Rabu, 04 Desember 2024 0 comments

on my survival mode.

I'm on my survival mode.

Bukan kewajibanmu buat mengerti aku, dan terserah asumsimu buat aku. Aku terima saja kamu sebut aku apa. Aku nggak punya nyali sama sekali buat menjelaskan tentang apapun. Aku bukan papan pengumuman yang harus menjabarkan alasan kenapa aku begini, kenapa aku begitu.

Aku hanya manusia yang sedang berusaha hidup, dengan caraku sendiri, seburuk apapun kelihatannya di matamu. Aku tahu rasanya jadi kambing hitam. Aku tahu rasanya jadi sosok yang mudah dihakimi. Tapi di titik ini aku sudah nggak peduli.

Kalau bagimu aku pengecut, ya sudah. Kalau bagimu aku egois, ya silakan. Aku tidak sedang berusaha menang. Aku bahkan tidak sedang ikut main. Aku hanya sedang berusaha bertahan supaya besok masih bisa bangun lagi, entah untuk apa.

Dan kalau suatu saat kamu sadar, kamu akan tahu: aku tidak pernah meminta diselamatkan. Aku cuma ingin tidak diganggu saat aku tenggelam dengan caraku sendiri.

Karena survival mode itu tak indah.

Itu cuma insting paling dasar:

tetap bernapas,

walau harus kehilangan segalanya.

Selasa, 12 November 2024 0 comments

diam bukan berarti tanpa luka.

Tidak ada yang benar-benar biasa saja. Setiap keluarga menderita dengan porsinya masing-masing, hanya cara menutupinya yang berbeda. Ada yang menutup rapat dengan doa, ada yang menertawakannya sampai lelah, ada juga yang memilih diam dan menganggap semua baik-baik saja. Tapi luka tetap ada, meski dibungkus dengan rapi.

Mungkin itulah mengapa orang kadang merasa berhak tahu. Mereka mengira ikut campur bisa memperbaiki keadaan, padahal sering kali justru menambah runyam. Ada batas tipis antara peduli dan mencampuri, antara perhatian dan mengorek-ngorek. Orang sering lupa bahwa ada hal-hal yang memang tidak perlu diketahui. Tidak semua cerita harus dibongkar, tidak semua luka harus dipertontonkan. Tapi kalau sesuatu itu melibatkan kita, tidak adil rasanya jika justru kita yang tidak diberi tahu.

Dan di tengah semua itu, ada orang-orang yang memilih diam. Yang tak banyak cerita biasanya punya kepekaan lebih. Mereka terbiasa membaca tanda, menangkap sinyal yang tidak terucap. Mereka tahu bagaimana rasanya disalahpahami, jadi belajar untuk lebih hati-hati memahami orang lain. Tapi kepekaan itu seringkali jadi beban—karena terlalu peka berarti juga mudah terluka.

Barangkali inilah sisi manusia yang jarang kita sadari: kita semua sedang menanggung sesuatu yang tidak selalu tampak di permukaan. Ada yang keras kepala, ada yang rapuh, ada yang sok kuat, ada yang diam-diam menangis. Dan mungkin itu yang membuat manusia mirip-mirip: tidak ada yang sungguh baik-baik saja, tapi kita tetap berjalan seakan tidak terjadi apa-apa. 

Jumat, 01 November 2024 0 comments

perjalanan (kembali) mencari rumah

Badai kembali datang. Aku yang sadar kakiku penuh lumpur berlari menerjang badai ke teras di ujung jalan yang gelap. Temaram lampu kuning yang terkadang berkedip menjadi satu-satunya hiasan di teras yang penuh debu.

Aku segera membersihkan kakiku dari debu sebelum menginjakan kaki ke lantai teras berlapis kayu coklat tua. Pemandangan ini seperti tak asing buatku tapi aku yang sudah terlalu lelah tak menghiraukannya. Usai kakiku bersih, aku duduk di teras itu.

Debunya belum terlalu tebal, mungkin belum terlalu lama di tinggalkan. Tapi rumput di halaman depan sudah mulai meninggi. Pot bunga yang berjajar di pinggir teras juga berantakan.

Tak terasa hujan mulai rintik. Dari kejauhan cahaya putih datang menghampiri. Sepertinya pemilik rumah datang. Ia turun dari mobil bagusnya. Payung hitam menutup setengah wajahnya sehingga aku tak terlalu melihat wajahnya.

Aku sudah menyiapkan senyum dan menyusun permohonan maaf untuknya. Benar, belum sempat aku berucap wajahnya nampak dari balik payung. Aku tak asing dengan pemilik rumah ini.

Beberapa waktu lalu aku pernah singgah disini. Namun dulu halamannya masih indah, banyak bunga, rumputnya terawat dan tak ada debu di lantai kayu coklat tua. Aku juga sempat masuk ke dalam namun fotomu sudah bersanding dengan wanita lain. Berbagai pertanyaan muncul di kepalaku. Apa yang sebenarnya terjadi?

Ingatan itu berjubel muncul tapi aku tak melihat wanitamu. Kemana dia? Dia tak muncul bersamamu. Ada apa dengan kalian?

Tuan Ramah masih seperti yang dulu. Senyumnya masih sama tapi tatapan matanya tak bisa berbohong. Matamu memerah dan sayu. Apa Tuan Ramah lelah?

Tuan Ramah kembali mengajakku untuk masuk ke rumah. Awalnya aku berusaha untuk menolak tapi mulut manisnya kembali merayu dan aku kembali terbuai. Aku hanya singgah, ulangku dalam hati.

Foto-foto itu tidak ada. Pertanyaan kembali muncul di kepalaku. Ada apa dengan mereka? Mulutku tak sampai hati untuk bertanya. Malam ini, Tuan Ramah memintaku untuk menginap. Tidak, tolakku. Aku hanya singgah dan berteduh saja, usai hujan aku akan pergi.

Tuan Ramah menawariku secangkir kopi hangat dan aku mengiyakan. Aku duduk di ruang tamu Tuan Ramah. Debu tipis melapisi sofa berbahan kulit. Tuan Ramah membawa dua cangkir kopi, ia menaruhnya di atas meja berwarna senada dengan sofanya dan ia duduk di sampingku.

Malam itu terasa sangat panjang. Secangkir kopi hitam menemani obrolan kami berdua. Hujan di luar seperti mengajak bercanda karena ia tak kunjung reda. Ia seperti mengiringi tawaku dan Tuan Ramah yang pecah. Masa sepi kadang menghampiri begitu cahaya kilat datang.

Aku dibuat lupa waktu. Aku juga lupa tentang foto-foto yang dulu terpajang di dinding yang kini entah kemana. Benar atau ini hanya dalam pikiran, Tuan Ramah seperti menikmati malam ini. Begitu pula denganku.

Aku tak jera, aku mencoba keberanianku dengan bertanya tentang foto-foto itu. Tuan Ramah sepertinya tahu jalan pikiranku. Ia beranjak dari posisinya dan berjalan menuju saklar lampu. Ia memencetnya dan tersenyum. Ruangan yang tadinya hanya mengandalkan temaran lampu jalan menjadi lebih terang. Empat lampu yang berada di pojok-pojok ruangan kompak menyala.

Foto-foto itu memang sudah tak ada lagi di dinding. Tapi Tuan Ramah menaruhnya di lantai dan menutupinya dengan selembar kain seperti ia akan membuangnya. Ia mengambil secarik kertas dari ambalan dan menaruhnya di samping cangkir kopiku.

Sebenarya apa yang kau inginkan, Tuan Ramah? Gemar sekali mengelabuiku dengan senyummu yang ramah. Aku melihat nama Tuan Ramah dan Ratunya di secarik kertas berwarna keemasan itu. Aku seperti diangkat ke langit ketujuh kemudian kembali di lempar ke Bumi.

Secara tak langsung, aku sudah diusir oleh pemiliik rumah. Rumah tempat ku singgah sudah akan dipakai oleh pemiliknya. Jamuan hari ini menjadi yang pertama dan yang terakhir. Terimakasih Tuan Ramah sudah membuatku salah sangka lagi. Terimakasih sudah membuatku terlihat bodoh. Terimakasih sudah membuatku membenci diriku sendiri.

 
;