Senin, 19 Mei 2025 0 comments

centang satu.

Hari itu perjalanan terakhirku dari Jakarta ke Cikarang. Perasaanku campur aduk antara senang dan sedih. Senang karena bisa mengobrol dengan kawan lama, dan sedih karena mungkin aku tidak akan bisa bertemu lagi dalam waktu dekat atau bisa saja tidak akan bertemu lagi selamanya.

Perjalanan dengan sisa baterai handphone di bawah 20% lumayan membuatku cukup ngeri. Aku harus menghematnya agar bisa keluar dari stasiun. Belum lagi aku perlu memesan ojek online. Aku tak memakainya sama sekali setelah masuk ke kereta.

Sepanjang perjalanan aku banyak dibuat berpikir. Malam itu suasana cukup ramai. Apalagi rintik hujan tak berhenti sejak sore hari. Keluarga kecil yang nampak bahagia menyelesaikan perjalanan mereka—lengkap dengan anak yang tertidur di pangkuan ibunya, ayah yang repot menenteng belanjaan. Aku diam-diam mencuri pandang. Apa aku boleh bermimpi membuat keluarga kecilku seperti mereka?

Aku menatap ke luar jendela kereta, lampu-lampu jalan berlarian mundur. Pertanyaan itu terasa menampar. Di sisi lain, hubungan kita sedang begini-begini saja. Kamu yang terlalu cepat ambil kesimpulan, dan aku si tukang menghilang. Kita berdua seperti stasiun yang tidak pernah selesai dibangun: selalu ada peron baru, tapi tak pernah ada kereta yang benar-benar berhenti.

Aku menghela napas. Battery tinggal 12%. Pikiran masih penuh tanda tanya. Layar ponselku gelap, layar pikiranku terang benderang. Dan entah kenapa, di antara hujan, lampu jalan, dan wajah-wajah asing di dalam gerbong, aku merasa seperti pesan yang tak pernah terkirim.

Aku hanya bisa mencentang satu:

datang.

pergi.

hilang.

Dan mungkin memang hanya itu yang bisa kulakukan sekarang.

Jumat, 16 Mei 2025 0 comments

ketika manusia bodoh berkumpul

Sebenarnya obrolan ini sering terjadi diantara kami. Terakhir menghabiskan waktu 6 jam lebih untuk saling berkabar. Obrolan yang awal mula hanya saling menanyakan kabar berujung saling adu nasib dan menertawakan kebodohan kami masing-masing. Seusai long weekend, ia bercerita panjang tentang hts-nya. Bukan untuk yang pertama kali karena jujur saja aku sudah cukup muak untuk mendengarkannya. Dua orang yang saling menyayangi tapi tak ada yang berani untuk melangkah. Ya, itulah premisnya.

Kisah cinta semua orang terdengar mulus di telingaku. Rasa cinta tumbuh begitu saja dan mereka melenggang ke hubungan yang lebih jauh. Halangannya paling mbak-mbak lc dan jarak. Tidak ada terhalang agama yang berbeda, restu orang tua, atau adat. Terlihat mudah tapi aku merasa sulit untuk menjalaninya.

Cerita yang sudah orang lain alami bisa jadi pelajaran berharga buatku. Awal mula aku merasa tak punya value apa-apa sehingga orang lain perlu memperjuangkanku. Tapi lama kelamaan setelah bertemu bapak-bapak random, aku melihat diriku dari sudut pandang yang berbeda. Mereka dengan latar belakang yang berbeda, bisa memanusiakan mbak-mbak lc dengan baik. Kadang aku mendengarkan cerita dari mereka cukup merasa iri dengan mbak-mbak lc atau bisa disebut peliharaan mereka itu. Peliharaan saja bisa mendapat sesuatu yang selama ini kucari dari lelaki diluar saya. Apalagi istri sah-nya. Effort.Mereka tidak hanya memberi bare minimum effort ke peliharaan mereka. Peliharaan. Tapi disisi lain, istri mereka pun mendapatkan hal yang sama bahkan lebih. Hidup keduanya terjamin meski si lelaki harus pontang-panting cari tambahan untuk menyalakan banyak dapur yang berbeda. 

Bagaimana bisa? Ya, mereka mencari kemungkinan lain di luar sana. Beberapa tak berani ambil resiko sehingga memilih beli putus. Tapi untuk mereka yang mencari adrenalin lebih, mereka memaintain salah satu yang memang menjadi selera mereka. Dari salah satu narasumber bapak-bapak, mereka mencari sesuatu yang tidak mereka temukan di istri mereka di rumah, bisa jadi karena perubahan hormon sehingga tidak seenak dulu atau banyak faktor yang lain (ikut trend teman-teman, hubungan jarak jauh dengan istri, atau lain sebagainya). Memang aku tidak membenarkan hal tersebut tapi memang begitu adanya ya bagaimana lagi.

Kalau boleh membandingkan, value yang kupunya lebih dibanding dengan peliharaan mereka namun sejauh ini aku hanya bertemu dengan orang yang salah saja. Walau penampilanku tak se-feminim mereka paling tidak kalau diajak kondangan aku tidak malu-maluin lah ya. Otakku juga jauh dibanding otak mereka yang kosong, mereka paling gacor kalau diajak bicara soal selangkangan dan minuman enak saja, sisanya ya cuma bisa diajak hahahihi. Hal yang aku belum bisa saingi ya mood mereka yang selalu happy dan datar tiap di telepon atau di hubungi. Ya bagaimana, mereka tidak melibatkan perasaan mereka. Soal effort apalagi. Peliharaan mereka benar-benar effortless untuk mendapatkan semuanya. Aku? Aku harus capek naik transum buat menghampiri dia yang katanya 'sayang'.

Tapi apa benar cinta sesaat itu yang aku cari? Aku tak mau disamakan dengan mereka. Hubungan yang kucari bukan transaksional dan semalam saja tapi selamanya. Mereka yang benar-benar mencintai akan mengirimkan sinyal yang jelas. Aku tahu sejauh ini hubunganku belum sampai ke pelaminan, tapi hal ini sering aku dapat dari orang-orang yang sudah sampai kesana.

Hal indah butuh waktu untuk datang. Tapi kalau yang ditunggu ga sadar, ya terpaksa kita jemput bola. Kalau effort kita tak terbalas dengan sinyal yang jelas mungkin kita harus memperjelasnya terlebih dahulu apalagi kalau 'yakin' itu sudah datang. Hubungan lelaki dan perempuan itu tak bisa selamanya kecuali ada cincin yang mengikat. Semua akan berubah asing bila saat itu tiba. Jadi tidak ada yang dipertaruhkan yang ada hanya mempercepat saat itu tiba atau memperpanjangnya. 

Kadang kerumitan hanya ada di kepala kita. Hal yang bisa dilakukan hanya menjalani yang ada di depan mata. Semakin ditunda hanya akan memperdalam luka. Tapi yang perlu diingat kita perlu menyiapkan space untuk kecewa bila hasilnya tak sesuai ekspektasi.

Benar kata orang kalau sebelum dicintai, kita harus mencintai diri kita sendiri dengan penuh, memeluk diri kita erat, menerima kita apa adanya. Semua trauma yang kita bawa bukan tanggung jawabnya tapi tanggung jawab kita sendiri. Semua hal yang sudah kita perjuangkan sendiri akan menarik hal-hal baik lain seperti medan magnet yang tak perlu banyak gaya.

Hal-hal yang aku takutkan sepertinya mulai terjawab satu-persatu. Teori-teori yang ada di kepala perlahan luntur mendengar semua realita yang ada. Pattern dan template semua orang berbeda. Tak bisa di bandingkan satu dengan yang lain. Timeline kita apalagi. Hanya Pencipta yang tahu.
Sabtu, 10 Mei 2025 0 comments

ruang berbagi

Jumat siang yang tak pernah aku pikirkan sebelumnya. Tak seperti biasanya aku bisa duduk di coffee shop di jam dan hari kerja seperti ini. Ada rasa canggung yang pertama kali muncul, tapi juga ada rasa ingin tahu yang sulit kujelaskan. Mungkin inilah awal mula aku membuka diri kepadamu—atau lebih tepatnya, awal mula aku mencoba membuka diri pada sesuatu yang selama ini selalu kutolak: kemungkinan untuk benar-benar dikenal.

Aku duduk, menatap secangkir kopi yang mengepul pelan. Rasanya aneh. Biasanya aku terburu-buru, dikejar jam, dikejar kewajiban, dikejar standar yang entah siapa yang menetapkan. Tapi kali ini aku justru diam, menunggu. Menunggu percakapan, menunggu kata-kata, menunggu keberanian untuk berkata: aku ingin mengenal lebih jauh. 

Ada yang berubah. Entah di diriku, entah di sekelilingku. Ruang yang biasanya kupenuhi dengan pertanyaan, dengan rasa takut, kini pelan-pelan menjadi ruang berbagi. Ruang yang tidak lagi hanya dipenuhi omongan orang tentang siapa aku, kapan aku menikah, apa pencapaianku, atau kenapa aku selalu tampak ragu. Di sini, di ruang ini, aku merasa bisa jujur. Bisa jadi diriku yang penuh takut, penuh tanya, penuh luka—tanpa harus pura-pura baik-baik saja.

Mungkin ini yang selama ini aku cari: bukan kesempurnaan, tapi ruang. Ruang untuk bicara tanpa dihakimi. Ruang untuk didengar tanpa dibandingkan. Ruang untuk berbagi tanpa harus memberi kesan bahwa aku sudah kuat.

Lucu, ya. Aku yang biasanya begitu menutup diri, begitu defensif, tiba-tiba bisa merasa ringan hanya dengan membuka sedikit celah. Seolah aku menemukan bahwa berbagi itu bukan soal siapa yang lebih pintar, siapa yang lebih mapan, siapa yang lebih sempurna. Berbagi hanyalah tentang berani mengulurkan sisi rapuh, berharap ada yang tidak menertawakan, melainkan menyambutnya.

Dan di titik ini aku sadar: mungkin aku tidak sedang mencari jawaban. Mungkin aku hanya sedang mencari ruang. Ruang di mana aku bisa jadi “aku” tanpa merasa terlalu kecil, tanpa merasa harus selalu cukup.

Entah bagaimana kelanjutannya, aku juga tidak tahu. Yang kutahu, Jumat siang itu membuka satu pintu yang tak pernah kubayangkan sebelumnya: pintu untuk mengenal, pintu untuk berbagi, pintu untuk melepaskan sedikit beban yang terlalu lama kupikul sendirian.

Karena ternyata, kadang yang kita butuhkan bukan dunia yang adil, bukan pasangan yang sempurna, bukan pencapaian yang gemilang—tapi hanya ruang kecil, sederhana, dan tulus untuk berbagi.
 
;