaung lagi ntar!" Aku mendorong tubuh mungil Oliv untuk segera pergi. Oliv pun pergi meninggalkan kedua kawannya. Suara tawanya tak henti ia tawarkan hingga suara khasnya itu terdengar samar semakin menjauh.

"Coba lo ngertiin gue dikit, Liv." ucapku lirih.

"Ngomong apaan lo?" tanya Alex. Aku hanya diam tak bergeming, memasang tampang innocent dan kemudian menggelengkan kepala dengan cepat.

"Heh, lo mau denger cerita gue nggak? Mumpung nggak ada si tai lalat Isyana." Bisik Alex, "Gue naksir sama Dhita. Lo tau nggak Dhita?"

"Dhita siapa? Anaknya Ncang Rohim tetangga lo?" sahutku asal.

"Sialan, dia masih SD, bego. Dhita? Pramudhita Soetardjo, anak IPA 5, Cumi." Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala dan masih tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Alex.

"Aduh, Dhita, masak lo nggak tau cewek secantik dia sih. Anak baru yang naik mini cooper warna kuning, kata anak-anak bapaknya anggota dewan, lahir dua hari sebelum gue, makanan kesukaannya ayam goreng mbah jenggot, penyanyi favoritnya Charlie Puth, apalagi ya? Oh, kemaren pas ulangan Biologi, dia dapet nilai 8, keren nggak calon pacar gue?" ujar Alex dengan antusiasnya. Kumis tipis yang sengaja tak ia cukur, naik turun ikut menceritakan semua hal yang ia ketahui tentang pujaan hatinya, Dhita.

"Nggak sekalian, Dhita yang kalo pipis jongkok, kalo makan dikunyah 38 kali, kalo nyetir mobil sambil duduk. Gimana kabar cewek-cewek yang lo ceritain ke gue kemaren-kemaren?" ucapku sinis.

"Siapa? Kaka? Irma? Siska? Mereka udah pada jadi mantan calon pacar gue. Sekarang, di hati gue cuma ada seorang Pramudhita Soetardjo." Manik mata hitam pekat Alex berputar. Sudah menjadi rahasia umum kalau dirinya merupakan seorang Don Juan. Rahasia itu tak hanya dikenal seantero sekolah, pelosok kota Jakarta yang mungkin belom terjamah tangan pemerintah pun mengetahuinya.

"Yakin lo? Gue harus check dulu, dia beneran cantik apa kagak. Lo kan type cowok gampangan. Agung Hercules pake gincu aja lo taksir." sindirku.

Ini bukan kali pertama sahabatku menceritakan kisah cintanya. Di usianya yang baru menginjak enam belas tahun, ia sudah mengantongi beberapa nama deretan mantan pacar. Belum lagi kalau ditambah dengan mantan calon pacar yang jumlahnya tak tahu persisnya berapa. Tubuh atletis, manik mata hitam pekat, dan rambut bergelombang kecoklatan, mendukungnya untuk melakukan hobby bergonta-ganti pasangan.

"Enak aja lo. Lo pikir gue cowok apaan. Nih lo liat foto di sosmed dia. Cantik kan. Bidadari aja minder kalo ketemu dia." ucap Alex menggebu-gebu.

"Efek kamera paling itu. Di edit empat hari empat malem sebelum di upload." sindirku, mengingat jaman sekarang semakin moncer aplikasi edit foto yang luar biasa gampang penggunaannya.

"Awas lo kalo naksir dia! Gini aja, mending kita bikin perjanjian. Kita sebagai sohib, enggak bakal pernah punya satu gebetan yang sama. Gimana?" usul Alex.

"Oke. Selera gue kan lebih oke daripada selera lo. Gue lebih suka yang kayak Tatjana Safhira. Putih, cantik, mulus, body-nya aduhai. Lagipula kan gue udah kayak Pangeran William, kaya, cakep, sempurna. Dia kayak Kate Middleton. Udah pasti cocok." Tanpa banyak ba-bi-bu ia menyodorkan tangan kanannya. Alex pun menyambarnya, "Ngimpi lo ketinggian, Cumi." Tak lupa ia membalas menoyor kepalaku dan meninggalkanku sendiri.

Hatiku masih belum sembuh sepeninggal Oliv menolak cintaku. Tapi, sayap-sayapku masih belum patah seutuhnya. Masih ada serpihan harapan yang siap aku untai lagi untuknya. Aku sudah hapal di luar kepala bagaimana lengkung bibirnya terbentuk setiap ia mengucapkan satu-dua kalimat canda yang sebenarnya sungguh garing tak ada duanya. Timpalannya yang lucu, balasannya yang kadang diselingi sipuan malu membuatku merindu.

"Rocker masak nangis? Melankolis amat lo." ucapku seraya melempar jaket kulit hitam Alex yang tersampir di daun pintu kamarnya.

"Siapa yang nangis? Gue cuma sedih." pekik Alex, tak terima akan statement yang aku tujukan padanya.

Ia membersihkan wajahnya dengan selimut. Rambut hitamnya acak-acakan tak karuan, kaos bergambar pistol dan bunga mawar tak ia ganti berminggu-minggu, dan bau tubuhnya lebih asam dibanding jeruk nipis. Sudah seminggu ini, Alex terlihat murung dan tak keluar dari kamarnya. Tunggu, bukan kamar, ini lebih tepat kalau dibilang kandang.

Tak ada cahaya yang masuk ke dalam kamarnya, gelap gulita. Belum lagi pakaian yang berserakan di setiap sudut kamar, tak tahu bersih atau kotor, selagi belum bau, ia akan memakainya kembali. Kertas kusam bekas bungkus nasi dengan tulisan tangan dibaliknya menumpuk di sebelah nakas, tak tahu nasibnya. Kasur dan ubin memiliki warna senada, abu-abu, seperti habis dihujani abu vulkanik Gunung Sinabung.

Alex memeluk gulingnya, menarik selimut untuk menutup seluruh tubuhnya. Ia kembali membenamkan tubuhnya. Pikirannya masih belum dapat melupakan peristiwa malam itu. Peristiwa dimana Dhita memutuskan hubungannya dengan Alex. Banyak rasa penyesalan yang ia pendam dan terlalu banyak kenangan manis ketika bersamanya. Setahun, Alex mengejar cinta Dhita dan satu bulan setelah mereka berpacaran, Dhita memutuskannya dengan tragis.

"Dhita, jangan putus! Gue masih sayang sama lo. Masak lo cemburu sama bulu idung Song Hee Kyo, Oliv? Dhita!" pekik Alex, dalam kamarnya.

"Jangan putus, Dhita! Gue kan enggak ada maksud ke elo. Oliv temen gue. Masak lo cemburu sama makhluk kayak dia, sih." mohon Alex. Dhita tetap tak bergeming, rasa cemburunya telah membakar habis kepercayaannya pada Alex. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Alex bermesraan dengan Oliv.

"Dhita, denger penjelasan gue dulu. Gue sama Oliv itu cuma temenan. Lo tahu kan." tatapan mata Alex tak bisa lepas dari Dhita. Ini sudah seperti makanan sehari - hari buat Alex. Setiap ia memiliki kekasih, semuanya akan berakhir seperti ini. Putus karena cemburu melihat hubungannya dengan Oliv.

"Teman mana yang mesra-mesraan di Mall? Temen mana yang makan di restaurant sambil suap-suapan? Temen mana yang diajak live music cuma berdua?" tanya Dhita. Ia sudah jengah menghadapi ini semua. Ini bukan sekali atau dua kali ia melihatnya. Kejadian ini terus berulang di hubungan mereka yang masih seumur jagung.

"Aku ini pacar kamu." suara Dhita bergetar menahan tangis.

"Please, hubungan aku sama Oliv cuma temenan. Lo bisa tanya sama Cumi. Kita bertiga temenan dari jaman Ucil belom kenal Mbak Yul. Please, jangan putusin gue!" Alex memegang kedua tangan Dhita dan kemudian memeluknya dengan erat.

"Aku mau putus." dengan tegas dan jelas, Dhita kembali mengulang perkataannya. Ia meronta dari pelukan Alex, mendorongnya pelan, dan pergi berlalu meninggalkannya.

Begitulah, akhir kisah cinta Dhita dan Alex. Diusia pacaran mereka yang baru satu bulan, Dhita mengatakan kata putus di hadapan Alex. Dengan mata kepalanya sendiri, Dhita mempergoki Alex bermesraan dan jalan berdua dengan Ojak. Sungguh malang kisah percintaan Alex.

"Seminggu lo enggak sekolah, nyet! Putus cinta sih putus cinta, tapi enggak sampe segitunyalah. Masih banyak cewek lain. Tapi mereka juga enggak bakalan mau sama lo, kalau lihat lo begini. Bau, kucel, putus sekolah lagi." nasehat Cumi pada sahabat baiknya itu.

Ini bukan kali pertama Alex berbuat demikian. Sebelumnya ia melakukan hal yang sama karena cintanya ditolak oleh Wina, digantung oleh Dewi, dan yang paling mengenaskan ketika ia diputuskan oleh Venya. Sudah panjang daftar wanita yang jadi mantan pacar ataupun masih sekedar mantan calon pacar dari Alexander Toda. Kalau mereka dikumpulkan menjadi satu, mungkin akan sama dengan jumlah peserta upacara di Istana Negara tiap hari ulang tahunnya.

"Lu kesini mau hibur gue apa cuma mau ngledek gue? Tau temennya lagi putus cinta. Kayak nenek gue, lo. Berisik." balas Alex. Ia melanjutkan sepinya, meringkuk dibalik selimut tebal biru bergambar karakter kucing robot kenang-kenangan dari mantannya.

"Terserah, lo! Gue mau balik." Aku meringsut berdiri dari duduknya.

"Eh, jangan balik dulu! Pinjemin gue duit buat beli makan." Alex membuka selimutnya, menarik kaki kawannya yang hendak melangkah pergi.

"Besok kalo emak gue balik  gue ganti. Please, selametin nasib gue!" imbuh Alex, wajahnya memelas seperti anak kucing meminta jatah makan.

"Au, gelap." Kaki Cumi meronta dari genggaman tangan Alex.

"Ayolah, please! Katanya cengli." rengek Alex.

Tak tega melihat kondisi naas kawanku, aku mengeluarkan dompet dari kantong belakang celana jeans-ku. "Gue juga lagi bokek. Nih, kalo nggak percaya." Aku menjereng sisa uang di dompet. Hanya ada tiga lembar Kapiten Pattimura dan dua lembar Idham Chalid.

"Bullshit, kalo lo enggak punya duit. Kalo nggak kita nongkrong aja sekarang, sekalian ngehibur gue, sekalian bayarin gue makan." pekik Alex tak mau tahu.

"Dasar lo!" Aku melempar selembar kertas kusam yang mendarat sempurna di muka Alex

"Thanks, my brother!" teriak Alex dengan wajah berhias senyum lebar. Tak lama, terdengar sayup suara honda cub butut yang biasa kupakai kemana-mana, semakin menjauh dari rumah Alex.

Alex sibuk mengunyah makanan yang ia pesan. Ia seolah tak peduli dengan apa yang baru saja terjadi, sampai Oliv datang. "Hai, guys!" Sapa Oliv dengan nada manjanya, seperti biasa. "Lo putus sama Dhita, Lex? Dhita teror gue mulu, tauk." Oliv mencebik bibir merahnya.

Melihatnya, membuatku merasa bahagia. Tenunan kain satin yang aku buat dari serpihan hati yang telah patah, hampir selesai. Aku memiliki asa untuk mencobanya kembali. Mencoba untuk mengutarakan isi perasaanku kepada Oliv. Di sisi lain ada setitik takut di hatiku karena kamu tak ingin persahabatan ini pecah, hancur berserak, dan mati.

"Eh, gue kasih tau. Kayaknya sekarang serius deh." ujar Alex tiba-tiba.

Aku mengeryitkan dahiku, "Maksudnya?"

"Apaan sih lo, Lex? Gak jelas! Gue pesen dulu." pamit Oliv. Dengan sepatu sneakers merah jambunya, ia melangkah menjauhi meja.

"Setelah gue pikir, telaah, dan amati, gue mau move on dan kayaknya, Oliv boleh jadi persinggahan terakhir hati gue deh. Ya, nggak?" Alisnya bergerak naik-turun dan itu meruntuhkan benteng pertahanan yang hampir selesai kususun. Benih yang baru kusemai, mendadak gersang. Aku yang sedadi tadi terkesima memandangi Oliv, seketika dibuat kaget oleh statement-nya.5

"Kenapa lo? Aneh. Lihat tuh, Oliv. Cantik, body-nya oke, pinter, bapaknya dubes pula, dan menurut gue kita udah ada chemistry." imbuhnya. Aku diam tak percaya.

"Ngomongin gue ya? Udahlah, gue udah tau kalo gue ini cantik. Nggak perlu lo perjelas." sahut Oliv yang tiba-tiba kembali muncul dihadapan kami.

Sepeninggal itu, Alex semakin gencar mendekati Oliv. Ritual harian yang biasa kita lalui bertiga, mulai aku tinggalkan perlahan. Kegiatan sederhana seperti berbagi gelak tawa pun sudah tak lagi sama rasanya. Berbagai alasan aku berikan demi tak melihat kemesraan mereka berdua. Aku tak sanggup jujur kepada Alex meskipun ia sahabatku. Perjanjian yang telah kami buat, malah menjadi awal kisah kehancuran hubungan kami bertiga. Hingga tepat 7 tahun kepergianku ke Massachusets, undangan pernikahan Alex dan dia tiba.

"Nih lo bawa. Ntar lo kasih ke gue ya! Jangan sampe ilang, berliannya asli bukan hadiah chiki. Nabung dari SD cuman bisa bayar dp doang," ujar Alex. Ia memberikan ring box pernikahannya yang terbuat dari kaca dengan grafir inisial namanya dan calon istrinya. Aku gelagapan menerimanya, seakan masih tak percaya dengan apa yang terjadi.


"Lo kenapa, sih? Yang mau nikah gue, kok elu yang grogi?" Tanya Alex. Ia mengeryitkan dahinya, menautkan kedua alis tebalnya.

"Gue, gue masih nggak habis pikir aja. Kok elu tega, Lex."

"Tega kenapa gue? Hah? Ngomong apaan sih, lo? Lo masih jetlag apa gimana?" Wajah Alex yang tadinya berbinar jadi kebingungan menatapku.

"Lo nggak tau, kalo gue-gue...."

"Kenapa? Lo masih suka sama Oliv?" Ucapan Alex barusan seakan memberiku headshot, tembus hingga ubun-ubunku. Kakiku menjadi lemas dan aku jatuh terkulai di sofa putih di kamar Alex.

Perasaanku yang terpendam selama ini, perlahan memaksa mengucur keluar dari bibir. "Oliv." Nama seorang kawan yang kini sulit aku ucap. Nama seseorang yang sempat dan belum terganti di hati hingga hari ini. Seseorang yang sempat singgah sementara di hatiku.

Alex mengekor, ia ikut duduk di sebelahku. Ia menepuk pundakku perlahan, "Gue kenal lo, dari jaman lo masih berak di celana, Cumi. Gue paham sama kelakuan lo gimana." Aku terdiam, tak berani menatap atau sekedar melirik Alex. Aku diam terperanjat tak berdaya.

"Lo pergi ke luar juga karena dia tolak lo, kan? Lo diemin gue, selama ini? Karena dia juga, kan? Dia udah cerita semua dan lo tau nggak?" Alex bersikap santai, tak menggebu-gebu panik atau seperti yang aku kira dan aku hanya sanggup menggeleng lemas.

"Kenapa lo nggak jujur ke gue? Lo takut ngelanggar janji kita?" Tanya Alex kembali.

Sempat terpikir olehku untuk melanggar janji itu dulu. Tapi hati kecilku menolaknya. Aku tak ingin menodai persahabatan yang sudah lama terjalin dengan mereka berdua. Namun, justru aku meruntuhkannya dengan menjauh dari mereka.

"Udahlah, Lex." Jawabku pasrah. Semuanya sudah terjadi. Beberapa menit lagi, kami akan berangkat untuk pemberkatan. Tak ada yang dapat aku lakukan untuk mencegahnya.

"Apa yang bisa gue lakuin buat nebus kesalahan gue? Hah? Gue bakal cariin lo cewek, yang lebih dari segalanya dari Oliv."

"Udahlah, biar gue menata hati gue dulu."

Mereka bukan orang asing dalam hidupku. Tujuh tahun kepergianku, belum sepenuhnya memulihkan sakit hatiku. Alex dan Oliv bisa jadi sepasang teman sekelas yang awalnya membuatku jengah disandingkan sekelompok hanya karena urutan nomor absennya berdekatan. Mereka bisa juga sepasang partner di Lab Fisika yang selalu cekikikan bersama setiap guru menjelaskan langkah praktikum. Bersama merekalah aku menuntaskan kegilaan di masa sekolah.

Pemberkatan hendak dimulai, sebagai groomsmaid aku berdiri di dekat altar, samping Alex. Ia mengenakan jas berwarna broken white yang bagus, rambutnya diberi minyak, disisir rapi ke belakang dan tak lupa ia memamerkan senyumnya. Calon pengantin wanita memasuki ruangan, ia di gandeng oleh ayahnya nampak anggun mengenakan gaun putih berenda senada, dihiasi kerlip permata, dan berekor lumayan panjang. Aku tak bisa melihat ekspresi dan wajahnya karena ditutup oleh tile berwarna senada dengan gaun gemerlapnya.

Mereka mengucap janji suci mereka, disaksikan dengan malaikat Tuhan, keluarga serta teman dekatnya. Alex dan Oliv, telah resmi menjadi satu daging, menjadi suami-isteri. Air mata tak bisa kubendung. Aku ikut bahagia di hari besar sahabatku ini.

Alex berjalan mendekati isterinya, ia membuka kain tile yang menutup wajah isterinya, dan ia mengecup bibir mempelai wanita yang telah resmi menjadi isterinya. Seisi ruangan bergembira dan bertepuk tangan, ikut bahagia menyaksikan Alex dan Oliv.

"Congrats, Lex. Doain gue cepet nyusul lo." ucapku, usai acara.

"Kenalin nih, isteri gue. Sayang, ini Alex. Dia ini temen gue dari jaman megalitikum. Gue udah pernah cerita kan?" Kata Alex, "Tujuh taun dia ngilang, padahal gue hubungin dia tiap hari, gue cari dia, tapi ngak papa yang penting pas gue kirim undangan nikahan kita, dia langsung balik. Tamu jauh lo dia."

"Hai, Oliv." Mataku memandangi isteri Alex lekat-lekat. Ku putar kembali memori yang sempat ku singkirkan. Suaranya, gestur tubuhnya, wajahnya nampak berbeda dengan Oliv yang aku kenal dulu. Oliv, isteri Alex, berwajah bulat, kulitnya putih pucat, tingginya tak sampai pundakku, di pipinya bertumpuk berkat yang terlalu melimpah sehingga menyebabkan hidungnya tersembunyi.

"Lo oplas, Liv?" Entah apa yang ada dibenakku. Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulutku. Alex memukul kepalaku dengan buku tata ibadah yang ia pegang.

"Heh, Cumi! Oliv gue, sama Oliv lo beda. Oliv gue lebih cantik, lebih punya sopan santun, nggak kayak Oliv punya lo, blangsak!"

Inderaku masih belum percaya. Kuputari Oliv perlahan. Kupandangi dia dari ujung rambut hingga ujung kali. "Plaaak!" Kali ini buku tata ibadah, mendarat di pipiku. "Lihatnya nggak gitu juga kali. Dia bini gue sekarang."

Aku tak percaya. Jauh aku membelah bumi untuk datang ke pernikahan Alex, menyiapkan hati yang akan patah kembali, membangun bendung untuk air mata yang akan tumpah. "Lo pikir, gue bakal makan temen? Gue jelek juga tau diri, Cumi. Kalo Oliv yang lo cari, tuh." Kedua lengan Alex memegang kepalaku, ia memutarnya ke arah jam 9 secara paksa.

Ada rasa hangat setiap memandang matanya, ada rindu yang tak tertahankan selama perpisahan panjang ini. Tapi cinta memang tak bisa diminta datang dan pergi sesuka hati. Bagaimanapun aku bersyukur karena hatiku berlabuh kepada dia yang segala tabiatnya telah aku pahami. Kehadirannya memang menggenapkan, keberadaannya menenteramkan.

Aku mulai harus berdamai dengan debar yang sering tiba-tiba muncul tanpa diundang. Menjumpainya tak lagi jadi kebiasaan kosong yang bisa dengan mudah dilupakan, perjumpaan dengannya perlahan jadi sungguh kamu nantikan. Tapi tetap saja, ada sumbatan yang menghalangi saluran tumpahan perasaan. Bagiku perasaan ini layak atau saatnya diungkapkan. Asal bersama dan bisa berbagi tawa semua perihal lain rasanya tak lagi penting di dunia.

"Oliv."

"Hai, guys! Selamat ya Lex. Kembaran aku, Oliv selamat juga."

"Hai, Cumi. Lama nggak nongol lo, kemana aja? Kecanduan sama cewek bule lo?" Tanya Oliv, diiringi tawanya yang khas. Aku mematung, tak sanggup berkata.

"Dia habis bertapa, Liv. Cari cara buat dapetin hati lo. Apa kalian mau pake tempat bekas gue ini, biar gak bayar dekor gitu. Biar ntar kalo kita anniv, beli hadiahnya paketan. Lebih irit, bro." goda Alex.

"Oliv."

Pertemuan sederhana macam ini sudah bisa membuatku bahagia, mengetahui bahwa kamu adalah alasan di balik setiap gelak tawa yang keluar dari mulutku. Sekuat tenaga aku berusaha bersikap dengan sewajarnya. Menempatkan diri sebagai sahabat terbaikmu sudah cukup membuatku bahagia. Namun sungguh, sesungguhnya ada rasa yang tak lagi bisa dikategorikan sebagai biasa. Debar-debar itu harus segera menemukan jawabannya.

Jumat, 21 Juni 2019 0 comments

Secarik Kertas di Akhir Bulan


Bagaimana kepala bisa pergi tanpa anggota tubuh yang lain. Aku kepala, kamu tubuhnya, dan anak-anak, sepasang kaki dan tangan yang selalu menopangku. Kita harus saling membantu dan bekerja sama. —Bapak.

"Kalau gitu, aku sendiri yang pergi. Kamu di rumah jaga anak - anak. Biar mereka dapat pendidikan yang baik di Jawa. Aku jauh cuma badannya, pikiran sama jiwa masih ada di sini, sama kamu, sama anak - anak." Bapak berpamitan kepada Ibuk dan kami berempat untuk yang terakhir kalinya di Pelabuhan Tanjung Mas Semarang.


Menjelang kepergiannya, Mbak Eka selalu menangis, selalu minta tidur dengan bapak. Berbeda dengan aku, Arya, dan Nabil, sikap kami biasa saja saat itu. Seolah tak mengerti atau mungkin ada rasa tidak peduli dengan Bapak.

Semarang, akhir tahun 2001.

Ini menjadi awal dimana Ibuk dipaksa mengasuh kami sendirian. Seperti petir di siang bolong, Bapak mendapat Surat Keputusan kalau ia harus pindah ke Pontianak beberapa bulan lagi. Waktu itu aku masih kelas 1 Sekolah Dasar, kakakku Mbak Eka duduk di kelas 4, dan kedua adik lelakiku masih Taman Kanak - Kanak. Aku masih belum tahu apa - apa waktu itu.

"Aku dapat SK baru, tahun depan pindah ke Pontianak. Kamu sama anak - anak ikut ya! Nanti tolong bantu di urus pindahannya!"

"Kok tiba - tiba? Itu sebentar lagi lho. Cuma tiga bulan, belum siap - siapnya. Belum lagi pindah sekolah anak - anak. Dinar sama Nabil baru masuk sekolah lho, uang gedungnya juga baru lunas bulan kemarin."

"Uang biar aku yang urus, kamu urus yang lainnya aja. Ndak usah terlalu bawa banyak barang, yang enggak kepake, kasih orang aja." Bapak dan Ibuk membicarakan semuanya. Awalnya mereka berencana memboyong kami berempat ke Pontianak. Mereka mencari informasi sekolah swasta yang baik untuk kami, mencari rumah dinas untuk ditinggali nanti, dan segala keperluan untuk kepindahan kami ke sana. Pokoknya, kami hanya tahu beres.

Satu bulan menjelang kepindahan kami ke Pontianak, Ibuk mengadakan selametan atau acara berkumpulnya keluarga dan tetangga sekitar untuk berdoa dan makan bersama. Semuanya berkumpul dan bergembira. Tak lupa, Ibuk mengundang keluarga yang tinggal di Kediri, Pekalongan, dan beberapa daerah di Semarang. Kami semua berharap kalau kepindahan kami ini berjalan lancar dan tidak terjadi apapun pada kami semua.

Dua minggu menjelang kepindahan kami ke Pontianak, ada peristiwa yang membuat Ibuk mengurungkan niat untuk pindah. Konflik etnis yang terjadi di Pontianak kembali membara. Berita itu menjadi headline di koran dan tajuk utama di televisi. Kepala manusia ditenteng dipamerkan di jalan raya, atau ditendang seperti bola. Anehnya, pelaku pun tampak sangat berbangga serta bergembira dengan tindakan itu. Nyawa manusia seolah menjadi tidak berharga di hadapan mereka yang bertikai.
Ibuk membujuk Bapak agar tak jadi pindah ke Pontianak. Takut terlibat dan melihat hal - hal tersebut. Mereka berdua kembali bergumul. Memutar otak untuk kebaikan kami semua.

"Gimana? Aku takut kenapa-kenapa. Itu di Kotanya. Di tempat kamu nanti. Madura lawan Melayu. Gimana kalau waktu di jalan di tangkap, di mutilasi kayak di berita. Kalau aku sama anak - anak lihat, kan takut."

"Udah, kalau aku memang harus berangkat, SK sudah turun, enggak bisa ditolak." Ibuk hanya bisa tersedu. Kepalanya bersandar pada bahu Bapak. Mata Bapak menatap nanar pada kami semua yang sedang berkumpul menonton televisi di ruang tengah. Bapak seorang Pegawai Negeri Sipil yang bekerja dibawah Kementerian Keuangan. Ia harus rela meninggalkan kami demi tugas negara.

Hari yang tak diinginkan tiba. Kami terpaksa melepas kepergian Bapak. Kami mengantarkan Bapak sampai di pelabuhan. Ibuk dan Mbak Eka, terisak - isak menangis. Saudara kami berusaha untuk menenangkan, memberikan penghiburan supaya kami berpikiran positif. Pelukan hangat Bapak hari itu, tak akan aku siakan, karena akan butuh waktu yang agak lama untuk mendapatkannya kembali.

Beberapa minggu setelah kepergiannya ke Pontianak, Ibuk mendapatkan surat pertama dari Bapak. Ia membacakannya kepada kami. Intinya keadaan Bapak baik dan ada amanat untuk selalu berkirim surat setiap bulan. Kami juga sama, kami harus menuliskan surat untuk dikirim ke Bapak.

"Nanti nulis suratnya, ya! Besok lusa tak ajak ke Kantor Pos, dikirim. Ditulis yang bagus, biar Bapak gampang bacanya!" instruksi Ibuk kepada kami ketika sudah memasuki akhir bulan.

Selesai belajar, kami diminta Ibuk untuk menulis surat kami masing - masing. Ibuk membagikan selembar kertas HVS polos untuk kami menulis surat. Ibuk hanya mengawasi kami yang duduk berdampingan di meja besar tempat kami belajar. Kadang, ia menuntun Nabil dan Arya yang sedang belajar menulis. Ia sangat sabar dan telaten mengajari kami.

Aku ingat jelas apa yang selalu kutuliskan. Aku selalu menuliskan kata rindu, menceritakan semua kegiatan sekolah, mengirimkan kertas ulangan, kadang aku juga menempelkan stiker kesukaanku di kertas surat atau menggambar sesuatu yang lucu di sana.

Sama halnya seperti aku, Mbak Eka, Arya dan Nabil juga mengirimkan surat. Yang paling lucu, adikku Nabil. Waktu itu ia masih terlalu kecil untuk mengerti. Ia malah menuliskan tokoh - tokoh kartun yang ia senangi dalam surat yang akan dikirim ke Bapak. Ibuk selalu tertawa ketika membaca surat yang dibuat Nabil, seperti oasis di tengah gurun pasir yang luas. Melegakan tenggorokan yang sedang kering. Walau begitu, Ibuk tetap mengirimnya kepada Bapak.

Paling tidak seminggu setelah kami mengirim surat, Pak Pos datang membawa balasan dari Bapak. Kami biasa membukanya bersama setelah jam belajar selesai. Amplop cokelat besar yang dilem kedua ujungnya, dengan perlahan Mbak Eka buka dengan gunting. Ia membagikan surat balasan untuk kami satu - persatu, sesuai nama yang ada tertulis di kertasnya.

Surat singkat tulisan tangan Bapak berisikan petuah dan nasehat bijak. Kertas suratnya bergambarkan burung elang yang sedang terbang. Di tengah lipatan surat, diselipkan beberapa lembar uang kertas untukku.

Buat Dinar,
Bapak baik di sini. Kamu gimana sekolahnya? Bulan kemarin ulangan dapat bagus, Bapak kasih hadiah ya! Minta tolong Ibuk buat antar beli mainan atau buku. Belajar terus biar nilainya tetap bagus. Jangan nakal sama Mbak Eka dan adik-adikmu. Nurut sama Ibuk!
Bapak.

Lewat secarik kertas yang datang di akhir bulan, aku dapat mengenalnya, melepas rindu dan menceritakan apa saja yang tak dapat kuucapkan secara langsung. Merasakan mempunyai sosok yang menyayangiku selain Ibuk. Walau raganya tak bersama kami, aku merasakan cintanya. Foto berukuran A4, gambaran wajahnya selalu kami pandangi ketika merindunya. Saling berpelukan untuk saling menguatkan.

Aku semakin larut dalam ingatan masa lalu. Terisak sendirian, memegang foto lawas di pojok ruangan sepi.


0 comments

Ingatan Masa Lampau


Aku mengeluarkan kardus coklat besar yang berdebu dari dalam gudang. Kukeluarkan satu persatu album dan frame foto yang dulu pernah menghiasi rumah lamaku. Aku mengusapnya dengan kain lap yang sudah siapkan sebelumnya. Lembar demi lembar aku buka dan kubersihkan dari lekatnya debu yang menempel. Aku berhenti pada sebuah foto. Kupandangi lekat - lekat gambaran yang ada dalam foto.

Tanpa sadar, air mataku menetes. Teringat kembali rentetat cerita dibalik foto lama yang aku pandangi. Foto seorang wanita yang sangat aku sayangi. Wanita tangguh yang selalu pasang badan membelaku dan rela memberikan seluruh kehidupannya untuk diriku. Ingatanku kembali ke masa kecilku dulu. Masa kecil yang bisa dibilang bahagia, untukku yang dulu belum tahu apa - apa.

Aku masih ingat betul masa kecilku dulu. Ketika Ibuk mengasuh kami, keempat anaknya sendirian. Tak pernah aku merasa kekurangan kasih sayang dari dia. Aku merasa dia seperti Ibuk, Bapak, dan sahabatku. Aku tenggelam dalam pikiran, mengenang masa lalu.

Pedih yang menempa mental, masa lalu yang terus mengejar, dan cita - cita yang belum sempat digapai menjadi secuil pengorbanan yang dilakukan oleh seorang Ibuk. Apa itu cinta, kasih sayang, dan pengorbanan, itu adalah makanan sehari - hari dan pelajaran hidup yang kita dapat dari seseorang yang disebut Ibuk.

Sebelum berangkat sekolah harus sarapan. Biar kalau belajar, perutnya ndak kosong, ndak bunyi krucuk - krucuk. —Ibuk.

"Nok, bangun sudah jam setengah enam! Sekolah ndak?" Ibuk menggerak - gerakkan badanku dan memanggil panggilan sayangnya padaku yang sedang berkelana dalam dunia mimpi.

Aku segera terbangun dari dunia mimpi. Aku menggosok - gosok kedua mataku, membersihkan kotoran mata yang menumpuk di ujung mata, meraba - raba meja yang sengaja diletakkan di sebelah tempat tidurku, mencari kacamata.

"Buk, bajuku mana?" teriakku dari dalam kamar mandi.

"Sek, bentar nok." dengan tergopoh - gopoh, Ibuk membawakan baju seragam merah putih milikku. Aku lekas mandi dan berganti baju. Kedua adikku sedang asyik menonton film kartun sambil menunggu giliran.

Semarang,  tengah tahun 2002.

Aku Dinar. Tahun ini aku naik kelas dua sekolah dasar. Aku anak kedua dari empat bersaudara. Kakakku, Mbak Eka, tahun ini naik kelas enam, Arya TKB dan adik bungsuku Nabil baru masuk TKA. Aku dan saudaraku sekolah di tempat yang sama. Sekolah milik yayasan Katolik yang mempunyai nama cukup baik di Semarang. Bapak sengaja memilih sekolah swasta untuk dasar pendidikan kami karena menurutnya, sekolah swasta lebih memiliki fasilitas, budaya jujur, dan kedisplinan di bandingkan sekokah milik pemerintah.

Ibuk selalu bangun lebih pagi daripada kami. Ia menyetrika baju kami, memasak nasi, mengecheck buku bawaan kami, dan membersihkan rumah. Ibuk yang mengerjakan semuanya sendiri. Tanpa pernah sekalipun ia mengeluh.

Kami selalu mandi pagi bergantian, sesuai urutan, dimulai dari Mbak Eka, aku, Arya, dan yang terakhir Nabil. Setelah Mbak Eka dan aku selesai ganti baju, Ibuk selalu meminta bantuan untuk membeli lauk sarapan.

"Mbak, ke Supri ya! Beli mendoan lima sama sayur rambak dua ribu. Ini mangkoknya. Hati - hati nyebrangnya, tengok kanan kiri dulu, jangan lari!" Kalimat ini selalu terulang setiap pagi, kami sebenarnya sudah hafal tapi tak apalah jika Ibuk mengulangnya kembali. Mungkin ia takut kalau kami lupa.

Jarak warung nasi memang tak jauh, kami hanya harus melewati dua rumah dan menyeberangi jalan raya yang tak terlalu ramai di pagi hari. Penjual nasi sudah lama berjualan di situ. Seorang wanita renta dan anak perempuannya yang sudah mengenal kami.

Sesampainya kami di rumah, Arya dan Nabil dibantu dengan Ibuk, sudah siap dengan baju seragamnya. Kemudian, Ibuk membagikan piring plastik milik kami masing-masing, mengambilkan jatah nasi dan lauknya. Kami makan bersama - sama. Inilah ritual sarapan kami sebelum sekolah. Selalu bertemu dengan nasi, mendoan, dan kecap. Tak pernah seharipun kami melewatkannya, meskipun hari libur sekolah.

"Mbak, nanti pulang sendiri ya! Ini uang buat naik bis, ini buat sangu." Ibuk memberikan uang saku untuk Mbak Eka. Hanya 1000 rupiah untuk jajan dan 200 rupiah untuk ongkos naik bis. Sedangkan aku dan kedua adikku belum, kami sekolah sampai jam sepuluh pagi, berbeda dengan Mbak Eka yang sampai siang jam 12.30.

Ibuk sudah melatih Mbak Eka pulang sendiri dengan naik bis sejak kelas 5 SD. Sampai sekarang kalau Ibuk tak sempat menjemput, ia dapat pulang sendiri. Jarak sekolah kami tidak terlalu jauh, namun jalannya terlalu ramai bila harus jalan kaki seorang diri.

Usai sarapan, kami memakai sepatu masing-masing, kami membawa tas kami untuk segera berangkat ke sekolah. Tak lupa kami mencium punggung tangan Ibuk dan berpamitan untuk berangkat ke sekolah. Kami berjalan ke rumah tetangga, persis di sebelah kanan rumah.

Kami selalu berangkat ke sekolah bersama dengan naik mobil milik tetangga. Kebetulan kami masuk ke sekolah yang sama dan anak bungsu tetangga, satu angkatan denganku. Pak Budi dan Tante Yuli, sepasang suami istri keturunan Tionghoa yang pindah ke sebelah rumah kami sejak tahun 1997.

Rumah kami terletak pada perkampungan biasa namun mayoritas yang menghuni adalah keturunan Tionghoa. Itu sudah menjadi hal yang biasa di Semarang. Kota dengan berbagai perbedaan yang masih memiliki rasa toleransi tinggi.

"Lin, ayok cepet! Sudah ditunggu Dinar ini lho." teriak Tante Yuli memanggil putri bungsunya, sembari memanaskan mesin mobil.

"Sebentar ya, Ferlin masih sarapan. Kamu sudah sarapan, kok jam segini sudah siap?" tanyanya padaku. Aku hanya mengganggukkan kepala, mengiyakan pertanyaan dari Tante Yuli.

"Bangun jam berapa kamu kalo pagi?"

"Jam setengah enam." balasku.

"Lha, Nabil juga?" Tante Yuli kini bertanya kepada adikku yang paling kecil, Nabil. Nabil mengganggukan kepalanya sambil tertawa - tawa menggoda Arya kakaknya.

Tante Yuli masuk ke dalam rumah memanggil kedua putrinya untuk segera bersiap. Tak lama, mereka keluar untuk berangkat ke sekolah. Priska, anak pertama Tante Yuli masih belum memakai sepatu dan ia membawa setangkup roti tawar dilapisi coklat untuk sarapan.

"Cicik lama tadi, Mah. Masak belum nyiapin buku." Ferlin yang sudah duduk di kursi depan penumpang, mengadu pada Mamanya yang sedang berusaha mengeluarkan mobilnya dari halaman rumah.

Priska yang ada diluar mobil tak mendengar, ia masih asyik mengunyah sarapannya. Mbak Atik, asisten rumah tangga mereka, membawakan tas, sepatu, prakarya milik Priska dari dalam rumah dan memasukkannya kedalam mobil. Usai persiapan Priska dan Ferlin selesai, kami segera masuk ke dalam mobil. Berangkat ke sekolah untuk menuntut ilmu.

Priska dan Ferlin, sungguh anak yang beruntung. Pak Budi seorang pemilik apotek di daerah Pasar Bulu Semarang sedangkan istrinya, Tante Yuli, seorang karyawati bank swasta. Mereka hidup lumayan berkecukupan sehingga dapat membayar upah dua orang asisten rumah tangga. Mbok Yah, bertugas untuk memasak dan membersihkan rumah, serta Mbak Atik, yang memiliki tugas untuk mencuci dan mengurus Ferlin dan Priska.

Sepanjang perjalanan ke sekolah, kami selalu dicekoki lagu-lagu Westlife. Boy band terkenal yang berasal dari Irlandia. Tante Yuli memutar CD album Coast to Coast dan Westlife album pertamanya di tape yang terpasang di mobil.

Mulai dari I Have A Dream, Up Town Girl, Seasons In The Sun, Soledad, More Than Words, dan yang menjadi lagu favorit kami My Love, kami menghapalnya. Tak jarang kami menyanyikan lagunya bersama - sama, disepanjang jalan ke sekolah. Memori itu masih terpatri dalam otakku. Lagu - lagu hits pada zamannya.

Kami selalu menikmati perjalanan kami ke sekolah. Jalanan yang sepi dan lenggang pada tahun itu, tidak seperti sekarang. Cuma butuh waktu 20 menit untuk membelah Kota Semarang. Perjalanan singkat dan menyenangkan ketika berangkat sekolah.

Entah mengapa tiba - tiba aku kembali mengenang masa kecilku yang memorable. Masa dimana kami berempat dan Ibuk bersama. Masa dimana kami hanya mengenal Bapak lewat secarik surat di akhir bulan.


 
;