Jumat, 23 Februari 2024 0 comments

antrean mandi dan hal-hal yang tak pernah kusebutkan.

Beberapa orang datang hanya untuk mengacau kebahagiaan. Kadang tanpa sadar, kadang memang sengaja. Pilihannya sederhana: larut dalam drama yang mereka ciptakan, atau membuat huru-hara baru sekadar untuk menghibur dirimu sendiri. Aku memilih yang kedua—karena hidup sudah cukup berat untuk ditambah beban yang bukan milikku.

Debur ombak menemani pikiranku. Anginnya membawa rasa asin laut, dinginnya menempel di kulit, tapi ada juga tenang yang tidak bisa dijelaskan. Laut seolah mengingatkanku: segaduh apa pun manusia, semesta tetap punya ritmenya sendiri. Ombak datang, ombak pergi, tanpa peduli siapa yang sedang marah atau siapa yang sedang pura-pura bahagia.

Aku menulis ini di Pulau Sebesi, Lampung, sambil menunggu antrean mandi yang panjang. Rasanya lucu, di tengah perjalanan yang seharusnya tentang keindahan dan liburan, aku malah menemukan ruang untuk berdamai dengan isi kepala. Menunggu, yang biasanya membosankan, justru jadi momen untuk menuliskan apa yang sering kutahan.

Tapi berdamai tidak selalu mudah. Aku masih sering kesal pada diriku sendiri karena terlalu banyak diam. Terlalu sering menahan. Terlalu sering pura-pura baik-baik saja, padahal kepalaku penuh teriakan. Orang bilang waktu akan menyembuhkan, tapi aku tidak yakin. Waktu hanya membuatku lebih terbiasa menyimpan luka.

Aku tidak tahu sampai kapan bisa begini. Tidak tahu apakah benar aku kuat, atau hanya sedang pandai berpura-pura. Yang kutahu, aku lelah kalau harus terus mengakomodasi orang lain, menenangkan mereka, padahal aku sendiri butuh ditenangkan.

Di sini, jauh dari rumah, jauh dari ributnya orang-orang yang selalu merasa benar, aku belajar satu hal: mungkin aku tidak perlu selalu baik-baik saja. Mungkin aku berhak marah. Mungkin aku berhak kecewa. Dan kalaupun aku tidak bisa meluapkannya di depan siapa pun, biarlah laut yang jadi saksi.

Sabtu, 10 Februari 2024 0 comments

you going to be ok.

Isn't it crazy, how we can put so much effort into someone who don't have same energy?

You just keep lying to yourself hoping it will get better but in reality it's just getting worst. You just denial with everything what you feel, what you watch, and what you do. Sometimes you feel happy just because he do the small thing to you like respond your chat quickly or keeping his promise to give you a call.  But in the other day, you realise that he do the same with the other too. That's a sign but you keep trying to hurt yourself. How stupid you are!

When you getting tired, you wanna give up on that one person but in the end of the day you going back, keep thinking that everything will be okay and everything will be change. 

He ain't worth those tears. You have to love yourself before you can love somebody else. Stop worrying about that one person who ain't puttin effort into you. You learned that hard way, they may be going through things and you wanna help but sometimes they don't want to help.

Its gonna be okay sometimes you gotta put yourself and you need first before others. Its not selfish. Its just self care. So maybe this is a sign to give up on that person who doesn't put effort into talking to you, showing you how much they care, those love paragraphs, and everything you deserve the absolute world.

Satisfied your soul not your society.

You're beautiful. You're worthy. You deserve a lot so give it to yourself. Stop worrying about that one dumb boy. The best revenge is showing them unbothered. When he really love you, he will running back to you when he looked at you happy with your new one. Satisfied your soul, make the old version of you happy and be thankful for it. Save yourself because you only having you and only you that know about your need.

Minggu, 04 Februari 2024 0 comments

the last person I was thinking about before I go to bed.

Ini aku tulis untukmu yang namanya tak akan lagi aku sebut. Perjalanan kita akhirnya selesai setelah semuanya berjalan di tempat. Aku dan kamu yang tak berujung menjadi kita. Aku dan kamu yang akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan hidup masing-masing.

Pertemuan kita seolah sudah diatur semesta. Semua terancang mudah seakan memang sudah jalannya. Tapi ternyata badai menghancurkan semuanya. Rasa yang tumbuh perlahan seolah hilang hanya semalam. Teriakan masih membekas di tenggorokan, sembab di mata masih membekas, dan dirimu sudah pergi dari dekapan.

Aku dan kamu yang terlalu sibuk dengan dunia kita masing-masing tanpa ada yang sadar bibit curiga mulai tumbuh. Ia menjadi gulma di pohon yang kita tanam sejak lama. Semua resah membaur tanpa kejelasan yang padahal kita sudah tahu bagaimana cara untuk menjawabnya.

Aku ikut andil memupuk luka untukku sendiri sedangkan dirimu punya tanggung jawab merawat lukaku. Jarak yang tadinya tak jadi masalah kini menjelma menjadi alasan mengapa tak ada temu yang mungkin penghancur curiga.

Setelah semua berakhir, sampai sekarang masih ada kamu di kepalaku. Bukan karena kamu menjadi orang terakhir yang aku chat kalau aku sudah sampai tapi akhir-akhir ini kepalaku kembali mengingat salah satu rutinitas yang biasa aku lakukan sebelum tidur, memikirkanmu.

Ratusan kali aku mempertanyakan pada diriku sendiri. Apa kurangku sampai aku hanya menjadi second choice? Apa aku yang selalu available? Aku yang selalu needy? Atau aku yang terlalu berekspektasi terlalu tinggi? Dimana kurangku sampai aku terbuai dengan janji palsumu? 

Kalau melepaskan bagian dari mencintai, mengapa aku harus bertemu dengan kamu di awal? Bersama membuat cerita, memaksakan dua kepala yang sama kerasnya, dan pada akhirnya semua terhalang oleh alasan yang sebenarnya kita sudah tahu sejak awal. Dari semua itu, kita juga masih bisa saling menyalahkan. Begitu bodoh ya, kita berdua.

Namun kini episode mengagumimu sudah selesai. Semoga ini bukan hanya sepenggal prolog yang akan diikuti kisah penuh teka-teki dan akan berakhir lagi dengan haru. Semoga tatap mataku yang penuh api bisa kembali lagi walau dengan yang lain. Dan semoga semua kebahagiaan yang dulu kita lalui bersama bisa aku rasakan kembali dengan versiku yang lebih dari kemarin.

Mungkin kamu memang hanya hadir bukan takdir dan kini yang kubutuhkan hanya jeda bukan luka. Tuan, terimakasih beberapa waktu ini telah mengisi ruang hati yang sempat kosong ini. Paling tidak karenamu aku sempat merasa dicintai walau semu dan meskipun semesta akan mempertemukan kita lagi, aku akan menghindar, semoga kita tak akan bertemu di kebetulan manapun.

 
;