Sabtu, 10 Februari 2024 0 comments

you going to be ok.

Isn't it crazy, how we can put so much effort into someone who don't have same energy?

You just keep lying to yourself hoping it will get better but in reality it's just getting worst. You just denial with everything what you feel, what you watch, and what you do. Sometimes you feel happy just because he do the small thing to you like respond your chat quickly or keeping his promise to give you a call.  But in the other day, you realise that he do the same with the other too. That's a sign but you keep trying to hurt yourself. How stupid you are!

When you getting tired, you wanna give up on that one person but in the end of the day you going back, keep thinking that everything will be okay and everything will be change. 

He ain't worth those tears. You have to love yourself before you can love somebody else. Stop worrying about that one person who ain't puttin effort into you. You learned that hard way, they may be going through things and you wanna help but sometimes they don't want to help.

Its gonna be okay sometimes you gotta put yourself and you need first before others. Its not selfish. Its just self care. So maybe this is a sign to give up on that person who doesn't put effort into talking to you, showing you how much they care, those love paragraphs, and everything you deserve the absolute world.

Satisfied your soul not your society.

You're beautiful. You're worthy. You deserve a lot so give it to yourself. Stop worrying about that one dumb boy. The best revenge is showing them unbothered. When he really love you, he will running back to you when he looked at you happy with your new one. Satisfied your soul, make the old version of you happy and be thankful for it. Save yourself because you only having you and only you that know about your need.

Minggu, 04 Februari 2024 0 comments

the last person I was thinking about before I go to bed.

Ini aku tulis untukmu yang namanya tak akan lagi aku sebut. Perjalanan kita akhirnya selesai setelah semuanya berjalan di tempat. Aku dan kamu yang tak berujung menjadi kita. Aku dan kamu yang akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan hidup masing-masing.

Pertemuan kita seolah sudah diatur semesta. Semua terancang mudah seakan memang sudah jalannya. Tapi ternyata badai menghancurkan semuanya. Rasa yang tumbuh perlahan seolah hilang hanya semalam. Teriakan masih membekas di tenggorokan, sembab di mata masih membekas, dan dirimu sudah pergi dari dekapan.

Aku dan kamu yang terlalu sibuk dengan dunia kita masing-masing tanpa ada yang sadar bibit curiga mulai tumbuh. Ia menjadi gulma di pohon yang kita tanam sejak lama. Semua resah membaur tanpa kejelasan yang padahal kita sudah tahu bagaimana cara untuk menjawabnya.

Aku ikut andil memupuk luka untukku sendiri sedangkan dirimu punya tanggung jawab merawat lukaku. Jarak yang tadinya tak jadi masalah kini menjelma menjadi alasan mengapa tak ada temu yang mungkin penghancur curiga.

Setelah semua berakhir, sampai sekarang masih ada kamu di kepalaku. Bukan karena kamu menjadi orang terakhir yang aku chat kalau aku sudah sampai tapi akhir-akhir ini kepalaku kembali mengingat salah satu rutinitas yang biasa aku lakukan sebelum tidur, memikirkanmu.

Ratusan kali aku mempertanyakan pada diriku sendiri. Apa kurangku sampai aku hanya menjadi second choice? Apa aku yang selalu available? Aku yang selalu needy? Atau aku yang terlalu berekspektasi terlalu tinggi? Dimana kurangku sampai aku terbuai dengan janji palsumu? 

Kalau melepaskan bagian dari mencintai, mengapa aku harus bertemu dengan kamu di awal? Bersama membuat cerita, memaksakan dua kepala yang sama kerasnya, dan pada akhirnya semua terhalang oleh alasan yang sebenarnya kita sudah tahu sejak awal. Dari semua itu, kita juga masih bisa saling menyalahkan. Begitu bodoh ya, kita berdua.

Namun kini episode mengagumimu sudah selesai. Semoga ini bukan hanya sepenggal prolog yang akan diikuti kisah penuh teka-teki dan akan berakhir lagi dengan haru. Semoga tatap mataku yang penuh api bisa kembali lagi walau dengan yang lain. Dan semoga semua kebahagiaan yang dulu kita lalui bersama bisa aku rasakan kembali dengan versiku yang lebih dari kemarin.

Mungkin kamu memang hanya hadir bukan takdir dan kini yang kubutuhkan hanya jeda bukan luka. Tuan, terimakasih beberapa waktu ini telah mengisi ruang hati yang sempat kosong ini. Paling tidak karenamu aku sempat merasa dicintai walau semu dan meskipun semesta akan mempertemukan kita lagi, aku akan menghindar, semoga kita tak akan bertemu di kebetulan manapun.

Minggu, 28 Januari 2024 0 comments

another timeline, another life.

Setelah siang hari aku belagak kuat, malamku dihiasi hujan air mata tanpa ada tanda-tanda mendung sebelumnya. Pojok kamar lembab dan bantal tidurku menjadi saksi bisu. Semua yang tak bisa kukatakan meluap begitu saja. Hingga kadang aku lelah dan tak sadar pagi kembali datang dan aku versi yang lain muncul.

Kukira itu semua karena beban pekerjaan yang tak ada hentinya di pabrik tahu bulat tapi nyatanya ketika pabrik sepi, aku tetap seperti itu. Lelapku enggan datang. Hanya ada aku dan lelehan kesedihan yang menemani. Aku masih berusaha mencerna semua yang terjadi.

Mungkin aku terlalu berjarak dengan yang Kuasa. Obat yang lama tak kusentuh nyatanya malah kembali rutin ku jamah. Seminggu tak berdaya di dalam kamar membuatku semakin merasa tak punya siapa-siapa. Notifikasi handphone kuabaikan. Paling hanya ibu mess yang sesekali menyuruhku untuk makan atau satu dua orang teman yang mengirimiku makanan.

Ya, hanya karena tak ada notifikasimu aku merasa tak punya siapa-siapa.

Kukira aku sudah mati rasa sejak ceritaku yang lalu. Nyatanya sosokmu selalu menjadi yang terakhir aku pikirkan sebelum lelapku. Bau yang awalnya tak aku sukai malah menghantui. Aroma yang tidak bisa aku jelaskan bagaimana tapi tiap kali ada bau ini aku selalu mengingat sosokmu. Semua yang aku lakukan seolah mengarahkanku kepadamu.

Kisahku yang lalu memang sudah selesai tapi aku tak bisa berlabuh begitu saja walau kudengar ceritamu juga sama. Aku yang sekarang, penuh luka yang belum sembuh. Aku yang sekarang, tak lagi sama dengan yang kemarin, yang mudah terbuai dengan kata-kata. Aku yang sekarang, tak sepercaya diri aku yang dulu. Dan aku yang sekarang tak yakin kalau ada yang bisa "menyukai" aku.

Aku tak pernah sepercaya diri ucapanku. Sikapku memang terlihat mudah bergaul tapi untuk lebih dalam mengenal atau bercerita dengan seseorang, aku jauh dari yang kamu mau. Kamu juga tahu kalau aku hanya bisa menjadi pendengar dan selalu gagap ketika waktunya aku harus bercerita. Aku mudah marah, walau tampak permukaan aku terlihat tenang, aku yang sebenarnya mudah meledak dan memiliki sumbu terlalu pendek. Kamu juga tahu kalau aku akan cranky ketika aku lapar apalagi setelah sakitku yang kemarin. Kamu juga tahu kalau aku sering begadang, vertigoku akan kambuh.

Itu hanya segelintir aku yang selalu terlihat di matamu, masih banyak tentang aku yang belum kamu tahu. Tentang aku yang yang mungkin tak akan pernah jadi inginmu. Aku sadar kita terlalu jauh. Aku yang tolol hanya akan mengulang cerita lamaku jika bersamamu. Jadi tak percuma untukku jika tak yakin.

Mungkin yang ditulis yang Kuasa di timeline ini memang hanya sampai sejauh ini. Aku selalu merasa tak sempurna dan aku tak pernah percaya diri ataupun yakin memang bukan yang kamu cari dan aku juga bukan orang yang kamu inginkan. Semoga besok di kehidupan yang lainnya aku bisa menjadi milikmu. Nanti akan ada hari dimana aku sudah terbiasa tanpamu dan ketika mendengar namamu aku sudah menjadi biasa saja.

 
;