Jumat, 02 Mei 2025 0 comments

saat itu tiba.

Aku tak asing dengan situasi ini. Dua orang perempuan yang saling bicara tanpa ada rasa tak enak dan yang ditutupi. Semua mengalir begitu saja tanpa ada basa-basi kita bisa tahu bagaimana suasana hati lawan bicara kita. Tanpa sentuhan tapi setiap kata yang keluar dari mulut kita benar-benar didengarkan terlebih dahulu baru opini keras yang menampar dilontarkan namun tak ada sakit hati atau apapun itu.

Dulu setiap Mak Wah datang, ibu akan selalu begadang di malam pertama. Bukan untuk mengerjakan sesuatu tapi mereka terus bicara tanpa henti. Meski sudah berbaring di atas kasur dan berbeda kamar, suara mereka masih terdengar semalaman. Aku kadang tak paham apa yang mereka bicarakan. Kadang mereka bicara tentang tingkah aneh tetangga mereka dulu, mengenang orang-orang yang mereka kenal, atau tentang apapun itu sampai salah satu diantara mereka tertidur. Esok harinya, dimanapun ada ibuk disitu juga pasti ada Mak Wah yang masih dengan ceritanya atau sebaliknya. Dalam hatiku, apa aku bisa seperti itu kelak?

Sempat ada selentingan kalau ibuk lebih menyayangi kakak perempuannya ketimbang anak-anaknya. Trus? Mengapa ia lebih memilih membagi pikiran dan tubuhnya untuk anak-anaknya ketimbang hidup bahagia dengan kakak perempuannya? Terdengar tidak masuk akal buatku. Semuaada masanya. Kalau sudah berkeluarga, semua akan punya porsi dan batasannya masing-masing. 

Walau perjalananku belum sejauh itu, aku mulai tahu kalau hubungan darah ini jauh lebih kental dari apapun. Sejauh apa jarak kita, ujungnya kita akan mencari mereka. Orang-orang yang kita tahu baik buruknya. Orang-orang yang kita tahu akan menerima kita walau dalam keadaan terpuruk sekalipun. Tapi ketika mereka sudah menemukan rumahnya, kita harus sadar diri dan posisi kita. Kita sudah tak bisa seenaknya melewati batas yang tak kasat mata itu. Kadang aku tak sabar menunggu waktu tapi aku masih ingin memiliki mereka seutuhnya.

Saat itu tiba, aku hanya bisa melihat mereka dari kejauhan, mendengar yang boleh didengar dan mengetahui apa yang bisa kuketahui. Aku harus menerima apapun keputusan mereka. Namun ketika mereka dalam keputusasaan, tanganku harus menarik dan memeluk mereka kembali. Semoga hatiku sudah siap ketika saat itu tiba.

Minggu, 27 April 2025 0 comments

semua karena bacotmu yang jahat.

"Janji ga marah?"

"Iya, emang kenapa dulu tapi?"

Aku hanya tertawa mendengar cerita dari Ibuk. Bingung saja harus merespon bagaimana. Apa aku perlu mengirim kue ke rumahmu untuk ucapan terima kasih? Atau aku harus bagaimana? 

Gimana aku bisa marah? Katamu aku bisa kesana karena kamu memintakan doa ke 'orang pintar'. Terus, bagaimana dengan doa orang-orang yang memang tulus mendoakanku tanpa aku minta? Bagaimana dengan usaha belajarku siang dan malam sampai aku mengurangi waktu tidur, scroll, dan nongkrongku? Bagaimana dengan kursus online dan try out berbayar yang kuusahakan agar hidupku lebih baik dari hari ini? Apa Tuhan hanya mendengar doa dari 'orang pintar' mu itu saja? 

Tapi kalau di tarik mundur jauh ke belakang, apa yang bisa aku capai sampai sekarang ini memang karena bacotmu yang jahat. Omonganmu memang jadi bahan bakarku untuk hidup lebih baik darimu tanpa meminta bantuan dari orang lain. Hinaanmu jadi semangatku untuk belajar lebih giat, bisa masuk sekolah favorit, masuk perguruan tinggi negeri dengan jurusan teknik tanpa amplop, orang dalam, atau jalur-jalur yang entah apa itu.

Dari dulu aku terlalu diam sampai aku yang sekarang sudah tak peduli lagi denganmu. Aku sudah terbiasa tak dianggap jadi kalau sekarang kamu menganggap kenal denganku justru aku heran. Sepertinya aku malah berharap itu tak pernah terjadi saja. Untuk apa apresiasi darimu? Aku tidak butuh validasimu itu, tak kenal dan tak dianggap olehmu malah sudah menjadi hal yang lurah untukku. Aku tak semembanggakan itu kok. Tetap kamu yang paling dan terhebat. Tapi tak apalah, aku memang harus berterimakasih kepadamu ternyata.

Kamis, 10 April 2025 0 comments

sempurna saja tak cukup.

Entah mengapa aku selalu merasa tak pernah pantas menjadi “aku”. Aku memang biasa saja, belum punya banyak pencapaian seperti orang lain, namun aku merasa menjadi “aku” benar-benar tak ada beban dan aku tak pantas seperti ini. Rasa damai yang ku damba kini terjadi walau aku ada di kamar kost yang kecil. Rasa tenang yang ku ingin ada walau kehilangan beberapa orang rasanya tak mengenakan. Tapi menjadi “aku” tak pernah ku bayangkan seberat ini sebelumnya.

Orang kira tanyaku ini sekadar keluhan. Orang kira ini sekadar drama. Padahal ini bukan sekadar bertanya pada hidup, tapi bertanya pada diriku sendiri. Tentang kenapa aku selalu merasa harus mengejar sesuatu agar dianggap layak, tentang kenapa aku merasa tak pernah cukup meski sudah berusaha jadi versi terbaik.

Sempurna saja ternyata tidak cukup. Tidak cukup untuk menenangkan omongan orang yang selalu punya standar mereka sendiri. Tidak cukup untuk membuat mereka berhenti menilai kenapa aku belum menikah, kenapa aku belum punya ini, belum punya itu. Tidak cukup juga untuk menghapus takut yang diam-diam tumbuh di dalam dada: takut salah pilih pasangan, takut rumah tangga tak sesuai ekspektasi, takut beda pandangan di tengah jalan, takut tak mampu membuat orang lain nyaman, bahkan takut untuk sekadar berharap.

Kadang aku bertanya, hidup macam apa ini? Mengapa aku harus merasa seperti berlomba padahal garis finisnya pun samar? Mengapa aku harus mendengar suara-suara yang tidak pernah hidup di tubuhku, tidak pernah memikul bebanku, tapi selalu merasa berhak memberi komentar?

Aku tahu aku banyak takutnya. Takut ini, takut itu, takut masa depan, takut kehilangan, takut mengecewakan. Tapi ya sudah. Hidup memang tidak pernah adil. Siapa suruh aku berharap terlalu banyak? Kadang aku pikir mungkin salahku juga yang terlalu sering menggantungkan diri pada gambaran ideal yang bahkan tidak pernah benar-benar ada.

Di balik semua itu, aku menemukan satu hal kecil yang diam-diam jadi tempat pulangku: aku tetaplah “aku”. Aku dengan kamar kost kecilku, dengan waktu yang kadang terasa kosong, dengan rasa tenang yang hadir meski tanpa pencapaian besar, meski dengan kehilangan yang menyakitkan. Mungkin inilah aku. Mungkin inilah bentuk sempurna yang sebenarnya: bukan sempurna seperti standar orang, tapi sempurna dalam keberanian untuk tetap hidup meski takut, untuk tetap berjalan meski ragu.

Dan mungkin, meski sempurna saja tak cukup, menjadi “aku” yang sekarang — dengan segala takut, gagal, dan luka — justru adalah satu-satunya hal yang paling mendekati utuh.

 
;