Selasa, 16 September 2025 0 comments

kalau diceritain panjang, jadi aku mending lari.

Hidup yang monoton menjalani rutinitas yang itu-itu saja seharusnya banyak-banyak aku syukuri. Itu berarti badai kehidupan tidak sedang bersamaku. Di tengah hiruk pikuk undangan pernikahan dan tentang semua asumsi orang terhadapku, terima kasih karena menurut kalian aku berbahagia.

Aku tak setenang itu, sesekali aku ingin mencabik mulutnya saat ia mulai mengoceh menyalahkan semua orang seenaknya. Aku ingin menarik rambutnya sampai lepas dari kulit kepala ketika dagunya sudah mulai lebih tinggi dari lubang hidungnya. You will never understand the hell I feel inside my head. Aku diam bukan karena apa, aku diam karena sibuk menenangkan monster yang ada di dalamku.

Di umur yang tak lagi muda ini aku memutuskan untuk berhenti membandingkan nasibku. Aku sudah lelah melihat pencapaian orang lain yang kadang di usia mudanya sudah mendapatkan apa yang belum aku punya, pasangan hidup, rumah, pekerjaan tetap, mobil, destinasi liburan menarik, konser band luar negeri, tas mahal, dan segala bentuk berhala masa kini lainnya.



Dulu aku merasa hidupku tertinggal jauh. Kini aku memilih jalan berbeda: berhenti berlari mengejar standar orang lain, dan mulai belajar berlari dengan ritmeku sendiri. Mungkin aku belum punya semua itu, tapi aku punya ruang untuk bernapas, waktu untuk diriku sendiri, dan keberanian untuk tetap melangkah meski pelan.

Monster di kepalaku tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya bisa diajak kompromi. Ada hari-hari ketika ia diam, ada juga saat ia meraung tak terkendali. Tapi aku menemukan cara sederhana untuk menenangkannya: melangkah keluar rumah, menapaki jalan, dan membiarkan tiap detak jantung mengalahkan riuh pikiran.

Kalau diceritakan panjang, mungkin kalian tidak akan peduli. Jadi aku lari saja. Biar sakit kepala berubah jadi sakit kaki. Biar monster di kepala diam, meski cuma sebentar.
Selasa, 09 September 2025 0 comments

Merbabu Sky Run 2025: Jalur, Dada, dan Diri Sendiri

Hidup memang kayak track trail: kadang mulus, kadang makadam; baru lega nemu turunan, eh lutut langsung protes. Begitu juga di Merbabu Sky Run 2025 ini. Jalurnya bikin dada ngos-ngosan, bikin kaki serasa ditarik paksa, tapi di tiap langkah ada jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang kubawa sendiri.












Aku sempat mikir, harusnya Virgin Trail Run-ku adalah Kendal Trail Run 7K. Tapi semesta bikin plot twist — Merbabu Sky Run kategori 10K jadi debut trail run-ku. Nggak tanggung-tanggung, langsung disuguhi jalur yang dar-der-dor: tanjakan panjang, turunan licin, semak liar, jalan makadam, sampai pemandangan gunung yang kayak nyinyir, ngetawain tiap kali aku berhenti ambil napas.

Tapi justru di jalur itu aku belajar lagi: bahwa semua orang lari dengan caranya sendiri, semua orang punya pace, semua orang punya pertarungannya masing-masing.

Dan aku sampai juga ke garis finish. Dengan wajah basah keringat, kaki gemetar, tapi senyum tetap lebar. Di depan kamera, aku angkat jempol — bukan buat gaya, tapi simbol bahwa aku bisa, meski jalur keras banget.

Finish kali ini bukan cuma soal catatan waktu di jam tangan. Tapi tentang bagaimana aku berdiri lagi setelah setiap turunan bikin lutut protes, tentang bagaimana aku berani bilang ke diri sendiri: “Kamu bisa, kamu kuat.”

Beauty and strong — bukan karena aku terlihat cantik di garis finish, tapi karena aku menyelesaikan lari ini dengan utuh: dengan rasa sakit, dengan keringat, dengan tawa, dan dengan hati yang penuh.

Merbabu Sky Run 2025 jadi lebih dari sekadar race. Ia jadi cermin, pengingat, bahwa hidup — seperti jalur ini — selalu penuh plot twist. Ngeselin tapi ngangenin.

Kamis, 24 Juli 2025 0 comments

3428 Mdpl : jalur cantik tapi luka.

Lama sudah tidak gandeng tracking pole, akhirnya long weekend terakhir di tahun ini jalan juga ke Tegal. Berbekal keyakinan penuh kami bertiga yang terpencar berangkat dari tempt kami masing-masing dengan tentunya drama yang penuh emosi. Dari aku yang hampir cancel di hari H karena ada latihan padus yang sebenarnya di haruskan untuk anak baru ini. Tapi dengan keberanian dan keyakinan penuh, nekat meninggalkan tugas negara demi Atap Jateng yang harapannya bisa di daki sampai puncak Soerono.

Perjalanan ke Tegal memakan waktu 3 jam dari Semarang. Perut cukup lapar karena terakhir makan siang tadi dan menjelang sore sudah harus berkejaran dengan jam keberangkatan sampai beli air mineral saja tidak ada waktu. Berlarian masuk ke Stasiun Poncol untung saja sudah ada teknologi face regconize yang sangat mempercepat proses check in. Tak lama kereta berangkat, kaki langsung melangkah ke gerbong makan. Semangkuk cuangki dan sebotol air mineral langsung membanjiri lambung yang kosong. Tak lama, aku langsung duduk kembali ke tempat dan beristirahat.

Sampai di Stasiun Tegal, aku sudah di tunggu di Indomaret Point yang kebetulan di depannya sudah ada panggung wayang untuk pertunjukan Malam Satu Suro. Kami melewatkannya begitu saja karena Lalamove yang akan mengantar kami ke basecamp Permadi Guci sudah standby di Stasiun. Langsung naik ke bak belakang pick up, kami menelusuri pawai obor Tegal, Slawi, dan Guci. Semilir angin mulai dingin malam itu. Kami secara jumpa fans karena sepanjang perjalanan banyak titik kumpul warga yang menanti pawai obor.

Kami turun tepat di depan basecamp Permadi Guci yang sepi karena hari sudah hampir tengah malam. Kami langsung melipir ke warung terdekat untuk mengisi perut dan bertanya soal homestay yang bisa kami tinggali selama di Guci. Agak masuk ke arah pintu rimba, kami sampai di homestay Bang Jay. Di sana juga ada beberapa rombongan pendaki yang sepertinya mau naik besok pagi juga. Beberapa dari mereka sudah ada yang tidur untuk mempersiapkan energi dan beberapa masih nongkrong di teras. Kami yang sudah kenyang langsung masuk saja dan tanpa basa-basi mengeluarkan sleeping bag untuk beristirahat.

Aku langsung tertidur pulas malam itu. Entah karena lelah atau kekenyangan. Tanpa mendengar apa-apa, aku bangun ketika alarmku berbunyi pukul 05.00 wib. Aku bersiap untuk mandi yang memilah bawaanku yang tak perlu di bawa ke atas. Kami bersiap sarapan, menitipkan barang di homestay, tak lupa kami membungkus 3 nasi untuk makan siang kami nanti. Setelah itu kami langsung mendaftar simaksi dan memesan ojek untuk sampai di pos 1 dengan cepat.

Perjalanan dengan ojek cukup membuat perut mual. Kukira ojek Sumbing via Garung sudah ekstrem ternyata Slamet via Permadi Guci tak kalah ekstrem. Jalur yang setiap hari Kamis selalu di bersihkan dan bambu yang disusun dengan rapi cukup mengurangi licinnya jalur yang berpasir. Tak sampai 30 menit, kami tinggal duduk dan memegang erat pinggang bapak ojek.


Usai berdoa, kami mulai menelusuri jalur. Jalan kami cukup lambat karena jujur saja aku tidak pemanasan sebelumnya. Usai beberapa tanjakan kami berhenti mengatur heart rate dan begitu seterusnya sampai melewati pos 2, pos 3, dan pos 4. Sebenarnya kami tak terlalu lambat juga karena kami bisa mengimbangi porter yang membawa kulkas untuk open trip. Walau beban mereka jauh berbeda tapi spek kaki tetap berbeda kalau dibandingkan aku belum lagi kami juga banyak berhenti karena mengabadikan foto atau video.






Jalur ini benar-benar memanjakan mata dan telinga. Aku banyak terkagum karena vibes yang diciptakan di jalur ini seperti hutan di ghibli. Pohon besar tua yang dahannya dipenuhi oleh lumut, barisan bunga berwarna ungu yang berada di sepanjang kanan-kiri jalur yang sebelumnya penuh dengan bunga berwarna putih dengan ranting kecoklatan. Suara kicauan burung dan gemericik air serasa dalam bioskop dengan dolby atmos, all around you.

Tepat matahari di ubun-ubun, kami sudah sampai di camp area. Aku cukup kaget karena baru kali ini aku naik gunung tapi fasilitas di camp area cukup lengkap, toilet, warung, musholla, dan sumber mata air berlimpah. Kami langsung memilih spot yang cantik sebelum tempat tersebut diakui oleh warga lokal atau rombongan open trip. Tanpa ba-bi-bu, kami mendirikan tenda dan belom sampai jam 1 siang kami sudah gabut. Kami makan siang with the view hari itu. Rendang yang dimasak Ibuk menjadi lauk yang sangat mewah untuk kami. Belum lagi ditambah telor ceplok dan kering tempe yang kami bungkus dari homestay.

Setelah kenyang, aku tidur siang. Ini menjadi perjalanan yang membuatku nyaman. Time management kami hari ini bisa dibilang sangat baik. Terdengar dari luar, gerimis mulai turun. Udara menjadi semakin dingin dan aku mulai menggencangkan kaos kaki. Hampir maghrib, kami membuat minuman hangat untuk menghangatkan badan kami juga. Di sekitar tenda kami sudah ramai dengan tenda lain yang beragam warna dan bentuk. Ramainya suara rombongan yang tadinya se-homestay dengan kami juga dekat dengan tenda kami.

Kami kembali menyusun tas summit kami sebelum tidur. Kami juga menyetel alarm pukul 01.30 WIB. Sebelum alarm berbunyi ternyata camp area sudah ramai orang beraktivitas. Kami segera membuat air hangat dan menyeduh oatmeals untuk pondasi perut. Usai itu aku ke toilet dan menyiapkan diri untuk summit. Perjalanan ini sepertinya akan sangat lama melihat video-video youtube dan reels yang sudah lalu lalang sebelum aku kesini.

Benar saja, sepanjang jalan, full sambat. Jalur dari camp area sampai ke puncak benar-benar menyiksa dan menguji mental. Belum sampai vegetasi terbuka, perutku mengeluarkan semua isinya. Lapar campur mual ditambah udara dingin yang mulai merasuk kulit. Kembali melanjutkan perjalanan, langkahku semakin melambat ketika bertemu dataran tinggi berpasir. Semakin dilanjutkan, semakin kaki ini berteriak.

Langit mulai terang. Semangat baru muncul kembali setelah melihat pucuk Slamet yang merona. Aku mulai memilih pijakan kaki, takut-takut kalau salah memijak bebatuan gugur dan mencelakakan orang lain. Trekking pole mulai dilipat karena tanganku harus erat memeluk webbing. Selangkah demi selangkah kupaksakan. Beberapa orang sudah mulai turun dari ketinggian, pertanda aku harus mempercepat langkah agar lekas sampai puncak. Aroma belerang juga sudah menguar. Aku kembali merangkak melewati awan.


"Sedikit lagi mbak. Tanggung sudah sampai sini." seru seorang ibu dengan jaket berlogo Bank Mandiri.

Ya benar juga, puncak juga sudah terlihat dekat. Memang kemiringan dan medannya masih lumayan berat tapi tanggung dan malas juga kalau harus remidi di lain hari apalagi aku berangkat dengan segala drama yang ada. Aku kembali menata napasku dan melangkah. Aroma belerang sudah semakin pekat dan plang sudah kelihatan di depan mata.


Kami tak terlalu lama di Puncak Salam. Usai foto dan mengambil beberapa footage kawah, kami bergegas untuk melanjutkan perjalanan ke Puncak Soerono. Jalan sudah tak terlalu berelevasi tapi kiri dan kanan jurang. Beberapa bebatuan juga harus kami lewati untuk sampai di Puncak Soerono. Tapi entah mengapa langkahku tak terlalu berat untuk kesana. Tak sampai 30 menit, kami sampai di Puncak Soerono. Tuhan dan semesta mengijinkanku untuk sampai di Puncak Soerono, Gunung Slamet, di ketinggian 3428 Mpdl, Atap Jawa Tengah.


Sebelum pulang, kami membuka perbekalan buah kaleng di bibir kawah dekat Puncak Salam. Buah di puncak gunung memang tak pernah salah. Kesegarannya langsung naik drastis ketika melewati tenggorokan. Sebelum matahari di ujung kepala, kami segera turun mengingat kami tak mau berjalan menyusuri jalur di waktu maghrib. Perjalanan turun sangat menyiksa tangan. Kami harus berpegang di webbing dan merangkak turun. Sarung tanganku sampai berlubang dibuatnya. Apalagi aku melihat beberapa orang melaluinya dengan tangan kosong.

Tak menyempatkan diri untuk makan siang, kami langsung membereskan tenda dan segala perlengkapannya. Lagi-lagi time management kami kali ini sangat baik. Tiap pos kami hanya beristirahat beberapa menit untuk minum dan bernapas. Kami kembali sampai di pos satu jam 17.00 WIB. Namun, kami mesti mengantre ojek yang ternyata panjang juga. Deretan keril mengular dari pos ojek sama di depan warung pos satu. Sebelum maghrib, kami sudah turun dan kembali sampai di basecamp. Seperti biasa, kami memilih beristirahat dulu sebelum mandi. Indomie rebus dan teh hangat terasa sangat enak sehabis turun gunung.

Perjalanan S3 kami selesai sampai disini. Restu Ibuk, Tuhan, dan Alam Semesta yang membiarkan kami menginjakan kaki di puncak Slamet dengan slamet. Hari ini akan kami ceritakan ke anak cucu kami kelak dan semoga besok mereka bisa melangkah lebih jauh ketimbang kami hari ini.






 
;