Aku mengeluarkan kardus coklat besar yang berdebu dari dalam gudang. Kukeluarkan satu persatu album dan frame foto yang dulu pernah menghiasi rumah lamaku. Aku mengusapnya dengan kain lap yang sudah siapkan sebelumnya. Lembar demi lembar aku buka dan kubersihkan dari lekatnya debu yang menempel. Aku berhenti pada sebuah foto. Kupandangi lekat - lekat gambaran yang ada dalam foto.
Tanpa sadar, air mataku menetes. Teringat kembali rentetat cerita dibalik foto lama yang aku pandangi. Foto seorang wanita yang sangat aku sayangi. Wanita tangguh yang selalu pasang badan membelaku dan rela memberikan seluruh kehidupannya untuk diriku. Ingatanku kembali ke masa kecilku dulu. Masa kecil yang bisa dibilang bahagia, untukku yang dulu belum tahu apa - apa.
Aku masih ingat betul masa kecilku dulu. Ketika Ibuk mengasuh kami, keempat anaknya sendirian. Tak pernah aku merasa kekurangan kasih sayang dari dia. Aku merasa dia seperti Ibuk, Bapak, dan sahabatku. Aku tenggelam dalam pikiran, mengenang masa lalu.
Pedih yang menempa mental, masa lalu yang terus mengejar, dan cita - cita yang belum sempat digapai menjadi secuil pengorbanan yang dilakukan oleh seorang Ibuk. Apa itu cinta, kasih sayang, dan pengorbanan, itu adalah makanan sehari - hari dan pelajaran hidup yang kita dapat dari seseorang yang disebut Ibuk.
Sebelum berangkat sekolah harus sarapan. Biar kalau belajar, perutnya ndak kosong, ndak bunyi krucuk - krucuk. —Ibuk.
"Nok, bangun sudah jam setengah enam! Sekolah ndak?" Ibuk menggerak - gerakkan badanku dan memanggil panggilan sayangnya padaku yang sedang berkelana dalam dunia mimpi.
Aku segera terbangun dari dunia mimpi. Aku menggosok - gosok kedua mataku, membersihkan kotoran mata yang menumpuk di ujung mata, meraba - raba meja yang sengaja diletakkan di sebelah tempat tidurku, mencari kacamata.
"Buk, bajuku mana?" teriakku dari dalam kamar mandi.
"Sek, bentar nok." dengan tergopoh - gopoh, Ibuk membawakan baju seragam merah putih milikku. Aku lekas mandi dan berganti baju. Kedua adikku sedang asyik menonton film kartun sambil menunggu giliran.
Semarang, tengah tahun 2002.
Aku Dinar. Tahun ini aku naik kelas dua sekolah dasar. Aku anak kedua dari empat bersaudara. Kakakku, Mbak Eka, tahun ini naik kelas enam, Arya TKB dan adik bungsuku Nabil baru masuk TKA. Aku dan saudaraku sekolah di tempat yang sama. Sekolah milik yayasan Katolik yang mempunyai nama cukup baik di Semarang. Bapak sengaja memilih sekolah swasta untuk dasar pendidikan kami karena menurutnya, sekolah swasta lebih memiliki fasilitas, budaya jujur, dan kedisplinan di bandingkan sekokah milik pemerintah.
Ibuk selalu bangun lebih pagi daripada kami. Ia menyetrika baju kami, memasak nasi, mengecheck buku bawaan kami, dan membersihkan rumah. Ibuk yang mengerjakan semuanya sendiri. Tanpa pernah sekalipun ia mengeluh.
Kami selalu mandi pagi bergantian, sesuai urutan, dimulai dari Mbak Eka, aku, Arya, dan yang terakhir Nabil. Setelah Mbak Eka dan aku selesai ganti baju, Ibuk selalu meminta bantuan untuk membeli lauk sarapan.
"Mbak, ke Supri ya! Beli mendoan lima sama sayur rambak dua ribu. Ini mangkoknya. Hati - hati nyebrangnya, tengok kanan kiri dulu, jangan lari!" Kalimat ini selalu terulang setiap pagi, kami sebenarnya sudah hafal tapi tak apalah jika Ibuk mengulangnya kembali. Mungkin ia takut kalau kami lupa.
Jarak warung nasi memang tak jauh, kami hanya harus melewati dua rumah dan menyeberangi jalan raya yang tak terlalu ramai di pagi hari. Penjual nasi sudah lama berjualan di situ. Seorang wanita renta dan anak perempuannya yang sudah mengenal kami.
Sesampainya kami di rumah, Arya dan Nabil dibantu dengan Ibuk, sudah siap dengan baju seragamnya. Kemudian, Ibuk membagikan piring plastik milik kami masing-masing, mengambilkan jatah nasi dan lauknya. Kami makan bersama - sama. Inilah ritual sarapan kami sebelum sekolah. Selalu bertemu dengan nasi, mendoan, dan kecap. Tak pernah seharipun kami melewatkannya, meskipun hari libur sekolah.
"Mbak, nanti pulang sendiri ya! Ini uang buat naik bis, ini buat sangu." Ibuk memberikan uang saku untuk Mbak Eka. Hanya 1000 rupiah untuk jajan dan 200 rupiah untuk ongkos naik bis. Sedangkan aku dan kedua adikku belum, kami sekolah sampai jam sepuluh pagi, berbeda dengan Mbak Eka yang sampai siang jam 12.30.
Ibuk sudah melatih Mbak Eka pulang sendiri dengan naik bis sejak kelas 5 SD. Sampai sekarang kalau Ibuk tak sempat menjemput, ia dapat pulang sendiri. Jarak sekolah kami tidak terlalu jauh, namun jalannya terlalu ramai bila harus jalan kaki seorang diri.
Usai sarapan, kami memakai sepatu masing-masing, kami membawa tas kami untuk segera berangkat ke sekolah. Tak lupa kami mencium punggung tangan Ibuk dan berpamitan untuk berangkat ke sekolah. Kami berjalan ke rumah tetangga, persis di sebelah kanan rumah.
Kami selalu berangkat ke sekolah bersama dengan naik mobil milik tetangga. Kebetulan kami masuk ke sekolah yang sama dan anak bungsu tetangga, satu angkatan denganku. Pak Budi dan Tante Yuli, sepasang suami istri keturunan Tionghoa yang pindah ke sebelah rumah kami sejak tahun 1997.
Rumah kami terletak pada perkampungan biasa namun mayoritas yang menghuni adalah keturunan Tionghoa. Itu sudah menjadi hal yang biasa di Semarang. Kota dengan berbagai perbedaan yang masih memiliki rasa toleransi tinggi.
"Lin, ayok cepet! Sudah ditunggu Dinar ini lho." teriak Tante Yuli memanggil putri bungsunya, sembari memanaskan mesin mobil.
"Sebentar ya, Ferlin masih sarapan. Kamu sudah sarapan, kok jam segini sudah siap?" tanyanya padaku. Aku hanya mengganggukkan kepala, mengiyakan pertanyaan dari Tante Yuli.
"Bangun jam berapa kamu kalo pagi?"
"Jam setengah enam." balasku.
"Lha, Nabil juga?" Tante Yuli kini bertanya kepada adikku yang paling kecil, Nabil. Nabil mengganggukan kepalanya sambil tertawa - tawa menggoda Arya kakaknya.
Tante Yuli masuk ke dalam rumah memanggil kedua putrinya untuk segera bersiap. Tak lama, mereka keluar untuk berangkat ke sekolah. Priska, anak pertama Tante Yuli masih belum memakai sepatu dan ia membawa setangkup roti tawar dilapisi coklat untuk sarapan.
"Cicik lama tadi, Mah. Masak belum nyiapin buku." Ferlin yang sudah duduk di kursi depan penumpang, mengadu pada Mamanya yang sedang berusaha mengeluarkan mobilnya dari halaman rumah.
Priska yang ada diluar mobil tak mendengar, ia masih asyik mengunyah sarapannya. Mbak Atik, asisten rumah tangga mereka, membawakan tas, sepatu, prakarya milik Priska dari dalam rumah dan memasukkannya kedalam mobil. Usai persiapan Priska dan Ferlin selesai, kami segera masuk ke dalam mobil. Berangkat ke sekolah untuk menuntut ilmu.
Priska dan Ferlin, sungguh anak yang beruntung. Pak Budi seorang pemilik apotek di daerah Pasar Bulu Semarang sedangkan istrinya, Tante Yuli, seorang karyawati bank swasta. Mereka hidup lumayan berkecukupan sehingga dapat membayar upah dua orang asisten rumah tangga. Mbok Yah, bertugas untuk memasak dan membersihkan rumah, serta Mbak Atik, yang memiliki tugas untuk mencuci dan mengurus Ferlin dan Priska.
Sepanjang perjalanan ke sekolah, kami selalu dicekoki lagu-lagu Westlife. Boy band terkenal yang berasal dari Irlandia. Tante Yuli memutar CD album Coast to Coast dan Westlife album pertamanya di tape yang terpasang di mobil.
Mulai dari I Have A Dream, Up Town Girl, Seasons In The Sun, Soledad, More Than Words, dan yang menjadi lagu favorit kami My Love, kami menghapalnya. Tak jarang kami menyanyikan lagunya bersama - sama, disepanjang jalan ke sekolah. Memori itu masih terpatri dalam otakku. Lagu - lagu hits pada zamannya.
Kami selalu menikmati perjalanan kami ke sekolah. Jalanan yang sepi dan lenggang pada tahun itu, tidak seperti sekarang. Cuma butuh waktu 20 menit untuk membelah Kota Semarang. Perjalanan singkat dan menyenangkan ketika berangkat sekolah.
Entah mengapa tiba - tiba aku kembali mengenang masa kecilku yang memorable. Masa dimana kami berempat dan Ibuk bersama. Masa dimana kami hanya mengenal Bapak lewat secarik surat di akhir bulan.

