Rabu, 06 Maret 2024 0 comments

Dialog Pada Diri Sendiri (Bukan Lagi Monolog)

Aku mendoakanmu dari jauh. Jauh sekali sampai mungkin malaikat tak mendengarkan doaku yang baik-baik ini untukmu. Mereka enggan untuk aku mengingatmu barang sedetik karena tak ada kenangan manis ketika bersamamu.

Tenang, semua yang sirna akan diganti. Aku sudah mulai mengiklaskan dirimu. Aku senang, bisa terlepas darimu. Bebas dari bayanganmu yang selama ini memaksakan pelukanmu.

Aku berbicara pada diriku sendiri—atau mungkin berbicara pada bayanganmu yang belum sepenuhnya hilang. Kadang aku masih merasa kau berdiri di pojok kamarku, tersenyum seolah tak pernah ada salah. Kadang aku ingin menertawakan diriku sendiri yang pernah menganggapmu rumah. Ternyata aku cuma numpang mimpi di reruntuhan rumah orang lain.

Aku bilang pada diriku, “Sudahlah. Semua orang memang pandai pura-pura. Kamu juga pernah kan?” Dan aku tertawa kecil, sinis pada pantulan wajahku sendiri di cermin yang mulai berdebu. Aku tidak sedang berbohong. Aku hanya sedang mengulang-ulang kalimat yang dulu sering kau pakai untuk menenangkan kesalahanmu sendiri: “Tenang, semua baik-baik saja.”

Ternyata memang tidak ada yang baik-baik saja. Bahkan doaku pun terasa basi. Bahkan rinduku sudah jadi racun. Bahkan kata-kata maaf yang dulu ku simpan sekarang seperti tiket masuk ke tempat yang sudah terbakar habis.

Aku mengangguk pada diriku sendiri, “Ya, aku sudah mulai terbiasa tanpa dia.” Tapi sebenarnya aku sedang berkata, “Aku hanya mulai terbiasa dengan rasa sakitnya.” Bedanya tipis, dan aku sudah malas menjelaskannya pada siapa pun.

Orang bilang waktu akan menyembuhkan. Orang bilang ikhlas akan datang sendiri. Tapi orang-orang yang bilang itu tidak pernah benar-benar tahu rasanya jadi aku. Mereka hanya pandai memberi kata-kata gratis yang manis di permukaan. Padahal hidup ini bukan puisi motivasi; hidup ini lebih mirip catatan kaki yang penuh coretan.

Aku tak lagi ingin mengulang kisah lama. Aku tak ingin memintamu kembali. Aku juga tak ingin terlihat tegar di depan siapa pun. Aku hanya ingin diam, duduk, menatap dinding, dan berkata pada diriku sendiri: “Kita sudah sampai sejauh ini, tapi kenapa rasanya seperti baru mulai jatuh?”

Dan mungkin memang begitu. Mungkin aku tidak pernah benar-benar bangkit. Mungkin aku cuma belajar berjalan sambil menyeret luka. Tapi tak apa, kan? Setidaknya sekarang aku tahu: doa yang kuselipkan untukmu bukan lagi doa, hanya sisa-sisa kata yang bahkan malaikat pun malas mencatatnya.

Aku diam, menatap layar kosong. Dialog ini masih belum selesai. Tapi bukankah semua orang juga begitu? Berjalan sambil pura-pura selesai. Mengakhiri sambil pura-pura ikhlas. Menutup pintu sambil pura-pura lupa.

Dan aku? Aku hanya menulis di sini, menatap kata-kataku sendiri, berharap mereka berhenti menggigitku balik.


Jumat, 23 Februari 2024 0 comments

antrean mandi dan hal-hal yang tak pernah kusebutkan.

Beberapa orang datang hanya untuk mengacau kebahagiaan. Kadang tanpa sadar, kadang memang sengaja. Pilihannya sederhana: larut dalam drama yang mereka ciptakan, atau membuat huru-hara baru sekadar untuk menghibur dirimu sendiri. Aku memilih yang kedua—karena hidup sudah cukup berat untuk ditambah beban yang bukan milikku.

Debur ombak menemani pikiranku. Anginnya membawa rasa asin laut, dinginnya menempel di kulit, tapi ada juga tenang yang tidak bisa dijelaskan. Laut seolah mengingatkanku: segaduh apa pun manusia, semesta tetap punya ritmenya sendiri. Ombak datang, ombak pergi, tanpa peduli siapa yang sedang marah atau siapa yang sedang pura-pura bahagia.

Aku menulis ini di Pulau Sebesi, Lampung, sambil menunggu antrean mandi yang panjang. Rasanya lucu, di tengah perjalanan yang seharusnya tentang keindahan dan liburan, aku malah menemukan ruang untuk berdamai dengan isi kepala. Menunggu, yang biasanya membosankan, justru jadi momen untuk menuliskan apa yang sering kutahan.

Tapi berdamai tidak selalu mudah. Aku masih sering kesal pada diriku sendiri karena terlalu banyak diam. Terlalu sering menahan. Terlalu sering pura-pura baik-baik saja, padahal kepalaku penuh teriakan. Orang bilang waktu akan menyembuhkan, tapi aku tidak yakin. Waktu hanya membuatku lebih terbiasa menyimpan luka.

Aku tidak tahu sampai kapan bisa begini. Tidak tahu apakah benar aku kuat, atau hanya sedang pandai berpura-pura. Yang kutahu, aku lelah kalau harus terus mengakomodasi orang lain, menenangkan mereka, padahal aku sendiri butuh ditenangkan.

Di sini, jauh dari rumah, jauh dari ributnya orang-orang yang selalu merasa benar, aku belajar satu hal: mungkin aku tidak perlu selalu baik-baik saja. Mungkin aku berhak marah. Mungkin aku berhak kecewa. Dan kalaupun aku tidak bisa meluapkannya di depan siapa pun, biarlah laut yang jadi saksi.

Sabtu, 10 Februari 2024 0 comments

you going to be ok.

Isn't it crazy, how we can put so much effort into someone who don't have same energy?

You just keep lying to yourself hoping it will get better but in reality it's just getting worst. You just denial with everything what you feel, what you watch, and what you do. Sometimes you feel happy just because he do the small thing to you like respond your chat quickly or keeping his promise to give you a call.  But in the other day, you realise that he do the same with the other too. That's a sign but you keep trying to hurt yourself. How stupid you are!

When you getting tired, you wanna give up on that one person but in the end of the day you going back, keep thinking that everything will be okay and everything will be change. 

He ain't worth those tears. You have to love yourself before you can love somebody else. Stop worrying about that one person who ain't puttin effort into you. You learned that hard way, they may be going through things and you wanna help but sometimes they don't want to help.

Its gonna be okay sometimes you gotta put yourself and you need first before others. Its not selfish. Its just self care. So maybe this is a sign to give up on that person who doesn't put effort into talking to you, showing you how much they care, those love paragraphs, and everything you deserve the absolute world.

Satisfied your soul not your society.

You're beautiful. You're worthy. You deserve a lot so give it to yourself. Stop worrying about that one dumb boy. The best revenge is showing them unbothered. When he really love you, he will running back to you when he looked at you happy with your new one. Satisfied your soul, make the old version of you happy and be thankful for it. Save yourself because you only having you and only you that know about your need.

 
;