Jumat, 01 November 2024 0 comments

perjalanan (kembali) mencari rumah

Badai kembali datang. Aku yang sadar kakiku penuh lumpur berlari menerjang badai ke teras di ujung jalan yang gelap. Temaram lampu kuning yang terkadang berkedip menjadi satu-satunya hiasan di teras yang penuh debu.

Aku segera membersihkan kakiku dari debu sebelum menginjakan kaki ke lantai teras berlapis kayu coklat tua. Pemandangan ini seperti tak asing buatku tapi aku yang sudah terlalu lelah tak menghiraukannya. Usai kakiku bersih, aku duduk di teras itu.

Debunya belum terlalu tebal, mungkin belum terlalu lama di tinggalkan. Tapi rumput di halaman depan sudah mulai meninggi. Pot bunga yang berjajar di pinggir teras juga berantakan.

Tak terasa hujan mulai rintik. Dari kejauhan cahaya putih datang menghampiri. Sepertinya pemilik rumah datang. Ia turun dari mobil bagusnya. Payung hitam menutup setengah wajahnya sehingga aku tak terlalu melihat wajahnya.

Aku sudah menyiapkan senyum dan menyusun permohonan maaf untuknya. Benar, belum sempat aku berucap wajahnya nampak dari balik payung. Aku tak asing dengan pemilik rumah ini.

Beberapa waktu lalu aku pernah singgah disini. Namun dulu halamannya masih indah, banyak bunga, rumputnya terawat dan tak ada debu di lantai kayu coklat tua. Aku juga sempat masuk ke dalam namun fotomu sudah bersanding dengan wanita lain. Berbagai pertanyaan muncul di kepalaku. Apa yang sebenarnya terjadi?

Ingatan itu berjubel muncul tapi aku tak melihat wanitamu. Kemana dia? Dia tak muncul bersamamu. Ada apa dengan kalian?

Tuan Ramah masih seperti yang dulu. Senyumnya masih sama tapi tatapan matanya tak bisa berbohong. Matamu memerah dan sayu. Apa Tuan Ramah lelah?

Tuan Ramah kembali mengajakku untuk masuk ke rumah. Awalnya aku berusaha untuk menolak tapi mulut manisnya kembali merayu dan aku kembali terbuai. Aku hanya singgah, ulangku dalam hati.

Foto-foto itu tidak ada. Pertanyaan kembali muncul di kepalaku. Ada apa dengan mereka? Mulutku tak sampai hati untuk bertanya. Malam ini, Tuan Ramah memintaku untuk menginap. Tidak, tolakku. Aku hanya singgah dan berteduh saja, usai hujan aku akan pergi.

Tuan Ramah menawariku secangkir kopi hangat dan aku mengiyakan. Aku duduk di ruang tamu Tuan Ramah. Debu tipis melapisi sofa berbahan kulit. Tuan Ramah membawa dua cangkir kopi, ia menaruhnya di atas meja berwarna senada dengan sofanya dan ia duduk di sampingku.

Malam itu terasa sangat panjang. Secangkir kopi hitam menemani obrolan kami berdua. Hujan di luar seperti mengajak bercanda karena ia tak kunjung reda. Ia seperti mengiringi tawaku dan Tuan Ramah yang pecah. Masa sepi kadang menghampiri begitu cahaya kilat datang.

Aku dibuat lupa waktu. Aku juga lupa tentang foto-foto yang dulu terpajang di dinding yang kini entah kemana. Benar atau ini hanya dalam pikiran, Tuan Ramah seperti menikmati malam ini. Begitu pula denganku.

Aku tak jera, aku mencoba keberanianku dengan bertanya tentang foto-foto itu. Tuan Ramah sepertinya tahu jalan pikiranku. Ia beranjak dari posisinya dan berjalan menuju saklar lampu. Ia memencetnya dan tersenyum. Ruangan yang tadinya hanya mengandalkan temaran lampu jalan menjadi lebih terang. Empat lampu yang berada di pojok-pojok ruangan kompak menyala.

Foto-foto itu memang sudah tak ada lagi di dinding. Tapi Tuan Ramah menaruhnya di lantai dan menutupinya dengan selembar kain seperti ia akan membuangnya. Ia mengambil secarik kertas dari ambalan dan menaruhnya di samping cangkir kopiku.

Sebenarya apa yang kau inginkan, Tuan Ramah? Gemar sekali mengelabuiku dengan senyummu yang ramah. Aku melihat nama Tuan Ramah dan Ratunya di secarik kertas berwarna keemasan itu. Aku seperti diangkat ke langit ketujuh kemudian kembali di lempar ke Bumi.

Secara tak langsung, aku sudah diusir oleh pemiliik rumah. Rumah tempat ku singgah sudah akan dipakai oleh pemiliknya. Jamuan hari ini menjadi yang pertama dan yang terakhir. Terimakasih Tuan Ramah sudah membuatku salah sangka lagi. Terimakasih sudah membuatku terlihat bodoh. Terimakasih sudah membuatku membenci diriku sendiri.

Rabu, 30 Oktober 2024 0 comments

semoga aku hilang dalam tidurku.

Hari-hari ini cepat berlalu. Rutinitas membosankan dan hati yang kosong menjadi teman. Mungkin minggu ini aku tak bicara lebih dari lima puluh ribu kata. Aku terlalu banyak diam dan memendam pikiranku.

Rumah nampaknya masih sepi. Semua seolah membeku bersama dengan topik pindah rumah yang aku lontarkan. Tak apa aku kembali menjadi tokoh antagonis tapi mengapa selalu aku?

Semua yang ada di kepalaku seolah salah. Bahkan ketika aku berusaha jujur, hasilnya tetap saja dianggap salah. Rasanya seperti hidup di ruang sidang tanpa hakim, hanya penuh jaksa yang menunggu celah untuk menuding.

Kadang aku berpikir, mungkin benar: diam adalah bentuk perlindungan terakhir. Kalau aku tak bersuara, tak ada yang bisa mereka salahkan. Tapi anehnya, bahkan diam pun bisa ditafsirkan macam-macam. Mereka bilang aku dingin, egois, terlalu jauh, terlalu sulit dimengerti. Padahal aku hanya berusaha tidak hancur di depan mereka.

Aku bosan jadi pemeran sampingan di cerita orang lain. Bosan jadi “masalah” hanya karena aku tidak sesuai dengan naskah yang mereka tulis untukku. Lucu ya, bahkan keberadaanku bisa jadi plot twist yang tidak mereka sukai.

Malam ini, sebelum tidur, aku sempat menulis satu kalimat di catatan kecil:

“Semoga aku hilang dalam tidurku.”

Bukan karena aku benar-benar ingin mati, tapi karena lelah terus terbangun hanya untuk mengulang hal yang sama: rutinitas yang kosong, rumah yang dingin, dan suara-suara yang tak pernah mau mendengar.

Kalau besok aku masih ada, mungkin aku akan tetap jadi tokoh antagonis itu. Tapi kalau tidak, ya sudahlah. Siapa peduli? Mereka toh sudah terbiasa menyalahkanku untuk semua hal.

Minggu, 27 Oktober 2024 0 comments

aku dan keruwetan kepalaku.

Bukan kamu orang pertama yang mengomentariku seperti itu. Telingaku sudah biasa menerimanya. Mulutku juga hanya bisa terkatup. Aku memilih untuk tidak melawan karena memang begitu adanya.

Ruwet.

Aku terbiasa terlihat baik-baik saja, gampang mengumbar senyum, tertawa tiap guyon receh yang orang lontarkan. Pokoknya aku bisa bersikap asyik ke semua orang. Aku seorang pendengar yang baik. Apa saja masalahmu mau dari percintaan, orang tua, perekonomian, sampai politik aku siap mendengar. Setiap kali kamu menelepon, aku akan angkat sekalipun aku berada di tengah badai. Kalaupun aku terlewat, aku akan segera meneleponmu balik atau mengirim pesan agar kamu tak kepikiran.

Tapi, mungkin cerita tentangku akan sangat sedikit. Semua yang berenang di kepalaku terlalu sulit untuk kuterjemahkan. Setiap kata yang mau kuucap seakan percuma. Aku tak pernah melihat kalian antusias mendengarkan ceritaku. Entah karena lidahku yang belibet atau memang ceritaku tak sebanding dengan milikmu. Kadang aku juga merasa telinga kalian tak benar-benar ada untuk ceritaku. Potongan kejadian atau lelucon yang kalian anggap lucu kalian lempar begitu intro ceritaku mulai kuputar.

Aku selalu merasa aku tak sepenting itu untuk bercerita atau diceritakan. Aku merasa kalaupun aku tak ada juga bukan masalah yang besar. Aku sering mensimulasikannya. Beberapa kali mencoba menghilang tanpa kabar. Sehari, dua hari. Tak ada juga notifikasi. Sepertinya selalu harus aku yang memulai. Pesan dariku yang menurutmu mungkin tak penting membuatku kepikiran mengapa tak segera kamu balas. Kadang aku memastikannya berulang apa aku sudah membalas pesan dari kalian. Apa aku lupa memencet tombol kirim sehingga tak ada pesan lagi dari kalian.

Tapi begitu kalian punya cerita baru, apapun yang sedang aku pikirkan langsung menghilang. Apapun yang kalian ucapkan seperti titah untukku. Lelah tak pernah ada untuk kalian, selalu ada ruang untuk hatiku yang sebenarnya sudah sangat sesak jika itu tentang kalian. Tidak ada kata tidak untuk semua permintaan kalian. Apa aku harus selalu seperti itu untuk mendapat tempat di hati orang lain?

Apa memang benar tak akan ada yang kehilangan jika memang belum benar-benar hilang atau memang aku tak sepenting itu?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar. Sampai akhirnya aku punya kesempatan untuk pergi. Lantas, apa aku akan benar-benar dilupakan begitu saja? Apalagi aku tak pernah ada cerita sama sekali. Jadi apa yang bisa diingat tentangku?

Aku tak pernah berharap orang akan memperlakukanku dengan baik walau aku berbuat baik. Aku justru akan heran jika ada yang memperhatikan. Apa yang sebenarnya mereka inginkan? Memang aku ada manfaatnya untuk mereka?

 
;